Thursday, 13 November 2014

CARA MEMBUAT SKYPE DI LAPTOP - KUMPUTER

  1. Buatlah Email terlebih dahulu bagi yang belum mempunyai email (untuk membuat E-mail klik disini)
  2. Instal Software “Skype” (klik disini bagi yang belum mempunyai sofware “Skype”). Pada saat menginstal dapat memilih bahasa yang ingin dipergunakan.
  3. Setelah selesai proses menginstal, lihat di desktop icon “Skype” lalu di klik, muncul gambar di bawah ini.
  4. Klik tulisan “Buat Akun” dan akan muncul gambar di bawah ini, yakni form untuk di isi. Isilah dengan lengkap. Lalu klik “saya setuju – Lanjutkan” (warna hijau disebelah kiri paling bawah).
  5. Setelah di klik “saya setuju – Lanjutkan” akan muncul halaman di bawah ini.
  6. Kembali ke desktop, lalu klik icon Skype akan muncul seperti dibawah ini.
  7. Isi nama skype dengan nama skype yang telah dibuat sebelumnya, demikian juga dengan akun Microsoft (sandi/password). Lalu klik “masuk”. Akan muncul halaman di bawah ini:
  8. Klik echo/Sound Test Service lalu disetting agar antara penelpon dan penerima panggilan skype bisa mendengar suara, juga test video (cacatan jika leptop ada webcam).
  9. Selanjutnya ketik nama teman di tempat icon “Cari” (contoh: Pdt.Iswan Ginting Manik), lalu klik “Cari Skype”, akan muncul halaman di bawah ini:
  10. Klik icon kamera maka akan muncul panggilan video call. Jika yang kita panggil sedang connect ke internet maka akan langsung terhubung. Kita dapat berkomunikasi secara langsung face to face.
  11. Selamat mencoba. GBU.











Read more >>

Monday, 10 November 2014

Renungan / Khotbah Yesaya 61:1-4, 8-11, Mingggu 14 Desember 2014 (Advent ke 3)

Introitus : 
Roh Tuhan Allah ada padaku,oleh karena Tuhan telah mengurapi aku;Ia telah mengutus aku untuk menyampaikan kabar baik kepada orang-orang sengsara,dan merawat orang-orang yang remuk hati,memberitakan pembebasan kepada orang-orang tawanan,dan kepada orang-orang yang terkurung kelepasan dari penjara (Yes.61:1)

Bacaan : 1 Tesalonika 5:16-24; Khotbah : Yesaya 61:1-4;8-11

Tema : 
Kita idilo maba Berita Si mehuli (Kita dipanggil untuk membawa/menyampaikan kabar baik.

I. Pendahuluan
Salah satu tugas dan tanggung jawab kita sebagai pengikut Kristus adalah bersaksi dan menyampaikan kabar baik kepada dunia sekitar kita.Tugas dan tanggung jawab itu kita lakukan untuk mewujudkan rasa syukur atas penyertaan Allah bagi kehidupan kita.Dengan demikian orang yang mau dan mampu bersaksi menyampaikan kabar baik dari Tuhan adalah orang-orang selalu mampu mengucap syukur,karena kesaksian kita bukanlah keberhasilan yang di raih tapi dengan menunjukkan sikap dan perbuatan dalam kebenaran Allah dalam dunia ini.

Dalam situasi kehidupan kita sekarang ini yang penuh dengan tekanan,berita yang tidak pasti,keadaan yang selalu berubah-ubah,membuat orang lain ingin mendengar kabar baik,dan lebih jauh tidak hanya sekedar mendengar kabar baik itu tapi merasakannya sebagai suatu penghiburan,kebebasan dari belenggu dosa serta perbaikan hidup yang penuh damai sejahtera.Yesus adalah kabar baik,dalam diri dan kehidupanYesus Dia mewujudkan nubuatan para nabi,dalam kehidupanNya terlihat penggenapan nubuatan nabi Yesaya.Ia melepaskan orang-orang yang menderita,termasuk penderitaan yang mendatangkan dosa.Pertanyaan bagi kita sekarang adalah maukah kita menjadi saksi Kristus yang membawa kabar baik itu?
II. Isi
A. Bacaan:1 Tesalonika 5:16-24
Ayat 16:Bersukacita:sukacita yang tidak dipengaruhi oleh situasi dan kondisi,karena sukacita tersebut berakar didalam hubungan dengan Allah.”bersukacitalah senantiasa dalam Tuhan,sekali lagi kukatakan:bersukacitalah”(Fil 4:4).

Ayat 17:Berdoa:berdoa merupakan sikap hidup yang terus-menerus berhubungan dengan Allah dalam menjalani aktivitas kehidupan.

Ayat 18:Mengucap syukur dalam segala hal:menyadari penyertaan Tuhan dalam kehidupan,tidak ada alasan untuk tidak mengucap syukur padaNya.

Ayat 19-22:Paulus mengingatkan jangan memandang rendah Karunia Roh yang bertumbuh di dalam jemaat,karunia itu harus di uji apakah berasal dari roh kebenaran,sehingga jemaat tidak terpengaruh oleh ajaran-ajaran yang tidak sesuai dengan kebenaran Tuhan.

Ayat 23-24:Allah yang memanggil dan menguduskan kita supaya seluruh hidup kita berkenan dihadapanNya dengan demikian kita bisa menikmati damai sejahtera Tuhan.

Dari bahan bacaan diatas menjadi renungan bahwa kita diberi dorongan dan semangat agar teguh hidup bersama Kristus dengan menjalani hidup yang berkenan dihadapanNya.Kita harus hidup sebagai anak-anak terang yang senantiasa bersukacita,tetap berdoa,mengucap syukur dalam segala hal,tidak memandang rendah karunia Roh dan bersedia dipanggil Allah untuk mendatangkan damai sejatera bagi orang lain.

B. Khotbah:Yesaya 61:1-4;8-11
Ayat 1-2:Nabi Yesaya dipanggil dan diutus Tuhan untuk membawa kabar baik/kabar sukacita kepada umat yang akan kembali ke Yerusalem dari pembuangan.Berita keselamatan/penghiburan ini,di sampaikan pada umat Israel yang kondisinya pada saat itu berada dalam kondisi putus asa,tidak mempunyai harapan untuk masa depan yang lebih baik.Berita itu sebagai bukti bahwa Allah mengasihi umatNya.

Ayat3-4:Pemulihan bagi Sion.Suasana kehidupan orang Israel akan berubah,penderitaan akan diganti dengan sukacita,kota-kota yang telah runtuh akan dibangun kembali,tempat yang sunyi akan diperbaharui.

Ayat 8-11:Allah adalah Allah yang mencintai keadilan.Tuhan kembali mengingatkan kepada bangsaNya akan peerjanjian bangsa ini dengan Dia.Hal ini menunjukkan adanya pemulihan yang dilakukan Allah bagi umatNya,dimana Israel akan menjadi umat yang diberkati.

Dari bahan khotbah diatas kita dapat memahami bahwa melalui nabi Yesaya kita dipanggil untuk hidup dalam kebenaranNya.Maksud dari pemanggilan itu adalah supaya kita mampu menyaksikan kebenaran dan kuasa Allah dalam dunia ini,menyaksikan bahwa Allah akan memberkan perubahan hidup yang mendatangkan damai sejahtera karena Allah benar-benar menepati janjiNya.

