Friday, 21 August 2015

SEPULUH TAHUN AKU MEMBENCI SUAMIKU

Ketika saya membaca kisah ini saya teringat pernah orang tua mengatakan dalam bahasa Karo: "Nanam ije la lit, kenca lanai ije maka mbelin kepe nanamna" (ketika ada seolah tidak berarti, tetapi ketika ia tiada terasa sangat berarti". Semoga kisah ini membuat kita bersyukur apa yang telah diberikan Tuhan kepada kita, apakah itu istri/suami, anah-anak, atau apa saja. Selamat membaca kisah ini atau kesaksian ini. JBU.

Aku membencinya, itulah yang selalu kubisikkan dalam hatiku hampir sepanjang kebersamaan kami. Meskipun menikahinya, aku tak pernah benar-benar menyerahkan hatiku padanya. Menikah karena paksaan orangtua, membuatku membenci suamiku sendiri.

Walaupun menikah terpaksa, aku tak pernah menunjukkan sikap benciku. Meskipun membencinya, setiap hari aku melayaninya sebagaimana tugas istri. Aku terpaksa melakukan semuanya karena aku tak punya pegangan lain. Beberapa kali muncul keinginan meninggalkannya tapi aku tak punya kemampuan finansial dan dukungan siapapun. Kedua orangtuaku sangat menyayangi suamiku karena menurut mereka, suamiku adalah sosok suami sempurna untuk putri satu-satunya mereka.

Ketika menikah, aku menjadi istri yang teramat manja. Kulakukan segala hal sesuka hatiku. Suamiku juga memanjakanku sedemikian rupa. Aku tak pernah benar-benar menjalani tugasku sebagai seorang istri. Aku selalu bergantung padanya karena aku menganggap hal itu sudah seharusnya setelah apa yang ia lakukan padaku. Aku telah menyerahkan hidupku padanya sehingga tugasnyalah membuatku bahagia dengan menuruti semua keinginanku.

Di rumah kami, akulah ratunya. Tak ada seorangpun yang berani melawan. Jika ada sedikit saja masalah, aku selalu menyalahkan suamiku. Aku tak suka handuknya yang basah yang diletakkan di tempat tidur, aku sebal melihat ia meletakkan sendok sisa mengaduk susu di atas meja dan meninggalkan bekas lengket, aku benci ketika ia memakai komputerku meskipun hanya untuk menyelesaikan pekerjaannya. Aku marah kalau ia menggantung bajunya di kapstock bajuku, aku juga marah kalau ia memakai pasta gigi tanpa memencetnya dengan rapi, aku marah kalau ia menghubungiku hingga berkali-kali ketika aku sedang bersenang-senan g dengan teman-temanku.

Tadinya aku memilih untuk tidak punya anak. Meskipun tidak bekerja, tapi aku tak mau mengurus anak. Awalnya dia mendukung dan akupun ber-KB dengan pil. Tapi rupanya ia menyembunyikan keinginannya begitu dalam sampai suatu hari aku lupa minum pil KB dan meskipun ia tahu ia membiarkannya. Akupun hamil dan baru menyadarinya setelah lebih dari empat bulan, dokterpun menolak menggugurkannya .

Itulah kemarahanku terbesar padanya. Kemarahan semakin bertambah ketika aku mengandung sepasang anak kembar dan harus mengalami kelahiran yang sulit. Aku memaksanya melakukan tindakan vasektomi agar aku tidak hamil lagi. Dengan patuh ia melakukan semua keinginanku karena aku mengancam akan meninggalkannya bersama kedua anak kami.

Waktu berlalu hingga anak-anak tak terasa berulang tahun yang ke-delapan. Seperti pagi-pagi sebelumnya, aku bangun paling akhir. Suami dan anak-anak sudah menungguku di meja makan. Seperti biasa, dialah yang menyediakan sarapan pagi dan mengantar anak-anak ke sekolah. Hari itu, ia mengingatkan kalau hari itu ada peringatan ulang tahun ibuku. Aku hanya menjawab dengan anggukan tanpa mempedulikan kata-katanya yang mengingatkan peristiwa tahun sebelumnya, saat itu aku memilih ke mal dan tidak hadir di acara ibu. Yaah, karena merasa terjebak dengan perkawinanku, aku juga membenci kedua orangtuaku.

Sebelum ke kantor, biasanya suamiku mencium pipiku saja dan diikuti anak-anak. Tetapi hari itu, ia juga memelukku sehingga anak-anak menggoda ayahnya dengan ribut. Aku berusaha mengelak dan melepaskan pelukannya. Meskipun akhirnya ikut tersenyum bersama anak-anak. Ia kembali mencium hingga beberapa kali di depan pintu, seakan-akan berat untuk pergi.

Ketika mereka pergi, akupun memutuskan untuk ke salon. Menghabiskan waktu ke salon adalah hobiku. Aku tiba di salon langgananku beberapa jam kemudian. Di salon aku bertemu salah satu temanku sekaligus orang yang tidak kusukai. Kami mengobrol dengan asyik termasuk saling memamerkan kegiatan kami. Tiba waktunya aku harus membayar tagihan salon, namun betapa terkejutnya aku ketika menyadari bahwa dompetku tertinggal di rumah. Meskipun merogoh tasku hingga bagian terdalam aku tak menemukannya di dalam tas.

Sambil berusaha mengingat-ingat apa yang terjadi hingga dompetku tak bisa kutemukan aku menelepon suamiku dan bertanya.
“Maaf sayang, kemarin Farhan meminta uang jajan dan aku tak punya uang kecil maka kuambil dari dompetmu. Aku lupa menaruhnya kembali ke tasmu, kalau tidak salah aku letakkan di atas meja kerjaku.” Katanya menjelaskan dengan lembut.

Dengan marah, aku mengomelinya dengan kasar. Kututup telepon tanpa menunggunya selesai bicara. Tak lama kemudian, handphoneku kembali berbunyi dan meski masih kesal, akupun mengangkatnya dengan setengah membentak. “Apalagi??”
“Sayang, aku pulang sekarang, aku akan ambil dompet dan mengantarnya padamu. Sayang sekarang ada dimana?” tanya suamiku cepat, kuatir aku menutup telepon kembali. Aku menyebut nama salonku dan tanpa menunggu jawabannya lagi, aku kembali menutup telepon.
Aku berbicara dengan kasir dan mengatakan bahwa suamiku akan datang membayarkan tagihanku. Si empunya Salon yang sahabatku sebenarnya sudah membolehkanku pergi dan mengatakan aku bisa membayarnya nanti kalau aku kembali lagi.

Tapi rasa malu karena “musuh”ku juga ikut mendengarku ketinggalan dompet membuatku gengsi untuk berhutang dulu.

Hujan turun ketika aku melihat keluar dan berharap mobil suamiku segera sampai. Menit berlalu menjadi jam, aku semakin tidak sabar sehingga mulai menghubungi handphone suamiku. Tak ada jawaban meskipun sudah berkali-kali kutelepon. Padahal biasanya hanya dua kali berdering teleponku sudah diangkatnya. Aku mulai merasa tidak enak dan marah.
Teleponku diangkat setelah beberapa kali mencoba. Ketika suara bentakanku belum lagi keluar, terdengar suara asing menjawab telepon suamiku. Aku terdiam beberapa saat sebelum suara lelaki asing itu memperkenalkan diri, “Selamat siang, ibu. Apakah ibu istri dari bapak armandi?” kujawab pertanyaan itu segera.

Lelaki asing itu ternyata seorang polisi, ia memberitahu bahwa suamiku mengalami kecelakaan dan saat ini ia sedang dibawa ke rumah sakit kepolisian. Saat itu aku hanya terdiam dan hanya menjawab terima kasih. Ketika telepon ditutup, aku berjongkok dengan bingung. Tanganku menggenggam erat handphone yang kupegang dan beberapa pegawai salon mendekatiku dengan sigap bertanya ada apa hingga wajahku menjadi pucat seputih kertas.

Entah bagaimana akhirnya aku sampai di rumah sakit. Entah bagaimana juga tahu-tahu seluruh keluarga hadir di sana menyusulku. Aku yang hanya diam seribu bahasa menunggu suamiku di depan ruang gawat darurat. Aku tak tahu harus melakukan apa karena selama ini dialah yang melakukan segalanya untukku. Ketika akhirnya setelah menunggu beberapa jam, tepat ketika kumandang adzan maghrib terdengar seorang dokter keluar dan menyampaikan berita itu. Suamiku telah tiada. Ia pergi bukan karena kecelakaan itu sendiri, serangan stroke-lah yang menyebabkan kematiannya.

Selesai mendengar kenyataan itu, aku malah sibuk menguatkan kedua orangtuaku dan orangtuanya yang shock. Sama sekali tak ada airmata setetespun keluar di kedua mataku. Aku sibuk menenangkan ayah ibu dan mertuaku. Anak-anak yang terpukul memelukku dengan erat tetapi kesedihan mereka sama sekali tak mampu membuatku menangis.

