Saturday, 18 October 2014

SIDANG GBKP KLASIS JAKARTA-BANDUNG KE XXX TGL.10-12 OKTOBER 2014

Sidang GBKP Klasis Jakarta-Bandung yang dilaksanakan tanggal 10-12 Oktober 2014 di Hotel Rudian Cisarua Puncak, yang dihadiri BP Klasis, utusan Majelis Jemaat dari 11 Provinsi dan 22 Kabupaten Kota, Moderamen GBKP yang diwakili Pdt.Agustinus Purba (Kabid Diakonia), Undangan antara lain dari Yasenta yang diwakili Letjen TNI (Purn) Amir Sembiring, dari Panitia Pembangunan Kantor & Rumah Dinas Klasis Jakarta-Bandung yang diwakili Pt.Em.NJ Sembiring telah berhasil mengambil keputusan antara lain mensyahkan Program GBKP Klasis Jakarta-Bandung tahun 2015, mensyahkan Bajem GBKP Palangka Raya menjadi Jemaat yang ke 23 dan Bajem GBKP Cikarang menjadi Jemaat yang ke 24 di dalam wilayah GBKP Klasis Jakarta-Bandung, juga memutuskan mengusulkan pemekaran GBKP Klasis Jakarta-Bandung menjadi 2 klasis ke Sidang Synode tanggal 11-18 April 2015 menjadi Klasis Jakarta-Kalimantan dan Klasis Bekasi, Bandung-Denpasar, serta menetapkan Pdt.Iswan Ginting, M.Div menjadi Sekretaris GBKP Klasis Jakaarta-Bandung menggantikan Pdt.Rasmidi Sembiring yang telah mutasi ke GBKP Karawaci Klasis Jakarta-Banten.

Sidang Klasis ke 2 tahun 2014 ini dimulai pada pukul 15.00 Wib dengan diawali kebaktian pembukaan yang seharusnya dipimpin Pdt.Nopritawati Br.Sembiring, karena keterlambatan tiba di lokasi digantikan Pdt.Iswan Ginting, dilanjutkan pembukaan sidang oleh ketua GBKP Klasis Jakarta-Bandung, Pdt.Sabar S.Brahmana sekaligus memberikan pengarahan, dilanjutkan penyampaian pesan Moderamen GBKP yang dibacakan Pdt.Agustinus Purba. Dalam pesan Moderamen antara lain menyebutkan tentang Sidang Sinode yang ke XXXV tahun 2015 di RC Sukamakmur dan tanggal 18 April 2015 Jubelium GBKP yang ke 125, juga mengenai erupsi Gunung Sinabung yang belum berkesudahan agar solidaritas jemaat tetap tinggi sebagaimana selama ini telah di diperlihatkan terhadap para pengungsi.

Menyikapi keprihatinan Sinabung, tidak saja dalam sidang pleno di lakukan aksi pengumpulan dana yang terkumpul Rp.5.050.000 yang langsung diserahkan kepada Pdt.Agustinus Purba sebagai yang mewakili Moderamen sekaligus sebagai kordinator pengungsi sinabung, tetapi juga dalam keputusan sidang klasis akan dilaksanakan aksi natal untuk peduli Sinabung disetiap jemaat dan bakal jemaat pada natal tahun 2014.

Sidang klasis yang dihadiri 110 orang ini, diakhiri pada hari Minggu setelah makan siang, sebelumnya dilaksanakan kebaktian Minggu yang dipimpin Pdt.Agustinus Purba, dan kebaktian pengutusan/penutupan Pdt.Abel Sembiring//asbrahm

Read more >>

Wednesday, 15 October 2014

Renungan / Khotbah 1 Tesalonika 2:1-8, Minggu 26 Oktober 2014

Introitus : 
Sebab itu juga kami berusaha, baik kami diam di dalam tubuh ini, maupun kami diam di luarnya, supaya kami berkenan kepada-Nya. (2 Kor.5:9).

Pembacaan : Mazmur 1:1-6; Khotbah : 1 Tes.2:1-8

Tema : Sifat-Sifat Pembawa Kabar Baik.

Pendahuluan :
(1) Saat membaca surat kepada jemaat Tesalonika ini, kita diajak untuk membayangkan suasana di sekitar tahun 51. Paulus merasa terganggu akibat pemberitaan palsu dan pengejaran terhadap jemaat Tesalonika yang telah dibinanya. Terlebih ketika peristiwa itu terjadi Paulus berada jauh dari jemaat binaannya tersebut. Memang Paulus sudah mengutus muridnya Timotius, namun laporan-laporan Timotius belum bisa menenteramkan hatinya. Ia masih ingin bertemu dengan jemaat Tesalonika untuk belajar bersama tentang nilai-nilai iman dan harapan dalam perjuangan selanjutnya.

(2) Paulus menyampaikan testimony berupa kesaksian bagaimana pengalamannya di Filipi, ia di hina dan di aniaya. Namun dengan pertolongan Allah, Paulus tetap mempunyai keberanian untuk menyampaikan Kabar Baik.

(3) Melalui sosok Paulus kita melihat bagaimana sifat-sifat Pembawa Kabar Baik itu:
  • Tantangan, hambatan, kesengsaraan tidak membuat Paulus menyerah untuk memberitakan Kabar Baik, sebaliknya bagi Paulus tantangan itu justru menjadi peluang.
  • Pembawa Kabar Baik tetap fokus untuk menyukacitakan hati Allah, bukan menyukakan manusia.Kondisi ini diungkapkan permasmur dalam Mzm.62:2 “Hanya dekat Allah saja aku tenang, dari pada-Nyalah keselamatanku”.
  • Pembawa Kabar Baik tidak pernah bermulut manis. Apa artinya bermulut manis? Paulus tidak mempunyai maksud-maksud tersembunyi atau maksud untuk mengelabui yaitu adanya ‘udang dibalik batu’
  • Pembawa Kabar Baik tidak pernah bermaksud loba. Apa artinya tidak pernah bermaksud loba? Ada kecendrungan orang lain yang mengajarkan hanya supaya dapat uang.
  • Pembawa Kabar Baik tidak pernah mencari pujian dari manusia. Apa artinya tidak pernah mencari pujian? Paulus sama sekali tidak bermaksud menjadi orang terkenal.
  • Pembawa Kabar baik berlaku ramah. Apa artinya berlaku ramah? Paulus bersikap lemah lembut sewaktu berada ditengah-tengah jemaat.
  • Pembawa Kabar Baik penuh kasih sayang seperti seorang ibu yang mengasuh dan merawati anaknya. Apa artinya seperti kasih sayang seorang ibu? Paulus tidak hanya memberikan Kabar baik dari Allah, tetapi juga dengan memberikan hidupnya.
  • Pembawa Kabar Baik sangat menyatu dengan penerima Kabar Baik. Paulus sangat dekat, tanpa penyekat dengan jemaat Tesalonika. Hal ini terungkap bahwa Paulus tetap mengingat dan berulang kali memakai kata-kata seperti kamu sendiripun memang tahu (2:1), seperti kamu tahu (2:2), hal itu kamu ketahui (2:5), kamu masih ingat (2:9), kamu tahu (2:11).

