Wednesday, 20 May 2015

Renungan / Khotbah Yesaya 6:1-8, Minggu 31 Mei 2015

Invocatio : 
Sebelum Aku membentuk engkau dalam rahim ibumu, Aku telah mengenal engkau, dan sebelum engkau keluar dari kandungan, Aku telah menguduskan engkau, Aku telah menetapkan engkau menjadi nabi bagi bangsa-bangsa. (Yeremia 1:5).

Pembacaan : Wahyu 4:1-11 (Tunggal); Khotbah : Yesaya 6:1-8 (Tunggal)

Tema : Ini aku, utuslah aku!

Pendahuluan :
(1) Tema “Ini aku, utuslah aku!” sering menjadi tema persidangan Gereja dan menjadi teks dalam pemanggilan atau pengutusan pelayan Gereja.

(2) Tentu banyak cara memanggil seseorang untuk menjadi pegawai atau karyawan resmi sebuah perusahaan atau di pemerintahan. Ada melalui iklan penerimaan pegawai baru, brosur yang dibagikan, surat kabar rubrik lowongan kerja, warta jemaat atau juga melalui informasi dari teman. Sedangkan diterima atau tidaknya calon pegawai, bisa dalam bentuk panggilan langsung, telepon, papan pengumuman atau melalui surat. Setelah diterima, tidak langsung menjadi pegawai atau karyawan tetap. Dia harus mengikuti proses masa training seputar skill, integritas dan loyalitas dalam tugas yang diberikan. Ada proses masa percobaan. Setelah semuanya dijalani baru dapat diterima secara resmi dengan SK Pengangkatan.

(3) Bagaimana dengan Imam, Nabi, Rasul, Raja yang dipanggil Tuhan menjadi “karyawan-Nya” yang sering dijuluki hamba-Nya?. Alkitab menceritakan banyak cara yang dipakai oleh Tuhan. Misalnya, pemanggilan Musa di Gunung Horeb melalui nyala api di semak duri (Kel. 3:1-3); Samuel dipanggil 3 kali ketika sedang mau tidur (1 Sam. 3:1-10), Daud menjadi Raja Israel melalui “seleksi” terhadap ketujuh anak Isai oleh Samuel (2 Sam.16:1-13). Yeremia bahkan telah terpilih sejak dalam kandungan ibunya (Invocatio Yer.1:5). Yesus dalam pemilihan kedua belas rasul memiliki berbagai peristiwa dalam pertemuan dengan mereka. Bahkan pemanggilan Paulus justru ketika dalam perjalanan membunuh orang Kristen, namun bertemu Yesus di Damsyik. Dan banyak lagi peristiwa yang lain.

(4) Teks kita menceritakan suatu proses bagaimana Allah telah memilih dan mengutus Yesaya. Proses itu diawali dengan perjumpaan pribadi Yesaya dengan Allah, melalui sebuah penglihatan. Dalam penglihatan itu, Yesaya menyadari siapa Allah dan siapa dirinya. Allah adalah Maha Kudus dan penuh kemuliaan. (ay.4) Sedangkan dirinya adalah orang yang tidak layak. Dikatakan dalam ayat 5, "Celakalah aku! Aku binasa! Sebab aku ini seorang yang najis bibir..." Perjumpaan pribadi dengan Allah, membuat kita sadar akan keberadaan kita sebagai orang yang berdosa. Dan kita membutuhkan seorang Juruselamat dalam hidup kita.

Jadi pemanggilan Yesaya memiliki keunikan tersendiri karena dalam bentuk visi (penglihatan) di Bait Suci. Pemanggilan Yesaya sendiri dalam konteks ketika orang Israel berada dalam “kekacauan” baik sosial, politik dan spiritual. Mereka sedang berada dalam keterpurukan karena sibuk berperang dengan bangsa seperti Asyur dan Babel. Juga mereka menjauh dari Tuhan dengan menyembah ilah lain. Dari kondisi ini membuat Allah marah kepada mereka (Yes.1:1-4)

Khotbah:
Jemaat yang dikasihi Tuhan!
Kita baru saja memperingati Jubileum 125 Tahun Gereja Batak Karo Protestan (GBKP), tepatnya Sabtu 18 April 2015 di Lapangan Samura Kabanjahe. Sebuah refleksi teologis “Pergi dan Beritakanlah” yang menjadi dasar Lembaga Pekabaran Injil di Negeri Belanda yang bernama Nederlandschs Zendeling Genootschap untuk pertama sekali mengutus Pdt.H.C.Kruyt dengan membawa pembantunya dari Minahasa Nicolas Pontoh pada tanggal 18 April 1890 di Belawan dan menjadikan Desa Buluhawar sebagai tempat tinggal dan pos misinya. Kemudian dilanjutkan dengan mendatangkan Guru Injil dari Minahasa yaitu Guru Injil B.Wenas, H.Pesik, H.Pinontoan dan R.Tampenawas. Selanjutnya Pendeta pengganti Kruyt seperti: Pdt.J.K.Wijngaarden, Pdt.M.Joustra, Pdt.H.Guillaume, Pdt.J.H.Neumann, Pdt.E.J.Van den Berg.