III. Aplikasi
Yesaya menjadi tokoh yang penting dalam menyampaikan kabar baik bagi umat Israel.Dalam Kabar baik itu tercantum panggilan Tuhan agar bangsa Israel tetap hidup dalam kebenaranNya.

Demikian juga denga kita,Allah mempercayakan kabar baik itu kepada kita untuk kita saksikan dalam kehidupan nyata kita. Tuhan memberikan peran bagi kita untuk berkarya bagi terwujudnya rancanganNya.Kita tahu bahwa setiap manusia pasti ingin mendengar kabar baik,karena masing-masing manusia pasti mengalami pasang surut kehidupan,baik bidang ekonomi,kesehatan,keamanan dst.Dalam Minggu adven ini dimana minggu penantian kedatangan anak Allah dalam diri Yesus yang akan membebaskan dan memberi keselamatan bagi manusia dan seluruh ciptaanNya. Ini berarti menantikan kedatanganNya tidak dengan pasif tapi dengan tindakan-tindakan yang konkrit.Hendaknya kita yang dipercayakan Tuhan untuk menyampaikan kabar baik dengan penuh sukacita dan ucapan syukur benar-benar dapat meyaksikannya melalui kehadiran dan kepedulian terhadap sekitar kita.

Meskipun kita mendapatkan peran penting untuk menyaksikan ataupun menyampaikan kabar baik ke dunia ini namun yang memprakarsai dan aktor utama tetaplah Tuhan dengan segala otoritasNya,karena Dia sendirilah kabar baik itu, Oleh karena itu kesaksian harus dilakukan dengan kerendahan hati,sebab dengan kerendahan hati kita tetap mampu mendatangkan sukacita melaluikehadiran kita di dunia ini.

Pdt Rena Ginting,STh
Bandung Timur

Read more >>

Renungan / Khotbah 2 Petrus 3:8-15, Minggu 7 Desember 2014 Advent ke 2)

Introitus : 
Ada suara yang berseru-seru: Persiapkanlah di Padang Gurun jalan untuk Tuhan. Luruskanlah di padang belantara jalan raya bagi Allah kita (Yesaya 40:3).

Bacaan : Yesaya 40:1-11 (Responsoria); Kotbah : II Petrus 3:8-15 (Tunggal)

Tema : Persiapkanlah Jalan Untuk Tuhan

PENDAHULUAN
Ketika kita mendapat kabar berita bahwa kita akan kedatangan tamu ke rumah kita, maka kita sebagai tuan rumah sudah pasti akan mempersiapkan diri kita untuk menyambut dia yang akan dating. Yang dating itu akan kita persiapkan mulai dari sumur, dapur dan tempat tidur. Kita membersihkan rumah kita dengan senang hati. Kita mempersiapkannya dengan baik agar yang dating itu merasa nyaman, tenang dan suka cita. Demikianlah pada minggu Advent ke II ini melalui renungan kita di dalam surat 2 Petrus 3:8-15 kita diajak untuk merenungkan bagaimana kita sudah siap untuk mempersiakan diri kita, hati kita supaya Tuhan yang akan dating itu merasa nyaman dan tenang, berkenan di hati kita dan di dalam pribadi kita masing-masing.

ISI/ PEMBAHASAN
Surat II Petrus ini mengingatkan kita kepada kedatangan janji Tuhan yang dinamakan juga dengan Parusia. Kapankah kedatangan Tuhan yang disebut dengan Parusia itu? Konsep waktu TUhan dengan manusia berbeda. Di dalam ayat 8 dikatakan bahwa seribu tahun sama dengan 1 hari atau 1 hari sama dengan 1 tahun di mata Tuhan (Mzm 90:4). Karena mengenai waktu kapan kedatangan Tuhan itu adalah merupakan otoritas ataupun kuasa Allah. Tapi yang penting atau perlu di dalam khotbah kita pada saat ini adalah kita menunggu dengan sabar dan tekun kapan waktu saja. Walaupun banyak orang berfikir dan beranggapan bahwa Tuhan itu lupa atau lambat memenuhi janjinya tapi Tuhan itu sabar dan punya rencana supaya setiap orang dapat bertobat dan selamat. Manusia diberi mengevaluasi dirinya untuk bertobat, berubah sikap dari yang tidak baik menjadi baik. Dapat kita lihat bahwa bagaimana Tuhan memberikan waktu dan kesempatan bagi kita manusia. Gambaran kedatangan Tuhan itu juga digambarkan seperti kedatangan pencuri, waktunya kita tidak tahu karena Tuhan tidak mengumumkannya atau memberitahukannya terlebih dahulu. Langit akan lenyap. BUmi dan segala yang ada di atasnya akan hilang dan lenyap. Apakah yang dibuat oleh orang yang beriman kepada Tuhan? Rasul Petrus mengatakan,” Kamu harus hidup tidak bercela dan berkenan di hadapan Tuhan, bersih dan tidak bercela di hadapanNya”.

APLIKASI
Pada saat ini kita sedang menantikan dan berjalan di dalam Minggu-minggu Adven. Persiapan-persiapan kita untuk menyambut natal tentu dalam minggu-minggu Adven ini, kita dituntut tetap sabar, setia dan tekun. Menanti berarti hidup berinisiatif dan banyak berubah dinamis dan mengadakan perubahan-perubahan di dalam kehidupan kita. Penantian berarti kita dituntut untuk merubah sikap hidup kita, perbuatan kitra dan cara berfikir kita. Hati kita harus siap untuk mengadakan hal-hal yang positif untuk mempersiapkan jalan Tuhan dalam hati kita. Walaupun banyak yang kita tidak dapat terima dalam kehidupan kita, pekerjaan kita, keluarga kita dan jemaat Tuhan terlebih lagi dalam masyarakat kita, kita harus merendahkan hati kita dan selalu mau hidup di dalam firman Tuhan. Yang mungkin juga dalam pengalaman hidup kita dan keluarga kita boleh saja hati kita tergores oleh ulah teman-teman sekerja kita, saudara-saudara kita namunpun demikian, melalui firman Tuhan dan kerendahan hati kita, kita selalu dikuatkan dalam menjalani hari-hari kehidupan kita. Hal yang demikianlah yang membuat hati kita menjadi damai sejahtera, karena hati kita, kita sudah siapkan agar Tuhan menguasai hidup kita dan Tuhan itu akan membimbing kita dan kita dapat menjadi saksi untuk orang lain dan untuk Tuhan.

Pdt. Johanes Karo Sekali
GBKP Runggun Bandung Pusat

Read more >>

Renungan / Khotbah Yesaya 64:1-9, Minggu 30 November 2014

Introitus : 
“Tetapi sekarang, ya TUHAN, Engkaulah Bapa kami! Kamilah tanah liat dan Engkaulah yang membentuk kami, dan kami sekalian adalah buatan tangan-Mu” (Yesaya 64:8).

Ogen : Markus 13:24-37 (Tunggal); Khotbah : Yesaya 64:1-9 (Antiphonal)

Tema : ”Ya TUHAN, Engkaulah Bapa kami!”