Khotbah:
Jemaat yang dikasihi Tuhan!
Tahun depan 2015 Gereja Batak Karo Protestan (GBKP) genap 125 Tahun (18 April 1890 – 18 April 2015). Sebagai Gereja atau sebagai ‘serayan’ tentu begitu banyak tantangan yang telah dihadapi, baik dari luar maupun dari dalam intern kita. Namun indikator yang membuat GBKP dapat bertahan dan bertumbuh hanya oleh anugerah dan penyertaan Tuhan melalui kegiatan dan motivasi serayan Tuhan. Karenanya tepat sekali kalau perikop kita minggu ini seputar kegiatan dan motivasi Paulus. Dan untuk lebih mudah memahaminya tema kita mengangkat istilah SIFAT-SIFAT PEMBAWA KABAR BAIK atau BIAK PERBERITA SI MERIAH.

Hari ini kita belajar melalui sosok Pembawa Kabar Baik yaitu Paulus. Sesuai testimony atau kesaksiannya, Paulus mengalami tantangan yang luar biasa, baik saat menyampaikan Kabar Baik di Filipi, Paulus dihina, diseret, dianiaya, dilemparkan ke penjara, membelenggu kakinya dalam pasungan. Demikian juga saat di Tesalonika, Paulus memberitakan Mesias, yaitu Yesus, ternyata orang-orang Yahudi menjadi iri hati sepakat dengan para penjahat mengadakan keributan dan kekacauan serta menghadapkan Paulus kepada sidang rakyat. Paulus dicap pengacau, melawan ketetapan Kaisar dengan mengatakan ada seorang raja lain, yaitu Yesus. Inilah kondisi yang menyebabkan Paulus disingkirkan dengan paksa dari Tesalonika menuju Berea. Kondisi orang-orang Yahudi di Berea ternyata lebih baik hatinya dari orang-orang Yahudi di Tesalonika. Paulus sangat rindu sekali dapat bertemu dengan orang-orang Kristen di Tesalonika. Kerinduan ini dinyatakan Paulus pada pasal 2:17 “Tetapi kami, saudara-saudara yang seketika terpisah dari kamu, jauh di mata, tetapi tidak jauh di hati, sungguh-sungguh, dengan rindu yang besar, telah berusaha untuk datang menjenguk kamu”.

Jemaat yang dikasihi Tuhan!
Kalau kita merenungkan beratnya beban yang dialami Paulus sebagai Pembawa Kabar Baik, saat di Filipi yang lemparkan ke dalam penjara dan dimasukkan ke ruang penjara yang paling tengah dan membelenggu kakinya dengan pasungan yang kuat,namun Tuhan tidak tinggal diam. Saat Paulus berdoa dan menyanyikan puji-pujian kepada Allah di tengah malam, Tuhan mendengar seru permohonan Paulus dengan terjadinya gempa bumi yang hebat, sehingga sendi-sendi penjara itu goyah, dan seketika itu juga terbukalah semua pintu dan terlepaslah belenggu mereka semuanya.

Demikian juga di Tesalonika, saat Paulus dituduh sebagai pengacau dan mau menghadapkan Paulus kepada sidang rakyat,maka malam itu juga segera saudara-saudara di situ menyuruh Paulus berangkat ke Berea. Apa artinya? Tuhan menolong Paulus, sehingga ada-ada saja jalan keluarnya.
Jemaat yang dikasihi Tuhan!

Perikop kita hari ini juga memerlihatkan tantangan yang dihadapi Paulus sebagai Pembawa Kabar Baik melalui pemberitaan palsu kepada jemaat Tesalonika binaan Paulus tersebut.
• Berita yang dibawa Paulus menyesatkan
• Paulus punya maksud yang tidak murni
• Penuh dengan tipu daya
• Paulus hanya bicara untuk menyukacitakan manusia, bukan menyenangkan hati Allah
• Paulus hanya bermulut manis, namun hatinya punya maksud yang tersembunyi
• Paulus hanya mau mencari keuntungan saja
• Paulus hanya mencari pujian
• Paulus orang yang diktator

Jemaat yang dikasihi Tuhan!
Melalui perikop ini juga kita belajar bagaimana Paulus menanggapi pemberitaan palsu tersebut, dengan pernyataan bahwa kedatangan Paulus yang pertama kali ke Tesalonika untuk memberitakan Kabar Baik tidaklah sia-sia, artinya mencapai tujuannya atau dengan kata lain ada hasilnya.

Mengapa berhasil? Karena pertolongan Allah semata, sehingga Paulus mempunyai keberanian. Walaupun dimana-mana tempat ada perlawanan, banyak orang berusaha membungkamkan dan mencegah Paulus memberitakan Kabar Baik, tidak membuat Paulus trauma. Allah telah memberikan kekuatan esktra dan membuang rasa takut di hati Paulus. Terlebih Kabar Baik yang diberitakan Paulus fokus berita tentang Tuhan Yesus Kristus, dan berasal daripada Allah, bukan yang lain-lain atau tentang dirinya. Kristus adalah isi pemberitaan, sedangkan Allah adalah sumber Kabar Baik itu sendiri. Tidak ada pikiran-pikiran yang buruk atau mencoba menipu siapapun.

