Thursday, 10 July 2014

Renungan / Khotbah Matius 14:22-33, Minggu 10 Agustus 2014

Intoitus:
Sebab itu tabahkanlah hatimu,saudara-saudara!Karena Aku percaya kepada Allah,bahwa semuanya pasti terjadi sama seperti yang dinyatakannya padaku (Kis 27:25)

Bacaan : 1 Raja-raja 19:9-18; Khotbah : Matius 14:22-33

Tema : Jangan takut,Tetapkanlah hatimu/Ola mbiar tetaplah ukurndu

A.Pendahuluan
Menurut Purwadarminta dalam Kamus besar bahasa Indonesia,takut adalah tanggapan emosi terhadap ancaman ,takut adalah suatu mekanisme pertahanan hidup dasar yang terjadi sebagai respon terhadap suatu stimulus tertentu seperti rasa sakit atau ancaman dari bahaya. Sebenarnya takut adalah juga anugerah Tuhan, sebagai suatu hal yang selalu mengingatkan kita,untuk selalu waspada akan potensi bahaya yang bisa saja terjadi dalam kehidupan kit. Jadi Setiap orang pasti punya rasa takut,dan itu wajar tapi yang jadi masalah adalah kalau setiap saat takut atau terlalu banyak ketakutan apalagi tidak tahu alasan mengapa harus takut.Jangan Takut! Itulah perkataan Yesus kepada para murid yang ketakutan karena perahu mereka terombang-ambing badai (lih. Mat 14:27). Ketakutan membuat seseorang tidak dapat melihat segala sesuatunya dengan jelas, dan bahkan dapat mengaburkan iman. Namun, pandangan yang terus-menerus kepada Yesus dapat menguatkan iman, serta dapat memberikan pengharapan yang pasti kepada kita. Iman yang teguh membuat kita dapat melangkah dengan pasti dan pengharapan di dalam Yesus membuat kita tidak takut dan terus bertahan untuk mencapai tujuan akhir.Karena Yesus berkata, “Tenanglah! Aku ini, jangan takut!”

B.Isi

(1) Latar belakang perikop
Perikop dari Mat 14:22-23 menceritakan Yesus berjalan di atas air, yang juga diceritakan di dalam Injil yang lain, yaitu: Mrk 6:45-52 dan Yoh 6:16-21. Peristiwa Yesus berjalan di atas air terjadi setelah penggandaan roti dan terjadi ketika perahu yang ditumpangi para murid tertimpa badai topan di danau Galilea. Danau Galilea atau danau Genesaret (lih. Luk 5:1) atau disebut juga laut Tiberias (lih. Yoh 6:1; Yoh 21:1) adalah danau yang cukup luas, yang kurang lebih lebarnya hampir mencapai 10 km dengan panjang hampir mencapai 26 km. Kalau sebelumnya, banyak karya Yesus terjadi di sekitar danau Galilea, maka pada perikop ini, kita melihat bagaimana Yesus melakukan sesuatu yang melawan hukum alam, yaitu dengan berjalan di atas danau Galilea.

(2) Yesus menyuruh orang banyak pulang, lalu Dia pergi berdoa (ay.22-23)
Doa merupakan hal yang sangat penting memulai,melaakukan dan mengakhiri sebuah pekerjaan/pelayanan dilakukan dengan doa. Setelah Yesus melayani orang banyak, memberikan kesembuhan kepada mereka, serta mengadakan mukjizat penggandaan roti (lih. Mat 14:13-21), Dia menyuruh semua orang pergi termasuk juga para murid. Kemudian, Yesus pergi ke atas bukit, mengasingkan diri dan berdoa seorang diri. Yesus ingin menunjukkan kepada kita bahwa doa adalah merupakan sumber kekuatan bagi kehidupan umat beriman. Dan terutama doa harus menjadi sumber kekuatan bagi kita untuk hidup seperti yang di inginkan Allah (bandingkan dengan bahan bacaan, Elia yang mengalami kesesakan pergi untuk berdoa,dalam perjumpaanya dengan Tuhan Elia mendapat misi/tugas yang baru). Dengan berdoa,kita selalu menjalin komunikasi denganNya sehingga dengan berdoa kita selalu mengevaluasi pekerjaan yang telah kita lakukan..apakah seturut dengan Allah ataukah tidak..orang yang selalu berdoa berarti dekat dengan Allah dan dapat dipastikan kehidupannya penuh dengan pengharapan.

(3) Gelombang kehidupan (ay.24-26)
Setelah perahu murid-murid beberapa mil jauhnya dari pantai, perahu mereka diombang-ambingkan gelombang karena angin sakal. Sangat drastis sekali perubahan situasi yang dialami murid-murid Yesus, masih jelas dalam ingatan mereka, betapa beberapa waktu yang lalu mereka sangat berbahagia, sangat kagum ketika mereka melihat dengan mata mereka sendiri Yesus melakukan mujizat dengan memberi makan lima ribu orang hanya dengan lima roti dan dua ikan. Tapi sekarang gelombang besar datang dan mereka sangat ketakutan.Ketakutan murid-murid semakin bertambah ketika perahu mereka hampir tengelam,dan ditengah kelelehan mereka membuat perahu tidak tenggelam kira-kira jam tiga malam datanglah Yesus,dan ketika murid-muridNya melihat Dia berjalan diatas air mereka terkejut dan berteriak-teriak karena takut,mereka mengira Yesus adalah hantu.Hidup memang selalu berubah,tadi bahagia sebentar lagi bisa saja merana,atau pepatah karo seh sura-sura turah sinanggel.Murid-murid Tuhan Yesus didera ketakutan baik secara badaniah,mental bahkan spritual,karena saat-saat gawat itu mereka tidak bersama Yesus.

(4) “Tenanglah! Aku ini, jangan takut!” (ay27)
Para murid mungkin berjuang semalam suntuk di kapal dari terjangan ombak dan badai. Mungkin mereka menyadari bahwa guru mereka tidak bersama mereka, sehingga mereka tidak dapat meminta tolong kepada-Nya (lih. Luk 8:22-25). Pada saat gawat seperti ini dan pada waktu yang sungguh sulit dan tak terduga, mereka melihat sosok yang berjalan di atas air, sehingga mereka mengira bahwa itu adalah hantu (ay.26). Namun, kemudian Yesus berkata kepada mereka, “Tenanglah! Aku ini, jangan takut!” (ay.27) Kata “tenang” sering dipakai Yesus ketika Dia menguatkan orang-orang sakit yang datang kepada-Nya. Dia mengatakan kepada orang lumpuh (lih. Mat 9:2) dan kepada perempuan yang telah dua belas tahun menderita pendarahan (lih. Mat 9:22) agar mereka tenang, percaya, sehingga mereka dapat memperoleh kesembuhan. Bahkan Yesus mengatakan lebih lanjut, “Imanmu telah menyelamatkan engkau.” Dari sini kita dapat belajar, bahwa dalam kondisi tanpa harap, kita dapat terus berharap kepada Yesus. Yang diperlukan adalah kepercayaan bahwa Yesus akan membantu kita, dan tidak akan pernah membiarkan kita untuk menghadapi permasalahan hidup sendirian.”