1. Pendahuluan
Seorang ibu yang baru melahirkan anak pertamanya ditemani oleh orang tuanya (ibunya). Suatu sore ia mengatakan kepada ibunya bahwa suatu kejutan karena bayinya memiliki rambut hitam, karena ia keduanya dengan suaminya memiliki rambut pirang. Nenek itu menjawab, "wajar saja, ayahmu kan memiliki rambut hitam". Putrinya menjawab, "tapi, Mama, itu tidak ada kaitannya, karena aku diadopsi". Dengan senyum malu, si ibu mengucapkan kata-kata yang paling indah bagi putrinya: "Aku selalu lupa". Semua orang Kristen diadopsi menjadi anak-anak Allah yang diterima oleh Allah dengan cinta tanpa syarat yang sama seperti ibu ini lakukan untuk putrinya.

Status kita sebagai anak-anak Allah sangat menentukan bagi seluruh hidup kita. Roh Kudus telah menjadikan kita anak-anak Allah yang berhak menjadi ahli waris yang memperoleh janji-janji Allah. “Roh itu bersaksi bersama-sama dengan roh kita, bahwa kita adalah anak-anak Allah” (Roma 8:16). Dan sekali kita menjadi anak-anak Allah maka seterusnya kita adalah anak-anak Allah. Tidak akan pernah Allah lupa akan janji-Nya, membatalkan pengangkatan dan menyangkal bahwa kita adalah anak-anak-Nya.

Tetapi apakah status sebagai anak-anak Allah ini telah meningkatkan kualitas hidup kita? Ataukah kita tetap menjadi anak-anak yang mengecewakan dan membuat malu Bapanya? Bagaimana harapan kita ke depan? Apa yang hendak kita lakukan kepada Bapa yang menebus dan menyelamatkan kita dari kuasa dosa dan maut? “Bolehkah kita bertekun dalam dosa, supaya semakin bertambah kasih karunia itu? Sekali-kali tidak! Bukankah kita telah mati bagi dosa, bagaimanakah kita masih dapat hidup di dalamnya?” (Roma 6:1-2). Kita diajak untuk hidup sebagai anak-anak Allah yang sejati, yang bertekun dalam rancangan dan jalan Tuhan.

2. Pendalaman Nats
Nats ini berasal dari zaman sesudah tahun 587, zaman sesudah Yerusalem jatuh dan bangsa Israel dibawa ke pembuangan Babel. Hal ini merupakan jawaban Israel atas Firman Allah yang disampaikan oleh nabi-nabi yang memberitakan hukuman; hukuman diterima, namun umat Allah yakin bahwa Tuhan tetap mengasihinya seperti seorang bapa mengasihi anaknya.
Allah bertindak atas kasih setiaNya, walaupun Ia dikecewakan, walaupun Ia murka terhadap pemberontakan Israel, Ia tidak dapat mengabaikan mereka. Allah sendiri yang mengingatkan bangsa Israel untuk berharap kepada-Nya. Dan atas dasar ini, Yesaya dan bangsa Israel berdoa memohon kepada Allah. Dalam hal ini perlu diingat bahwa bukan doa yang tulus yang menggerakkan Allah, bahwa Allah sendiri yang tergerak oleh belas kasihan-Nya. Manusia tidak mempunyai hak untuk mendesak Allah untuk menolongnya, jika Tuhan bertindak, Ia digerakkan oleh perasaan-Nya sendiri.

Berdoa adalah berpegang pada Allah, dengan iman memegang janji-janji dan deklarasi Allah yang telah membentuk kita. Kita memohon kepada-Nya – seolah-olah menarik dia seperti orang yang hendak pergi dari kita, sungguh-sungguh memohon pada-Nya untuk tidak meninggalkan kita, atau memohon kepada-Nya yang telah pergi, meminta-Nya untuk kembali. Tetapi sebenarnya kita berpegang kepada Allah adalah seperti nelayan yang menarik perahunya menuju pantai, seolah-olah dia menarik pantai padanya, tapi sebenarnya menarik perahunya ke pantai; jadi kita berdoa, bukan untuk membawa Allah kepada kita, tetapi untuk membawa diri kita kepada Allah. Bahwa Tuhan tidak berubah, sebenarnya kitalah yang telah berubah.

Di sini terbukti bahwa kasih setia Tuhan melebihi murka-Nya. Kasih setia Tuhan (Bhs. Ibrani “khesed”) merupakan dasar hidup umat Allah dari sejak awal mula dan satu-satunya jaminan untuk masa depan. Yesaya 63:7 “Aku hendak menyebut-nyebut perbuatan kasih setia TUHAN, perbuatan TUHAN yang masyhur, sesuai dengan segala yang dilakukan TUHAN kepada kita, dan kebajikan yang besar kepada kaum Israel yang dilakukan-Nya kepada mereka sesuai dengan kasih sayang-Nya dan sesuai dengan kasih setia-Nya yang besar”. Karena itu Tuhan sendiri bertindak untuk menebus dan menjadi Juruselamat bagi anak-anak-Nya yang dikasihi-Nya.

Mengapa Bait Allah dinajiskan dengan diinjak-injak oleh bangsa asing? Karena bangsa Israel sendiri terlebih dahulu telah menajiskannya. Sehingga Allah tidak menyatakan kehadiranNya di dalam BaitNya yang Kudus. Untuk sementara waktu Tuhan tidak menunjukkan wajah-Nya bagi Israel. Umat Israel berbalik menantikan TUHAN dengan mengaku: kami berdosa, kami memberontak, kami sekalian najis, kesalehan kami seperti kain kotor, kami sekalian menjadi layu, kami lenyap oleh kejahatan kami, kami menyerahkan diri ke dalam kuasa dosa kami. Semua ini adalah kesalahan kami, kebodohan kami; karena itu kami berserah kepada-Mu.
Mengapa bangsa Israel berani menghadap Tuhan di dalam doa permohonan mereka? Karena Tuhan sendiri mengingatkan akan perbuatan-Nya pada masa lalu dan Tuhan tetap menyatakan diri sebagai Bapa mereka. Ke-Bapa-an-Nya tidak dapat ditiadakan sebab Allah yang membentuk mereka.

Mereka berdoa agar Tuhan melihat ke bawah dari surga, agar Ia datang untuk membebaskan mereka. Mereka berdoa agar Tuhan membelah langit dan turun menyatakan kuasa pembebasan-Nya. Harapan agar Tuhan menyatakan kekuasaan-Nya, keadilan dan kebaikan-Nya, secara luar biasa, sehingga bangsa-bangsa dapat melihat dan mengakui Allah Israel. Doa ini juga berlaku untuk kedatangan Kristus yang kedua, ketika Tuhan sendiri akan turun dari surga. Kita berdoa “Tuhan Yesus, datanglah segera”. Dengan harapan kedatanganNya mengalahkan semua yang melawan dan menentang nama-Nya. Api kemuliaan-Nya akan melelehkan semua gunung-gunung yang tegak berdiri, bahwa tidak akan ada suatu apa pun yang bertahan dihadapan-Nya. Semua gemetar dan tidak tahan berdiri di hadapan kekudusanNya. Harinya akan datang ketika semua bangsa gemetar dan berlutut di hadapan-Nya.