Jemaat yang dikasihi Tuhan!
Dengan adanya pemberitaan palsu yang beredar di Tesalonika, semakin jelas keaslian dan kemurnian pemberitaan Paulus dengan sifat-sifat Pembawa Kabar Baik itu.
Banyaknya penderitaan dan tantangan tidak membuat Paulus menyerah untuk memberitakan Kabar Baik, sebaliknya bagi Paulus tantangan itu justru menjadi peluang.
  • Pembawa Kabar Baik tetap fokus untuk menyenangkan hati Allah, bukan membuat orang senang kepada Paulus. Seperti ungkapan permasmur dalam Mzm.62:2 “Hanya dekat Allah saja aku tenang, dari pada-Nyalah keselamatanku”.
  • Pembawa Kabar Baik tidak pernah bermulut manis. Apa artinya bermulut manis? Paulus tidak mengucapkan kata-kata yang menyenangkan orang lain, tetapi dengan tujuan menutup-nutupi maksud yang sebenarnya, yakni maksud yang tidak baik.
  • Pembawa Kabar Baik tidak pernah bermaksud loba. Apa artinya tidak pernah bermaksud loba? Paulus tidak memberitakan Kabar Baik dengan maksud untuk mencari untung dari jemaat Tesalonika. Dalam hal ini Allah adalah saksi artinya Allah tahu benar apa yang Paulus lakukan, bahkan Allah mengetahui isi hati Paulus.
  • Pembawa Kabar Baik tidak pernah mencari pujian dari manusia. Apa artinya tidak pernah mencari pujian? Paulus sama sekali tidak bermaksud menjadi orang terkenal. Paulus tidak berusaha membuat orang lain memujinya. Walaupun Paulus sebagai Rasul berhak menuntut apa yang dibutuhkannya, namun itu tidak dimintanya.
  • Pembawa Kabar baik berlaku ramah. Apa artinya berlaku ramah? Paulus bersikap lemah lembut sewaktu berada ditengah-tengah jemaat. Penuh kasih sayang dan baik hati.
  • Pembawa Kabar Baik penuh kasih sayang seperti seorang ibu yang mengasuh dan merawati anaknya. Apa artinya seperti kasih sayang seorang ibu? Paulus tidak hanya memberikan Kabar baik dari Allah, tetapi juga dengan memberikan hidupnya.
  • Pembawa Kabar Baik sangat menyatu dengan penerima Kabar Baik. Paulus sangat dekat, tanpa penyekat dengan jemaat Tesalonika. Hal ini terungkap bahwa Paulus tetap mengingat dan berulang kali memakai kata-kata seperti kamu sendiripun memang tahu (2:1), seperti kamu tahu (2:2), hal itu kamu ketahui (2:5), kamu masih ingat (2:9), kamu tahu (2:11). Paulus berbuat apa saja supaya dapat menolong jemaat Tesalonika.
Jemaat yang dikasihi Tuhan!
Dampak Pembawa Kabar Baik yang benar terungkap dalam pembacaan Mazmur 1:1-6 dengan tanda-tanda kebenaran, kasih, ketaatan kepada Firman Allah, maka hidupnya selalu diberkati dan berbahagia. Sebaliknya orang fasik pasti yang hidunya tidak tinggal dalam Firman Allah dan kesukaannya berbuat dosa akan menerima penghukuman Allah. Karenanya hidup dan pelayanan kita harus mempunyai ‘passion’ atau hasrat seperti diingatkan dalam introitus 2 Kor.5:9 “Sebab itu juga kami berusaha, baik kami diam di dalam tubuh ini, maupun kami diam di luarnya, supaya kami berkenan kepada-Nya”. Hasrat sebuah keinginan yang begitu besar dan kuat. Dan ketika kita melakukannya, kita tidak bisa membedakan lagi apakah ini pekerjaan? Apakah ini bermain? Apakah ini sebuah karya sosial? Semua menyatu. Batas-batasnya hilang karena kita begitu senang. Begitu semangat untuk melakukannya. Ibarat menonton film di bioskop harus punya keinginan tiga kali. Tidak cukup satu kali. Apa yang dimaksud keingnan tiga kali. Bukan ingin satu kali, bukan ingin dua kali. Seandainya satu kali ingin nonton film di bioskop. Mau berangkat hujan. Kalau keinginan satu kali, maka tidak jadi berangkat. Tapi kalau keinginan dua kali, pasti cari payung. Berupaya untuk tetap berangkat ke bisokop. Bayangkan keinginan sudah dua kali. Sampai di bioskop, karcisnya habis. Kalau keinginan hanya dua kali, pasti akan pulang dan tidak jadi nonton film. Tapi kalau keinginannya tiga kali, maka akan terus berusaha, barangkali melakukan negosiasi kepada orang yang sudah memiliki tiket. Bagaimana kalau tiketnya saya beli dengan harga yang lebih baik? Kita akan berupaya terus, dan terus, dan terus sampai bisa nonton film di bioskop. Ya, karena mempunyai pengharapan untuk tinggal bersama-sama dengan Yesus dan memperoleh kemuliaan di masa yang akan datang serta jaminan untuk tinggal di sorga, maka semua ini mendorong kita hidup dan melayani yang berkenan kepada Tuhan. Kita harus punya ‘passion’ sungguh-sungguh hanya untuk menyenangkan hati Allah. Ada ‘passion’ untuk melakukan perbuatan yang mulia, jika hidup dan pelayanan kita sampai meninggalkan tubuh ini, biarlah semuanya berkenan kepada Allah. Amin.

Pdt. E.P. Sembiring

Read more >>

Renungan / Khotbah Matius 22:15-22, Minggu 19 Oktober 2014

Introitus : 
“Bayarlah kepada semua orang apa yang harus kamu bayar” (Mat. 13:7a).

Pembacaan : Yesaya 45:1-7 (Anthiponal); Khotbah : Matius 22:15-22 (Tunggal)

Tema : “Lakukanlah Tanggung Jawabmu!”

Pendahuluan
Hidup dan tinggal di tengah-tengah bangsa yang pluralis bukanlah mudah. Kita sendiri dapat melihat bagaimana gereja-gereja disegel, dirusak, dan dibakar. Bahkan pendeta sendiri dianiya oleh sekelompok yang menamakan diri sebagai orang yang takut dan taat akan Tuhannya. Salah satu yang menjadi pergumulan dan perjuangan dari PGI yakni bagaimana terjadinya keadilan yang seadil-adilnya di bumi Pancasila ini, khususnya kebebasan beribadah. Namun, hingga saat ini masih juga kita lihat bahwa masih banyak terjadi diskriminasi, aniaya, bahkan penindasan terhadap agama-agama yang minoritas. Tetapi, pernahkah kita bertanya mengapa ini terjadi? Di mana letak masalahnya? Apa yang menyebabkan ini terjadi?

Sebelum kita menunjuk ke arah yang lain, bahwa mereka yang salah, mereka yang tidak tahu keadilan, atau karena mereka yang mayoritas dan sebagainya, mari bercermin kepada diri sendiri? Apakah kehidupan kita sebagai orang Kristen sudah benar-benar mencerminkan Kristus di dalam diri kita? Oleh karena itu, tema hari ini adalah “Lakukanlah Tanggung Jawabmu”.

Pembahasan
Secara keseluruhan kitab Matius ini menekankan tindakan yang nyata dan murni, dan dalam perintah tersebut diteguhkan bahwa Allah menyertai (Lih. 1:23; 28:20). Jadi, lakukan dan percaya!! Pada perikop kali ini bercerita ‘tentang membayar pajak kepada Kaisar’. Secara umum, tentu sudah sering kita mendengar cerita tentang pajak tersebut. Dan umumnya tidak jarang pendeta berkhotbah perikop ini dan menekankan menjadi “warga negara yang baik”, tetapi apakah hanya sebatas itu yang diinginkan di sini?

Jemaat yang dikasihi Tuhan, dalam prikop ini dikatakan bahwa orang-orang Farisi berniat jahat terhadap Yesus. Mereka memberikan satu pertanyaan terhadap Yesus: ayat 16-17: "Guru, kami tahu, Engkau adalah seorang yang jujur dan dengan jujur mengajar jalan Allah dan Engkau tidak takut kepada siapa pun juga, sebab Engkau tidak mencari muka. Katakanlah kepada kami pendapat-Mu: Apakah diperbolehkan membayar pajak kepada Kaisar atau tidak?"