Jemaat yang dikasihi Tuhan!
Kalau sejenak kita merefleksikan proses pemanggilan Yesaya, sangat menarik karena diawali dengan unsur-unsur panggilan yang penting yaitu penglihatan, pendengaran, keterlibatan pribadi terhadap sapaan Allah dalam peristiwa ibadah. Ayat 1 Aku melihat Tuhan duduk di atas tahta yang tinggi dan menjulang dan ujung jubah-Nya memenuhi Baith Suci. Nabi melihat Allah yang kudus memanggilnya, untuk mewartakan kekudusan Allah. Itulah sebabnya nabi dengan penuh kesadaran dan ketegasan berani menyatakan diri sanggup diutus. Keterlibatan seperti inilah yang memberikan makna dan nilai pada penghayatan iman yang hidup. Tugas yang diterima Yesaya benar-benar bersumber pada Allah untuk membangun iman jemaat. Bukan seperti nabi palsu yang ikut-ikutan menuruti suasana hidup. Yesaya merasa bahwa rencana dan kehendak Allah harus direspons dengan jelas dan tegas.

Jemaat yang dikasihi Tuhan!
Kalau kita memperhatikan perikop kita, maka ada 2 (dua) penekanan yaitu ayat 1-7 lebih menekankan visi dan reaksi nabi; Visi untuk menguduskan Allah di dalam kehidupan. Disamping itu kita juga melihat reaksi nabi, karena menyadari dirinya, pasti celaka karena telah melihat Allah. Hal ini tentu sesuai pemahaman pada waktu itu, bahwa siapa yang melihat Allah pasti akan mati (Kel.33:20). Puji Tuhan! Tuhan mengampuni Yesaya dengan mengambil bara api dari mezbah dan menyentuhkannya ke mulutnya sebagai tanda pengampunan. Sedangkan ayat 8-11 lebih mempertegas program kerja nabi. Bagian ini mengingatkan kita akan Amanat Agung Tuhan kita yang sudah bangkit untuk menyampaikan Injil keselamatan ke seluruh dunia (Mat.18-20). Jikalau perintah untuk pergi itu menguasai hati, kita akan menanggapinya seperti Yesaya: Ini aku, utuslah aku!

Jemaat yang dikasihi Tuhan!
Sama seperti Yesaya, demikian dalam pembacaan Wahyu 4:1-11 Yohanes juga mempunyai penglihatan seputar tahta Allah dan kemuliaannya. Ditengah-tengah tahta itu dan disekelilingnya ada 4 (empat) makhluk penuh dengan mata, di sebelah muka dan di sebelah belakang. Makhluk pertama seperti singa, makhluk kedua seperti anak lembu, makhluk ketiga seperti muka manusia dan makhluk keempat seperti burung nazar yang sedang terbang. Keempat makhluk ini sebagai simbol hakikat Allah yang paling tahu (simbol makhuk manusia), yang paling kuat (simbol makhluk lembu), yang paling mengagumkan (simbol makhluk singa) dan yang paling cepat dan ada dimana-mana (simbol makhluk rajawali). Seperti dalam kitab Yesaya, keempat makhluk ini masing-masing bersayap enam, dan tidak henti-hentinya berseru siang dan malam: Kudus, kudus, kuduslah Tuhan Allah, Yang Mahakuasa, yang sudah ada, dan yang ada, dan yang akan datang. Pesan pokok bahwa Allah itu tetap teguh, dan pada waktunya Ia akan datang untuk menghakimi.
Jemaat yang dikasihi Tuhan! Ini aku, utuslah aku! Merupakan kesediaan dan bukti dari kesungguhan hati, kesetiaan yang tentu saja dengan segala konsekwensinya, apakah penderitaan, celaan, hinaan bahkan pembunuhan dari sesama sebangsanya. Namun Yesaya menerima semuanya itu, karena dia tahu bahwa Tuhan akan bersamanya.