Ketika jenazah dibawa ke rumah dan aku duduk di hadapannya, aku termangu menatap wajah itu. Kusadari baru kali inilah aku benar-benar menatap wajahnya yang tampak tertidur pulas. Kudekati wajahnya dan kupandangi dengan seksama.

Saat itulah dadaku menjadi sesak teringat apa yang telah ia berikan padaku selama sepuluh tahun kebersamaan kami. Kusentuh perlahan wajahnya yang telah dingin dan kusadari inilah kali pertama kali aku menyentuh wajahnya yang dulu selalu dihiasi senyum hangat.

Airmata merebak dimataku, mengaburkan pandanganku. Aku terkesiap berusaha mengusap agar airmata tak menghalangi tatapan terakhirku padanya, aku ingin mengingat semua bagian wajahnya agar kenangan manis tentang suamiku tak berakhir begitu saja. Tapi bukannya berhenti, airmataku semakin deras membanjiri kedua pipiku. Peringatan dari imam mesjid yang mengatur prosesi pemakaman tidak mampu membuatku berhenti menangis. Aku berusaha menahannya, tapi dadaku sesak mengingat apa yang telah kuperbuat padanya terakhir kali kami berbicara.

Aku teringat betapa aku tak pernah memperhatikan kesehatannya. Aku hampir tak pernah mengatur makannya. Padahal ia selalu mengatur apa yang kumakan. Ia memperhatikan vitamin dan obat yang harus kukonsumsi terutama ketika mengandung dan setelah melahirkan. Ia tak pernah absen mengingatkanku makan teratur, bahkan terkadang menyuapiku kalau aku sedang malas makan. Aku tak pernah tahu apa yang ia makan karena aku tak pernah bertanya. Bahkan aku tak tahu apa yang ia sukai dan tidak disukai.

Hampir seluruh keluarga tahu bahwa suamiku adalah penggemar mie instant dan kopi kental. Dadaku sesak mendengarnya, karena aku tahu ia mungkin terpaksa makan mie instant karena aku hampir tak pernah memasak untuknya. Aku hanya memasak untuk anak-anak dan diriku sendiri. Aku tak perduli dia sudah makan atau belum ketika pulang kerja. Ia bisa makan masakanku hanya kalau bersisa. Iapun pulang larut malam setiap hari karena dari kantor cukup jauh dari rumah. Aku tak pernah mau menanggapi permintaannya untuk pindah lebih dekat ke kantornya karena tak mau jauh-jauh dari tempat tinggal teman-temanku.

Saat pemakaman, aku tak mampu menahan diri lagi. Aku pingsan ketika melihat tubuhnya hilang bersamaan onggokan tanah yang menimbun. Aku tak tahu apapun sampai terbangun di tempat tidur besarku. Aku terbangun dengan rasa sesal memenuhi rongga dadaku. Keluarga besarku membujukku dengan sia-sia karena mereka tak pernah tahu mengapa aku begitu terluka kehilangan dirinya.

Hari-hari yang kujalani setelah kepergiannya bukanlah kebebasan seperti yang selama ini kuinginkan tetapi aku malah terjebak di dalam keinginan untuk bersamanya. Di hari-hari awal kepergiannya, aku duduk termangu memandangi piring kosong. Ayah, Ibu dan ibu mertuaku membujukku makan. Tetapi yang kuingat hanyalah saat suamiku membujukku makan kalau aku sedang mengambek dulu.

Ketika aku lupa membawa handuk saat mandi, aku berteriak memanggilnya seperti biasa dan ketika malah ibuku yang datang, aku berjongkok menangis di dalam kamar mandi berharap ia yang datang. Kebiasaanku yang meneleponnya setiap kali aku tidak bisa melakukan sesuatu di rumah, membuat teman kerjanya kebingungan menjawab teleponku. Setiap malam aku menunggunya di kamar tidur dan berharap esok pagi aku terbangun dengan sosoknya di sebelahku.

Dulu aku begitu kesal kalau tidur mendengar suara dengkurannya, tapi sekarang aku bahkan sering terbangun karena rindu mendengarnya kembali. Dulu aku kesal karena ia sering berantakan di kamar tidur kami, tetapi kini aku merasa kamar tidur kami terasa kosong dan hampa. Dulu aku begitu kesal jika ia melakukan pekerjaan dan meninggalkannya di laptopku tanpa me-log out, sekarang aku memandangi komputer, mengusap tuts-tutsnya berharap bekas jari-jarinya masih tertinggal di sana.

Dulu aku paling tidak suka ia membuat kopi tanpa alas piring di meja, sekarang bekasnya yang tersisa di sarapan pagi terakhirnyapun tidak mau kuhapus. Remote televisi yang biasa disembunyikanny a, sekarang dengan mudah kutemukan meski aku berharap bisa mengganti kehilangannya dengan kehilangan remote. Semua kebodohan itu kulakukan karena aku baru menyadari bahwa dia mencintaiku dan aku sudah terkena panah cintanya.

Aku juga marah pada diriku sendiri, aku marah karena semua kelihatan normal meskipun ia sudah tidak ada. Aku marah

karena baju-bajunya masih di sana meninggalkan baunya yang membuatku rindu. Aku marah karena tak bisa menghentikan semua penyesalanku. Aku marah karena tak ada lagi yang membujukku agar tenang, tak ada lagi yang mengingatkanku sholat meskipun kini kulakukan dengan ikhlas.

Aku sholat karena aku ingin meminta maaf, meminta maaf pada Allah karena menyia-nyiakan suami yang dianugerahi padaku, meminta ampun karena telah menjadi istri yang tidak baik pada suami yang begitu sempurna. Sholatlah yang mampu menghapus dukaku sedikit demi sedikit. Cinta Allah padaku ditunjukkannya dengan begitu banyak perhatian dari keluarga untukku dan anak-anak. Teman-temanku yang selama ini kubela-belain, hampir tak pernah menunjukkan batang hidung mereka setelah kepergian suamiku.

Empat puluh hari setelah kematiannya, keluarga mengingatkanku untuk bangkit dari keterpurukan. Ada dua anak yang menungguku dan harus kuhidupi. Kembali rasa bingung merasukiku. Selama ini aku tahu beres dan tak pernah bekerja. Semua dilakukan suamiku. Berapa besar pendapatannya selama ini aku tak pernah peduli, yang kupedulikan hanya jumlah rupiah yang ia transfer ke rekeningku untuk kupakai untuk keperluan pribadi dan setiap bulan uang itu hampir tak pernah bersisa. Dari kantor tempatnya bekerja, aku memperoleh gaji terakhir beserta kompensasi bonusnya.

Ketika melihatnya aku terdiam tak menyangka, ternyata seluruh gajinya ditransfer ke rekeningku selama ini. Padahal aku tak pernah sedikitpun menggunakan untuk keperluan rumah tangga. Entah darimana ia memperoleh uang lain untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga karena aku tak pernah bertanya sekalipun soal itu.Yang aku tahu sekarang aku harus bekerja atau anak-anakku takkan bisa hidup karena jumlah gaji terakhir dan kompensasi bonusnya takkan cukup untuk menghidupi kami bertiga. Tapi bekerja di mana? Aku hampir tak pernah punya pengalaman sama sekali. Semuanya selalu diatur oleh dia.

Kebingunganku terjawab beberapa waktu kemudian. Ayahku datang bersama seorang notaris. Ia membawa banyak sekali dokumen. Lalu notaris memberikan sebuah surat. Surat pernyataan suami bahwa ia mewariskan seluruh kekayaannya padaku dan anak-anak, ia menyertai ibunya dalam surat tersebut tapi yang membuatku tak mampu berkata apapun adalah isi suratnya untukku.

Istriku Liliana tersayang,

Maaf karena harus meninggalkanmu terlebih dahulu, sayang. maaf karena harus membuatmu bertanggung jawab mengurus segalanya sendiri. Maaf karena aku tak bisa memberimu cinta dan kasih sayang lagi. Allah memberiku waktu yang terlalu singkat karena mencintaimu dan anak-anak adalah hal terbaik yang pernah kulakukan untukmu.

Seandainya aku bisa, aku ingin mendampingi sayang selamanya. Tetapi aku tak mau kalian kehilangan kasih sayangku begitu saja. Selama ini aku telah menabung sedikit demi sedikit untuk kehidupan kalian nanti. Aku tak ingin sayang susah setelah aku pergi. Tak banyak yang bisa kuberikan tetapi aku berharap sayang bisa memanfaatkannya untuk membesarkan dan mendidik anak-anak. Lakukan yang terbaik untuk mereka, ya sayang.

Jangan menangis, sayangku yang manja. Lakukan banyak hal untuk membuat hidupmu yang terbuang percuma selama ini. Aku memberi kebebasan padamu untuk mewujudkan mimpi-mimpi yang tak sempat kau lakukan selama ini. Maafkan kalau aku menyusahkanmu dan semoga Tuhan memberimu jodoh yang lebih baik dariku.

Teruntuk Farah, putri tercintaku. Maafkan karena ayah tak bisa mendampingimu. Jadilah istri yang baik seperti Ibu dan Farhan, ksatria pelindungku. Jagalah Ibu dan Farah. Jangan jadi anak yang bandel lagi dan selalu ingat dimanapun kalian berada, ayah akan disana melihatnya. Oke, Buddy!