Sebenarnya jika dilihat dari pertanyaan orang Farisi tersebut, dapat dikatakan sungguh baik. Mereka secara halus dan lembut bahkan dengan penuh hormat kepada Yesus. Tetapi motivasi yang ada di balik pertanyaan sangat jauh dari kata baik bahkan sangat munafik. Mereka menyebut Yesus guru (pada saat itu, sebutan guru dalam bahasa mereka disebut ‘rabi’ adalah sapaan kepada dia yang dihormati), tetapi mereka sama sekali tidak menghormati Yesus bahkan berniat buruk terhadapnya. Di dalam kehidupan sekarang juga demikian, bahwa tidak jarang terlihat orang-orang yang demikian, atau mungkin orang kristen sendiri juga pernah melakukan seperti yang dilakukan orang-orang Farisi terhadap Yesus. Terlihat baik, tetapi sesungguhnya karena ada udang di balik batu.

Jemaat yang dikasihi Tuhan,
Yesus yang adalah Anak Allah itu telah mengetahui bahwa orang-orang Farisi tersebut memiliki niat jahat terhadap diri-Nya. Maka apa kata Yesus: Mengapa kamu mencobai Aku, hai orang-orang munafik? Ini adalah tamparan yang sangat keras bagi orang-orang Farisi tersebut. Yesus melanjutkan dengan memperlihatkan sebuah koin dinar kepada mereka dan bertanya kepada mereka tentang gambar yang ada pada uang itu. Dan Yesus mengatakan bahwa "Berikanlah kepada Kaisar apa yang wajib kamu berikan kepada Kaisar dan kepada Allah apa yang wajib kamu berikan kepada Allah." Benar-benar mengagumkan, dan tidak dapat diduga, Yesus memberikan jawaban yang sangat mengejutkan bagi orang-orang Farisi tersebut. Yesus tidak pernah menentang ataupun meniadakan pemerintah secara dunia, tetapi IA datang untuk menggenapinya. Maka dalam perkataan itu, Yesus berpesan: lakukan tanggung jawabmu dengan tepat dan motivasi yang tulus. Sebab kehidupan orang-orang Farisi saat itu sangat rohani, tetapi tidak ada tindakan nyata, artinya mereka tidak memiliki kasih. Mereka mengatakan mengasihi Allah, tetapi tidakan mereka tidak mencerminkan kasih. Demikianlah di hadapan Tuhan Yesus bahwa mereka hanya pandai berbicara tetapi tidak memiliki tindakan yang nyata, bahkan terdapat motivasi yang buruk.

Demikian juga dengan kehidupan kita sekarang ini, keberadaan pemerintahan kita juga tidak terlepas dari kehendak Tuhan. Sekalipun kita melihat bahwa banyak keburukan dan kekurangan dalam pemerintahan kita. Tetapi tidak menutup kemungkinan bahwa Allah juga dapat menggunakan pemerintahan yang demikian untuk menyatakan kuasa-Nya, seperti yang terdapat di dalam bacaan kita, bahwa Allah memakai Koresh, sekalipun ia bukanlah umat perjanjian. Jadi kita juga sebagai orang percaya kepada Kristus mari koreksi diri kembali, sudahkah kita melakukan tanggung jawab dengan tepat dan motivasi yang tulus?

Seperti yang saya katakan bahwa hidup di bumi pluralis bukan gampang, banyak hal yang dapat menimbulkan benturan. Tanpa dicari pun pergesekan akan selalu ada, sebab kita berbeda, apalagi kalau dicari dan dilakukan.

Gereja-gereja banyak yang ditutup dan dirusak, kita marah dan tidak terima. Memang satu sisi kita bisa marah. Tapi apakah dengan marah, masalahnya terselesaikan? Misalnya GKI Yasmin. Hingga sekarang masih belum selesai. Dan masih banyak gereja-gereja lainnya.
Oleh karena itu, jemaat yang dikasihi Tuhan, bukan berarti kita minoritas kita harus tetap pasrah dan tidak bertindak ketika terjadi ketidakadilan. Tetapi tetaplah lakukan apa ayng menjadi tanggung jawab kita dengan tetap, dan dengan motivasi yang jujur. Sebagai warga Indonesia yang percaya, kita juga harus ikut membangun bangsa kita dimulai dari diri kita sendiri. Jangan terlalu sibuk dengan urusan kita sendiri, misalnya gereja, ataupun perkumpulan kita saja.

Di salah satu gereja misalnya, karena jemaat yang kaya, rata-rata mereka membawa mobil ke gereja. Oleh karena mobil mereka, jalanan sekitar menjadi macet, ditambah memberikan uang parkir kepada tukang parkir yang berbeda agama dengan kita, kita terlalu perhitungan. Hal-hal seperti ini tentu bisa mengundang iri dari orang lain, bahkan kemungkinan karena ini gereja disegel dan ditutup, dan kita tidak tahu. Jadi, ini seharusnya yang perlu dijaga dan diperhatikan. Tidak salah dan tidak menjadikan kita miskin ketika kita memberikan upah lebih kepada mereka, seperti parkir, tukang bersih gereja dan sebagainya.

Beberapa bulan lagi akan memasuki bulan desember, tentu setiap gereja akan mempersiapkan acaranya masing-masing. Tidak sedikit gereja yang mengeluarkan biaya jutaan bahkan hingga ratusan juta untuk natal saja. Natal yang mewah, megah dan penuh gebyar. Hal ini juga tidak salah. Tetapi, adakah kita mengingat mereka di tengah kebahagian kita, bahwa di luar sana masih banyak saudara kita tidak mendapat makan, rumah dan sebagainya. Hal ini juga tentu bisa mengundang cemburu. Bagaimana tidak, orang lain sedang kelaparan dan butuh bantuan yang sangat mendesak, pada saat yang sama kita berpesta pora dengan kemewahan. Ini perlu kita refleksikan, agar kita tidak tertutup dengan lingkungan di luar kita. Tidak salah jika kita membuat perayaan, tetapi juga dikatakan di dalam peraturan Imamat, bahwa usahakanlah kesejahteraan setiap orang yang ada di tempatmu. Setiap orang yang dimaksudkan di sini bukan hanya orang Kristen saja, melainkan semua orang yang ada di lingkungan kita. Artinya kita sebagai orang yang mampu harus menolong yang lemah, dan bertanggung jawab terhadap mereka.

Ada sebuah kutipan yang berkata “NATO” (No action, talk only), artinya hanya berbicara, tetapi tidak ada tindak nyata. Sebagai orang Kristen, tidak dibutuhkan terlalu banyak bicara apalagi tentang yang baik, tetapi tidak ada tindak riil dari perkataan tersebut. Hendaklah kita dapat melakukan tanggung jawab kita dengan tepat dan motivasi yang tulus, bukan karena supaya disukai dan tidak diganggu.

Jemaat yang dikasihi Tuhan, hendaklah kita dapat bertanggung jawab sebagai orang yang telah ditebus, dan dengan motivasi yang tulus dan secara tepat. Percayalah bahwa Dia yang empunya seluruh alam semesta akan senantiasa memperhatikan dan menyertai hidup kita.