Orang-orang yang menanti-nantikan Allah mengharapkan hari Tuhan menyatakan diri, sebab kedatangan Tuhan bertujuan untuk menyatakan keselamatan dan kebahagiaan bagi orang-orang yang dikasihiNya. Bahwa semua orang yang mencari Dia, dan melayani Dia, dan menjaga imannya, telah dipersiapkan, sehingga mereka tidak perlu takut apalagi kecewa pada waktu itu, sebab kehidupan telah disiapkan bagi mereka.

Manusia tidak mendengar atau melihat apa yang Tuhan siapkan bagi mereka yang menantikan-Nya. Perhatikan karakter umat Allah; mereka yang menantikannya dengan kesungguhan hati bekerja untuk Tuhan, menunggu keselamatan yang telah dijanjikan dan dirancang untuk mereka. Allah telah memenetapkan bagi mereka yang takut akan Dia, dan yang percaya kepada-Nya. Allah sendiri menetapkan kebahagiaan pada masa kini dan masa depan bagi jiwa-jiwa orang-orang kudus. Tetapi seperti ada tertulis: "Apa yang tidak pernah dilihat oleh mata, dan tidak pernah didengar oleh telinga, dan yang tidak pernah timbul di dalam hati manusia: semua yang disediakan Allah untuk mereka yang mengasihi Dia” (1 Kor. 2:9).

Kita harus menyimpulkan dari karya kasih karunia Allah yang luar biasa, serta dari karya-karya kekuasaannya yang menakjubkan, bahwa tidak ada tuhan seperti Dia, tidak ada yang dapat dibandingkan dengan Dia.

Tuhan yang mengharapkan kita, dalam lingkup persekutuan dengan-Nya. Pertama, Kita harus membuat hati nurani melakukan dalam setiap hal, kita harus bekerja dalam kebenaran, harus melakukan apa yang baik dan yang Tuhan Allah minta dari kita, dan harus melakukannya segenap hati. Kedua, Kita harus bersukacita dalam melakukan tugas kita, kita harus bersukacita dan bekerja kebenaran, harus menyenangkan bagi diri kita bekerja bagi Allah, harus bersukacita dalam pelayanan-Nya dan bernyanyi di mana kita ditempatkan. Allah mengasihi orang yang memberi dengan sukacita, seorang penyembah yang bersukacita. Kita harus melayani Tuhan dengan sukacita. Ketiga, Kita harus menyesuaikan diri dengan semua metode pemeliharaan-Nya, kita harus ingat berada di jalan-Nya, dalam semua cara dipakai Tuhan, apakah ia menuntun sesuai dengan harapan kita atau mengarahkan kita bertentangan dengan harapan kita. Kita harus tanpa keberatan kepada-Nya dan selalu mengucap syukur ketika jalan-Nya tidak seperti yang kita pikirkan, dengan kesabaran dan penyerahan diri mengikuti-Nya. Kita harus mempertimbangkan bahwa rancangan dan jalan Tuhan yang terbaik.

Bagi kita diberitahu apa yang kita harapkan dari Allah sehingga kita melakukan kehendakNya. Mempersiapkan diri menerima berkat-berkat kebaikan-Nya, dengan bersukacita berbuat baik dan mengerjakan kebenaran, dan menantikan penggenapan janji-Nya. Kita hidup dengan kepastian dari indahnya janji Allah dan dalam ketepatan janji-Nya yang tidak pernah berubah, terlepas dari dosa-dosa umat-Nya dan rasa tidak senangnya terhadap mereka karena dosa-dosa mereka. Harapan kita akan keselamatan bukan dibangun berdasarkan kebaikan atau kelayakan kita sendiri. Tetapi berdasarkan belas kasihan dan janji-janji Allah, bahwa tindakan Allah berkelanjutan.

Umat Allah mengaku dalam penderitaan mereka dan meratapi dosa-dosa mereka, mengakui Tuhan benar dalam tindakan-Nya menghukum mereka, mengakui bahwa mereka tidak layak mendapatkan rahmat-Nya, sikap ini mempersiapkan mereka untuk pembebasan. Yang terbaik dari kami telah pudar dan tercemar, bahwa kebaikan kami hanyalah seperti kain kotor. Mereka mengakui penderitaan mereka menjadi buah dan produk dari dosa-dosa mereka sendiri dan Murka Allah. Dengan kebodohan sendiri: "Kita semua menjadi najis, dan karena itu kita semua layu seperti daun, kita tidak hanya layu dan kehilangan kecantikan kita, tapi kita jatuh dan terlepas", demikianlah kata yang menandakan seperti daun di musim gugur. Kami dilahap oleh murka-Mu; Engkau telah melebur kami. Allah telah menempatkan kita dalam tungku, tetapi tidak membakar kita seperti sampah, tapi melebur kita seperti emas, yaitu memurnikan kita dan membuat menjadi baru.

3. Pointer Aplikasi
Karena Allah menyatakan diri sebagai Bapa kita, maka kita dapat menghadap pada-Nya dan mencurahkan semua isi hati kita kepada-Nya. Walaupun kita telah jatuh dan gagal memenuhi harapan-Nya, kita dapat mengaku akan kelemahan kita. Ia akan bertindak setia dan adil terhadap kita. Bahwa tidak ada suatu apa pun yang dapat memisahkan kita dari kasih Allah.

Pekerjaan Allah bagi kita tidak dapat disangkal bahwa Tuhan yang mengerjakan keselamatan kita. Tuhan yang selalu menambahkan kebaikan dalam hidup kita, tetapi kita yang selalu menguranginya dengan kebodohan dan kebebalan hati kita. Tuhan mau menyatakan kemuliaanNya di tengah-tengah kita, Tuhan tidak malu mengakui kita sebagai anak-anakNya atau umat pilihan-Nya. Hal ini seharusnya menyadarkan dan mendorong kita untuk hidup dalam anugerah-Nya. Maka doa kita “dikuduskanlah nama-Mu, datanglah kerajaan-Mu” menjadi aksi nyata,bukan hanya doa yang terucap tetapi dengan sepenuh hati dihidupi. Filipi 2:13 “karena Allahlah yang mengerjakan di dalam kamu baik kemauan maupun pekerjaan menurut kerelaan-Nya”.

Di hadapan Bapa yang penuh kasih membawa keinsafan pada pihak kita sendiri bahwa bukan kita saja yang menderita, melainkan Bapa juga dikecewakan dan disakiti oleh sikap kita. Bahwa nama-Nya tidak dimuliakan dan kerajaan-Nya tidak dinyatakan, sehingga orang lain tidak dapat melihat siapa Tuhan itu sesungguhnya dan mereka tidak datang kepada-Nya.
Di dalam kesadaran akan kesalahan kita, kita ingin berbalik kepada Tuhan. Kita menyerahkan diri kepada pimpinan Tuhan agar segenap hidup kita dibaharui dan kita merindukan agar kuasa Tuhan dinyatakan kembali dalam hidup kita.

Nama Tuhan tidak dipermuliakan di tengah-tengah gereja yang berdebat dan bertentangan satu dengan yang lain. Gereja yang tidak membangun persekutuan dengan Tuhan tetapi membuat agenda-agenda manipulatif dengan memakai nama Tuhan untuk kepentingan-kepentingan pribadi dan kelompok tertentu. Gereja makin menjauh dari tujuan semula pembentukannya.