Aku terisak membaca surat itu, ada gambar kartun dengan kacamata yang diberi lidah menjulur khas suamiku kalau ia mengirimkan note.

Notaris memberitahu bahwa selama ini suamiku memiliki beberapa asuransi dan tabungan deposito dari hasil warisan ayah kandungnya. Suamiku membuat beberapa usaha dari hasil deposito tabungan tersebut dan usaha tersebut cukup berhasil meskipun dimanajerin oleh orang-orang kepercayaannya. Aku hanya bisa menangis terharu mengetahui betapa besar cintanya pada kami, sehingga ketika ajal menjemputnya ia tetap membanjiri kami dengan cinta.

Aku tak pernah berpikir untuk menikah lagi. Banyaknya lelaki yang hadir tak mampu menghapus sosoknya yang masih begitu hidup di dalam hatiku. Hari demi hari hanya kuabdikan untuk anak-anakku. Ketika orangtuaku dan mertuaku pergi satu persatu meninggalkanku selaman-lamanya , tak satupun meninggalkan kesedihan sedalam kesedihanku saat suamiku pergi.

Kini kedua putra putriku berusia duapuluh tiga tahun. Dua hari lagi putriku menikahi seorang pemuda dari tanah seberang. Putri kami bertanya, “Ibu, aku harus bagaimana nanti setelah menjadi istri, soalnya Farah kan ga bisa masak, ga bisa nyuci, gimana ya bu?”

Aku merangkulnya sambil berkata “Cinta sayang, cintailah suamimu, cintailah pilihan hatimu, cintailah apa yang ia miliki dan kau akan mendapatkan segalanya. Karena cinta, kau akan belajar menyenangkan hatinya, akan belajar menerima kekurangannya, akan belajar bahwa sebesar apapun persoalan, kalian akan menyelesaikanny a atas nama cinta.”
Putriku menatapku, “seperti cinta ibu untuk ayah? Cinta itukah yang membuat ibu tetap setia pada ayah sampai sekarang?”

Aku menggeleng, “bukan, sayangku. Cintailah suamimu seperti ayah mencintai ibu dulu, seperti ayah mencintai kalian berdua. Ibu setia pada ayah karena cinta ayah yang begitu besar pada ibu dan kalian berdua.”

Aku mungkin tak beruntung karena tak sempat menunjukkan cintaku pada suamiku. Aku menghabiskan sepuluh tahun untuk membencinya, tetapi menghabiskan hampir sepanjang sisa hidupku untuk mencintainya. Aku bebas darinya karena kematian, tapi aku tak pernah bisa bebas dari cintanya yang begitu tulus. []

SUMBER:
https://www.facebook.com/notes/yolanda-yuwita-sari/kisah-inspirasi-untuk-para-pasangan/10150409291865021

Read more >>

Wednesday, 17 June 2015

Renungan / Khotbah Matius 8:14-17, Minggu 12 Juli 2015

INVOCATIO : 
Mereka akan Kubawa ke gunung-Ku yang kudus, dan akan Kuberi kesukaan di rumah doa-Ku. Aku akan berkenan kepada korban-korban bakaran dan korban-korban sembelihan mereka yang dipersembahkan di atas mezbah-Ku, sebab rumah-Ku akan disebut rumah doa bagi segala bangsa.(Yes 56 : 7)

BACAAN : I Raja-raja 18 : 36 – 40 (Tunggal); KHOTBAH : Matius 8 : 14 – 17 (Tunggal)

THEMA : 
Kuasa Allah Melampaui Segala Kuasa-Kuasa(Kuasa Dibata Belinen Asa Kerina Kuasa-Kuasa)

PENDAHULUAN
Kuasa atau kekuasaan, merupakan dambaan seluruh manusia. Begitu besarnya keinginan manusia memperoleh kekuasaan, ada kalanya cara-cara yang tidak menunjukkan kasih juga sering dilakukan manusia. Mengorbankan harga diri, mengorbankan orang lain juga sering dilakukan untuk tujuan tersebut. Namun untuk kali ini, khotbah membawa kita kepada satu kenyataan bahwa kuasa yang ada pada Tuhan Yesus tidak sama dengan kuasa yang ada di dunia ini. Kuasa yang ada pada Tuhan Yesus adalah kuasa untuk mengasihi dan sebagai bukti empati atas penderitaan manusia. Tuhan Yesus pernah berbicara tentang kuasa dunia, “Pemerintah-pemerintah bangsa-bangsa memerintah dengan tangan besi dan pembesar-pembesar menjalankan kuasanya dengan keras atas mereka. (Mat 20 : 26).


PEMBAHASAN
Saudara yang terkasih,
Bahan bacaan kita minggu ini diangkat dari I Raja-raja 18 : 36 – 40 bahagian dari pertarungan antara nabi Elia melawan 450 nabi Baal di gunung Karmel. Pertarungan dilakukan dengan cara membakar seekor lembu tanpa api.

Nabi Elia terlebih dahulu menyuruh nabi Baal tersebut memanggil dewa-dewanya agar datang api untuk membakar lembu tersebut, tapi tidak juga turun.
Nabi Elia menyiram sekitar tempat itu dengan air dan kemudian dia memanggil (Allah yang dikenalnya yaitu Allah yang disembah Abraham, Ishak dan Yakub). Doa nabi Elia didengar Allah maka turunlah api yang membakar lembu tersebut.

Pada waktu nabi Elia meminta kepada Allah, dia berkata “Jawablah aku, ya Allah agar bangsa ini tahu engkaulah Allah ya Tuhan” (ayat 37).
Sesudah kejadian itu, Nabi Elia menyuruh agar Baal tersebut semuanya dibunuh di sungani Kison.
Saudara yang terkasih,

Dari kisah tentang nabi Elia yang mengalahkan baal di gunung Karmel menunjukkan betapa nabi Elia mempunyai iman yang benar tentang Allah, nabi Elia juga mempunyai hubungan yang erat dengan Allah (I Raj 18 : 36).
Ia juga percaya akan janji-janji Allah yang tertulis pada firman-Nya, “Atas firman-Mu aku melakukan segalanya”(ayat 36 c).

BAHAN KHOTBAH
Matius 8 : 14 – 17, mengisahkan tentang tanda mujijat yang dilakukan Tuhan Yesus dengan menyembuhkan ibu mertua Petrus dari penyakitnya. Penyakit sering mengakibatkan orang menjadi susah dan khawatir. Didalam Alkitab, khususnya perjanjian baru ada sekitar 60 (enam puluh) kali Tuhan Yesus menyembuhkan orang sakit bahkan membangkitkan orang yang mati. Penyembuhan orang sakit dan membangkitkan orang mati menunjukkan betapa besar kuasa yang ada pada Tuhan Yesus atas kehidupan manusia karena Ia sendirilah yang menciptakan manusia.

Apa yang dilakukan oleh Tuhan Yesus dengan penyembuhan bukan untuk membanggakan diri-Nya, tapi untuk memenuhi apa yang telah dinubuatkan nabi Yesaya : “Tetapi sesungguhnya, penyakit kitalah yang ditanggung-Nya dan kesengsaraan kita yang dipikul-Nya (Yes. 53 : 4a). Sesudah ibu mertua petrus sembuh, ia melayani Yesus. Kemudian berdatanganlah orang sakit dan yang dirasuki setan, Tuhan Yesuspun menyembuhkan orang sakit itu. Tuhan Yesus menyembuhkan yang dirasuki setan.

Apakah sebenarnya setan itu?
Setan itu ada (Mat. 13 : 19; 39)
Menurut Yehesekel 28 : 15, ia sebenarnya melakukan yang baik tapi memberontak dari kehendak Allah. Malaikat yang tidak taat kepada Allah adalah juga iblis (Yudas 1 : 6).