(5) Mata yang tertuju kepada Yesus (ay.28-33)
Mendengar perkataan Yesus serta mengenali sosok dan suara Yesus, para murid mendapatkan ketenangan. Namun, bagi orang yang mengasihi, ketenangan saja tidaklah cukup. Orang yang mengasihi senantiasa ingin bersatu dengan orang yang dikasihinya. Petrus, yang mengasihi Yesus mengatakan, “Tuhan, apabila Engkau itu, suruhlah aku datang kepada-Mu berjalan di atas air.” (ay.28). Petrus ingin cepat bersama dengan Yesus yang saat itu masih berjalan di atas air dan imannya membuat dia percaya bahwa Yesuslah yang berjalan di atas air, serta percaya bahwa Yesus dapat memberikan kekuatan yang sama kepada dia untuk bisa berjalan juga diatas air. Melihat kedalaman hati Petrus, maka Yesus menjawab “Datanglah!” (ay.29). Dan dengan mata yang terus tertuju kepada Yesus, Petrus turun dari perahu, menapakkan kakinya dan kemudian berjalan di atas air mendapatkan Yesus. Imanlah yang membuat seseorang berani untuk meninggalkan apa yang dia punyai, melepaskan apa yang dia pegang, meninggalkan daerah nyamannya, dan kemudian melangkah ke sesuatu yang mungkin lebih sulit, lebih tidak nyaman. Karena imanlah Abraham mau meninggalkan yang dia miliki untuk menuju tanah terjanji; dan karena imanlah Musa mau pergi menghadap ke Firaun dan memimpin bangsa Israel keluar dari Mesir. Tokoh-tokoh Kitab Suci ini mau melakukan perintah Tuhan, karena mereka berpegang pada iman dan janji Allah. Demikian juga dengan Petrus, yang dengan berani menapakkan kakinya ke luar perahu, untuk berjalan di atas air, karena percaya pada Yesus, yang telah berkata kepadanya, “Datanglah!”Ketika Petrus tidak lagi berfokus pada Yesus, namun pada apa yang terjadi di sekitarnya, pada tiupan angin, maka hatinya dipenuhi dengan kebimbangan dan ketakutan, ia pu segera tenggelam. Segera Yesus mengulurkan tanganNya,memegang Petrus dan berkata”hai orang yang kurang percaya,mengapa engkau bimbang”?.Meragukan kuasa Allah atau tidak tujuan hidup yang tidak fokus kepada Allah membuat hidup selalu dikelilingi ketakutan dan tidak harapan yang pasti,padahal kita tahu ketika kita mengandalkaNya,Dia akan segera mengulurkan tanganNya,memberi solusi dalam setiap masalah tapi kita harus percaya/tidak bimbang dan tetap fokus padaNya.

C. Aplikasi.

Ketakutan harus dilawan dengan keberanian, yaitu sikap berani untuk menghadapi tantangan atau ancaman. Keberanian dalam menghadapi tantangan kehidupan bukanlah bersumber pada diri kita, (mengandalkan kekuatan kita bisa saja salah:Yesus dianggap hantu,atau hantu dianggap Yesus) namun fokus pada Kristus sendiri. Inilah sebabnya, ketika kita takut, maka kita perlu membangkitkan kembali sumber kekuatan kita, yaitu Kristus sendiri. Inilah yang dilakukan oleh rasul Petrus, ketika dia berteriak, “Tuhan, tolonglah aku!” Dan pada saat kita meminta tolong kepada Tuhan,Dia menenangkan kita Tuhan menghampiri kita, memegang tangan kita dan menarik kita dari keterpurukan kita..tenanglah..Aku ini..jangan takut... Sama seperti Kristus kemudian mengulurkan tangan-Nya pada Petrus (ay.31). Ketika Kristus mengulur tangan-Nya, Dia menghapus semua kebimbangan dan ketakutan Petrus, dan kemudian Kristus membawa Petrus naik ke perahu (ay.32). Sungguh menarik bahwa ketika Yesus menghapus ketakutan dan kemudian naik perahu bersama mereka, maka dikatakan bahwa anginpun reda. Hanya ketenangan di dalam Tuhanlah yang dapat meredakan ketakutan kita.Tanpa iman dan pengharapan di dalam Kristus, kehidupan kita akan terpusat pada masalah dan gelombang. Namun dengan iman dan pengharapan, kita akan dapat melalui gelombang kehidupan dengan ketenangan dan damai.

Pdt Rena Tetty Ginting
Runggun Bandung Timur

Read more >>

Renungan / Khotbah Yesaya 55:1-5, Minggu 3 Agustus 2014

Introitus : 
“Marilah KepadaKu semua yang letih lesu dan berbeban berat Aku akan member kelegaan kepadamu (Matius 11:28)”

Bacaan : Efesus 2:4-9 (tunggal); Khotbah : Yesaya 55:1-5 (antiphonal)

Tema :“Marilah Datang KapadaKu, Engkau akan Berbahagia”

Pendahuluan:
Banyak masalah yang dihadapi oleh setiap orang dalam hidupnya, dalam keluarganya, pekerjaannya, apakah dia tinggal di desa atau di kota-kota besar. Kehidupan yang semakin maju baik di bidang teknologi, komunikasi, transportasi dan informasi, dengan adanya kemajuan zaman ini banyak orang yang tidak dapat menerima bagaimana menghadapi tantangan kemajuan ini sehingga banyak yang stress, depresi, stroke dan mati. Demikian juga hal nya banyak rumah tangga yang retak hubungan suami istri bercerai dan kawin lagi, ada anak sekolah yang stress tidak dapat menyelesaikan studinya ataupun skripsi karena mereka tidak dapat mencari jalan keluar akhirnya gagal dalam karir dan pekerjaannya. Inilah yang dibutuhkan dalam kehidupan setiap orang yaitu bagaimana dan kemana kita mencari jalan keluar dalam setiap permasalahan yang kita hadapi.

Bimbingan Nats:
Nats khotbah kita pada minggu ini adalah member secercah pengharapan dan keselamatan dari Tuhan dimana umatNya tidak dibiarkan mati dalam penderitaan atas dosa mereka. Perikop ini dikenal sebagai Deutro Jesaya, yang mengisahkan penebusan umat Tuhan pasca pembuangan di Babel, dimana Allah menawarkan kemurahan secara cuma-Cuma agar mereka menjadi saksi tentang kebaikan dan kasih Tuhan. Tuhan disini seakan-akan membuat suatu perjamuan makan dan mengundang Bangsa Israel untuk makan dan minum bersama tanpa uang pembeli minum anggur dan susu tanpa bayar.

Tuhan mengatakan, “Mengapa kamu belanjakan uang untuk sesuatu yang tidak mengeyangkan”, Tuhan mengajak untuk datang kepadaNya memberikan kelegaan, kebahagiaan dan sukacita. Hanya ada kebahagiaan itu apabila datang kepada Tuhan. Apapun yang ada yang didapat, diterima bangsa itu kalau tidak diberkati Tuhan itu semua tidak berarti, tidak berharga dalam hidupnya. Nats renungan ini menuntut orang Israel supaya selalu dengar-dengaran akan Firman Tuhan agar mereka mendapat berkat dan diberkati, agar di dalam kehidupan mereka tidak ada kekurangan baik makanan, minuman dan hasil bidang pertanian dan hujan akan turun bila mereka selalu mendengarkan Firman Tuhan (bandingkan Ulangan 28:15). Jiwa orang Israel merindukan air kehidupan dari Allah seperti rusa yang merindukan sungai, air dalam perjalanan hidupnya (masmur 42:4). Tapi bersama Tuhan selalu mendapat kekuatan, selalu mendapat kesegaran. Tetapi bila mereka tidak hidup di dalam Firman Tuhan, mereka akan layu, lemah dan tidak berdaya dalam menjalani kehidupan di dunia ini. Seperti Yesus menawarkan air hidup kepada perempuan Samaria (dalam Yones 4:13-14), di mana orang percaya mau menerima air kehidupan, dia akan tidak pernah haus.

Aplikasi:
Di dalam kehidupan kita sebagai orang percaya, bahwa banyak yang kita hadapi dalam kehidupan setiap hari. Kita mendapat kebahagiaan dalam pekerjaan kita, mendapat rejeki tapi kita sering merasa kurang puas, merasa kurang banyak dan kurang kita merasakan nikmatnya. Di dalam kehidupan keluarga kita, semakin banyak kita mengalami berbagai-bagai tantangan, kadang-kadang kita mengandalkan pikiran kita, kekuatan kita sehingga kita dibawanya ke dalam kehancuran karena kita mengandalkan diri kita sendiri. Kita tidak sadar bahwa yang kita terima, yang kita hidupi dalam kehidupan kita, semuanya itu adalah berkat pemberian Tuhan. Oleh karena itu, apa yang sudah kita terima itu, bila kita tidak syukuri dalam kehidupan kita pribadi lepas pribadi, ataupun di dalam keluarga kita hal itu semuanya akan sia-sia, bahkan hal itu juga menjadi musuh kita yang membahayakan di dalam kehidupan kita karena kita selalu mengandalkan kekuatan duniawi.
Oleh karena melalui jalan pikiran, kita selalu lupa diri bahwa itu akan mengancam kehidupan keluarga kita sendiri. Melalui apa yang difirmankan Tuhan, kita patut datang kepadaNya dan membawa berkat yang kita terima untuk dapat kita pergunakan dalam kehidupan kita dan melalui itu nama Tuhan dipermuliakan. Dan melalui apa yang kita terima itu, kita berbagi kepada orang yang memerlukannya maka orang lain itu juga akan bersaksi dan mengucap syukur kepada Tuhan. Maka dengan demikian kebahagiaan yang kita dapat, yang kita terima dari Tuhan menjadi kebahagiaan dan berkat bagi orang lain juga dalam kehidupan keluarga kita dan dalam kehidupan sekitar kita, supaya dengan itu semua kita merasakan hidup ini bersama dengan Tuhan kita akan selalu mendapat kebahagiaan dan sukacita. Amin.