Jemaat yang dikasihi Tuhan! Bagaimana dengan saudara dan saya? Mungkin dengan kesungguhan hati dan kesetiaan dengan segala resiko, sehingga Panitia Sidang Sinode ke-XXXV dan Jubileum 125 Tahun GBKP meng-informasikan bahwa kini jumlah jemaat GBKP sekitar 400.000 orang, 22 Klasis, 504 Majelis jemaat, 800 unit gereja serta 450 Pendeta.

Jemaat yang dikasihi Tuhan! Bagaimana GBKP kedepan? Kita bersama jemaat GBKP dengan Moderamen terpilih Periode 2015-2020 hari ini kembali disegarkan akan tugas “merasul”. Syukuri dan kagumilah bahwa Tuhan memanggil kita menjadi umat-Nya dengan proses dan harga yang mahal melalui “kematian Yesus di kayu salib”. 1 Petrus 1:18-19 mengingatkan, “Sebab kamu tahu, bahwa kamu telah ditebus dari cara hidupmu yang sia-sia yang kamu warisi dari nenek moyangmu itu bukan dengan barang yang fana, bukan pula dengan perak atau emas, melainkan dengan darah yang mahal, yaitu darah Kristus yang sama seperti darah anak domba yang tak bernoda dan tak bercacat”.

Nabi Yesaya adalah nabi yang dijuluki sebagai nabi kekudusan ditengah-tengah situasi yang sedang dalam keterpurukan. Biarlah kita juga menjadi “Yesaya” masa kini yang terus menjaga dan memelihara kekudusan kita ditengah kondisi yang dapat juga dikatakan “terpuruk” (korupsi, narkoba, praktek prostitusi, judi, keserakahan, KDRT, HIV/AIDS). Dengan meningkatkan kekudusan, kesetiaan dan kesungguhan kita dalam pelayanan, pasti akan berdampak bagi perkembangan GBKP kedepan. Seperti Yesaya artinya Tuhan menyelamatkan, maka semkin banyak orang-orang yang akan diselamatkan. Panggilan Allah hendaknya menimbulkan pembaharuan, menciptakan suasana serba baru.

Jemaat yang dikasihi Tuhan!
Dalam sebuah ilustrasi, sekali jadi ada orang yang bertanya kepada Ibu Theresa, "Ibu telah melayani kaum miskin di Calcutta, India. Tetapi, tahukah Ibu, bahwa masih ada jauh lebih banyak lagi orang miskin yang terabaikan? Apakah Ibu tidak merasa gagal?" Ibu Theresa menjawab, "Anakku, aku tidak dipanggil untuk berhasil, tetapi aku dipanggil untuk setia ...."

Setiap pelayan Tuhan di mana pun dan dalam peran apa pun, tidak dipanggil untuk berhasil. Sebab jika panggilannya adalah keberhasilan, ia akan sangat riskan jatuh pada kesombongan atau penghalalan segala cara. Pelayan Tuhan dipanggil untuk setia. Melakukan tugas pelayanannya dengan penuh komitmen dan tanggung jawab. Semampunya, bukan semaunya.

Jemaat yang dikasihi Tuhan! Paulus dalam pelayanannya menunjukan hal serupa dalam Filipi 3:13-14 “Saudara-saudara, aku sendiri tidak menganggap, bahwa aku telah menangkapnya, tetapi ini yang kulakukan: aku melupakan apa yang telah di belakangku dan mengarahkan diri kepada apa yang di hadapanku, dan berlari-lari kepada tujuan untuk memperoleh hadiah, yaitu panggilan sorgawi dari Allah dalam Kristus Yesus”.

Karena itu, saudara-saudaraku, berusahalah sungguh-sungguh, supaya panggilan dan pilihanmu makin teguh. Sebab jikalau kamu melakukannya, kamu tidak akan pernah tersandung (2 Petrus 1:10). Amin. (EP)

Pdt. EP Sembiring

Read more >>

Renungan / Khotbah Kisah Para Rasul 2:22-24, Minggu 24 Mei 2015 (Pentakosta I)

Invocatio : 
“Tetapi penghibur, yaitu Roh Kudus, yang akan di utus oleh Bapa dalam nama-Ku,Dialah yang akan mengajarkan segala sesuatu kepadamu dan akan mengingatkan Kamu akan semua yang telah Kukatakan kepadamu” ( Yohanes14:26 ).