Setan juga disebut :
• Pembunuh (Yoh 8 : 44)
• Pendusta dan bapa segala pendusta (Yoh 8 : 44a)
• Pencuri (Yoh 10 : 10a)
• Pendakwa (Zak 3 : 1; Maz 109 : 6)
• Pembujuk (I Taw 21 : 1)
• Pencoba (Mat 4 : 1)
• Pengembara (Ayub 1 : 7; I Pet 5 : 8)

Setan juga disebut sebagai penguasa kerajaan angkasa (Ef 2 : 2), pemerintahdan penguasa (Ef 6 : 12). Setan adalah kepala kerajaan kegelapan (Kisah 26 : 18), dia berkuasa atas maut (Ibrani 2 : 14), itulah sebabnya Allah melarangnya untuk tidak menjamah nyawa Ayub (Ayub 1 : 12).
Bagaimana sikap kita terhadap setan?
Kita harus menyadari bahwa kuasa iblis terbatas yang memegang segala kuasa adalah Allah (Maz 62 : 12 – 13). Segala kuasa diberikan kepada Yesus (Mat 28 : 18).
• Setan harus mendapat ijin dari Allah untuk mencobai Ayub (Ayub 1 : 12; 2 : 4 – 6)
• Setan telah dihukum (Yoh 12 : 13; 16 : 11)
• Setan berkuasa tapi tidak maha kuasa.
Setan harus dilawan dan tidak boleh diajak kompromi
• Sejata yang pertama adalah berjaga-jaga (I Pet 5 : 8)
• Iman yang teguh (I Pet 5 : 9)
• Yakin bahwa segala kuasa berada ditangan Allah bukan ditangan iblis (I Per 5 : 11)

Iblis selalu ingin mempengaruhi manusia agar hubungannya dengan Allah menjadi rusak ia pergunakan segala cara untuk menggoda manusia :
• Seperti malaikat terang (II Kor 11 : 14)
• Seekor ular (Kej 3 : 1 – 5)
• Dalam bentuk nasehat/ teguran yang baik (Mark 8 : 31 – 33)

POINTER
  1. Allah yang kita sembah adalah Allah yang Maha Kuasa karena Ia pencipta (Kej 1 : 1). Iamengatur segala ciptaan-Nya (Pengkh 8 : 8) dan kuasanya untukmenjadikanciptaan-Nya (Pengkh 12 : 7; I Taw 29 : 15)
  2. Karena Allah yang kita sembah adalah Allah yang Maha Kuasa kita harus memuji Dia (Maz 150 :6)
  3. Yesus berbelas kasihan (berempati) kepada orang yang sakit atau menderita, maka kita sebagai pengikut Yesus juga harus berempati atas masalah sesama.
  4. Orang yang telah merasakan pertolongan (kasih Tuhan) juga harus melayani Tuhan seperti yang dilakukan ibu mertua Petrus. Amin.

Graha Harapan, 13 Juni 2015
Pdt. A. Ginting Jawak

Read more >>

Renungan / Khotbah 2 Tesalonika 3:6-12, Minggu 5 Juli 2015

Invocatio : 
Sebab Aku ini mengetahui rancangan-rancangan apa yang ada padaKu mengenai kamu, demikianlah firman Tuhan, yaitu rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan Kecelakaan, untuk memberikan kepadamu hari depan yang penuh harapan (Yer 29:11)

Bacaan : Kejadian 3:17-20 ( Tunggal ); Khotbah : 2 Tesalonika 3:6-12 ( Tunggal )

Tema : 
Rajin bekerja adalah sikap anak Allah ( Tutus erdahin biak anak Dibata )

Jemaat yang dikasihi oleh Tuhan Yesus Kristus……
Menurut Paulus, Silwanus dan Timotius ada hal-hal yang tidak sesuai menurut iman Kristen tentang pemahaman dan perbuatan jemaat orang-orang Tesalonika pada masa penantian kedatangan Yesus yang kedua kali, antara lain : Hidup dalam ketidak kudusan ( 1 Tes 4:1-12 ) dan malas bekerja ( 2 Tes 3:6-12 ). Oleh sebab itu :

1. Pesan Paulus, Silwanus dan Timotius kepada jemaat Tesalonika
Ayat 6 : “ Menjauhkan diri dari setiap saudara yang tidak melakukan pekerjaannya dan yang tidak menurut ajaran yang telah kamu terima dari kami”.Menjauhkan diri itu berarti menarik diri atau bersikap tidak mengikuti jejak orang yang tidak melakukan pekerjaannya dengan rajin melainkan malas. Ini bukan pula berarti jauh dari orang-orang yang malas melainkan jika dekat dengan orang malas, jemaat tidak boleh terkontaminasi, terjerumus dalam kemalasan. Rasa malas bisa saja menyerang namun kita dapat menolak atau kompromi. Kalau kita kompromi maka apa yang harusnya kita kerjakan tertunda, gagal, dan orang lain bisa tidak mempercayai kita lagi dalam memberi pekerjaan.

2. Meneladani sikap Paulus, Silwanus dan Timotius dalam bekerja.
Ayat 7-9 : Dikatakan bahwa: “ kami tidak lalai bekerja diantara kamu “. Mereka adalah rajin, tekun dan bertanggung jawab dalam bekerja. “ kami tidak makan dari roti orang dengan percuma”. Mereka berjerih payah untuk mendapat makan, bukan makan dari belas kasihan
( meminta-minta) atau dengan memaksa ( mencuri ) roti orang. “ Supaya tidak menjadi beban siapapun tetapi untuk jadi teladan bagi kamu “ . Sebagai hamba yang melayani jemaat Tesalonika mereka mempunyai hak mendapat imbalan atas pelayananannya. Tetapi itu tidak mereka nomor satukan, tidak mereka andalkan ataupun mereka tuntut. Justru mereka bekerja untuk mencukupi kebutuhannya. Paulus bekerja sebagai tukang kemah ( Kis 18:3 ). Apa yang dikatakan oleh Paulus, silwanus dan Timotius tidak semata-mata hanya berbicara tetapi mengerjakan apa yang mereka katakan ( walk the talk ) dan membuktikannya kepada jemaat agar jemaat meneladaninya.

3. Peringatan kepada jemaat Tesalonika.
Ayat 10-12 “ jika seseorang tidak mau bekerja, janganlah ia makan”. Dengan bekerja seseorang mendapat gaji atau upah ada makanan dan kebutuhan hidup lainnya. Jika seseorang tidak bekerja ia tidak menghasilkan apa-apa, untuk orang yang demikian Paulus dengan tegas mengatakan janganlah ia makan. Ini ditujukan bukan kepada orang-orang yang tidak mampu bekerja melainkan kepada mereka yang tidak mau bekerja. Supaya semua boleh hidup dengan tertib dan hidupnya berguna.

Jemaat yang dikasihi Tuhan Yesus Kristus……
Adalah benar, hidup kudus dan bekerja mempunyai hubungan yang erat . Sebagai contoh : Seorang ibu yang rajin bekerja memakai waktu dengan baik , peluang untuk bergosip tidak ada. Sementara seorang ibu yang malas bekerja bisa jadi mandipun tidak sempat, hidupnya berleha-leha, menunda-nunda pekerjaan lalu nongkrong dirumah tetangga dan bergosip. Seorang bapak yang rajin bekerja hidupnya berguna, tidak ada waktu berjudi, mabuk-mabukan, nongkrong di kedai kopi lama-lama untuk berkombur, dsb. Manusia harus bekerja, untuk apakah kita bekerja ?

1. Untuk mengusahakan dan memelihara dunia ini. Yang pertama diberikan Tuhan kepada Adam bukan isteri tetapi pekerjaan ( Kej 2: 15 “ Tuhan Allah mengambil manusia itu dan menempatkannya di taman Eden untuk mengusahakan dan memelihara taman itu” ). Manusia dipakai Tuhan untuk mengelola dunia dan isinya dengan baik.

2. Untuk makan. Apa kata Paulus ( 2 Tes 3:10 “ jika seseorang tidak mau bekerja, janganlah ia makan”)

3. Karena Tuhan sendiri bekerja ( Yoh 5:17 “ Bapaku bekerja sampai sekarang, maka akupun bekerja juga “ ). Dengan rajin bekerja kita meneladani Tuhan. seperti yang dikatakan oleh tema : rajin bekerja adalah sikap anak Allah. Tuhan bekerja menciptakan langit dan bumi beserta isinya, meniupkan nafas kehidupan, memberi semangat dan kekuatan kepada kita. Setiap hari Tuhan merancangkan damai sejahtera dalam hidup kita dan memberikan hari depan yang penuh harapan ( Yer 29:11 ). Dalam Bekerja ada waktu berhenti ( Kej 2 : 3 “ Lalu Allah memberkati hari ketujuh itu dan menguduskannya, karena pada hari itulah Ia berhenti dari segala pekerjaan penciptaan yang telah dibuatNya itu” ). Bekerja terus menerus, terlalu memaksakan diri cenderung membuat kesalahan-kesalahan kerja lebih besar. sedangkan malas bekerja tiada berguna. Pengkhotbah 10:18 mengatakan : “ oleh karena kemalasan runtuhlah atap, dan oleh karena kelambanan tangan bocorlah rumah “.