Pdt. Johanes Karosekali
Rg. GBKP Bandung Pusat

Catatan:
  1. Jika Thema dirujuk ke Yesaya 48:18 ada 3 pengertian  bahagia. 1. Fisik = rumah,  juma, harta yang banyak. 2. Emosional. Suka ipuji. 3. Spriritualitas. Jikalau nomor 3 sudah ada pasti nomor 1 dan 2 mengikuti.
  2. Ayat 8-9 bisa menjadi ilustrasi, demikian juga ayat 2. Rumah yang besar tidak jaminan dapat tidur dengan yenyak.
  3. Matius 5:3-12, yang membuat bahagia adalah karena melakukan kebenaran, murah hati, membawa damai, dll. bukan banyak harta, rumah yang besar dan bagus, dll.
  4. Ada 2 kata kunci. 1. Undangen menyembut penyelamatan Allah. Menyambut undangan bisa menyenangkan, tetapi juga tidak menyenangkan. Ibas kita iundang banci a menyenangken ras banci ka menyenangken (ayat 3); 2. Undangan solidaritas ayat 1-2.

Read more >>

Renungan / Khotbah Roma 8:26-30, Minggu 27 Juli 2014

Introitus : 
“Serahkanlah segala kekuatiranmu kepada-Nya, sebab Ia yang memelihara kamu” (1 Petrus 5:7).Ogen : 

Mazmur 119 : 129-136 (Responsoria); Khotbah : Roma 8:26-30 (Tunggal)

Tema :“Roh Kudus menolong saat keluhan tak terucapkan”

1. Pendahuluan
Kelemahan manusia, susah mengakui kelemahannya. Kita merasa tahu akan kebutuhan kita sendiri. Padahal apa yang terbaik buat diri sendiri, manusia tidak kompeten memutuskan kepentingannya sendiri. Pengkhotbah mengatakan “Karena siapakah yang mengetahui apa yang baik bagi manusia sepanjang waktu yang pendek dari hidupnya yang sia-sia, yang ditempuhnya seperti bayangan?” (Pkh. 6:12) Kita seperti anak yang bodoh menangisi buah yang belum matang dan yang tidak cocok untuknya.

Kita tidak mampu mengungkapkan keluhan dan kebutuhan kita secara benar kepada Allah. Tuhan Yesus berkata kepada ibu Yohanes dan Yakobus "Kamu tidak tahu, apa yang kamu minta” (Mat.20:22). Kita membutuhkan pertolongan Roh Kudus dalam berdoa. Kita tidak mampu berdoa bagaimana seharusnya dan bagaimana meminta dengan sikap yang disenangi Allah tanpa pertolongan Roh Kudus. Tidak ada doa yang benar tanpa pertolongan Roh Kudus.

Mulut manusia mungkin berdoa tetapi hatinya bisa saja tidak berdoa. Menyatukan mulut dan hati juga adalah kesulitan. Berdoa merupakan hal yang mudah, tetapi berdoa dengan benar yang sulit. Tuhan berjanji menjawab doa kita, tetapi doa yang sesuai dengan kehendak Tuhan. Kalau doa kita melulu untuk kepentingan diri kita sendiri, doa yang membahayakan orang lain tidak akan dikabulkan. Pekerjaan Roh Kudus membuat doa kita sesuai dengan kehendak Allah.

2. Pendalaman Nats
Apa yang hendak disampaikan Paulus dengan ungkapan “keluhan yang tidak terucapkan?” Ketika kita sangat menderita, saat itu iman kita dalam keadaan lemah adalah saat yang paling kritis dan saat paling membutuhkan pertolongan Roh Kudus. Pada saat tersulit, mungkin kita sudah kritis (mis. dirawat di ICU atau saat ditodong dengan pistol), dimana kita tidak bisa mengucapkan doa kita sendiri, Roh Kudus akan melakukannya untuk kita.

Pengakuan umum bahwa “sampai sekarang segala makhluk sama-sama mengeluh” (ay.22). Karena ada penderitaan dan kematian karena kejatuhan manusia ke dalam dosa. Kalau saja Adam tidak jatuh ke dalam dosa maka setelah separuh baya ia tidak membutuhkan kacamata atau tongkat. Matanya akan terus terang dan tegak berdiri. Ada orang yang tidak setuju jika dikatakan penderitaan ini akibat dosa dan jawaban akan masalah manusia adalah penebusan dosa. Tetapi faktanya demikian, tidak dapat dipungkiri bahwa dosa membuat penderitaan, membuat kesia-siaan, memperbudak, membinasakan dan menyakitkan.

Kata mutiara Augustinus, “Allah tidak akan pernah mengizinkan adanya kejahatan, jika Ia tidak dapat mengubahnya menjadi kebaikan”. Allah merasa iba dengan manusia yang mengalami penderitaan yang diakibatkan dosanya sendiri. Khususnya terhadap penderitaan orang percaya; bahwa orang kristen menderita seperti Yesus Kristus, mengalami penderitaan karena kebenaran. Pada saat inilah Roh Kudus mengeluh bersama-sama dengan kita dan merasakan segala beban dari kelemahan dan penderitaan kita. Tetapi Roh Kudus tidak hanya mengeluh, tetapi membawa kita dalam doa, doa yang membawa kita ke dalam kehendak Allah.

Kehidupan orang kristen bukan berpusat pada penderitaan tetapi harapan yang disiapkan untuk orang percaya. Walaupun saat ini kita menderita tetapi kita telah merasakan arti pengangkatan sebagai anak-anak Allah. Kalau kita bandingkan dengan bangsa Israel, saat pengintai-pengintai pulang dari tanah kanaan, mereka membawa buah-buahan Kanaan untuk mereka cicipi, tetapi tidak membuat mereka percaya maka mereka merana. Sedangkan apa yang kita cicipi di dalam Kristus dan berkat-berkat surgawi oleh Roh Kudus membuat kita percaya “bahwa penderitaan zaman sekarang ini tidak dapat dibandingkan dengan kemuliaan yang akan dinyatakan kepada kita”. Seruan orang percaya di dalam kesenangan atau penderitaan: “Yang terbaik masih akan datang!”.

Sebab kita sendiri tidak tahu kehendak Allah; ketidaktahuan ini yang membuat kita merana, tidak mengetahui makna atau faedah penderitaan kita. Dalam penderitaan kita tidak tahu kehendak Allah dan tidak tahu berdoa seturut kehendak Allah. Hal ini merupakan kelemahan kita dan Roh Kudus menolong kita dalam kelemahan.

Iman orang percaya dalam penderitaan Allah turut bekerja mendatangkan kebaikan dan Allah mempunyai rencana yang sempurna. Pengkhotbah 7:13 “Perhatikanlah pekerjaan Allah! Siapakah dapat meluruskan apa yang telah dibengkokkan-Nya?” Atau sebaliknya membengkokkan apa yang telah diluruskan-Nya? Tuhan mempunyai dua tujuan yaitu kemuliaan-Nya dan kebaikan kita. Hal ini sejalan dan tak dapat dipisahkan, kita diikutsertakan di dalam rencana kemuliaan-Nya. Yang telah Tuhan rencanakan pasti berhasil, Tuhan tidak pernah gagal di dalam rencana-Nya. 1 Tes.1:5 “Sebab Injil yang kami beritakan bukan disampaikan kepada kamu dengan kata-kata saja, tetapi juga dengan kekuatan oleh Roh Kudus dan dengan suatu kepastian yang kokoh”. Efesus 1:4-6 “Sebab di dalam Dia Allah telah memilih kita sebelum dunia dijadikan, supaya kita kudus dan tak bercacat di hadapan-Nya. Dalam kasih Ia telah menentukan kita dari semula oleh Yesus Kristus untuk menjadi anak-anak-Nya, sesuai dengan kerelaan kehendak-Nya, supaya terpujilah kasih karunia-Nya yang mulia ...”. Mereka yang dipilih-Nya dipanggil-Nya; ketika mereka menerima panggilan-Nya, Ia membenarkan mereka, dan Ia juga memuliakan mereka. Dengan demikian, bagaimana kita orang-orang kristen berputus asa dan kecewa bila kita telah memperoleh kemuliaan Allah?