Banyak orang kristen yang memperdebatkan tanda-tanda kedatangan Tuhan Yesus yang kedua kali. Tetapi kurang berjaga-jaga dengan mengerjakan kehendak Tuhan Yesus. Apakah tanda-tanda yang utama sehingga kita mengabaikan Yesus Kristus sendiri? Yang terutama adalah kesadaran diri akan Yesus Kristus, bahwa kita tidak tertidur dan tidak sadar akan kehadiran Yesus pada saat ini. "Hati-hatilah dan berjaga-jagalah! Sebab kamu tidak tahu bilamanakah waktunya tiba. Dan halnya sama seperti seorang yang bepergian, yang meninggalkan rumahnya dan menyerahkan tanggung jawab kepada hamba-hambanya, masing-masing dengan tugasnya, dan memerintahkan penunggu pintu supaya berjaga-jaga” (Markus 13:33-34). Kita sedang menanti-nantikan Hari Tuhan, kedatangan Tuhan Yesus yang kedua kali dengan berjaga-jaga dan bekerja. Sebab kita diperintahkan untuk menjaga rumah-Nya sampai Ia datang kembali. Hiduplah dengan penuh tanggungjawab akan kasih Bapa yang mempercayakan kemuliaan-Nya pada kita anak-anak-Nya. Amin.

Pdt. Sura Purba Saputra
GBKP Bandung Barat
HP. 081263596400

Read more >>

Renungan / Khotbah Efesus 1:15-23, Minggu 23 November 2014

Introitus : 
“dan meminta kepada Allah Tuhan kita Yesus Kristus, yaitu Bapa yang Mulia itu, supaya Ia memberikan kepadamu Roh Hikmat dan wahyu untuk mengenal Dia dengan benar (Efesus 1:17)

Bacaan : Yehezkiel 34:20-24 (Responsoria); Khotbah : Efesus 1:15-23 (Tunggal)

Tema : Pakailah Roh Hikmat Allah

PEMAHAMAN TEKS
Janji sebagai Hakim yang adil disampaikan Allah bagi umat Israel melalui Yehezkiel, dimana Allah akan menolong para umatnya dan memisahkannya dari umat yang tidak taat kepada Allah melalui “gembala” yang akan diutusnya (bnd Yeh 34:23) inilah yang menjadi pengokoh iman bangsa Israel untuk tetap terus mengandalkan Allah dalam kehidupannya. Demikian juga yang menjadi penguatan dan pikiran bagi Paulus dalam melayani bagi orang-orang Efesus. Surat Efesus ini, ditulis oleh Paulus ketika dia sedang berada dalam penjara. Ada dua hal yang menjadi alasan Paulus; Pertama Paulus sangat menghargai pertumbuhan. Ketika Paulus mendengar kabar tentang iman jemaat Efesus yang bertumbuh baik dalam iman dan Kasih. Paulus bersyukur dan memuji Tuhan "Ketika aku mendengar tentang kamu, mendengar tentang imanmu dalam Tuhan dan tentang kasihmu kepada semua orang kudus, aku mengucap syukur karena kamu." (ayat 15). Di dalam bagian ini Paulus melihat pertumbuhan orang Kristen sebagai suatu prestasi, artinya suatu pertumbuhan perlu dihargai, diperhatikan, dilihat dan dinilai oleh setiap orang di dalam kehidupan kita secara ideal. Kedua Paulus juga menyadarkan mereka dengan satu permohonan yang tulus, "dan aku senantiasa mengingat kamu dalam doaku. Dan meminta kepada Bapa yang mulia itu supaya memberikan kepadamu Roh hikmat dan wahyu." (ayat 16-17) Bentuk kalimat yang dipakai di sini menggambarkan satu permohonan yang serius dengan sungguh-sungguh meminta agar Tuhan memberikan kepada mereka Roh hikmat dan wahyu supaya mereka bisa bertumbuh. Sehingga pada bagian berikutnya Paulus mengajak bahwa pertumbuhan iman itu harus Nampak dalam sikap dan perilaku mereka yang telah dipenuhi oleh Roh hikmat tersebut.

Orang yang dipenuhi Roh Hikmat Allah adalah orang yang hidupnya telah diubah oleh pengaruh dari kuasa firman Tuhan, sehingga dia menjadi orang yang suka akan kekudusan. Karena dipenuhi Roh Hikmat, dengan sendirinya orang tersebut tidak menyukai hal yang palsu, tidak benar, tidak suci, dan yang menyeleweng. Semua hal yang tidak beres akan dia singkirkan dari kehidupannya. Karena Hikmat Allah memenuhi dirinya, maka tidak ada sesuatu yang tidak kudus yang boleh berada di dalam dirinya. Namun mungkin kita bertanya apakah orang yang telah Suci saja bisa menerima Hikmat Allah dan Siapakah orang yang suci di antara kita? Tidak ada seorang pun yang suci di hadapan Tuhan. Tetapi pada waktu Roh Hikmat memenuhi hati kita, paling tidak kita memiliki keinginan untuk menjalani hidup yang suci. Sebelum kita mencapai kualitas kesucian di dalam segala aspek, kita sudah mempunyai keinginan yang sempurna. Bila kita bersedia dibersihkan oleh Tuhan secara total dan mutlak, dan mau menyerahkan diri kepada-Nya, maka Dia akan memberikan kesucian kepada kita, hingga hidup kita memuliakan Dia. Johanes Calvin mengatakan: “Orang suci bukanlah orang yang tanpa dosa, melainkan orang yang mempunyai kepekaan yang tinggi terhadap dosa sekecil apapun.” Misalnya pada tubuh, terdapat bagian-bagian yang sangat kebal dan bagian-bagian yang sangat peka. Contohnya, bila tangan kita terkena pasir, bahkan sampai seluruh tangan pun dikotori pasir, tidak akan terjadi masalah besar. Tetapi, coba saja sedikit pasir masuk ke mata kita, tentu kita langsung mengaduh dan berusaha membersihkan pasir tersebut. Kita tidak akan tahan karena mata merupakan bagian yang sangat peka. Demikian juga halnya kita memerlukan Roh Hikmat Allah untuk menjadikan mati hati kita terang dan peka dari dosa sekecil apapun (ayat 18). Orang suci adalah orang yang mempunyai kepekaaan besar terhadap dosa yang sekecil apapun. Seseorang yang dipenuhi Roh hikmat itu sangat peka. Mengetahui ada sedikit ketidakberesan, ketidaksucian, atau motivasi yang sedikit kurang benar, ia akan langsung menegur. Itu disebabkan hati nurani orang tersebut tidak menginginkan adanya pemalsuan, kecurangan, penyelewengan, atau ketidakjujuran sedikitpun. Pun juga orang yang telah dipenuhi Roh Hikmat, tidak akan melalui hidupnya dengan hanya memikirkan dirinya sendiri. Roh Hikmat akan menolong dia meninggalkan hidup yang berpusat pada diri sendiri dan menerima hidup yang berpusat pada kemuliaan Tuhan. Roh Kudus tidak akan memperbolehkan seseorang hidup bagi dirinya sendiri, karena kasih Kristus akan mendorongnya, sehingga dia mau hidup bagi Dia yang sudah mati dan bangkit baginya.