Bacaan : Masmur 139 : 1 – 12 ( Antiponal ); Khotbah : Kisah Para Rasul 2 : 22 – 24 ( Tunggal )

Thema : 
“Roh Kudus yang dijanjikan Allah” Kesah si ipadanken Dibata


Jemaat yang dikasihi Tuhan Yesus Kristus
Minggu ini kita memperingati atau merayakan hari turunnya Roh Kudus atau Pentakosta. Pentakosta artinya hari kelima puluh setelah kebangkitan Yesus Kristus, hari raya tujuh minggu yang di hitung mulai hari sabat. Menurut tradisi para rabi Yahudi bahwa hari raya tujuh minggu adalah hari raya ulang tahun pemberian Hukum Taurat di Sinai. Hari raya Pentakosta Yahudi dirayakan menunjuk kepada genapnya hasil pekerjaan, dan hasil panen yang dipersembahkan kepada Tuhan. (Imamat 23:15-16, Ulangan 16 : 9 – 10). Pentakosta Yahudi dirayakan sebagai pesta penuaian sebagai ucapan syukur kepada Tuhan Allah.

Pada zaman para Nabi juga Allah telah menjanjikan akan memberikan Roh dan FirmanNya bagi seluruh umatNya sehingga mereka dapat dan mau menaati hukum dan ajaran-ajaranNya (Yes.59:21;Yeh.36:26-27). Nabi Yesaya mengingatkan bangsa Israel bahwa sejak awal Allah telah memimpin sejarah Israel dengan perantaraan Roh (Yes.63:10-14). Jika umat Allah tidak menaati roh, mereka akan dihukum, tetapi kalau mereka menaati dan mengikuti Roh, hidup dan hati mereka akan diubah dan dimurnikan(Yeh.36:26-27). Pada dasarnya, harapan umat Allah ketika itu akan masa depan mereka bahwa Roh Allah akan membarui mereka dan membaharui hubungan mereka dengan Allah(Yes.44:3-5;Yeh.11:19-20), dan mengutus seorang pemimpin baru yang dipenuhi hikmat dan keadilan(Yes.11:2-5).
Pada era Perjanjian Baru, setelah Yesus mati dan Ia bangkit, Ia memanfaatkan empat puluh hari bersama rasul-rasulNya. Yesus mengatakan dan menjanjikan penolong bagi para rasul yaitu Roh kudus. Roh Kudus membantu mereka, untuk mengajarkan segala sesuatu dan mengingatkan mereka akan apa yang telah Yesus ajarkan dan untuk memperlihatkan kepada mereka apa yang benar, serta memimpin mereka kedalam seluruh kebenaran. / Ivocatio (Yoh.14:15-17;25-26;15:26,16:4-15).

Setelah Yesus naik ke Sorga, sepuluhari kemudian tepatnya hari yang kelima puluh dalam setiap tahunnya dirayakanlah hari Pentakosta. Dalam suasana merayakan Pentakosta seluruh orang yahudi yang berdiaspora berdatangan dan berkumpul di Yerusalem,ketika itu juga semua para Rasul berkumpul disana dan Roh kudus Turun dan menguasai mereka (Kis.2:1-13). Dampak turunya Roh Kudus seluruh mereka yang berkumpul mulai berkata-kata dalam bahasa-bahasa lain ( Glossolalia) seperti yang diberikan Roh Kudus. Mereka berbicara berlainan bahasanya tetapi satu sama lain saling mengerti apa yang dikatakannya. Para pengunjung-pengunjung yang datang juga dapat mengerti sesuai dengan bahasa yang mereka mengerti. Pentakosta ( Turunnya Roh Kudus) menjembatani komunikasi bahasa yang berbeda-beda dan suku atau bangsa yang berbeda. Allah menghargai setiap suku bangsa dan bahasa yang berbeda di dunia ini. Melalui pencurahan Roh Kudus di hari Pentakosta, menjadi semakin jelas dan nyata peran Roh Kudus yang adalah Allah itu sendiri. Perwujudnyataan kehadiran, penyertaan dan kasih Allah di dalam dunia dan di antara kita.