3. Pointer Aplikasi
Doa membuat hati terbuka bagi Allah, dan tertutup bagi dosa. Doa menenangkan hati dan membuat pikiran jernih. Doa adalah obat yang sangat ampuh bagi jiwa. Doa adalah pengusir kesedihan, menyingkirkan kedukaan dan melegakan hati. Doa memiliki sejumlah efek yang luar biasa, berarti turut bekerja mendatangkan kebaikan. Persekutuan dengan Tuhan mendatangkan kebaikan.

Pencobaan seharusnya menuntun kita kedalam doa, bukan menjauhkannya. Orang percaya bisa mengeluh bahwa mereka lemah dan tidak mampu menghadapi pergumulan dan menanggung beban yang sedemikian berat. Tetapi dalam nats ini dipastikan bahwa Roh Kudus ikut mengambil bagian dalam menanggung beban orang percaya. Roh Kudus tidak hanya membantu tetapi mengangkat kita. Kita mengakui bahwa tanpa tangan Tuhan menolong maka kita sudah lama hancur oleh banyaknya kejahatan.

Roh Kudus menolong kita, bagaimana kita seharusnya berdoa dan bagaimana cara meminta kepada Allah. Roh Kudus yang membentuk hati yang berdoa, mengarahkannya pada Allah, membuatnya bersungguh-sungguh berharap dan mempersiapkan hati menerima jawaban dari Allah. Tanpa pertolongan Roh Kudus, hati manusia tidak tulus dan serius meminta kepada Tuhan, malah hati manusia sepele kepada Tuhan. Roh Kudus membuat kita dengan hormat menghadap Tuhan.

Bahwa Roh Kudus menyelidiki hati manusia, Roh Kudus tahu apa yang menjadi kebutuhan kita. Bahwa manusia tanpa pertolongan Roh Kudus dalam doa, kita akan memaksakan kehendak kita kepada Allah. Tetapi Roh Kudus menundukkan hati kita hingga kita datang dengan rendah hati dan menyesuaikan kehendak kita dengan kehendak Allah. Sehingga hasil doa tidak akan mengecewakan kita sebab kita tahu kehendak Allah jauh lebih baik dari kehendak kita. Hati kita tidak akan bertentangan lagi dengan kehendak Allah sebab Roh Kudus memproses kita, memajukan kita dan membuat kita sama dengan Yesus Kristus.

Pdt.Sura Purba Saputra, S.Th
GBKP Bandung Barat

Read more >>

Renungan / Khotbah Yesaya 44:6-8, Minggu 20 Juli 2014

Introitus : 
Aku adalah Alfa dan Omega, firman Tuhan Allah, yang ada dan yang sudah ada dan yang akan datang, Yang Maha Kuasa (Wahyu 1 : 8)

Bacaan : Matius 13 : 24-30; 36-43; Khotbah : Yesaya 44 : 6-8

Thema : Allah Berkuasa Sepanjang Masa

Beginilah Firman Tuhan, Raja dan Penebus Israel Tuhan Semesta Alam: Allah memperkenalkan diriNya kepada umatNya agar umatNya kembali meyakini bahwa Dia tidak main-main menjalankan kehendakNya bagi Israel. dimana Allah memperkenalkan diriNya dengan tiga nama: Raja, Penebus Israel dan Tuhan semesta alam. Dan ketiga nama ini menjadi pokok puji-pujian umat Israel kepada Allahnya, dimana Tuhan adalah Raja Israel sebagai pemimpin baik dikala susah maupun senang, baik dikala perang maupun damai Ia (Raja) tetap menuntun umatNya itu agar tidak gampang terkalahkan jika dalam peperangan maupun tidak sombong jika saat damai. Sebagai pemimpin (Raja), maka Allah juga sebagai penebus, dimana Ia tetap membela umatNya bahkan kita melihat lewat kasihNya Ia terus memperhatikan bahkan Yesus dikorbankan untuk tebusan umatNya. Dan Ia juga memperdulikan sebagai mana Ia menguasai semesta alam, dimana Yesus katakan: Telah diberikan kuasa disorga dan di bumi kepada Ku (Mat 28:18). Sebagaimana Allah yang berkuasa dan Dia mengatakan: “Akulah yang terdahulu dan Akulah yang terkemudian (Yes 41:4b), dan tidak ada Allah selain dari pada Aku (Yes 43:11). Penegasan ini diungkapkan oleh Allah untuk meyakinkan umatNya juga segenap orang percaya bahwa didunia ini semuanya bertekuk lutut di bawah kuasa Allah. Kuasa Allah itu menuntun umat pilihanNya saatnya kembali dari pembuangan ke negerinya Yerusalem. Dan walaupun saat mengalami penderitaan di pembuangan Allah menjamin bahwa Ia tidak meninggalkan. Janganlah gentar dan janganlah takut (ay 8a), lewat ungkapan ini suatu jaminan Allah bagi orang-orang percaya, maka Ia tetap setia menyertai dan menguatkan hingga Ia datang kembali.

Saudara, sebagai orang beriman dulu hingga kini seringkali kita digoda/tergoda oleh rayuan iblis seperti umat Israel juga sering tergoda oleh penyembahan-penyembahan berhala, dan tidak jarang menduakan Tuhan, sehingga terkadang mereka harus menghadapi resiko bahkan dibuang ke babel untuk mempertanggung jawabkan perbuatan-perbuatannya. Ternyata Allah itu tetap menyatakan kesetianNya bagi umat maka Ia mengatakan: siapakah seperti Aku.... dan siapakah yang mengabarkan dari dulu kala hal-hal yang akan terjadi (ay 7). Allah itu tetap mengingatkan umatNya bahwa tiada satupun yang mengetahui hal-hal yang akan terjadi kecuali Ia, dan tidak ada satupun yang memahami tentang masa depan kehidupan umatNya kecuali Allah. Dan Allah tetap mempersiapkan umatNya itu menjadi saksiNya bagi dunia ini, maka sebagai saksiNyadiberikan jaminan dengan mengatakan janganlah gentar dan janganlah takut (ay 8).Dan perkatan ini juga di ucapkan oleh Yesus pada murid-muridNya saat perpisahan (Mat 28:20b).

Orang beriman itu adalah benih yang di taburkan didunia ini, dimana Ia bertumbuh hingga berbulir namun terkadang pertumbuhannya itu bersamaan dengan ilalang dan lalang itu itu juga berbunga, namun membuktikan ia gandum atau lalang saat panen, dimana lalang akan diikat dan dicampakkan kedalam api namun gandum itu akan di pergunakan oleh sangpetani dan disimpan (bacaan). Umat Israel/kita adalah gandum yang telah dipanen dan terus ditabur dibumi ini agar bertambah banyak dan akan mempertanggung jawabkan semuanya saat Kristus datang keduakali dan akan ada pengadilan oleh malaikat-malaikatNya. Siapa yang terus menjadi saksi dan menjadi buah yang berguna hidup bersenang denganTuhan Yesus, namun siapa yang menjadi lalang akan diikat lalu di campakkan kedalam api.

Saudara didalam kehidupan ini Tuhan tetap sabar menantikan kita untuk sadar dari pelanggaran-pelanggaran kita (seperti umat Israel) dan Tuhan terus mengharapkan kita menjadi saksiNya, maka Ia menantikan saatnya kita ini kembali padaNya untuk mengakui segala perbuatan yang tidak berkenan dan bertobat. Dan kita juga dididikNya menjadi pembawa berita sukacita dibumi ini walaupun terkadangbermacam-macam godaan dan rayuan untuk menggiring kita ke hal-hal yangtidak berkenan pada Allah. Namun jika kita meyakini bahwa tidak ada kekuatan yang ada tandinganNya adalah kekuatan Allah maka kita akan menjadi pemenang.