Dan betapa indahnya, jika suatu saat nanti terjadi bahwa orang lain memuliakan Tuhan karena melihat tindakan kita sebagai orang Kristen yang penuh dengan kasih. Jadi, mari lakukan tanggung jawab kita, tanpa perlu melihat orang lain terlebih dahulu. Jangan iri, ada orang yang tidak bayar pajak dan tidak mendapat denda, sedangakn saat kita baru sekali saja tidak bayar pajak, langsung diberi sanksi. Jangan iri!!! Lakukan tanggung jawab dengan tulus dari dalam hati. Ingatlah bahwa apapun yang kita lakukan, lakukanlah seperti untuk Tuhan dan bukan manusia. Selamat bertanggung jawab, Tuhan menyertai. Amin.

Pdt.Andreas J Tarigan S.Th,M.Div
Rg. Harapan Indah

Read more >>

Sunday, 12 October 2014

PENTAHBISAN & PERESMIAN GEDUNG GBKP BALIKPAPAN

Gedung Gereja GBKP Balikpapan yang dibangun sejak tahun 2009, berlokasi di Jln.Tepo, Km.10, Kel. Karang Joang Balikpapan di atas tanah seluas 3000 M yang dihibahkan Pt.Ngawan Sembiring (Bp.Ferdinand) telah di tahbiskan dan diresmikan oleh Moderamen GBKP yang diwakili Pdt.Simon Tarigan,S.Th dan Wali Kota Balikpapan Bpk. Rizal Effendi pada hari Minggu, 21 September 2014, di hadiri jemaat GBKP Balikpapan, BP GBKP Klasis Jakarta-Bandung, undangan dari gereja tetangga, dan katua BKSGB (Badan Kersa Sama Gereja Balikpapan), Pdt Abriantinus MA MTh.

Pentahbisan ini dilaksanakan pada pukul 09.00 Wita dengan acara pengguntingan pita oleh Ketua GBKP Klasis Jakarta-Bandung, Pdt.S.Brahmana, S.Th, MA, pembukaan kunci oleh Pdt.Simon Tarigan, S.Th, dilanjutkan kebaktian Minggu yang di isi dengan puji-pujian Jemaat GBKP Balikpapan, juga penyanyi/artis karo Tio Fanta Pinem yang diundang untuk memeriahkan acara pentahbisan dan Peresmian Gedung GBKP Balikpapan.

Setelah selesai Kebaktian, dilanjutkan acara hiburan, kata-kata sambutan serta pengumpulan dana di halaman gereja yang telah didirikan tratak dan panggung dengan dekorasi yang indah. Kata sambutan yang pertama disampaikan ketua panitia pentahbisan dan peresmian gedung gereja, Letkol Norman Ginting dilanjutkan ketua panitia pembangunan, Ir. Siden Ginting yang menceritakan bagaimana perjuangan pembangunan dari awal serta mengucapkan terimakasih kepada semua pihak yang telah memberi dukungan doa dan dana sehingga gedung gereja GBKP Balikpapan dapat ditahbiskan dan diresmikan.

Sambutan berikutnya disampaikan Ketua Perpulungen GBKP Balikpapan, Pt.Ngawan Sembiring yang menceritakan bagaimana sejarah berdirinya GBKP di Balikpapan, dilanjutkan sambutan dari ketua BKSG, Pdt Abriantinus MA MTh yang menyambut gembira serta mengucapkan selamat atas pentahbisan dan peresmian Gedung Gereja GBKP Balikpapan, berarti bertambahnya bangunan gedung gereja di kota Balikpapan. Kata sambutan berikutnya disampaikan ketua GBKP Klasis Jakarta-Bandung. Dalam sambutannya menyampaikan ucapan selamat kepada jemaat GBKP Balikpapan atas segala upaya yang telah dilakukan untuk mendirikan bangunen Gereja dan sekarang sudah selesai dan ditahbiskan dan diresmikan. Kiranya dengan adanya tempat ibadah, pembinaan spiritual jemaat dapat semakin lebih baik sehingga jemaat GBKP sebagai bagian integral dari masyarakat Indonesia, khususnya sebagai warga masyarakat kota Balikpapan dapat menjadi masyarakat yang baik, yang ikut membantu pemerintah mensukseskan pembangunan bagi terwujudnya kesejahteraan bersama. Pendeta ini juga menyampaikan terimakasih kepada keluarga Pt.Ngawan Sembiring yang telah menghibahkan tanahnya seluas 3000 M kepada GBKP sehingga gedung gereja GBKP dapat dibangun di atasnya, juga menyampaikan terimakasih kepada walikota Balikpapan yang berkenan hadir dan sekaligus meminta agar memberikan kata sambutan sekaligus membuka selubung pamplet gereja dan menandatangani batu prasasti peresmian, demikian juga meminta Pdt.Simon Tarigan yang mewakili Moderamen GBKP menandatangani batu prasasti peresmian yang telah disediakan panitia.

Bpk.Rizal Effendi dalam sambutannya mengucapkan terimakasih atas udangan panitia, juga mengucapkan selamat atas peresmian Gedung Gereja GBKP Balikpapan. Bpk.Wali Kota ini juga menerangkan bahwa pemerintah kota Balikpapan memperlakukan semua umat beragama itu sama, dan mendorong serta mendukung upaya-upaya pembangunan spiritual umat beragama sehingga terbentuk masyarakat yang baik yang bersama-sama membangun bangsa dan Negara, khususnya kota Balikpapan. Setelah memberikan sambutan, Bpk.Rizal Effendi membuka selubung pamplet GBKP didampingi Moderamen GBKP, Ketua Klasis Jakarta-Bandung, Ketua BKSGB, Ketua Perpulungen GBKP Balikpapan, Ketua Pembangunan dan ketua panitia pentahbisan dan peresmian, sekaligus menandatangani batu prasasti peresmian demikian juga dalam waktu bersamaan Pdt.Simon Tarigan mewakili Moderamen juga menandatangani batu prasasti peresmian yang telah disediakan panitia.

Kata sambutan yang terakhir disampaikan Pdt.Simon Tarigan yang mewakili Moderamen GBKP. Dalam kata sambutannya mengucapkan selamat kepada jemaat GBKP Balikpapan atas pentahbisan dan peresmian Gedung Gereja GBKP Balikpapan. Juga mengucapkan terimakasih kepada Walikota Balikpapan, walaupun sudah meninggalkan lokasi gereja, atas kesediaannya hadir sekaligus membuka selubung pamplet GBKP Balikpapan serta menandatangani batu prasasti peresmian Gedung Gereja GBKP Balikpapan.

Selesai kata-kata sambutan, dilanjutkan acara pengumpulan dana dengan cara lelang-lelang dipandu Tio Fanta Pinem. Dana terkumpul Rp. 42 juta//asbrahm.