Jemaat yang dikasihi Tuhan kita Yesus Kristus
Setelah peristwa tersebut diatas, Rasul Petrus bersaksi melalui khotbahnya serta menyatakan penegasan bahwa peristiwa itu adalah kuasa Allah melalui Roh Kudus. Dan mereka bukan mabuk anggur seperti tuduhan orang yang berkumpul ketika itu. Rasul Petrus mengangkat kembali nubuat Nabi Yoel pada abad 8 SM, dalam Yoel 2:28-29 menubuatkan tentang pencurahan Roh Kudus yang besar atas umatNya. Roh itu adalah Roh Allah yang dicurahkan atas bangsa Israel. Dalam Kisah Para-Rasul 2 : 22-24, sebagai renungan kita hari ini, adalah bagian dari khotbah Rasul Petrus yang menyatakan bukti bahwa Yesus adalah Mesias yang di urapi yang ditentukan oleh Allah sendiri dari mujizat-mujizat dan tanda-tanda yang dilakukan oleh Allah melalui Dia. Pencurahan Roh Kudus terjadi oleh karna karya Yesus Kritus yang digenapi melalui kematian dan kebangkitanNya. Melalui kesaksian yang dinyatakan oleh Rasul Petrus, mengingatkan sekaligus untuk percaya bahwa sejak babtisan Yesus sampai hari Pentakosta, Roh Kudus tinggal didalam Dia dan berkuasa sebagai Kristus yaitu yang di urapi oleh Roh Kudus (Luk.3:21-22). Kini Ia hidup dan duduk di sebelah kanan Allah Bapa dan mencurahkan Roh yang sama bagi setiap orang yang percaya sebagai tanda kehadiranNya yang memberi kuasa dan penyertaan terhadap Rasul dan bagi setiap orang dalam kehidupannya.

Tuhan Allah didalam Yesus Kristus adalah Tuhan yang Mahatahu dan berada di segala tempat. Mata Tuhan ibarat CCTV yang ada di segala tempat yang melihat dan memantau seluruh aktipitas dan kehidupan manusia di dunia ini. Dia tau sampai kepada kedalaman hati kita. Tidak ada tempat bagi manusia untuk bersembunyi dari setiap yang kita pikirkan dan yang kita kerjakan dalam hidup ini. Demikianlah ungkapan Daud dalam Masmur139:1-12(bacaan). Seluruhnya adalah dibawah kuasa dan diperhatikan oleh Allah dengan KehadiranNya melalui
kuasa Roh Kudus.

Pemasmur menginspirasi kita untuk berani mempercayakan seluruh kehidupan dan aktipitas kita kepada Tuhan Allah sebab Dia adalah Allah yang Mahatahu. Melalui kesaksian pemasmur kita boleh belajar untuk mengakui kesalahan dan keterbatasan kita dalam menjalani hidup ini. Dan lebih berhati-hati untuk bersikap dan bertindak dan tetap berani untuk melakukan yang baik dan benar seturut dengan kehendakNya.

Dalam sepekan ini secara umum kita telah mengikuti Pekan Doa dan akan kita ahiri dengan Perjamuan Kudus. Melalui Firman Tuhan yang menjadi perenungan di setiap harinya tentu kita semakin bertumbuh dalam doa, saling menopang dalam doa, dalam iman dan semakin baik kepedulian kita terhadap sesama manusia dengan pimpinan Roh Kudus. Gereja dan jemaat GBKP bermakna menjadi garam dan terang bagi dunia ini.

Pada hari ini dalam kita merayakan turunya Roh Kudus menjadikan orang percaya semakin di kuatkan, dimampukan, dihiburkan dalam menghadapi kenyataan hidup. Turunya Roh kudus semua orang percaya mengalami dengan sungguh kasih Allah dan kuasaNya yang senantiasa berkarya, menyertai dan menyelamatkan kita anak-anakNya, sebab Roh Kudus adalah Allah yang hadir dan bertindak dengan kuasa didalam kita. Nyatakanlah kehadiran Allah melalui Roh Kudus didalam dirikita sebagai saksi yang hidup di mana pun kita berada. Tuhan memberkati, amin.

RG.GBKP CILEUNGSI
Pdt. Terima Tarigan

Read more >>

Wednesday, 6 May 2015

Suplemen Bimbingen PJJ Tanggal 10-16 Mei 2015, ogen Matius 28:19; 1 Korinti 11:24-26

Ogen   : Matius 28:19; 1 Korinti 11:24-26

Tema  : Sakramen Ibas GBKP

Tujun  :
1.    Gelah ngawan ni perpulungen ngangkai erti ras makna sakramen si lit ibas GBKP
2.    Gelah ngawan ni perpulungen ncidahken ulih sakramen bas kegeluhen si tep-tep wari.