4. Karena Tuhan bekerja untuk kita maka kita juga harus bekerja untuk Dia ( Kol 3:23 : “ Apapun yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia” ). Bekerja dengan segenap hati, berarti tidak setengah hati melainkan sungguh-sungguh. Tidak munafik, bukan Karena dilihat pimpinan baru rajin melainkan dengan tulus hati didasari takut akan Tuhan saja. Tidak merasa terpaksa, melainkan bersukacita sehingga konsentrasi, motivasi,kreativitas dan produktivitas kerja baik. Mari gunakan O2H yaitu Otak, otot, hati atau H3 ( Head, hand, heart ) kita dalam bekerja. Doakan yang kita kerjakan, kerjakan yang kita doakan. Persembahkanlah pekerjaan kita untuk kemuliaan bagi nama Tuhan kita Yesus Kristus ……Amin

Pdt. Karvintaria br Ginting, STh
GBKP Rg.Cijantung-HP: 08126359640

Read more >>

Renungan / Khotbah 2 Korintus 9:6-15, Minggu, 28 Juni 2015

Invocatio : 
Orang-orang yang menabur dengan mencucurkan air mata, akan menuai dengan bersorak-sorai (Mazmur 126:5)

Bacaan : Ulangan 33:13-17 (T); Khotbah : 2 Korintus 9:6-15 (T)

Tema : Menabur di dalam Nama Tuhan


Pendalaman 2 Korintus 9:6-15.
Orang Kristen dapat memberi dengan murah hati atau dengan sedikit? Allah akan memberikan pahala sesuai dengan pemberian mereka (lih. Mat 7:1-2). Bagi Paulus, memberi itu bukan berarti kehilangan, melainkan merupakan semacam tabungan: itu menghasilkan keuntungan besar bagi mereka yang memberi. Paulus tidak berbicara terutama tentang jumlah pemberian itu, tetapi mengenai mutu dari kerinduan hati dan motivasi kita. Janda yang miskin itu memberi sedikit, tetapi Allah telah menganggapnya banyak karena dibandingkan dengan bagian yang diberikannya dan karena pengabdiannya yang sempurna

Ayat 6 menuliskan camkanlah ini: Orang yang menabur sedikit, akan menuai sedikit juga, dan orang yang menabur banyak, akan menuai banyak juga (but this I say, he which soweth sparingly shall reap also sparingly; and he which soweth bountifully shall reap also bountifully). Demikianlah mereka harus menabur banyak¸bukan sedikit. Gagasan dasar tentang menuai apa yang ditabur (Amsal 11:24; 19:17) diterapkan dalam Galatia 6:7-10 kepada penuaian rohani, dan dalam Matius 6:14-15 kepada pengampunan; bnd. Matius 7:1,2;10:42; Lukas 6:34-38.

Kata “menabur banyak” dari terjemahan King James Version adalah bountifullly (dengan baik hati). Arti kata tersebut menunjukkan bahwa jemaat harus betul-betul dengan sepenuh hati memberikan dan tanpa paksaan (baik hati), tidak untuk menunjukkan kekuasaan atau kekayaan (sikap pamer). Dan, terjemahan dari Kitab Yunani untuk kata “menabur banyak” adalah blessednesses (keterberkatan) menunjukkan bahwa jemaat pun harus dengan sikap merestui segala pekerjaan pelayanan untuk membagun gereja (dalam arti luas).

Ayat 7 menuliskan hendaklah masing-masing memberikan menurut kerelaan hatinya, jangan dengan sedih hati atau karena paksaan, sebab Allah mengasihi orang yang memberi sukacita (Every man according as he purposeth in his heart, so let him give; not grudgingly, or of necessity: for God loveth a cheerful giver). Jangan … karena paksaan, artinya jangan dengan berpikir ‘sesedikit mungkin’. “Sumber pemberian bukanlah kantong, melainkan hati”. (bnd.Markus 12:41-44). Orang yang memberi dengan sukacita,memberi dengan sukacita menggembirakan sekali. Kutipan ini diambil dari Amsal 22:8, LXX; tidak terdapat di dalam Kitab Amsal bahasa Ibrani, bnd.Roma12:8.

Penekanan ayat 7 ini merupakan bagian dari makna kata yang dipakai Paulus pada ayat 6 untuk menegaskannya, yakni eulogiai (dengan baik hati; keterberkatan). Sehingga tampak jelas bahwa jemaat dibuka hatinya untuk memberi dengan sepenuh hati, tanpa ada pengertian atau tafsiran untuk pamer, dan terlebih bersikap angkuh untuk dipandang di antara jemaat.

Ayat 8 menuliskan dan Allah sanggup melimpahkan segala kasih karunia kepada kamu, supaya kamu senantiasa berkecukupan di dalam segala sesuatu dan malah berkelebihan di dalam pelbagai kebajikan (and God is able to make all grace abound toward you; that ye, always having all sufficiency in all things, may abound to every good work). Allah sanggup menjadikan sisa-sisa sumber-sumber kita lebih dari cukup.Berkecukupan (bnd. Filipi 4:11; 1 Timotius 6:6), hasil yang lazim dari jawaban Allah terhadap iman. Sebutan El-Syaddai (Kejadian 17:1) dapat berarti Allah yang berkecukupan. Allah memberikan apa yang perlu baik materi maupun rohani di dalampelbagai kebajikan (bnd. Filipi 4:19).[11]

Kata “berkecukupan” yang dipakai dalam Kitab Yunani adalah autarkeain (diterjemahkan edisi Inggris: same-sufficiency = kecukupan). Namun, terjemahan lain yang dipakai adalah contentment (kesenangan, kepuasan hati, kesukaan). Dengan demikian, ayat Paulus ini menegaskan bahwa Allah memang akan memuaskan hati dengan berkat-berkatNya, dimana kepenuhan dan ketulusan hati dalam memberi akan membuka kekuatan tersendiri dari Allah.

Ayat 9-10 menuliskan seperti ada tertulis: “Ia membagi-bagikan, Ia memberikan kepada orang miskin, kebenaranNya tetap untuk selamanya”. Ia yang menyediakan benih bagi penabur, dan roti untuk dimakan, Ia juga yang akan menyediakan benih bagi kamu dan melipatgandakannya dan menumbuhkan buah-buah kebenaranmu (as it is written, He hath dispersed abroad; He hath given to the poor: His righteousness remaineth for ever. Now He that ministreth seed to the sower both minister bread for your food, and multiply your seed sown, and increase the fruits of you righteousness;). Dukungan Alkitab itu diambil dari Mazmur 112:9; Yesaya 55:10; Hosea 10:12. Ia yang menyediakan, Yesaya 55:10 hanya menyebutkan “memberikan”. Paulus menggunakan suatu istilah yang lebih kaya seperti dalam Galatia 3:5. Benih, yang dapat ditabur, juga berasal dari Allah, ialah pemberian dalam ayat 6-8. Akan menyediakan, bnd. Filipi 4:15,19. Melipatgandakan, daya guna benih itu, karena Allah, jauh lebih besar daripada wujudnya. Kebenaran, perbuatan yang benar, di dalam hal ini: kemurahan hati.

Penyataan ayat ini juga mengandung tendensi terhadap bangsa Yahudi dimana saat mereka kelaparan (Kejadian 16:1-36), dan kejadian-kejadian penciptaan yang dilakukan Allah (Kejadian 1:11,12). Dan, buah-buah kebenaran yang dimaksudkan antara lain buah-buah roh yang dimaktubkan dalam Galatia 5:22,23.

Ayat 11-12 menuliskan kamu akan diperkaya dalam segala macam kemurahan hati, yang membangkitkan syukur kepada Allah oleh karena kami, sebab pelayanan kasih yang berisi pemberian ini bukan hanya mencukupkan keperluan-keperluan orang-orang kudus, tetapi juga melimpahkan ucapan syukur kepada Allah (Being enriched in every thing to all bountifulness, which causeth through us thanksgiving to God. For the administration of this service not only supplieth the want of the saints, but is abundant also by many thanksgivings unto God). Memberi adalah pengalaman yang memperkaya (bnd. Ayat 7). Kepentingan Paulus sendiri tidak terlibat dalam penopangan mengenai pemberian sedekah itu, sebab ia sudah meolak untuk menerima apa saja baginya dari orang Korintus (11:7-9). Pelayanan kasih, kata Yunani leitourgia (liturgi) dipakai dalam kebaktian-kebaktian umum yang dibiayai oleh penduduk Atena yang kaya. Segala macam kemurahan hati, bukan hanya mencukupi keperluan jasmani orang-orang kudus, tetapi lebih daripada itu: secara rohani kemurahan hati itu juga melimpahkan ucapan syukur dari yang menerimanya kepada Allah (1:11), serta mendorong kasih dan doa yang timbal balik (ayat 14).

Sebagai bagian dari kelimpahan adalah kemurahan hati yang ditunjukkan pada ayat 11, maka ucapan syukur yang dalam kata Yunani eucharistian (eucharistian) atau eucharistion (eucharistiwn) menunjukkan makna rasa syukur yang lebih mendalam. Maka, dalam pandangan gereja-gereja katolik (Timur dan Barat), ekaristi atau pengucapan syukur adalah puncak liturgi katolik, dimana segala pemberian Allah diberikan kembali melalui sedekah, untuk keperluan bahan-bahan liturgi, atau pembiayaan pelayanan. Bolehlah diutarakan bahwa pengucapan syukur itu senantiasa mengingatkan akan karunia-karunia Allah dalam kehidupan sehingga perlu untuk mengembalikannya lagi.

Ayat 13 menuliskan dan oleh sebab kamu telah tahan uji dalam pelayanan itu, mereka memuliakan Allah karena ketaatan kamu dalam pengakuan akan Injil Kristus dan karena kemurahan hatimu dalam membagikan segala sesuatu dengan mereka dan dengan semua orang (whiles by the experiment of this ministration they glorify God for your professed subjection unto the Gospel of Christ, and for your liberal distribution unto them, and unto all men). Tahan uji, dengan bantuan mereka (orang-orang kudus) para petobat dari golongan kafir itu mempertontonkan kesungguhan pengakuan Kristen mereka kepada petobat dari golongan Yahudi, dan mengungkapkan kesatuan mereka dalam Kristus. Membagikan segala sesuatu (Yunani: koinonia): persekutuan, mendapat bagian; bnd.1:7.