Read more >>

Tuesday, 7 October 2014

Mari Berolahraga: "Tubuh Sehat, Pelayanan Meningkat".

MARI BEROLAH RAGA
“TUBUH SEHAT, PELAYANAN MENINGKAT”

Itulah thema yang diangkat ketika pada akhir tahun 2010, ketua GBKP Klasis Jakarta-Bandung, Pdt.S.Brahmana menghubungi beberapa pendeta antara lain Pdt.Tambarta Ginting, Pdt.Iswan Ginting, Pdt.saul Ginting yang mau berolah raga, khususnya olah raga bulu tangkis dan juga seorang pertua GBKP Pondok Gede, Pt.Jasa Tarigan (Bp.Jenari) yang tidak saja gemar berolah raga bulu tangkis tetapi juga ketika disampaikan thema ini (“Tubuh Sehat, Pelayanan Meningkat”) sangat mendukung bahkan menjadi donatur kegiatan olah raga yang dilakukan. Inspirasi group ini tidak lain melihat rata-rata pendeta GBKP semakin bertubuh tambun (gemuk/obesitas), diharapkan melalui kegiatan olah raga yang dilakukan setiap hari senin, kalori dan lemak yang menumpuk dapat dikeluarkan sehingga tubuh tetap sehat dan pelayanan meningkat. Mari kita budayakan hidup sehat dengan berolah raga//asbrahm.
Dari kiri ke kanan (berdiri): Pdt. Tambarta Ginting, Pdt. Sahabat Perangin-angin, Pdt. Sabar S.Brahmana, 
Pdt. Iswan Ginting, Pdt. Philipus Tarigan, Pt. Jasa Tarigan, Pdt. Rehpelita Ginting.
Dari kiri ke kanan (jongkok): Pdt. Saul Ginting, Pdt. Juris Tarigan.

Dalam menyikapi hidup yang diberikan Allah bagi kita, ingatlah 3 hal ini:
JAGA KESEHATAN, HATI-HATI DIJALAN, UMUR TUHAN YANG MENENTUKAN
(Jaga Kesehaten, Hati-hati i dalan, Umur Dibata Metehsa).

Read more >>

Monday, 6 October 2014

Renungan / Khotbah Matius 22:1-14, Minggu 12 Oktober 2014

Introitus : 
Marilah kita bersukacita dan bersorak-sorai, dan memuliakan Dia! Karena hari perkawinan Anak Domba telah tiba, dan pengantin-Nya telah siap sedia (Wahyu 19: 7).

Bacaan : Yesaya 25 : 1 – 9; Khotbah : Matius 22: 1-14

Thema : 
Bersiap dan jalani Kerajaan Allah (Ersikap dingen dahilah Kinirajan Dibata e)

(1) Saudara yang dikasihi Tuhan pernahkah saudara mendapat undangan untuk menghadiri suatu acara panting? Undangan pasta ulang tahun, pengucapan syukur, pesta pernikahan, atau pun undangan-undangan penting lain misalnya? Jawabnya pasti sering. Sadarkah kita ketika mendapatkan undangan itu artinya kita mendapat suatu penghargaan besar dari si pengundang?

Coba umpama bila yang mengundang itu adalah seorang jutawan. Maka biasanya orang yang diundang adalah orang-orang yang dianggap pantas untuk diundang. Mana mungkin kira-kira ia mengundang orang-orang buta, orang timpang, orang gembel, dsbnya

Bagaimana kira-kira andaikata kita sebagai orang biasa tau-tau mendapat undangan dari bapak Jokowi untuk hadir dalam pesta pelantikannya? Boleh jadi kita berkata: "mimpi apa aku semalam"?
Tentu kita pasti berupaya untuk datang karena peristiwa semacam itu tentulah suatu peristiwa yang tak terlupakan seumur hidup kita, sebuah kenang-kenangan yang berharga!

(2) Pasal 22 ini merupakan lanjutan dari pembicaraan yang disampaikan Kristus di dalam Bait Allah, dua atau tida hari sebelum kematian-Nya. Perintah yang diberikan, melalui perumpamaan tentang perjamuan kawin yang berkaitan dengan penolakan terhadap bangsa Jahudi dan panggilan kepada bangsa-bangsa bukan Jahudi (ayat 1-10)

Dan juga tamu undangan yang tidak berpakaian pesta, sebuah gambaran mengenai bahayanya kemunafikan di dalam iman Kristen (11-14).

(3)  Melalui Nats ini mari kita kami melihat melalui 2 Fokus:

Pertama: Focus kepada Undangan/Pesta
Panggilan dan Penawaran Injil diumpamakan sebagai sebuah undangan ke pesta perjamuan. Mereka yang mengadakan perjamuan mengundang tamu untuk meramaikan perjamuan itu. Tamu-tamu Allah adalah anak-anak manusia.

Para tamu yang pertama diundang adalah orang-orang Yahudi. Dan undangan disampaikan kepada semua orang yang bisa mendengar berita sukacita Injil itu. Para hamba yang membawa undangan tersebut tidak menuliskan nama-nama yang diundang dalam secarik kertas, karena tidak ada persyaratan untuk itu, siapa saja tanpa kecuali diundang, yang tidak diundang adalah mereka yang tidak mau menerima undangan itu sendiri.

Walaupun para undangan istana itu mempunyai dalih yang bermacam-macam, bahkan sampai menangkap, menyiksa bahkan membunuh hamba-hamba utusannya. Rupa-rupanya sang raja ini seorang yang murah hati. dan ia tetap mengundang orang-orang untuk datang ke pestanya. Namun kali ini para undangannya bukan lah orang-orang terhormat. Pokoknya orang jahat, orang gembel, bandit, dsb.

Saudara yang dikasi Tuhan “Undangan”/berita itu adalah anugerah, undangan itu adalah pertanda bahwa Allah mengasihi kita, untuk itu kita harus bersyukur jika undangan itu disampaikan bagi kita.
Lihatlah betapa hati Kristus tertuju kepada kebahagiaan jiwa-jiwa yang malang.

Kedua: Focus kepada yang diundang
Sikap dingin yang sering dijumpai Injil Kristus di antara anak-anak manusia ditunjukkan oleh sikap dingin terhadap berita yang disampaikan dan sikap garang terhadap si pembawa berita itu sendiri. Dalam hal ini, baik raja maupun mempelai laki-laki kerajaan sama-sama terhina. Hal ini terutama menggambarkan orang-orang Yahudi yang menolak nasihat Allah bagi diri mereka sendiri, dan lebih jauh lagi melukiskan penghinaan dan perlawanan banyak orang di segala zaman terhadap Injil Kristus.
Me¬reka mesing-masing punya alasan. Alasan yang memang tak dapat ditawar-tawar. Alasan yang memang juga tak boleh diremehkan! Ya, karena menyangkut keperluan hidup alias jaminan hidup. Yang bila diabaikan bisa fatal akibatnya!