GBKP si ipanteki menaken Sehna Berita Simeriah 18 April 1890 I Buluh Awar eme gereja si beraliren Calvinis (berpedoman kepada Johanes Calvin). Salah sada tokoh reformasi gereja siterjadi ibas abad 16 (1517) isamping Martin Luther eme Johanes Calvin. Kerna Sakramen, Johanes Calvin menetapken dua ngenca sakramen eme lakon Pridin Sibadia (Pridin kitik ntah pe mbelin) ras lakon Persadan Sibadia, beda ras Gereja Katolik simenetapken 7 Sakramenna eme Pembaptisan, Penguatan, Ekaristi, Rekonsiliasi/Pengakuan Dosa, Pengurapan Orang Sakit, Imamat ras Pernikahen. Alasan Calvin menetapken dua sakramen eme erkiteken dua hal e ngenca isingetken ibas Pustaka Sibadia gelah ilakoken, antara lain si tersurat ibas ogen PJJta eme Matius 28:19 kerna Peridin ras 1 Korinti 11:24-26 kerna lakon Persadan Sibadia.

Matius 28:19 eme si igelari pe “Amanat Agung”. Ibas ayat enda lit lit 3 hal isingetken gelah ilakoken eme: (1) Laweslah ku kerina bangsa manusia. Enda ertina, ajar-ajar si enggo tek e la terjeng ipegegehi kinitekenna kenca enggo idahna Yesus Kristus keke ibas simate nari ntah alu kata sideban “keJuruslamaten Yesus e (Ia me Mesias e) la ngadi terjeng kelompok ajar-ajar tapi man kerina jelma emaka isuruh lawes. Tugas enda tentu la gampang emaka ibas ayat 18 leben enggo isingetken Yesus maka man baNa enggo ibereken kerina kuasa I surga ras I doni ras enda enggo ibuktiken ibas kekekenNa bagepe ibas ayat 20b ija Yesus ngataken “...ingetlah! Aku tetap kap ras kam she ku kedungen jaman”. (2) Bahanlah ia ajar-ajarKu. Tentuna guna banci jadi ajar-ajar aruslah lebe lit pemuridten. Bagi 12 ajar-ajar. Tugas enda penting sabab amin gia 12 kalak secara khusus enggo imuridken Yesus ternyata sada eme Judas Iskariot berkhianat, apai ka la imuridken secara mehuli. Emaka pedah enda isehken secara khusus man ajar-ajar segelah njadiken kerina jelma jadi ajar-ajar Yesus. (3) Peridiken ibas gelar Bapa, Gelar Anak ras gelar Kesah Sibadia[1]. Ibas ayat enda la ikataken gelah iperidiken alu selam ntah percik. Siikataken “peridiken ibas gelar Bapa, gelar Anak ras ibas gelar Kesah Sibadia eme sababna GBKP ngakui baptisen selam ntah la selam siilakoken gereja sideban. Adi lit kalak atena jadi anggota GBKP ras ia ndube enggo ibaptis selam lanai ilakoken baptisen ulang man kalak e, tapi iajari ia rikut ras konfesi GBKP. Hal enda nuduhken GBKP memahami maka peristiwa peridin e labo soal materina (soal launa ras jenari I percik ntah I selam) tapi erti ras makna peridin si ilakoken ibas gelar Tritunggal eme Bapa, Anak ras Kesah Sibadia. Emaka adi enggo iperidiken lanai arusna iperidiken ka sabab peridin e labo main-main.

Erti ras makna peridin eme:
1.    Tanda pengalemi dosa ras nggeluh simbaru, nuduhken maka kita enggo ikut ibas kematen ras kekeken Yesus Kristus ras enggo jadi sada ras Ia (Roma 6:3-4).
2.    Jadi tanda inisiasi (bengket) ku bas persekutuan gereja selaku kula ni Kristus (Bd. 1 Korinti 12:13).
3.    Ipahami pe selaku tanda maka kalak si enggo iperidiken enggo ngaloken pengalemi dosa ras keselamaten.