Aku adalah Alfa dan Omega, Firman Tuhan Allah, yang ada dan yang sudah ada yang akan datang yang maha kuasa (Intr) dengan pernyataan ini maka kita tidak lagi gentar dan tidak lagi ragu sebab Allah yang menguasa awal dan akhir dan Ia ada yang sudah ada dan juga yang akan datang. Maka dari itu kita menyadari keterpilihan kita ini sebagai pilihan yang harus menyatakan kemaha kuasaan Allah didunia ini agar semua orang akan mendengarkan dan menerima Kristus sebagai juruselamatnya. Allah itu kekal selama-lamanya dari penciptaan sampai kesudahannya, Ia adalah Tuhan diatas semuanya dan Ia yang telah menang mengalahkan kejahatan dan memerintah selama-lamaya (band I Kor 15 :55). Bagi kita sebagai pilihan, tiada kata takut, tiada kata gentar, tiada kata sangsi, hanya ada kata bersama Tuhan aku kuat dan berani menghadapi segalanya, maju terus pantang mundur Allah pemenang dan memberi kemenangan. Sebab Ia berkuasa atas/sepanjang masa.

Salam,
Pdt. Andarias Brahmana S.Th
GBKP Pondok Gede
081317054961

Read more >>

Renungan / Khotbah Matius 13:1-9; 18-23, Minggu 13 Juli 2014

Introitus : 
Demikianlah firman-Ku yang keluar dari mulut-Ku: ia tidak akan kembali kepada-Ku dengan sia-sia, tetapi ia akan melaksanakan apa yang Kukehendaki, dan akan berhasil dalam apa yang Kusuruhkan kepadanya. (Yes.55:11).Pembacaan : Mazmur 65:2-14; Khotbah : Matius 13:1-9; 18-23

Tema : Tidak sia-sia orang yang menerima Firman Allah.

Pendahuluan :
(1) Allah adalah Yang tidak terbandingkan. Yang tak kelihatan dijadikan kelihatan dan yang tak terdengar dibuat terdengar. Yang tak terbandingkan menyatakan dirinya dalam perumpamaan. Pada satu sisi perumpamaan mempunyai keindahan dan daya tarik tersendiri. Pada sisi lain perumpamaan mengandung sesuatu yang menggelisahkan hati manusia, karena merupakan teka-teki dan pencerminan dari realitas. Manusia diantar dari dunia menuju kepada Allah yang tak terbandingkan. Menyampaikan dengan cara perumpamaan akan lebih mudah diingat.

(2) Dalam Injil Matius Pasal 13 ini memuat 7 perumpamaan. Matius menempatkan perumpamaan segera sesudah mulai pertentangan antara Yesus dan orang-orang Farisi. Orang Farisi mewakili pemimpin agama Yahudi yang menolak Yesus menunjukkan bahwa seluruh bangsa Israel beserta pemimpin-pemimpinnya telah ‘buta’ dan tidak melihat bahwa Kerajaan Allah hadir nyata dalam diri Yesus. Melalui tindakannya orang Farisi menunjukkan “sekalipun mereka melihat, mereka tidak melihat dan sekalipun mendengar, mereka tidak mendengar dan tidak mengerti” (Mat.13:13)

(3) Tahun 2014 bagi GBKP adalah Tahun Peningkatan Kuantitas SDM yang berkualitas. Pertanyaan dan sekaligus indikator keberhasilan Tahun Peningkatan Kualitas SDM sesuai teks kita hari ini: Apakah ada kerinduan untuk mendengar firman Tuhan dan kesungguhan untuk memahaminya serta dengan sungguh-sungguh melaksanakannya dalam kehidupan setiap hari? Seperti pada bacaan Mazmur 65:2-14 salah satu indikatornya ada sebuah pengakuan karya Allah memang luar biasa dan merasakan serta mensyukuri berkat-berkat Tuhan?.

Jemaat yang dikasihi Tuhan!
Perumpamaan tentang seorang Penabur adalah Firman Allah yang tidak asing lagi bagi kita. Perumpamaan yang menggambarkan kehidupan sehari-hari penduduk Palestina pada abad pertama. Penabur yang menebarkan benih di atas tanah yang telah dibajak, dicangkul atau dibersihkan supaya dapat ditanami. Walaupun tidak dijelaskan apa yang ditabur, namun biasanya berupa biji-bijian. Biasanya ladang gandum memiliki jalan setapak di sekeliling ladang. Karenanya kalau pada ayat 4 ada benih yang jatuh di pinggir jalan berarti di tepi jalan setapak itu atau diatas jalan itu sendiri. Datanglah burung yang seperti kelaparan dan rakus memakannya sampai habis.

Ada juga yang jatuh di tanah yang berbatu-batu artinya di tanah tipis yang melapisi batu-batuan. Sinar matahari segera memanaskan batu-batuan yang hanya dilapisi tanah tipis, sehingga benih yang ada didalamnya bertunas lebih cepat dari pada benih yang tersimpan di bawah lapisan tanah yang dalam. Mengingat tanah tidak cukup, maka dia tidak dapat bertahan untuk tetap hidup. Bahkan panas matahari membuat tunas-tunas itu cepat layu, kering dan mati karena akarnya tidak masuk cukup dalam. Cepat bertunas dan cepat mati.

Sebagian lagi jatuh di tengah semak duri. Ayat ini memberi kesan bahwa sebagian dari benih tertabur ke atas sekumpulan semak duri yang telah lama tumbuh atau rumput liar yang tumbuh dengan cepat dan memiliki banyak duri. Benih yang ditabur ternyata tumbuh serempak dengan rumput liar itu. Bahkan tumbuhan berduri itu lebih cepat dan mempunyai daya tahan yang lebih kuat dari pada benih yang ditabur. Akhirnya biji yang ditabur terhimpit dan mati.

Sebagian dari benih yang ditabur itu jatuh di tanah yang subur, lalu berbuah; bahkan ada yang seratus, ada yang enam puluh, dan ada juga yang tiga puluh kali lipat. Ternyata benih yang jatuh di tanah yang subur, dimana tanahnya cukup tebal dan tidak di tumbuhi semak berduri dapat menghasilkan panen yang luar biasa.
Ayat 9 ini mengulangi ayat 15 “Siapa bertelinga, hendaklah ia mendengar!

Jemaat yang dikasihi Tuhan!
Walaupun Perumpamaan seorang Penabur kita temui juga pada Injil Markus dan Lukas. Namun apa arti perumpamaan itu secara khusus dengan penjelasannya hanya ada pada Injil Matius 13:18-23. Yesus menerangkan kepada murid-muridNya tentang apa arti perumpamaan yang telah diceritakan dalam ayat 1-9.
Barang siapa yang mendengar firman...sama seperti benih yang ditaburkan.

Benih yang jatuh di jalan ibarat orang-orang yang mendengar kabar tentang bagaimana Allah memerintah, tetapi tidak mengerti. Si jahat itu adalah iblis akan merampas apa yang sudah ditabur dalam hati mereka. Inilah keadaan orang yang digambarkan benih yang jatuh di sepanjang jalan setapak itu.

Lain halnya dengan benih yang ditaburkan di tanah yang berbatu-batu. Ibarat orang-orang yang mendengar kabar itu, dan langsung menerimanya dengan senang hati. Tetapi karena tidak berakar dalam hati mereka, sehingga saat diperhadapkan dengan penindasan atau penganiayaan oleh karena firman itu, maka mereka segera meninggalkannya. Cepat bertunas dan cepat mati. Segera menerima firman dengan sukacita, namun karena ada tantangan atau kesulitan segera pula berubah hatinya. Firman itu tidak tertanam dan meresap dalam hatinya. Sehingga hanya bertahan untuk sementara saja. Ia langsung meninggalkan imannya.

Sedangkan benih yang jatuh di tengah-tengah semak berduri ibarat orang-orang yang mendengar kabar itu, tetapi khawatir tentang hidup mereka dan ingin hidup mewah. Karena itu khabar dari Allah terhimpit di dalam hati mereka sehingga tidak berbuah. Orang seperti ini membiarkan kecintaannya pada kekayaan menguasai hidupnya, sehingga tiada tempat bagi firman itu sendiri. Kata menghimpit berarti mencekik, yang menggambarkan bagaimana semak berduri yang tumbuh di sekeliling tunas yang baru muncul itu dan menutupinya, sehingga mencekiknya sampai mati. Firman tidak mempengaruhi kehidupan orang itu. Firman tidak berdampak dalam hidupnya.