Untuk itulah mereka satu-persatu meminta maaf kepada si pengundang. Maaf karena urusan ladang. Maaf karena harus mengusrus usaha. Yang lain juga maaf.., karena barang sebentar bersenang menakmati kebahagiaan keluarga. Ya, maaf,., ma¬af. , , maaf ... Dan siapa yang mengatakan bahwa se¬gala urusan mereka itu salah? Tidak, tidak sa¬lah! Hanya masalahnya, mereka tidak menyadari bahwa undangan tersebut teramat penting.
apa yang mau dikatakan Yesus melalui perumpamaan dalam nas ini? Nah, ini! Apa¬bila hanya karena urusan perut, soal jamian hidup, atau juga masalah kebahagiaan hidup di alam fana ini kita menjadi sangat sibuk. Selalu sibuk. Terlalu sibuk. Dan akhirnya diperbudak oleh kesi¬bukan. Dan persoalan yang diurus kesibukan tadi menjadi satu-satunya yang dianggap paling berharga. Menja¬di satu-satunya tujuan hidup. Di sinilah celakanya! Apalagi bila karenanya kita sampai menganggap soal keselamatan menjadi tak ada artinya. Di sinilah bahayanya! Lalu akhirnya kita menjadi ke¬hilangan makna hidup yang sesungguhnya. Untuk apa sebenarnya kita ada di tengah-tengah kehidupan i¬ni. Apa yang mestinya dilakukan sebagai persiapan bila nanti memasuki alam yang di seberang sana!

(4) Saudara, selain 2 focus diatas ada satu situasi yang sangat mengagetkan kita. Salah seorang undangan itu mendapat hukuman berat. Diikat kaki tangannya. Dilemparkan ke tempat yang paling gelap. Apa masalahnya? Sederha¬na kelihatannya! Ia tidak mengenakan pakaian pes¬ta. Hanya itu? Akh, keterlaluan. Hanya gara-gara pakaian.

Apakah anti kiasan dalam nas ini? Adalah orang-orang yang telah dipanggil menjadi pengikut-pengikut Kristus. Menjadi anggota jemaat warga Ke¬rajaan Allah, tetapi masih tetap dalam dosanya. Tidak mau mengenakan pakaian pesta yang telah disediakan oleh Kristus. Yaitu "pakaian" kebenaran (Mat. 28 3; Why. 3:18).

(5) Sebagai kesimpulan dalam nas ini ada dua pelajar¬an penting yang perlu kita perhatikan, ketika Tuhan mengundang kita: Kesungguhan dankeseriusan kita dalam hal hidup keagamaan kita, masalah kesibukan janganlah sampai menggantikan hal-hal yang paling prinsip dalam hidup kita. Sedangkan yang berikutnya: bahwa masalah hidup dalam kebenaran haruslah selalu diutamakan. Jang¬an dikesampingkan, Kita telah dikasihi oleh Allah melalui korban Kristus. Kit telah dianggap berharga dan te¬lah diundang dalam sukacita sorgawi hanya semata¬ oleh kasih Allah. Janganlah sampai kita sia-siakan atau mengabaikannya!

Dengar panggilan Tuhan dan Bertobatlah dari tingkah lakumu yang jahat dan dari perbuatanmu yang jahat. (Bdk.Bacaan Yesaya 25).

Pdt.Iswan Ginting, M.Div

Read more >>

Saturday, 27 September 2014

Renungan / Khotbah Yesaya 5:1-7, Minggu 5 Oktober 2014

Introitus : 
Mengapa Engkau menarik kembali tangan-Mu, menaruh tangan kanan-Mu di dada?/ Engkai maka la kami isampatiNdu? Engkai maka ipelepasNdu saja kami? (Mazmur 74:11)

Bacan : Filipi 3:4b-14 (Tunggal); Khotbah : Yesaya 5:1-7 (Antiphonal)

Tema : 
Hasilkanlah Buah Yang Baik Dan Manis Dalam Perbuatanmu/
Meramis Dingen Entebulah Buah Perbahanenndu


Pengantar
Kita sering mendengar celotehan-celotehan “yang tidak dapat dibina lebih baik binasakan saja”, karena buang-buang waktu, tenaga pikiran dan biaya dan akhirnya bisa membaawa kebinasaan. Istilah dalam suku karo “Labo terpegedang-gedang jambe la ertangke, pegedang pe nimai macikna nge”.

Demikian diilustrasikan tentang kehidupan bangsa Israel, seperti kebun anggur yang telah di berikan perawatan yang maksimal, yang menggambarkan bagaimana Allah telah berusaha sedapat mungkin untuk menjadikan Yehuda bangsa yang benar dan produktif. Tetapi ketika mereka tidak dapat menghargai semua perbuatan Tuhan, mereka gagal menjadi apa yang diinginkan oleh Tuhan barulah Tuhan akan membinasakan mereka. Seperti soerang tukang kebun membinasakan kebun mereka yang tidak mengahasilkan buah yang baik.

Coba kita bayangkan apa yang akan kita rasakan apabila kita menanam pohon buah-buahan tetapi tidak menghasilkan buah yang lebat dan manis ? pasti ada kekecewaan, tetapi apakah kita berhenti pada titik kekecewaan...? Melalui naskah renungan kita hari ini Yesaya 5:1-7, mari kita mendalami bagaimana perasaan pemilik kebun jika kebun tidak menghasilkan buah yang baik dan lebat ?

Isi
Yesaya mengilustrasikan bangsa Israel sebagai kebun anggur. Yesaya sebagai penyair kisah ini melambangkan dirinya memiliki “kekasih” yang memiliki kebun anggur. Siapakah kekasih Yesaya itu ? dia adalah pemilik kebun anggur, kalau kta berbicara tentang pemilik tentu kita dapat mengerti bahwa Tuhanlah pemilik segala sesuatunya, dengan demikian yang di maksud Yesaya kekasihku adalah Tuhan.
Mengapa Yesaya mengiluterasikan israel sebagai kebun anggur ?
  1. Anggur adalah tanaman yang sangat dikenal oleh orang Israel
  2. Anggur adalah tanaman yang sangat diminati setiap umat yang hidup di zaman itu, karena anggur adalah lambang berkat Tuhan, bahkan tradisi minuman dipesta “anggur” tidak bisa ketinggalan (bdk. Yoh 2:1-11)

Cerita tentang pemilik kebun ini dianggakt oleh Yesaya untuk menggambarkan bagaimana serius dan bertanggungjawabnya pemilik kebun untuk mengusahai kebunnya. Ia memilih lokasi “di lereng bukit yang subur”, Ia mencangkul dan membuang batu-batunya dan menanaminya dengan bibit pilihan. Batu adalah salah satu tantangan bagi tumbuhan untuk bertumbuh dengan baik, karena di samping tidak dapat di tembus oleh akar (menghambat pertumbuhan akar) dan juga mengurangi zat hara yang dibutuhkan tanaman untuk pertumbuhan.