Jadi kerina kalak si enggo iperidiken arusna enggeluh ibas kegeluhen simbaru eme kegeluhen si enggo berubah ras erbuah. “Lanai aku si nggeluh, tapi Kristus kap si nggeluh i bas aku. Kegeluhenku si genduari i bas doni enda kugeluhken erkiteken kiniteken man Anak Dibata, si ngkelengi aku dingen ngendesken diriNa man gunangku” (Galatia 2:20).
1 Korinti 11:24-26 eme ngerana kerna Lakon Persadan Sibadia. Ibas bagin enda isingetken Paulus maka Lakon Persadan Sibadia eme pengajaren sinialokenna Ibas Tuhan nari ras iterusken ilakoken itengah-tengah perpulungen (ayat 23). Erti ras makna lakon Persadan Sibadia eme:
  1. Gelah nginget Yesus Kristus ras kai si enggo ilakokenNa guna keselamatenta gelah alu bage kinitekenta mulihi ipeteguhi (ayat 24).
  2. Guna nginget pengorbanen Yesus Kristus. Ibas paksa kita man roti ras minen anggur, kita ibabai membayangken ntah nginget kai si enggo ilakoken Yesus kristus man gunanta. Kulana enggo ikorbankenna gunanta[2] ras darehna enggo mambur guna mbersihken kita ibas kerina dosa ras kejahatenta (ayat 25-26).
  3.  Guna nginget pengalamen keselamatenta. Selain nginget pengorbanen Yesus man gunanta, si inget pe paksa kita secara pribadi enggo ngaloken Yesus selaku Tuhan ras Juruslamatta.
  4. Nginget kalak silenga tek man Yesus Kristus. Arah Lakon Persadan Sibadia kita ipersingeti kerna tanggungjawab si arus ikerjaken eme meritaken kematen Yesus kristus gelah kalak sideban pe banci ngaloken kegeluhen si rasa lalap (ayat 26).
  5. Gelah nginget pentingna persadan. Lakon Persadan Sibadia pe lit makna kiniersadan selaku kula ni Kristus ras Kristus selaku kepalana. Arah lakon enda pe kita imotivasi segelah la nirangi perpulungen (Bd. Ibrani 10:25).


Pdt. S. Brahmana

Diskusi (Bagi sienggo iban I bas PJJ GBKP)
  1. Kai ertina “Laweslah ku kerina bangsa, jadikenlah kerina bangsa manusia jadi ajar-ajarKu”, hubungken ayat 19 perintah mperidiken bagepe ras ayat 20 perintah lako ngajari gelah ngikutken kerina perintahNa. Turiken!
  2. Kuga penggejapenta sekalak-sekalak sangana kita ikut muat bagin ibas Lakon Persadan Sibadia? Sekalak-sekalak nuriken penggejapenna secara jujur.



[1] Engkai maka ibas ngelakoken periden ilebuh gelar Bapa, gelar Anak ras gelar Kesah Sibadia, engkai maka la ilebuh gelar Yesus Kristus saja? Yohanes Calvin ibas bukuna Institutio hal. 285 ngataken: “…tidak mungkin seseorang membaptis dalam nama Kristus tanpa sekalian memanggil nama Bapa dan Roh. Nama Bapa dipanggil sebab kita disucikan dengan darah Kristus karena Bapa yang penuh rahmat, sesuai dengan kemurahanNya yang tak terperikan, hendak menerima kita dalam anugrahNya bagi kita. Sedangkan nama Roh dipanggil sebab kelahiran kembali itu baru kita peroleh dari kematian dan kebangkitanNya, jika kita disucikan oleh Roh, dan dipenuhi tabiat baru yang rohani.
[2] Matius 26:26; Markus 14:22; Lukas 22:19

Read more >>

Monday, 4 May 2015

Suplemen Bimbingen PJJ Tanggal 3-9 Mei 2015, Ogen Heber 11:13-16

Ogen      :  Heber 11:13-16

Tema      :  “Doni Kalak Mate”

Tujun      :  
1.       Gelah ngawan perpulungen ngangkai doni kalak mate
2.       Gelah ngawan perpulungen lanai mbiar ngalaken kematen

Adi si oge Heber 9:27 jelas maka la lit manusia si banci nilahken kematen. Ibas paksana manusia pasti mate kenca si e iadili. Tapi engkai maka ngerana kerna kematen seolah sada hal si man silahenken? Adi mbiar iadili erkiteken iakap kita pasti ikelompokken kalak si ersalah jenari masuk neraka, wajar adi mbiar encakapken kematen. Saja ngenca payo nge bage? La lah erkiteken lenga jelas man banta kerna keadan kalak si enggo mate?

Situhuna ibas Pustaka Sibadia mbue ngerana kerna kematen. Salah sada eme ogen Pjjta sendah. Ikataken Abil, Enoh, Nuah, Abraham, Sarah eme kalak sierkiniteken tapi kerina ia mate kang, saja ngenca mbedakenca ras mbue manusia eme ikataken ibas ayat 13 kalak enda mate ibas kiniteken. Kai kin ertina mate ibas kiniteken? Erpalasken erti kiniteken ibas Heber 11:1 maka banci ikataken amin gia kalak enda lenga bo ngidah kegenapen kerehen Yesus Kristus si padanken[1], tapi  pengharapen kalak enda nandangi kegeluhen sirasa lalap ras Dibata I negeri siterulin eme negeri I sorga erbahanca kalak enda ibedaken ras kalak si mate si la erkiniteken. Kata “dauh-dauh nari enggo idahna si e” nuduhken uga pengarapen kalak enda nandangi kegenapen padan Dibata e janah enda ipahami sada kebenaren emaka penulis Heber ngataken maka man kalak enda enggo isikapken Dibata sada kuta (surga).