Terjemahan lain dari kata Yunani koinonia adalah fellowship (bnd. Efesus 3:9) yang berarti persahabatan. Persahabatan yang dimaksud adalah penyatuan dalam kasih Allah, berkumpul dalam cinta, dan ungkapan-ungkapan dari buah-buah Roh yang diterima.

Ayat 14 menuliskan sedangkan di dalam doa mereka, mereka juga merindukan kamu oleh karena kasih karunia Allah yang melimpah di atas kamu (and by their prayer for you, which long after you for the exceeding grace of God in you). Paulus melaksanakan apa yang diajarkan dalam 1 Korintus 13:5. Sebab memanglah sementara anggota jemaat di Yerusalem sangat mempersulit hidup Paulus, Galatia 2:4 dst. Dengan mengumpulkan uang bagi jemaat itu Paulus bermaksud antara lain menanggulangi permusuhan dari pihak jemaat itu. Dengan uang yang dikumpulkan terbuktilah rasa hormat dan bakti dari pihak jemaat-jemaat bukan Yahudi terhadap jemaat induk yang pernah menyampikan kepada mereka (harta-harta) rohani, Roma 15:27.

Kesimpulan
Ada beberapa prinsip dan janji-janji penting yang menyangkut pemberian orang Kristen:
Kita ini milik Allah; apa yang kita punyai dipegang sebagai sesuatu yang dipercayakan Tuhan kepada kita (ayat 2Kor 8:5). Tubuh, harta dan apa pun yang kita punyai adalah bersumber dari Tuhan. Sehingga kita juga menabur didalam Tuhan.
Kita harus membuat keputusan yang mendasar dalam hati kita untuk hidup bagi Allah dan bukan untuk uang (ayat 2Kor 8:5; Mat 6:24). Kita mengabdi kepada Allah bukan bagi mammon.

Kita memberi untuk menolong mereka yang membutuhkan bantuan (ayat 2Kor 8:14; 9:12; Ams 19:17; Gal 2:10; meluaskan Kerajaan Allah (1Kor 9:14; Fili 4:15-18), menyimpan harta di sorga (Mat 6:20; Luk 6:32-35) dan belajar takut akan Tuhan (Ul 14:22-23).

Hal memberi itu harus menurut pendapatan kita (ayat 2Kor 8:3,12;1Kor 16:2).Hal memberi itu dipandang sebagai suatu bukti dari kasih kita (ayat2Kor 8:24) dan harus dilakukan sebagai pengorbanan (ayat 2Kor 8:3) dan dengan sukarela bukan paksaan (2 Kor 9:7).

Dengan memberi kepada Allah, kita tidak saja menaburkan uang, melainkan juga iman, waktu, dan pelayanan. Dengan demikian kita akan menuai iman dan berkat yang lebih besar (ayat 2Kor 8:5; 9:6,10-12). Ketika Allah menyediakan kelimpahan, itu adalah supaya kita dapat melipatgandakan perbuatan baik kita (2Kor 9:8; Ef 4:28).

Hal memberi meningkatkan penyerahan kita kepada Allah (Mat 6:21) dan mengaktifkan pekerjaan Allah dalam keadaan keuangan kita (Luk 6:38).
Allah telah berjanji untuk memberikan berkat yang melimpah kepada kita sepadan dengan bagaimana kita memberi kepada-Nya (lih. Ul 15:4; Mal 3:10-12; Mat 19:21; 1Tim 6:18-19. Seperti dalam Bacaan tentang berkat-berkat yang diterima Yusuf karena kesetiaan dan persembahan hidupnya hanya bagi Tuhan Allah (Ul. 33:13-17).

Dan pada akhirnya kita patut terus bersyukur kepada Allah, sadar karena kasih karunia-Nya yang tak terkatakan, menyelamatkan kita dari kematian kekal. Kasih yang luar biasa berharga. Sehingga apa yang sudah kita dapat, dengar akan kita tabur dalam segala pemikiran, perkataan dan perbuatan kita. Kasih yang tak berkesudahan. Menabur di dalam nama Tuhan akan mendatangkan berkat-berkat yang luar biasa.

Selamat menabur kebaikan di dalam kehidupan kita. Tuhan memberkati dengan segala kelimpahan dan berkatNya.

Sumber:
1. http://alkitab.sabda.org/article.php?id=8435
2. http://alkitab.sabda.org/verse.php?book=2Kor&chapter=8&verse=2&tab=text
3. https://ocsc.wordpress.com/2010/12/29/tafsir-perjanjian-baru-2-korintus-96-14/#_ftn1
4. Alkitab dengan Kidung Jemaat. 2012. Jakarta: Lembaga Alkitab Indonesia.

Pdt. Rosliana Br Sinulingga
Rg. Semarang

Read more >>

Wednesday, 10 June 2015

Renungan / Khotbah Amsal 4:1-9, Minggu 21 Juni 2015

Invocatio : 
Takut akan Tuhan adalah permulaan pengetahuan, tetapi orang bodoh menghina hikmat dan didikan (Amsal 1:7).

Bacaan : II Tim 3 : 15 -17 (Tunggal); Khotbah : Amsal 4 : 1- 9 (Responsoria)

Thema:  Jadilah Bijak

Jemaat yang dikasihi oleh Tuhan, kitab Amsal adalah kitab yang dapat memberikan pencerahan kepada anak-anak Tuhan, sehingga orang percaya dapat mengembangkan dirinya. Sebaimana kita tahu bahwa amsal ini adalah amsal Salomo anak Daud, Raja Israel, dimana Salomo mendapatkan didikan dari orangtuanya tentang bagaimana harus hidup sebagai anak-anak Tuhan. Dari tema kita mengatakan : Jadilah bijak, artinya bukan saja dari segi Intelektual, tapi juga dari segi cerdas Spiritual, dan cerdas Emosional. dan hal kecerdasan itu bersumber pada Firman Tuhan. Cerdas secara Intelektual tapi tidak cerdas Spiritual dan Emosional akan menimbulkan kegagalan, oleh karena itu melalui kitab Amsal ini kita dibawa supaya bijak: yaitu 3C, Cerdas Intelektual, cerdas Spiritual dan Cerdas Emosional. Dengan demikian sebagai anak-anak Allah kita bisa mengembangkan diri sesuai dengan talenta yang diberikan Allah kepada kita.

Amsal 4 : 1-9 ini merupakan relfeksi atau pengalaman Salomo, yang mengatakan betapa pentingnya didikan dari orangtua, disini Daud yang memimpin bangsa Israel, sebagai orangtua yang mematuhi ajaran-ajaran Tuhan dan tetap mengingatkan pengajaran-pengajaran/didikan kepada Salomo. Hal itulah yang membuat Salomo menjadi Raja yang penuh hikmat didalam meneruskan memimpin bangsa Israel, Salomo tetap memegang didikan orangtuanya didalam dia memimpin bangsa Israel. Salomo meminta kepada Tuhan hikmat kebijaksanaan didalam memimpin bangsa Israel, walaupun Tuhan menawarkan kekalahan musuh kepada Salomo atau kekayaan atau umur panjang, tetapi Salomo bukan memilih semuanya itu tetapi Salomo memilih hikmat kebijaksanaan kepada Tuhan, maka Tuhan melihat permintaan Salomo itu sangat baik dan memberikannya kepada Salomo.

Salomo juga telah berpengalaman dari orangtuanya tentang ajaran-ajaran Tuhan, dan hal itu diteruskannya didalam kehidupannya. Pengajaran yang dilakukan secara berkesinambungan kepada anak-anak akan melekat pada diri anak sehingga tetap diingatnya untuk dilakukan setiap hari. Keluarga adalah pusat pendidikan bagi anak-anak, seperti yang dikatakan didalam Ulangan 6: perintah Tuhan itu haruslah engkau mengajarkannya secara berulang-ulang kepada anak anakmu, dan membicarakannya apabila engkau duduk dirumah, apabila engkau sedang diperjalanan, apabila engkau sedang berbaring dan apabila engkau bangun. Itu adalah tranggungjawab orangtua bagi anak-anaknya untuk mengembangkan diri anak-anaknya, orangtua memberikan teladan didalam segala hal kepada anak-anaknya, baik didalam perbuatan, berbicara dan pemikiran. Orangtua menjadi model bagi anak-anaknya sebagaimana Daud sebagai model bagi Salomo didalam kehidupannya. Tuhan berkehendak supaya hikmat itu bukanlah pada satu generasi saja tetapi terus kepada generasi berikutnya, kepada anak cucu kita, supaya anak cucu kita tidak terkontaminasi terhadap pengaruh-pengaruh zaman ini yaitu kejahatan-kejahatan yang merajalela, sehingga keturunan kita lebih mementingkan hal hal duniawi daripada Tuhan.