Jemaat yang dikasihi Tuhan!
Tentu beda dengan benih yang jatuh di tanah yang subur. Ibarat orang-orang yang mendengar firman itu dan dengan sungguh-sungguh mencoba untuk memahaminya. Mereka berbuah banyak, ada yang seratus, ada yang enam puluh, dan ada yang tiga puluh kali lipat hasilnya.

Jemaat yang dikasihi Tuhan!
Tanah adalah hati manusia. Tergantung pada tanah adalah bergantung pada hati. Hati manusia itu ada yang keras seperti batu. Semua pikiran yang baik, nasihat serta bimbingan yang baik tidak bisa masuk kedalam hatinya. Ada hati yang penuh duri. Suka mematikan nasihat yang baik dengan perasaan curiga, ragu-ragu dan kurang percaya. Ada hati manusia seperti tanah di pinggir jalan. Sikap mereka seperti orang di pinggir jalan. Suka menonton dan tidak pernah mau terlibat dalam tindakan atau perbuatan yang baik. Namun tanah yang baik adalah hati yang baik. Orang yang berhati baik tidak sama dengan orang yang pintar atau sekolahnya tinggi. Bahkan bisa juga jadi orang pintar mempunyai hati berbatu dan berduri. Agar tercapai kemajuan diperlukan orang yang mempunyai tanah hati yang baik. Bukan saja tergantung kepada pimpinan yang baik atau Pendeta yang baik atau khotbah yang baik.

Jemaat yang dikasihi Tuhan!
Marilah kita menjadi pemenang, yang mencari pertama-tama Kerajaan Allah. Hal-hal lain menyusul kemudian. Allah dan kehendakNya menjadi prioritas kita. Hal-hal lain ditempatkan pada tempat kedua atau ketiga. Segala-galanya diarahkan kepada Tuhan. Biarlah kita menjadi cermin yang berkilat bukan cermin yang buram. Sebagai cermin yang berkilat dapat menyerap seluruh cahaya cinta kasih Allah dan memantulkannya kembali dengan jelas lewat kehidupan sehari-hari. Dan bila harus menanggung derita, yakin sekali bahwa Bapa di Surga sedang mengirimkan piala kesengsaraan yang pahit. Tetapi itu semua diimani dan diamini bagaikan obat yang menguatkan dan menyembuhkan jiwa, karena itu ia tetap memuji Bapa di Surga. Dari luar mungkin kelihatan menimbun kegagalan, namun kenyataan segala sesuatu yang diperbuatnya mengerjakan kearah hidup yang kekal. (EP)

Catatan sermon
  1. Ilustrasi: Tidak pernah Bosan. Pak Yanto adalah seorang Kristen yang saleh. Pada suatu hari beliau bercakap-cakap dengan tetangganya pak Joyo yang belum mau percaya kepada Kristus. Pak Joyo berkata: "Aku heran melihat anda, tiap Minggu pergi ke gereja, bahkan selain hari Minggu pun anda acapkali pergi ke gereja untuk mendengarkan Firman Tuhan. Anda sudah bertahun-tahun secara terus menerus mendengar Firman Tuhan dikhotbahkan. Apakah anda tidak menjadi bosan mendengarnya?" Mendengar pertanyaan temannya itu, pak Yanto berdiam sejenak, serta ia memohon hikmat dari Tuhan untuk memberikan jawaban yang tepat kepada te-tangganya ini. Kemudian pak Yanto balas bertanya: "Co-balah anda jawab, 10 tahun yang lalu apakah yang anda makan dan minum?". Pak Joyo berkata: "Pertanyaan anda in: kok agak aneh ..... 10 tahun yang lalu aku juga makan nasi dan minum air, habis apalagi?". "Baiklah," kata pak Yanto. "Kalau setahun yang lalu, atau sebulan yang lalu apakah yang anda makan dan minum?". "Ya tentu nasi dan air juga yang aku makan dan minum," demikian jawab pak Joyo. Pak Yanto menegaskan: "Kalau begitu pak Joyo rupa-nya tidak pernah bosan makan nasi dan minum air, benar ilemikian pak?". Pak Joyo menjawab: "Ya, kukira bukan ha-nya aku saja, tetapi seluruh penduduk di Indonesia ini juga akan memberikan jawaban yang sama terhadap pertanyaan unda itu, sebab makanan pokok di negara kita adaiah nasi." Lalu dengan tersenyum pak Yanto melanjutkan: "Menpapa pak Joyo tidak pernah bosan makan nasi dan minum air seumur hidup pak Joyo?". Pak Joyo menjawab: "Yah ..... sebab baik nasi maupun air itu merupakan kebutuhan vital yang sangat dibutuhkan tubuh kita. Tanpa nasi dan air, maka tubuh kita akan lemah dan merana." Pak Yanto mene-gaskan: "Pak Joyo, demikian itulah manfaat Firman Tuhan bagi orang Kristen, yaitu seperti makanan dan minuman rohani yang menyegarkan dan menguatkan jiwa umat Kris¬ten. Oleh karena itu orang Kristen tidak akan pernah bosan mendengar Firman Tuhan itu biar pun berpuluh-puluh tahun lamanya." Mendengar penjelasan ini pak Joyo meng-angguk-anggukkan kepalanya, sebab kini ia mulai mengerti mengapa tetangganya ini begitu rajin pergi ke gereja.

    Janganlah ada seorang pun yang merasa bosan untuk mendengar, membaca dan merenungkan Firman Allah. Firman Tuhan itu adalah roti dan air kehidupan yang menyegarkan jiwa orang-orang beriman.

    Bahkan Mazmur 119:105 menyatakan — FirmanMu itu pelita bagi kakiku dan terang bagi jalanku.

Read more >>

Tuesday, 1 July 2014

Runungan / Khotbah Mazmur 145:8-14, Minggu 6 Juli 2014

Introitus : 
Sekiranya kamu dari dunia, tentulah dunia mengasihi kamu sebagai miliknya. Tetapi karena kamu bukan dari dunia, melainkan Aku telah memilih kamu dari dunia, sebab itulah dunia membenci kamu (Yohanes 15:9)

Pembacaan : Wahyu 1:12-18 (Tunggal); Khotbah : Mazmur 145:8-14 (Responsoria)

Thema : 
Allah mengasihi semua orang/Dibata erkeleng Ate Man Isepe

Pembahasan
Firman Tuhan hari ini terambil dari Mazmur. Dalam perjanjian lama, pembacaan mazmur dilakukan secara luas, misalnya di tempat-tempat ibadah, lingkungan istana, lapangan, di jalan-jalan, dan juga di medan peperangan. Contoh misalnya pada zaman kerajaan, pembacaan mazmur dilakukan ketika orang memasuki halaman Bait Allah untuk mempersembahkan kurban; ketika bernazar; pada waktu membayar nazar; ketika orang mencari keadilan; ketika seseorang mencari perlindungan ataupun kesembuhan; dan lainnya. Mazmur yang digunakan pada setiap kesempatan dipilih sesuai dengan peristiwa yang dialami oleh umat atau seseorang.

Pada saat ini, yang menjadi teks Firman Tuhan terambil di pasal yang 145. Pasal ini umumnya dibacakan ketika umat merayakan perayaan-perayaan tahunan yang melibatkan seluruh umat bahkan seluruh makhluk untuk mengagungkan nama dan perbuatan-perbuatan Allah yang ajaib. Ini merupakan respon dari umat atau seseorang terhadap Tuhannya. Dan pembacaan ini semata-mata hanya ditujukan untuk kemuliaan dan kebesaran nama Tuhan.

Sesuai dengan judul hari ini, bahwa Allah memang sangat mengasihi umat-Nya, sehingga mau melakukan perbuatan-perbuatan yang ajaib dalam kehidupan manusia untuk menyatakan bahwa Ia adalah Allah yang berkuasa dan berdaulat. Berdasarkan teks Firman Tuhan tersebut,

a. Mengapa Allah mengasihi Manusia?