APLIKASI
Roh Hikmat dan wahyu hanya dapat kita peroleh apabila kita memiliki hati yang takut akan Tuhan, karena ketika kita tidak memiliki hati yang takut akan Tuhan, maka kita akan menyianyiakan Roh Hikmat yang telah disediakan bagi kita itu; artinya ketika kita taat melakukan segala kehendak Tuhan, hikmat itu akan diberikan kepada kita. Oleh karenanya kita harus berusaha mendapatkan hikmat itu. Bagaimana caranya ? “...jikalau engkau menerima perkataanku dan menyimpan perintahku di dalam hatimu, jikalau engkau mencarinya seperti mencari perak, dan mengejarnya seperti mengejar harta terpendam, maka engkau akan memperoleh pengertian tentang takut akan Tuhan dan mendapat pengenalan akan Allah. Karena Tuhanlah yang memberikan hikmat, dari mulutNya datang pengetahuan dan kepandaian.” (Amsal 2:1,4-6). Hikmat diartikan sebagai: pengertian, pengetahuan dan kebijaksanaan. Orang berhikmat memahami segala perkara dengan baik. Sumber hikmat dapat berasal dari Allah, manusia lain, atau dari alam. Namun sumber hikmat yang paling besar dan paling benar adalah dari Allah. Semua hikmat sebenarnya berasal dari Allah. Allah menciptakan segala sesuatu menurut hikmatNya. Karena itu takut akan Allah, menyembah kepada Dia dan bersandar kepada Dia merupakan jalan satu-satunya memiliki hikmat yang benar. Hikmat jauh lebih besar dari kekayaan dan kehormatan. Hikmat juga memberikan umur panjang. Karena hikmat menjauhkan kita dari malapetaka dan memberikan rasa aman.

Detaser Jery K Tarigan, S.Th
Perp. Karawang-Rg. Bekasi

Read more >>

Thursday, 6 November 2014

Renungan / Khotbah Zepanya 17:7, 12-18, Minggu 16 Nopember 2014

Introitus : 
Karena Allah tidak menetapkan kita untuk ditimpa murka, tetapi untuk beroleh keselamatan oleh Yesus Kristus, Tuhan kita (I Tesalonika 5:9)

Bacaan : I Tesalonika 5:1-11 (Tunggal); Khotbah : Zepanya 1:7,12-18

Tema : Hari Tuhan Akan Datang

PENDAHULUAN
Mungkin diantara kita masih ingat dengan sebuah lagu “Madu dan Racun” antara lain dari syairnya adalah . ”Madu di tangan kananmu racun di tangan kirimu....aku tak tahu mana yang akan kau berikan pada ku...” syair lagu ini mengisahkan seseorang yang menanti-nantikan kedatangan sang kekasihnya, tetapi apakah pertemuan itu akan membawa kebahagiaan atau sebaliknya membawa kepada kehancuran.... Madu atau racun.... bahkan yang sangat luar biasa percampuran antara madu dan racun yang mematikan....... sedikit berbeda dengan Tuhan yang tidak pernah mencampur madu dan racun dan pilihan itu tidak terletak pada Tuhan apakah Dia memberikan racun atau madu, tetapi tergantung pilihan manusia mau pilih madu atau racun (kehidupan atau kematian)

Di tengah kesesakan kehidupan kita sangat rindu akan Hari Tuhan, karena kedatanfan Tuhan akan melenyapkan segala penderitaan, kesesakan, luka dan tangisan semuanya di ubah menjadi sukacita.Kkedatangan Tuhan di yakini akan membawa suka cita kebahagiaan dan damai sejahtera lepas dari segala beban dan tekanan kehidupan. Perlu lita ingat bahwa :”hari Tuhan (Yom YHWH) akan membawa dua dampak 1) kebahagiaan bagi orang yang melakukan kebenaran 2) celaka/hukuman bagi orang yang tidak melakukan kehendak Tuhan.

Minggu ini kita diingatkan lagi bahwa Hari Tuhan akan Datang. Hari Tuhan sering juga diartikan dengan hari penghakiman, jika kita diingatkan tentang hari penghakiman yang perlu kita lakukan adalah mempersiapkan menjadi “pemenang di pengadilan”, bagaimana supaya kita menjadi pemenang dalam pengadilan (Hari Tuhan) ? Mari kita belajar dari Firman Tuhan yang di tuliskan oleh nabi Zepanya..

KETERANGAN NATS
Ayat 7 : Tuhan memberi peringatan untuk berdiam diri Dihadapan Allah. Berdiam diri dihadapan Allah berarti menarik diri dari kesibukan membawa hati dan kehidupan ke bawah naungan Tuhan. Merenungkan kembali siapa kita dihadapan Tuhan, untuk dapat merenungkan apa maksud Tuhan bagi hidup kita. Agar dapat me-reformasi kehidupan kita (menduddukkan kembali ke posisi kita sebagai ciptaan Tuhan). Berdiam diri di hadapan Tuhan membiarkan merkat Tuhan mengalir memasuki kehidupan, agar kerohaninan kita disegarkan kembali, spiritualitas kita di carger. Hanya dengan hati yang tenag jiwa yang tenang kita dapat “melihat” rancangan Tuhan yang luar bisa bagi kita. Faham akan rancangan Tuhan yang luarbiasa memampukan kita berjalan dalam kebenaran Tuhan. Kita tidak terjerumus ke dalam godaan yang menggiurkan.

Berdiam diri di hadapan Tuhan akan memampukan kita melihat ”maksud Tuhan” bagi kehidupan kita di tengah-tengah “kabut dosa yang tebal yang menyelimuti kehidupan dunia”. Berdiam diri di hadapan Tuhan akan memapukan kita berpikir arif dan bijaksana dalam mengambil keputusan untuk melawan kuasa dosa yang mematikan.

Berdiam diri Dihadapan Tuhan mengandung makna kesediaan hati untuk bersujud di hadapan Tuhan dalam peribadahan-peribadahan (persekutuan dengan Tuhan). Itu artinya kata berdiam diri bukan berarti mengajak kita menjadi kristen yang pasif dan tidak berbuat apa-apa, tetapi membawa kita untuk melibatkan diri secara aktif ke dalam persekutuan dengan Tuhan dalam segala hal. Walaupun banyak penderitaan, ketidak adilan yang terjadi di sekitar kita, ketika kita dapat berdiam diri dihadapan Tuhan kita akan diberikan penghiburan sejati, karna hari Tuhan akan segera datang untuk mematahkan kuk yang menekan kehidupan kita, yang menghapus air mata, mengubah duka cita menjadi suka cita.

Ayat 7b : Tuhan sudah menyediakan perjamuan Korban dan telah menguduskan undangannya. Ayat ini mengatakan kepada kita bahwa hanya oleh kasih karunia Tuhan kita dilayakkan untuk menghadiri “Undangan” Tuhan yang Maha Agung. Perjamuan Korban yang dinubuatkan oleh nabi Zefanya digenapi dalam Yesus Kristus sebagai korban pengampunan dosa pada kedatangan-Nya yang pertama, dan akan melayakkan kita untuk masuk ke dalam pesta perjamuan Anak Domba Allah pada saat kedatangan Yesus yang kedua kali

Ayat 12 : Kedatangan Tuhan / Hari Tuhan akan membawa setiap manusia kepada penghakiman. Segala dosa dan kebaikan akan disingkapkan, hari Tuhan adalah dimana Tuhan akan menggeledah dengan memakai obor. “Menggledah memakai obor” Firman ini menggambarakan keseriusan Tuhan untuk membongkar segala perilaku manusia. Menggledah dengan obor menggambarkan situasi pemeriksaan itu seperti dalam kegelapan tetapi di bawah sinar obor tidak akan ada yang tersembunyi. Demikian dosa pelanggaran yang mungkin selama ini bisa kita tutup rapat dan rapi namun pada hari penghakiman itu tidak ada dosa yang bisa disembunyikan.