Didalam invokatio Takut akan Tuhan adalah permulaan pengetahuan, penulis Amsal ini ingin mengungkapkan bahwa takut akan Tuhan akan menjiwai seluruh pendidikan yang mereka tempuh. Apa artinya takut akan Tuhan? Takut akan Tuhan berhubungan dengan pelaksanaan perintah Tuhan didalam hidup sipelajar. Takut akan Tuhan juga merupakan sikap hormat dan tunduk kepada kuasa Tuhan.

Jemaat yang dikasihi oleh Tuhan Yesus, Siapa yang tidak menginginkan supaya dia menjadi orang bijak, semua orang menghendaki supaya dia menjadi bijak dan keturunannya menjadi orang bijak, baik dalam dunia pendidikan formal, non formal. Pada zaman sekarang ini banyak tawaran-tawaran pendidikan kepada anak-anak kita mulai dari play group, TK sampai S3 dan seterusnya, dan orangtua berlomba-lomba menyekolahkan anak-anaknya setinggi mungkin supaya menjadi anak yang pintar. Tetapi pintar secara Intelektual tapi kurang dalam Spiritual dan Emosional maka kurang berhasil. Jadi ilmu yang ditempuh oleh anak-anak kita harus terlebih dahulu disertai takut akan Tuhan.

Pdt. Ediwati Br Ginting
Rg. Bogor

Read more >>

Renungan / Khotbah Roma 12:1-2, Minggu 14 Juni 2015

Invocatio : 
Kaupeliharalah juga hari raya menuai, yakni menuai buah bungaran dari hasil usahamu menabur di ladang; demikian juga hari raya pengumpulan hasil pada akhir tahun, apabila engkau mengumpulkan hasil usahamu dari ladang (Keluaran 23:16)

Bacaan : Amsal 3:9-10 (Responsoria); Khotbah : Roma 12:1-2 (Tunggal)

Tema : Persembahan Yang Hidup

Persembahan adalah istilah yang tidak asing bagi kita dan salah satu aktivitas yang sering kita lakukan sebagai orang yang beriman. Mungkin karena sudah terlalu sering kita dengar dan kita lakukan , bisa saja menjebak kita kepada sebuah rutinitas dan kehilangan makna yang sesungguhnya. Mingu ini kita diingatkan lagi tentang persembahan yang benar dan yang berkenan bagi Tuhan.

Roma 12: 1-2 akan menuntun kita kepada persembahan yang benar,
1. Motivasi dalam memberikan persembahan
Motivasi adalah dorongan dari dalam diri seseorang untuk melakukan suatu aktivitas dengan tujuan tertentu. Paulus sangat menekankan pengajarannya tentang motivasi dalam memberikan peresembahan, karena motivasi membrikan persembahan dapat menggeser makna persembahan itu sendiri. Jika motivasi memberikan persembahan supaya mendapatkan pemberian yang lebih banyak lagi, maka persembahan itu bukan lagi menjadi persembahan tetapi menjadi alat “penyogokan”, jika memberi persembahan tujusannya supaya orang memuji dan mengatakan kita orang saleh, maka persembahan itu menjadi alat unruk “membeli” pujian dan perhatian orang, jika motivasi kita memberikan persembahan karena tutntutan “aturan” maka persembahan itu berubah maknanya menjadi membayar.

Paulus mengatakan motivasi yang benar memberikan persembahan adalah “demi kemurahan Allah”, artinya kita memberi persembahan karena Tuhan telah meberikan kemurahan-Nya kepada kita, bukan untuk mendapatkan berkat yang lebih banyak (bukan seperti orang memancing, diberikan umapan lebih besar untuk mendapatkan ikan yang lebih besar). Kata “demi” , artinya ada aksi dan ada reaksi, Allah memperlihatkan aksi/tindakan-Nya memberikan kemurahan dan manusia memberikan reaksi/sikap. Sikap yang benar merespons kemurahan/kebaikan/pemberian adalah rasa syukur. Persembahan yang benar dilandasi denagn rasa sukur. Persembahan adalah pertemuan atara Allah sebagai pemberi (beraksi) dengan manusia yang menerima pemberian, merupakan pertemuan sukacita yang luar biasa, sehingga orang mendevinisikan “Persembahan/ibadah” adalah “Aksi dan celebration” atau dengan kata lain pertemuan dengan yang di sembah dengan penyembah.

2. Sikap Dalam Memberikan Persembahan
Motovasi memberikan persembahan akan berdampak pada sikap dalam memberikan persembahan. Motivasi Kristiani dalam memberikan persembahan adalah mengucap syukur terhadap kemurahan Allah. Pertemuan antara yang di di sembah dan penyembah. Persembahan kata dasarnya adalah “sembah” menurut kamus artinya adalah : Pernyataan hormat dan khidmat (dinyatakan dengan cara menangkupkan keduabelah tangan, yang dikatakan juga dengan menyusun jari 10, lalu diangkat keatas sampai ke bawah dagu dan juga keatas dahi atau dengan menyentuhkan ibu jari ke hidung atau ke dahi). Persembahan adalah pemberian kepada yang terhormat, mulia dan agung, pencipta segala sesuatu yang telah meberikan keselamatan kepada manusia. Jadi sikap yang tepat dalam memberikan persembahan adalah denagn sikap yang hormat dan kagum kepada Tuhan.

3. Wujud Persembahan Yang Yang Berkenan Bagi Tuhan
Persembahan yang berkenan bagi Tuhan bukan ibadah tanpa roh(sermonial atau rutinitas) bukan materi tanpa hati, bukan tubuh tanpa jiwa (spirit), tetapi yang Tuhan mau adalah tubuh sebagai persembahan yang hidup. Tubuh yang tidak ternoda oleh kata dan perbuatan yang tercela, tetapi tubuh tempat bersemayamnya Roh Tuhan yang terus berpikir, bertindak dan berbicara dalam kebenaran dan kekudusan. Tubuh yang mempunyai keinginan tulus iklas untuk menyenangkan hati Allah dalam kasih dan pengabdian. Tubuh yang mau melakukan pelayanan, menolong dan meringankan beban-beban kehidupan. Tubuh yang berkerja dan ada di tengah-tengah dunia tetapi tidak sama dengan dunia ini, tubuh yang lahir dari pembaharuan akal budi, tubuh yang didiami oleh akal budhi yang tahu membedakan mana kehendak Allah dan apa yang baik dan yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna.

4. Persembahan Yang Hidup (Tema)
Tema kita Minggu ini, persembahan yang hidup, ada dua hal yang mungkin bisa membantu kita untuk mengerti apa yang di maksud dengan persembahan yang hidup, yaitu :
 Persembahan materi
Tuhan mau persembahan yang hidup bukan yang mati, artinya walaupun kita memberikan persembahan berupa materi (benda mati) harus dilandasi dengan gejolak hati yang penuh rasa syukur akan kemurahan Tuhan, itu juga akan menjadi persembahan yang hidup. Ketika kita memberikan persembahan berupa materi tetapi tidak dilandasi oleh “rasa” syukur kepada Tuhan, atau pun ketika kita memebrikan persembahan hanya karena rutinitas, atau karena kewajiban (aturan) maka materi itu akan tetap menjadi persembahan yang mati.
 Persembahan Tubuh
Ada sebuah ilusterasi tentang persembahan yang hidup yaitu tentang “Sapi dan Babi”, didalam ilustrasi itu di gambarkan bahwa Sapi merupakan binatang yang sungguh mengabdikan hidupnya untuk tuannya, mulai dari tenaganya, susunya dan sampai matinya dia berguna untuk tuannya, berbeda dengan babi kegunaannya yang jelas ketika dia mati....
Artinya yang dikatakan dengan persembahan yang hidup adalah menyerahkan kehidupan (totalitas) kepada Tuhan, syair lagu Sekolah Minggu....hati-hati gunakan tanganmu..... hati-hati gunakan kakimu...matamu.....lidahmu....kupingmu (telingamu), penggunaan semua oragan tubuh ini harus dilandasi dengan pembaharuan akal budi, dan tidak dapat juga di pungkiri bahwa cara kita menggunakan panca indra kita akan mempengaruhi akal budi kita....sehingga di ayat yang ke-2, Paulus sangat jelas menekankan supaya kita tidak serupa dengan dunia ini oleh pembaharuan akal budi.