Pada dasarnya Tuhan itu kasih. Pada ayat 8-9, dikatakan TUHAN itu pengasih dan penyayang, panjang sabar dan besar kasih setia-Nya. TUHAN itu baik kepada semua orang, dan penuh rahmat terhadap segala yang dijadikan-Nya. Teks ini menunjukkan bahwa manusia adalah ciptaan Allah sendiri. Allah menciptakan manusia serupa dan segambar dengan Allah. Tentu ini adalah sesuatu yang mulia, ada relasi yang erat di dalamnya yang tidak dapat dicerna pemikiran manusia secara mendalam. Tetapi, dapat dirasakan oleh manusia itu, ketika ia benar-benar merindukan Allah dalam seluruh kehidupannya dan menjadikan Allah yang utama dalam hidupnya. Sudah seberapa besar kita mengutamakan Tuhan daam hidup kita?

Saudara/saudari terkasih, ayat 8-9 tersebut adalah sebuah ungkapan yang ucapkan oleh pemazmur, bahwa betapa ia menyadari dan mengalami kasih dan penyertaan Tuhan dalam kehidupannya. Jelas bahwa dalam kehidupan si pemazmur tentu ada masa-masa gelap ataupun masa-masa sulit yang di alaminya. Tetapi bagaimana si pemazmur, melihat dan merasakan bahwa segala yang terjadi dalam kehidupannya semuanya memiliki tujuan yang telah ditetapkan Tuhan dalam kehidupannya, dan itu adalah untuk kebaikannya.

Bagaimana dengan kita ditempat ini? Pada situasi bagaimana dan atas alasan apa biasanya kita mengagungkan kebesaran Allah? Kenyataan menunjukkan bahwa kita mengagungkan dan memuji kebesaran Allah tergantung pada beberapa hal: pada waktu senang, ketika baru mengalami "berkat" Tuhan, atau karena kita menginginkan "berkat"-Nya. Pemazmur melihat bahwa keagungan dan kebesaran Allah tidak tergantung kepada suara pujian manusia dan tidak tertandingi oleh kuasa mana pun sepanjang masa. Apa yang dikatakan pemazmur merupakan suatu pengakuan yang berdasarkan pengetahuan saja, melainkan berdasarkan pengalamannya menyaksikan pekerjaan Allah yang ajaib dan besar.

b. Bagaimana Allah mengasihi manusia?

Allah mengasihi manusia melalui pertolongannya kepada semua orang yang membutuhkan. Tuhan ada kepada mereka yang membutuhkan Pada ayat 14, dikatakan bahwa Tuhan adalah penopang bagi semua orang yang jatuh dan penegak bagi semua orang yang tertunduk. Kalimat ini jelas bahwa si pemazmur ingin menyatakan bahwa Allah adalah kasih terhadap mereka yang membutuhkan. Siapakah mereka yang membutuhkan itu? Mereka adalah kelompok minoritas yang termarginalkan. Dalam kehidupan, sering sekali kita lupa bahwa Allah juga ada untuk mereka yang sering luput dari tatapan orang banyak. Dalam ayat ini, dikatakan bahwa mereka yang membutuhkan adalah mereka yang jatuh (kemungkinan ini adalah mereka yang lemah, khususnya dalam bidang sosial ekonomi), kemudian mereka yang tertunduk (kaum minortas yang miskin, sehingga ia tak memiliki hak mereka sepenuhnya).

Dalam dunia perjanjian lama, nyata bahwa salah satu faktor kuat diberitakan atau diproklamasikannya Firman Tuhan oleh para nabi, yakni mereka kelompok yang termarginalkan. Mereka adalah salah satu alasan, diberiatakannya nubuat Tuhan. Mereka adalah orang-orang yang membutuhkan uluran kasih dari semua pihak. Contohnya, misalnya nabi Yesaya, memberitakan penghukuman terhadap orang-orang Yehuda, karena mereka tidak berlaku adil terhadap sii miskin, janda, anak yatim, budak dan sebagainya. Sekalipun mereka senantiasa memberikan persembahan yang semarak buat Tuhan, tapi Tuhan menyatakan bahwa Tuhan jijik akan persembahan yang demikian, sebab persembahan dan ritual yang demikian, adalah ritual yang berpura-pura di hadapan Tuhan (Yes. 1:4 – 13; 5:1-20; 10:1-2 dst.)

Hal ini memperlihatkan bahwa betapa besarnya Allah kita, yakni Allah yang mengasihi semua orang tanpa memandang bulu, kecil-besar, hitam-putih, kurus-gemuk, kaya-miskin, dan sebagainya, semua kita sama di hadapan Tuhan. Sebab kehendakan Allah adalah kasih persaudaraan di dalam satu komunitas. Seperti Tuhan Yesus yang rela meninggalkan domba-domba yang jumlahanya 99 demi untuk mencari domba yang satu, yang tersesat. Ini mengambarkan bahwa Allah sangat mengasihi umat-Nya, buatan tangan-Nya sendiri. Ia tidak membiarkan yang tersesat itu hilang begitu saja. Tetapi ia mencarinya dengan penuh kasih. Bagaimana dengan kita? Jika kita adalah yang pemilik dari domba-domba tersebut, ketika hari mulai gelap dan akan turun hujan, di tambah jalan pulang sangat jauh jaraknya, masihkah kita mencari domba yang hilang itu? Masihkah kita mencarinya dengan penuh sabar?
Saudara-saudari yang dikasihi Tuhan, ini bukan hanya sebatas domba atau kambing saja, melainkan kehidupan kita di dalam bergereja, khususnya untuk kita para pendeta. Jika ada jemaat atau saudara kita yang tersesat, yang selama ini kita kenal memang bahwa dia adalah seseorang yang suka menjadi troublemaker di dalam gereja, masihkah kita mencarinya dengan kasih dan dengan pengharapan orang tersebut akan kembali lagi? Demikian, kasih Tuhan tidak terbatas dalam kelompok tertentu saja, melainkan kepada semua orang. Ia melihat setiap orang yang membutuhkan pertolongan-Nya, dan nyata bahwa pertolongan-Nya tidak pernah terlambat.

c. Karena Allah begitu mengasihi kita, pujilah Dia!

Ayat 10-13, merupakan ajakan dari si pemazmur untuk semua orang bahkan semua makhluk untuk mengagungkan Tuhan oleh karena besar kasih setia-Nya sampai selama-lamanya. Bukan pengakuan filosofis. Pengakuan pemazmur tentang Allah bukanlah suatu pengakuan filosofis (berdasarkan pengetahuan) melainkan bukti karya nyata Allah. Salah satunya dalam kehidupan nyata, kebesaran dan keagungan Allah itu nampak ketika Allah peduli terhadap keadaan manusia yang rapuh dan segala ciptaan lainnya.
Pemazmur menyatakan bahwa pekerjaan Allah yang ajaib dan besar itu akan berlangsung terus-menerus dari abad ke abad (13) Setiap generasi akan mengalami keajaiban pekerjaan Allah dan mereka akan terus memberitakannya (10-12). Inilah kesaksian dari pemazmur. Tujuannya adalah agar orang lain percaya dan yakin bahwa Allah senantiasa ada sampai selama-lamanya, sehingga memuji Pencipta itu. Cenderung manusia zaman sekarang, seperti halnya Tomas, jika tidak melihat dengan mata kepada sendiri, tidak akan percaya. Seharusnya setiap hari kita bisa melihat karya Tuhan, baik melalui hari-hari yang ada, saat kita masih bisa bangun pagi dan merasakan matahari yang bersinar, udara yang segar, air yang mengalir, dan sebagainya. Tanpa perlu kita memintanya Tuhan sudah menyediakannya, bukankah itu sebuah keajaiban? Memang dalam kehidupan kita, hal-hal yang kecil dan sederhana sering lewat begitu saja di hadapan kita. Dan kita tidak menyadarinya. Kita membayangkan bahwa keajaiban itu selalu hal-hal yang spectakuler, dan wow..