Orang-orang yang telah mengental seperti anggur, sebuah kiasan menggambarkan orang yang hatinya beku, tidak peka, tidak peduli, orang yang tidak punya perasaan atau orang yang merasakan atau tidak mengakui “peran serta Tuhan dalam kehidupannya”, yang menganggap “Tuhan tidak berbuat baik dan tidak berbuat jahat” (ajaran ini sering disebut dengan istilah Deisme Tuhan digambarkan seperti tukang jam/arloji ) mereka akan dihukum oleh Tuhan pada saat kedatangan-Nya

Ayat 13 : Orang yang menganggap “Tuhan tidak berbuat baik atau jahat” mereka sungguh tidak akan deberkati oelh Tuhan dan semua jerih payahnya itu tidak dapat membawa sukacita baginya bahkan bisa di katakan semuanya sia-sia, yang si gambarkan disini “harta mereka akan dirampas, hasil pekerjaan mereka juga tidak mereka nikmati, mendirikan rumah tapi tidak mendiaminya membuat kebun anggur tetapi tidak meminumya. Berkat Tuhan dapat kita nikmati dengan baik hanya dengan rasa ucapan syukur. Kalau kita tidak punya rasa syukur semuanya terasa hambar.....

Ayat 14-18 : Hari Tuhan adalah nubuatan pertama-tama diterapkan pada pembinasaan Yehuda oleh pasukan Babel pada tahun 605 sm, yang digambarkan sungguh dashyat dan kengerian yang luar biasa, pahit dan pahlawan pun akan menangis, semua orang akan berjalan seperti orang buta gelap tidak tahu kemana arah rdan tujuannya, sebab mereka telah berdosa kepada Tuhan dan tidak akan ada yang bisa menyelematkan mereka, emas dan perak tidak berkuasa untuk menyelamatkan. Hari Tuhan yang kedua ditujukan kepada kehancuran semua isi bumi di akhir zaman yang akan dibakar habis oleh api cemburu-Nya, karna memang sejak awal Tuhan mengatakan Ia adalah Tuhan yang cemburu. Jangan mempermainkan perasaan Tuhan, karna jika dipermainkan maka api cinta yang menyelamatkan akan diubah menjadi api cemburu yang membinasakan.

APLIKASI
  1. Menurut kesaksian Alkitab hari Tuhan itu sangat menakutkan, menggoncangkan, hari yang gelap gulita. Hanya Tuhanlah satu-satunya sumber pengharapan yang dapat memberikan keselamatan.
  2. Hidup di masa kini sering membawa kita kedalam sebuah arena” persaingan “ takut ketinggalan jaman, takut menjadi orang paling susah di tengah-tengah godaan keangkuhan dan kesombongan yang sering kali membuat nilai-nilai kemanusiaan kita mati dan tidak jarang lebih keji dari perilaku hewan. Saat ini justru kita disuruh menarik diri dari kesibukan kita, menarik diri dari arena persaingan untuk duduk diam dihadapan Tuhan, MEMBIARKAN Roh Tuhan masuk ke dalam relung hati kita yang paling dalam yang memberikan kelegaan dan sukacita yang sesungguhnya .
  3. Emas dan perak memang diperlukan dalam kehidupan ini, tetapi tidak sanggup untuk menyelamatkan kita pada saat penghakiman (Hari Tuha). Sebagai umat yang beriman marilah kita raih keselamatan melalui emas dan perak yang kita miliki dan bukan sebaliknya kita jual keselamatan kita demi emas dan perak.
  4. Hanya melakukan kebaikanlah yang membuat kita bersuka cita dalam menyambut kedatangan hari Tuhan yang akan memberikan madunya bukan racunnya, karena ketika Tuhan datang membawa madu dan racun “berkat dan murka” mana kau pilih??
  5. Pilihlah madu (berkat-Nya), karena kita memang dipilih mendapatkan keselamtan bukan untuk mendapat murka-Nya (Introitus)
  6. Waspada dan berjaga-jagalah karena Hari Tuhan datang seperti pencuri (I Tes 5:1-11) marilah kita setiap saat berdiam dihadapan Tuhan....untuk melihat apakah kita masih setia dalam hal mengasihi Tuhan dan sesama manusia ?...., mari kita nyanyikan lagu ‘Slidiki aku....lihat hatiku......apakah ku sungguh mengasihi-Mu Yesus......dst

Pdt. Saul Ginting, S.Th.M.Div
GBKP Rg. Klender.

Read more >>

Tuesday, 28 October 2014

Renungan / Khotbah Matius 25:1-13, Minggu 9 November 2014

Introitus : 
Karena itu, berjaga-jagalah, sebab kamu tidak tahu akan hari maupun akan saatnya. Matius 25 : 13

Bacaan : Amos 5 : 18 – 24 (Tunggal); Khotbah : Matius 25 : 1 - 13 (Tunggal)

Thema : “Bersiaplah”. (Ersikaplah)

Ketika tahun lalu terjadi erupsi Gunung Sinabung, setelah beberapa lama dan berkali-kali terjadi erupsi yang mengakibatkan terjadinya arus pengungsian hingga penutupan 5 desa di seputaran Gunung Sinabung; Salah seorang Pakar Gunung Berapi yakni Surono yang dikenal dengan Mbah Rono mengatakan bahwa erupsi ini belum berhenti. Dan terbukti bahwa apa yang dikatakannya itu bukanlah sebuah ramalan atau analisa bohong. Bulan Oktober yang lalu, kembali terjadi erupsi Gunung Sinabung. Yang ingin saya sampaikan di sini ialah pesannya kepada masyarakat di sekitar Gunung Sinabung yaitu “jangan lengah, waspada, kenali tanda-tanda dan senantiasa bersiap sedia”. Sehungga bila terjadi hal-hal yang tidak diinginkan maka tidak aka nada korban akibat erupsi gunung itu.

Ini berkaitan dengan sesuatu yang terjadi bukan setiap saat atau tepatnya pada waktu-waktu tertentu. Maksudnya, disetiap aktifitas yang akan kita lakukan kita perlu mengadakan persiapan. Berolahraga saja butuh persiapan baik dari apa jenisnya hingga pelaksanaannya yang juga membutuhkan pemanasan atau warming up. Ini tujuannya agar tubuh kita tidak mengalami cedera atau keterkejutan.