5. “Kerja Rani” (Hari Raya Menuai)
Hubungan antar penyembah dengan yang di sembah adalah “persembahan” jika ada orang yang mengaku percaya kepada Tuhan tetapi tidak pernah memberikan persembahan..yah rasa-rasanya masih perlu berpikir lebih dalam tentang imanya itu. Kalau kita mengaku beriman kepada Tuhan berikanlah persembahan kepada Tuhan. Amsal 3:9 “Muliakanlah Tuhan dengan hartamu....” Paulus juga sangat menekankan bahwa semua kehidupan kita dari Tuhan, oleh Tuhan dan untuk Tuhan (Roma 11:36 Sebab segala sesuatu adalah dari Dia, dan oleh Dia, dan kepada Dia: Bagi Dialah kemuliaan sampai selama-lamanya)

Untuk lebih memahami makna “kerja rani (Hari Raya Menuai)” ini mungkin kita dapat merenungkan syair lagu PEE GBKP No. 103 :2 “benih siisuan kami epe rehna bas kam nari, Kuasa-Ndu mahanca turah, Kuasa-Ndu erbanca erbuah” artinya benih yang kita tanam berasal dari Tuhan, kuasa Tuhan yang menumbuhkan dan Kuasa Tuhan juga yang membuat berbuah.... melalui perenungan akan Firman Tuhan dan syair lagu ini marilah kita mensyukuri semua pemberian Tuhan....apapun pekerjaan kita....apapun profesi kita kita percaya itu adalah anugerah Tuhan...untuk itu mari kita sukseskan “Hari Raya Panen” ini meberikan persembahan sebagai wujud persembahan yang hidup untuk menyenangkan hati Tuhan.... .amin.

Pdt. Saul Ginting
Rg. Klender

Read more >>

Renungan / Khotbah Amsak 6:6-11, Minggu 7 Juni 2015

Invocatio : 
Orang malas tidak akan menangkap buruannya, tetapi orang rajin akan memperoleh harta yang berharga. (Amsal 12:27)

Bacaan : Yohanes 6:25-27 (Tunggal); Khotbah : Amsal 6:6-11 (Anthiponal)

Tema : Tuhan Erdahin Arah Pendahinta/Tuhan bekerja melalui pekerjaan kita


Pendahuluan
“Hidup untuk makan” atau “makan untuk hidup”, kedua kalimat ini dari kedua kalimat ini, manakah yang menurut kita paling tepat untuk diri kita? Masing-masing kita tentu punya pilihan sendiri. Firman Tuhan hari ini, berjudul “Tuhan bekerja melalui pekerjaan kita”

Pembahasan
Kitab Amsal adalah kumpulan ucapan-ucapan bijak. Secara keseluruhan kitab ini bertujuan untuk mengetahui hikmat dan didikan yang menjadikan pandai, kebenaran, keadilan dan kejujuran, dan untuk memberikan pengetahuan serta kebijaksanaan. Dengan kata lain, orang Israel menyatakan bahwa hikmat menjadikan hidup berhasil. Jika kita perhatikan secara menyeluruh kitab amsal ini, penulis sepertinya selalu membandingkan antara orang benar dan orang fasik, orang yang jujur dan orang yang curang, si malas dan si rajin dan lainnya, yang menunjukkan perbedaan yang tajam antara keduanya. Penulis sedang memperjelas atau memperlihatkan secara nyata pertentangan antara hasil-hasil dari mencari hikmat dan menghidupi suatu kehidupan yg bodoh.

Namun, pada kenyataannya terjadi bahwa tidak selalu yang baik memperoleh yang baik dan tidak selalu yang jahat mendapatkan yang jahat. Justru yang baik semakin tertindas, sedangkan yang kurang baik atau yang kurang baik, semakin kaya dan memiliki banyak fasilitas dan sebagainya. Apakah maksud daripada semuanya ini? Secara umum, dapat kita lihat bagaimana disebutkan secara berulang-ulang kata “Takut akan Tuhan”, dengan demikian, yang ingin disampaikan di sini adalah bahwa hikmat berawal adalah takut akan Tuhan, sehingga hikmat yang takut akan Tuhan yang paling berharga dari semuanya.
Jemaat yang dikasihi Tuhan, pada hari kita disuruh belajar kepada binatang yang kecil, yakni semut. Betapa hebatnya seekor semut, yang merupakan binatang kecil dan mungkin bisa jadi tidak ada apa-apanya bagi kita. Namun, kita manusia justru diarahkan untuk belajar kepada binatang kecil seperti semut. Ada beberapa hal yang diperlihatkan di sini tentang semut, yakni:
1. Mampu memimpin diri sendiri
Semut tanpa perlu harus diatur dan diarahkan, mereka dapat melaksanakan tugas dan tanggung jawab mereka masing-masng. Di samping mereka juga tidak perlu diatur, mereka juga tidak mau mengatur orang lain.
2. Pekerja keras/senantiasa bekerja
Dikatakan bahwa pada musim panas, ia menyediakan roti dan pada musim panen ia mengumpulkan makanan. Hal ini menunjukkan ketekunan seekor semut, yang tidak pandang waktu dalam bekerja, ia tetap tekun bekerja baik siang maupun malam, baik dalam keadaan yang susah maupun senang.
Pertanyaannya bahwa mengapa manusia harus belajar kepada semut? Semut hanyalah binatang kecil yang tidak memiliki akal pikiran dan budi pekerti. Mengapa manusia yang diberikan akal dan budi pekerti justru harus belajar kepada semut?

Secara gamblang di sini ingin menunjukkan agar manusia juga rendah hati dan tidak menganggap bahwa dialah yang paling hebat dari segala yang telah diciptakan. Sikap takut akan Tuhan akan menuntun manusia itu semakin berhikmat di dalam kehidupannya sehari-hari. Berhikmat si sini adalah mensyukuri anugerah Tuhan atas pekerjaan/usaha yang kita miliki.

Manusia diberikan akal dan budi pekerti oleh Tuhan dalam menjalankan kehidupannya, yakni mengusahakan kehidupannya agar bermakna dan berkenan di hadapan Tuhan, sehingga ia setiap usaha ataupun pekerjaan yang kita lakukan. Sebagai contoh, dahulu, umumnya gereja-gereja pada hari natal senang sekali memperagakan liturgi profesi yaitu: ada seorang guru yang tampil dan berkata bahwa dirinyalah yang paling hebat sebab dialah yang mengajar semua orang sehingga dapat mengerti dan menjadi pintar membaca dan menulis; ada juga seorang dokter yang menganggap bahwa dirinya yang paling hebat dari semuanya, sebab jika tidak ada dirinya, maka akan banyak orang yang sakit dan kemudia meninggal; lalu datang lagi seorang pengacara yang juga menyatakan betapa hebat dan penting dirinya, lalu kemudian juga datang juga seorang arsitek, supir, presiden, dan sebagainya. Hingga pada akhirnya datanglah seorang pendeta, dan menyatakan bahwa mereka semua berharga di mata Allah.

Jemaat yang dikasihi Tuhan, cerita ini mengajarkan betapa Tuhan mengasihi kita melalui apapun yang menjadi pekerjaan kita. Pekerjaan kita yang berbeda bertujuan juga agar kita saling melengkapi dan menopang satu dengan yang lain. Bayangkan jika semuanya manusia adalah dokter, siapakah yang hendak menjadi pasien dan sebagainya.

Tuhan bekerja melalui pekerjaan kita, menunjukkan bahwa sebagai orang yang percaya akan Tuhan dan Tuhan memberikan kita akal pikiran dan budi pekerti, bertujuan agar kita tidak bermalas-malas, sebab Tuhan juga tidak suka dengan umat yang malas. Bahkan Paulus juga berkata: jika seorang tidak mau bekerja, janganlah ia makan. (2 Tes. 3:10). Akan tetapi, hal ini bukan mengajarkan kita agar senantiasa menjadi gila bekerja (worker holic) tetapi sebagaimana dalam bacaan kita Yoh. 6:25-27, Yesus berkata bahwa: Bekerjalah, bukan untuk makanan yang akan dapat binasa, melainkan untuk makanan yang bertahan sampai kepada hidup yang kekal, yang akan diberikan Anak Manusia kepadamu; sebab Dialah yang disahkan oleh Bapa, Allah, dengan meterai-Nya.

Sebagai manusia seutuhnya, kita membutuhkan makanan untuk dimakan agar dapat tetap melanjutkan hidup. Namun, kehidupan orang percaya bukanlah hidup untuk makan, tetapi makan untuk hidup. Artinya kita membutuhkan makanan untuk tubuh kita, agar kita juga mampu semakin kuat lagi menjalankan tugas pelayanan kita kepada Tuhan.

Allah juga pada proses menciptakan alam semesta dan segala isi, dikatakan bahwa IA bekerja 6 hari lamanya, dan pada hari yang ketujuh Ia berhenti dan memuliakan Bapa di sorga. Demikian juga dengan kita, kerja keras sangat penting, bahkan betapa indahnya jika kita, tanpa harus diatur dan diawasi, kita tetap setia menjalankan tugas tanggung jawab dan pekerjaan kita, sebagaimana seekor semut. Namun, jangan pekerjaan ataupun kesibukan kita membuat kita tidak memiliki waktu untuk datang kepada Tuhan.

Ingat bahwa hari-hari bukanlah kita yang empunya, tetapi Dia, maka kita bekerja sebagai bentuk kita mengucap syukur atas hidup dan mengelola alam semesta yang telah Tuhan berikan dalam kehidupan manusia. Jadi apa yang dapat kita lakukan hari ini, lakukanlah! Jangan menunggu hari besok, sebab hari esok bukan kita empunya, maka lakukan yang pekerjaan kita yang terbaik saat ini untuk Tuhan. Selamat bekerja Tuhan memberkati.

Nanda Br. tarigan (Mahasiswi STT - Praktek)

Read more >>