Ingat bahwa Tuhan kita bukan pesulap atau penghibur manusia semata, dan juga bukan seorang yang senantiasa harus memenuhi kemauan manusia. Dia adalah Tuhan yang seharusnya disembah oleh ciptaannya, sebab Dia adalah empunya segala masa, dan segala yang di bumi, Dia adalah Alpa dan Omega, Dia hidup, bahkan Dia pemegang kunci kerajaan maut (Wahy. 1:17-18). Sungguh luar biasa Allah kita, dikatakan bahwa kerajaan maut pun dibawah kendalinya. Oleh karena itu, hendaklah kita, seperti yang terdapat di dalam bacaan Wahyu 1:17, yang berkata: Ketika aku melihat Dia, tersungkurlah aku sama seperti orang mati,... Inilah yang seharusnya dilakukan oleh orang yang mengaku percaya kepada Tuhan. Pernahkah kita mengucap syukur ketika mendengar bunyi gemuruh yang hebar dan kuat? Benar bahwa secara manusia, kita tentu takut terhadap gemuruh yang menggelegar itu. Tetapi pernahkan kita berpikir betapa hebat dan dahsyatnya Dia yang menjadikan gemuruh tersebut? Atau ketika kita pergi ke tempat yang pemandangannya indah, Pulau Dewata misalnya. Tidak sedikit orang yang menayatakan bahwa pulau Dewata begitu indah. Tetapi, pernahkah kita menyadari dan mensyukuri bahwa itu semua berasal dari Tuhan? seberapa kita bersyukur kepada Tuhan, atas kebaikan-Nya kepada kita?

Penutup

Ketika pemazmur menyadari dan mengalami lawatan dan kuasa Tuhan, maka pujian yang keluar dari mulut pemazmur adalah pujian yang lahir dari rasa aman dan syukur karena pengalaman dikasihi, dipelihara, dan dilindungi oleh Rajanya. Betapa damai dan berpengharapannya hidup ini kalau kita menyadari Allah kita adalah Raja yang berdaulat, penuh kuasa, dan sangat peduli atas hidup kita. Ingat dan hitunglah berbagai bentuk kebaikan dan rahmat Tuhan kepada Anda! Adakah melodi syukur mengumandang dalam hidup Anda sehari-hari?

Pdt.Andreas Joseph Tarigan, S.Th., M.Div

Read more >>

Saturday, 28 June 2014

Renungan / Khotbah Roma 6:12-23, Minggu 29 Juni 2014

Introiutus : 
Ke dalam tangan-Mulah kuserahkan nyawaku; Engkau membebaskan aku, ya TUHAN, Allah yang setia. (Mzm. 31:6)

Bacaan : Jeremia 28:5-9 (Anthiponal); Kotbah : Roma 6:12-23 (Tunggal)

Tema : 
Endeskenlah Ring-Ringndu guna ipake Dibata”
Berikanlah Tubuhmu dipakai oleh Allah


Saudara-saudara didalam Yesus Kristus,

Sebagai anak Allah yang sudah menerima Anugerah dari Allah melalui Yesus Kristus, bukan berarti kita lepas dari godaan-godaan/tantangan yang selalu mencoba menjatuhkan kita kembali kedalam dosa. Sama seperti Yesus diutus untuk menebus dosa manusia, maka manusia yang diselamatkanNya kembali diutus seperti domba ditengah-tengah kawanan serigala. Artinya tantangan sebagai anak Allah begitu besarnya di dalam kehidupan ini. Hal ini kembali ditegaskan Paulus agar janganlah kiranya dosa menguasai tubuhmu sehingga tubuh yang fana ini diperalat oleh dosa itu.

Kecenderungan ditengah-tengah kehidupan ini, banyak sekali orang yang menuruti keinginan dagingnya yang juga sebagai alat untuk membelenggu manusia di dalam dosa. Tubuh yang diciptakan Allah yang sempurna beserta bagian-bagiannya ini justru bukan lagi menjadi alat memberikan damai sejahtera tapi justru alat dosa. Hal ini terlihat jelas di dalam kehidupan nyata kita sekarang, bagaimana manusia memakaikan anggota tubuhnya untuk membenarkan diri sendiri dengan menyalahkan orang lain, menghakimi orang lain, bahkan menyakiti orang lain.

Sebagai gambaran ditengah kehidupan bangsa kita Indonesia ini yang tinggal 10 hari lagi melaksanakan pesta rakyat melalui pemilihan Presiden dan wakilnya, jelas kita melihat bagaimana kecenderungan orang yang demi alasan mendukung pilihannya banyak sekali ungkapan-ungkapan yang menjatuhkan, menghakimi memfitnah pasangan yang lain. Ya benar boleh kita berkata itu adalah bagian dari politik negeri ini... Akan tetapi ini juga menjadi gambaran kehidupan kita sekarang ini. Mulut yang seharusnya memberikan ucapan-ucapan berkat justru sering jadi ucapan kutuk yang merupakan dosa. Tangan yang seharusnya dipakai untuk membantu, menolong orang lain justru dipakai untuk memukul/menyakiti yang lain.

Ditengah situasi seperti ini, kita diingatkan melalui firman Tuhan minggu ini untuk memakaikan tubuh kita dipakai oleh Allah. Artinya bagaimana anugerah yang telah kita terima dariNya kita pakaikan seturut dengan kehendakNya serta menjauhkan diri dari belenggu dosa.

Roma 6:12-23

Melalui suratnya Paulus menegaskan tentang kehidupan manusia yang percaya yang sudah mati di dalam dosa. Melalui kematian Kristus menjadi kematian di dalam dosa. Oleh karenanya Paulus menekankan agar jemaat tidak lagi dikuasai oleh Dosa. Semua ini diperjelas oleh Paulus karena ada anggapan bahwa semakin banyak orang berbuat dosa maka semakin banyak pula anugerah yang diterima, jadi jika kita berbuat dosa lagi tidak-apa-apa sebab nanti kita mendapatkan anugerah lagi. Pengertian yang berkembang inilah yang dibantah oleh Paulus agar jemaat menyadari pentingnya hidup di dalam kekudusan (jauh dari dosa) serta menjalankan manusia yang hidup didalam anugerah Tuhan.

Penjelasan tentang budak dijelaskan Paulus bahwa dulu jemaat adalah budak dosa, akan tetapi setelah penebusan oleh Yesus manusia bukan lagi budak dosa tetapi budak Kristus. Budak Kristus yang dimaksud adalah dengan melakukan kehendak Kristus sang penebus yang telah menjadi tuan bagi orang percaya. Jadi peralihan budak dosa yang telah ditebus Kristus menjadi budakNya menjadikan kepatuhan mutlak bagi jemaat kepada Kristus yang berarti tidak lagi patuh kepada “tuan dosa”.

Paulus juga menjelaskan bahwa dosa hanya membawa seseorang pada kebenarannya bukan kebenaran itu sendiri yang ujungnya membuat manusia itu merasa malu sampai akhirnya mendapatkan kematian, akan tetapi orang yang menjadi hamba Allah maka ia akan menjalankan kebenaran, hidup dalam kebenaqran tersebut serta menjadikan tubuhnya di dalam kekudusan dan semuanya itu mendatangkan hidup yang kekal. Dengan kata singkat Paulus menekankan bahwa upah dosa adalah maut, tapi karunia Allah adalah hidup yang kekal dalam Kristus Yesus.

Saudara yang dikasihi Tuhan…

Apa yang dinyatakan Paulus dalam suratnya ini menyadarkan kita dalam kehidupan kita sekarang untuk senantiasa hidup menurut kehendakNya, yaitu hidup dalam kasih karuniaNya. Benar bahwa di dalam kehidupan jaman kita sekarang tantangan untuk hidup dalam kekudusan begitu banyak, tetapi baiklah kita tetap setia sebagai anak Allah yang benar, anak Allah yang setia.

Kita tidak bias hidup hanyut dengan situasi jaman dimana kita hidup, tetapi hidup kita adalah bagaimana tetap terlihat sebagai anak Allah yang hidup di dalam setiap situasi.

Pergunakanlah setiap tubuh kita menunjukkan kekudusan hidup. Artinya bukan hanya tubuh ini saja tapi semua bagian-bagiannya baiklah dipakai menunjukkan kehendak Allah. Sebagai anak Allah harus mampu dan berani tampil beda. Sekalipun kehidupan dosa yang ada disekeliling kita menggocang-goncang kita dengan kuatnya, tapi anak Allah tidak akan jatuh karena Allah yang selalu menolongnya. Amin

Bekasi, Juni 2014
Pdt. Alexander. S. S.Th
081386498009; 087777100076;

Read more >>