Saudaraku…..
Hari ini kita dibawa kepada sebuah perenungan akan keberadaan hidup kita di hadapan Tuhan kita. Keberadaan hidup yang pada akhirnya menyatakan bagaimana kita dalam mempertanggungjawabkan setiap kesempatan hidup yang Tuhan berikan pada kita. Apakah yang sudah kita isi dan lakukan selama ini? Adakah itu “menyenangkan” atau “mendukakan” hati Tuhan. Menyenangkan hati Tuhan tentu dengan kita melakukan apa yang Dia inginkan dan menjauhkan apa yang Dia larang. Mendukakan hati Tuhan adalah dengan mengabaikan setiap keinginanNya dan lebih mengutamakan keinginan kita. Bahkan menampakkan “kemunafikan” di hadapan Tuhan. Berlaku “bak orang Saleh dan Beriman” padahal lumuran dosa membaluti kehidupan kita.

Dua bagian dalam pembacaan Alkitab kita pada hari ini sama-sama menunjukkan ketidaksukaan Tuhan pada manusia. Kitab Amos menunjukkan bagaimana penolakan Tuhan akan setiap hal yang dilakukan oleh “bangsaNya”. Intinya, bila dilakukan dengan dasar kebenaran maka Tuhan akan sangat berkenan akan ibadah dan persembahan bangsaNya. Tapi dikarenakan ibadah dan persembahan yang dilakukan hanya sebuah “ritual tanpa makna iman”; inilah yang menyebabkan Tuhan menolak setiap apa yang dilakukan oleh umatNya. Hal kedua, melalui pembacaan Matius, kita diajak untuk melihat ada dua golongan manusia. Pertama adalah manusia bijak, dan yang kedua adalah manusia bodoh. Dikatakan bijak karena mereka mencoba memperhitungkan segala sesuatu kemungkinan yang bakal terjadi sebelum mereka mendapatkan sukacita. Mereka mempersiapkan segala sesuatu baik itu berupa materi (minyak) dan jasmani. Mereka sudah melatih diri untuk bias berjaga melebihi batas kebiasaan yang ada. Sedangkan pada pihak yang lainnya, mereka hanya mempersiapkan seadanya, dan juga tidak melatih diri untuk bias berjaga-jaga bila saatnya Sang Mempelai tiba. Dan pada akhirnya ternyatalah, bila dikaitkan pada bacaan pertama; Tuhan tidak menginginkan ketidakbenaran dan pada bacaan kedua, Tuhan tidak menginginkan orang-orang bodoh yang tidak bersiap.

Tempat Tuhan adalah tempat yang kudus, waktu Tuhan juga adalah waktu yang hanya milikNya. Lalu, bila tempat Tuhan adalah tempat yang kudus berarti itu berlaku hanya bagi orang-orang yang berupaya untuk senantiasa hidup kudus di hadapannya tanpa kemunafikan atau “pura-pura kudus”. Manusia bias tertipu oleh penampilan kita, tapi Tuhan tidak. Perjamuan Tuhan diadakanNya menurut waktuNya dan yang pasti Perjamuan itu ada dan hanya berlaku pada orang-orang yang setia menunggu kedatanganNya. Tidak menjadi orang-orang “ yang ketinggalan kereta dan ketinggalan rombongan”

Saudaraku….
Melalui khotbah Minggu ini ada beberapa hal yang Tuhan mau ingatkan kepada kita yaitu:

1. Jangan Lengah
Kehidupan kita di dunia ini bukanlah segalanya, kita boleh berletih lelah dalam mengupayakan apa yang kita inginkan bagi kemakmuran hidup kita. Namun perlu diingatkan kembali bahwa perlu keseimbangan antara praktek duniawi dan juga praktek keimanan. Sebagaimana kita memakai segala akal pikiran dan tenaga dalam memperjuangkan hidup, demikianlah juga hendaknya kita memperjuangkan keberadaan kita agar tetap berada di jalur kasih Tuhan. Sehingga bila saatnya tiba (saat yang hanya Tuhan yang tahu) kita tetap ada di barisan orang-orang yang berjalan menuju kemuliaanNya

2. Jangan Bodoh
Menganggap bahwa waktu Tuhan masih lama, merupakan kebodohan yang sering terjadi dalam kehidupan kita. Akibat dari kebodohan kita ini, kita menjadi orang yang merasa punya kuasa atas waktu yang bergulir. Mengabaikan panggilan Tuhan untuk datang kepadaNya. Merasa bahwa Tuhan akan mengasihi dan memaafkan kesalahan kita tepat diwaktu akhir kehidupan kita. Benar memang, tapi siapa tahu kapan akhir kehidupan kita itu tiba?

3. Kuduskan Persembahan
Dunia punya kecenderungan untuk membebaskan kita untuk mendapatkan apa yang kita inginkan dengan segala cara entah itu dengan mencuri, merampas yang bukan hak kita, memberikan sogok atau suap pada pihak-pihak yang kita anggap “bisa memuluskan” keinginan kita. Lalu berlagak bak Pahlawan dan Orang Saleh di kehidupan masyarakat dan Gereja. Hadir dan memberikan “persembahan” yang besar melebihi orang lain. Tapi ingat!!!! Tuhan sama sekali tidak suka itu…. Tuhan sangat membenci itu…… Tuhan kita menginginkan kita menyembah Dia dengan hati dan persembahan yang bersih tanpa terkontaminasi racun dunia. Ingat bahwa persembahan janda miskin menjadi lebih berharga ketimbang persembahan orang kaya (Markus 12:42). .

4. Bersyukurlah Senantiasa dan Latihlah Iman
Setiap waktu yang Tuhan berikan dalam kehidupan kita adalah anugrah yang layak untuk senantiasa kita syukuri. Mengapa? Karena di setiap waktu bersama dengan Tuhan menyatakan bahwa Tuhan peduli dan senantiasa mempersiapkan yang terbaik dalam kehidupan kita. Ingat bahwa yang terbaik dalam pemahaman kita belum tentu baik bagi Tuhan. Tapi yang baik dari Tuhan walau tidak baik menurut keinginan kita; bila kita mau pandang dari keimanan kita maka ia jauh lebih baik dari keinginan kita. Karena “keinginan” kita bisa berbuah dosa yang berakibat kematian; tapi keinginanNya pasti berbuah kehidupan. Melatih diri dengan membiasakan hidup dalam keinginan baik Tuhan adalah hal terbaik yang bisa kita lakukan yakni dengan melatih kesetiaan dan kebenaran dalam ibadah dan persembahan kita. Jangan pernah merasa cukup dengan aktifitas iman yang kita lakukan. Jangan pernah merasa bosan berbagi berkat dan persembahan dari apa yang Tuhan anugrahkan.

Semoga khotbah hari ini menjadikan kita menjadi anak-anakNya yang senantiasa “bersiap, waspada, dan setia dalam penantian” akan kedatangan Sang Mempelai.
Amin…

Pdt. Benhard Roy Calvyn Munthe
081361131151 – rcmunthe@ymail.com

Catatan
1. Hanya satu perbedaan tetapi menentukan. Demikianlah kalau digambarkan perumpamaan 10 orang gadis yang dibagi 2 kelompok. Ke dua kelompok (10 gadis) sama-sama gadis, sama-sama mempunyai kesempatan untuk menyambut mempelai, sama-sama membawa pelita, sama-sama mengantuk dan tertidur, namun hanya satu kelompok (5 gadis) yang membawa minyak persediaan/minyak serap dan ternyata perbedaan ini sangat menentukan untuk dapat masuk ke ruang perjamuan kawin. Adakah kita mempunyai perbedaan dengan anak-anak dunia ini?

Read more >>