Kesaksian Alkitab menyatakan bahwa “Tanah kanaan yang berlimpah susu dan madu” adalah tanah yang diberikan oleh Tuhan bagi umat Israel ketika Dia memanggil Abraham keluar dari kampung halamannya, inilah yang di juluki dengan bukit Zion atau di nats ini dikatakan dengan lereng bukit yang subur. Tuhan sendiri yang menyiapkan tanah itu supaya dapat memberikan kehidupan. Istilah “pokok Anggur pilihan” kesaksian Alkitab bahwa umat Israel adalah bangsa pilihan (bdk. I Petrus 2:9).

Secara logika kita berpikir dengan lokasi yang baik, tanah yang subur, perawatan yang baik dan bibit yang baik....apa mungkin tanaman itu tidak mengahasilkan buah yang banyak baik dan manis ?
Sehingga di langkah berikutnya di perlukan “menara penjaga” supaya tidak ada yang mengganggu (merusak) tanaman itu atau pencuri memasukinya. Dengan keyakinan kebun itu pasti menghasilkan buah yang baik dan dijaga dari tengan-tangan yang dapat merusak dan mencurinya, sehingga pemilik kebun itu membangun tempat pemerasan (pengolahan), dia menantikan dengan penuh sukacita karena tidak ada sedikitpun di benaknya akan ada kegagalan.

Tetapi apa yang terjadi ? jauh dari apa yang diharapkan....mengecewakan....diharapkan buah yang baik lebat dan manis, tetapi yang diterima adalah buah yang asam.
Ay.3. tersirat bahwa ada keinginan pemilik kebun itu untuk memusnahkan kebunnya, tetapi agar dia tidak dikatakan tukang kebun yang tidak sabaran, tukang kebun yang kejam, emosian. Sehingga di a mengundang penduduk Yerusalem dan Yehuda menjadi “hakim” apakah dia yang salah kalau seadaiya kebun itu dia musnahkan. Seringkali dalam hidup ini kita mengatakan Allah itu tidak adil, Allah itu tidak peduli akan nasib kita...mengapa Tuhan mengijinkan penderitaan menerpa kehidupan ini.

Ay. 4. Pemilik kebun anggur itu mau mengatakan bahsa Dia sudah maksimal dalam perawatan kebun anggurnya....”apa lagi yang harus di perbuat, artinya segala usah sudah dilakukan, lalu Dia bertanya apa lagi yang belum Dia perbuat....

Dengan pertanyaan ini apa lagi yang mau dikatakan oleh Penduduk Yerusalem dan orang-orang Yehuda......? dengan segala perlakuan pemilik kebun yang sudah maksimal tetapi hasilnya yang mengecewakan....apakah tidak pantas kebun itu dimusnahkan ?
Kebun anggur itu adalah kehidupan umat Israel yang sangat mengecewakan hati Tuhan, dan Tuhan menubuatkan akan keruntuhan kerajaan Israel...

Ay. 5-6, Aku akan menebang pagar durinya, ini merupakan nubuatan tentang keruntuhan “Tembok Yerusalem” yang berdiri kokoh melindungi kota Yerusalem, dengan runtuhnya tembok Yerusalem bangsa ini akan dijajah, dirampas, dirusak dibiarkan terlantar dan akan menjadi tanah yang tandus. Perubahan dari tanah yang berlimpah susu dan madu menjadi tanah yang berlipah air mata dan tangisan (bdk. Yeremia 9:19 Sebab terdengar ratapan dari Sion: Wahai binasalah kami! Kami sangat dipermalukan! Sebab kami harus meninggalkan negeri ini, karena rumah-rumah kediaman kami dirobohkan orang)

Ay. 7, Kaum Israel dan orang Yehuda adalah bangsa pilihan Tuhan, umat kegemaranna atau kebanggan-Nya yang diharapkan untuk menciptakan keadilan tetapi yang ada kelaliman. Keadilan diperjualbelikan, janda-janda, anak yatim piatu diabaikan bahkan di manipulasi untuk mendapatkan keuntungan, orang-orang yang lemah justru diinjak-injak, sungguh umat ini mendukakan hati Tuhan. Tuhan menanti-nantikan kebenaran tetapi yang ada keonaran. Kekecewaan Tuhan akan kehidupan umatnya sehingga, melalui nabi Yesaya Dia menubuatkan akan kehancuran kerajaan Isarel.

Aplikasi
Kisah sedih kebun anggur ini mengingatkan kita, tentang nasib orang-orang yang tidak menghiraukan Firman Tuhan, terlebih kita yang sudah dipilih menjadi ahli waris kerajaan sorga, Tuhan sangat menaruh pengharapan yang besar bagi kita, untuk membawa keadilan, marilah kita menjauhkan diri dari tindakan kelaliman. Tuhan sangat merindukan kita untuk membawa kebenaran jadi marilah kita menjauhi tindakan-tindakan yang membuat keonaran.

Semakin besar kasih dan pengarapan yang di bebankan kepada kita sepadan dengan itu kebencian yang akan ditimbulkannya ketika kita tidak mampu memenuhi pengharapan itu (kalau kita mengecewakannya)
Marilah kita menghasilkan buah yang baik dalam prilaku kita agar kita dapat menyenangkan hati Tuhan, agar perlindungannya senantiasa menaungi kita, Dia tidak menarik tangan dan meletakkan-Nya di dada-Nya tetapi terus di ulurkan-Nya keatas kehidupan kita untuk memberkati seluruh kehidupan kita (bdk. Introitus).

Untuk mengasilkan buah yang baik dalam perbuatan, kita harus melepaskan diri dari hal-hal lahiriah, mencintai Yesus lebih dari segalanya (Bdk. Nats Bacaan Filipi 3:4b-7), dimana Paulus berpindah dari jalan “kesenangan” ke jalan “kebenaran”. Yang di maksud Paulus “keuntungan” itu yang kami maksud dengan jalan kesenangan dimana dia punya kuasa untuk membunuh pengikut Kristus, dia seorang yang berpengaruh dihormati. Tetapi semuanya itu justru merupakan kerugian karena pengenalannya akan Yesus. Pengenalan akan Yesus membawa dia berjalan dalam kebenaran, dimana dia harus menyangkal dirinya, dianiaya dan dipenjarakan bukan karena kesalahannya tetapi semata-mata demi imannya kepada Kristus. Menghasilkan buah yang baik melalui perbuatan harus mengalami perubahan yang radikal. Paulus sebelum mengikut Yesus adalah penganiaya tetapi setelah di dalam Yesus justru dia rela dianiaya, sebelum menjadi pengikut Yesusdia adalah seorang pembunuh, Paulus adalah aktor intelektual dalam kematian Istepanus tetapi setelah mengikut Yesus dia tidak takut mati.

Menghasilkan buah yang baik dalam perbuatan kita hanya dapat kita lakukan jika kita terus dekat dan melekat pada pohon anggur yang benar (bdk. Yoh. 15: 4)

Pdt. Saul Ginting
Rg. Klender

Read more >>