Ibas ogenta enda pe isingetken penulis Heber membedaken kalak enda ras kalak si la erkiniteken eme
terang-terangen iakuina maka ia kalak perlajang di ngen kesilang I doni enda. Pemahamen enda penting, sabab alu litna pemahamen enda me erbahansa tetap pokus ku kuta kemulihen si tuhu-tuhu eme surga. Tanda pokus eme: (1) idaramina negeri si jadi negerina jine; (2) la nai atena tedeh nandangi negerina si marenda si enggo itadingkenna; (3) tedehen atena negeri si terulin eme surga.

Uga kita, apakah kita pe seri pemahamenta ras tokoh-tokoh kiniteken enda maka kita enda pe kalak kesilang I doni enda? Kesilang ertina kalak petandang, kalak si labo ije inganna tading. Ia reh ku sada kuta berarti ia kesilang ku kuta e, emaka ibas paksana mulihken ka ia ku kutana. Adi seri pemahamenta arusna la nai kita mbiar nandangi kematen, bagi nila Paulus ibas Filipi 1:21 “Sabap kai kin ertina nggeluh! Man bangku, nggeluh e me Kristus, janah mate reh untungna”.

Jenari ngerana kerna tema “Doni Kalak Mate” lit dua eme kuta si enggo isikapken Dibata eme surga ras neraka. Ibas keterangen Pustaka Sibadia mbue imformasi kerna dua kuta enda, saja ngenca si megati turah penungkunen eme ope she masa penghakimen si menentuken ku surga ntah ku neraka  kujange manusia e adi ia enggo mate, mis kin ku surga ntah ku neraka. Kerna penungkunen enda lit dua pendapat si mbuena eme: sipemena, bage jelma mate mis ku surga (bd. Lukas 23:43, Lukas 16:19-31, Filipi 23:43, rsd). Sipeduaken, kenca jelma mate bengket ia ku doni kematen. Istilah doni kematen enda ibas Kitab Padan Siendekah igelari Sheol ras ibas Padan Simbaru igelari Hades. Ibas ingan enda me kalak si enggo mate itamaken. Emaka ibas paksa wari pengadilen eme kerehen Anak Manusia sipedua kaliken (Bd. 2 Tesalonika 4:16), ipekeke me kalak si enggo mate guna iadili. Ibas Yohanes 5:24-29 ikataken ibas paksana ibegi simate eme sora Anak Dibata, janah simegisa e nggeluh me. Saja ngenca nggeluh epe si nggeluh-geluhen sabab ibas ayat 29 ikataken “kalak sierbahan simehuli ipekeke guna nggeluh, tapi sijahat perbahanenna ipekeke guna iukum”. Jadi lit waktu antara kalak si enggo mate ras pengadilen simbelin simenentuken kerina jelma singgo mate bengket ku surga ntah neraka. Kerna dua pendapat enda, akap kami la padah iperdebatken sabab sipasti langsung ntah la langsung bengket ku surga ntah neraka sipenting prinsipna adi kalak simate ibas kiniteken la banci lang man bana enggo isikapken ingan irumah Bapa I surga. Ndigan e, la nai jadi penting sabab bagi ikataken waktu ibas Dibata bali nge seribu tahun ras sada wari bagepe sebalikna (Mazmur 90:4, 2 Petrus 3:8).

Alu bage dage sipenting alu ngangkai maka amin gia kita la banci lang mate la nai kita mbiar kerna si e, ntah erceda ate erkiteken kade-kadeta ntah sinikelengi kita leben mate sabab bagi si isingetken ibas 2 Tesalonika 4:13-18, arusna lanai kita mbiar ntah erceda ate bagi kalak si la erpengarapen adi sinikelengi kita leben mate sabab sieteh kuja kin perlawesna kalak si enggo mate. Emaka arusna kita erceda ate adi kin kita ntah kalak sinikelengi kita lenga erkiniteken man Tuhan Yesus sebab siteh ka kuja perlawesna kenca enggo mate eme ingan kiniseran sirasa lalap eme si igelari neraka ntah gehenna.

Pdt. S. Brahmana

Diskusi (Bagi si enggo iban ibas Bimbingen PJJ GBKP)

  1. Ibas ayat 16 nina  “Tapi tedehen atena negeri si terulin, e me negeri si i Surga. E me sabapna maka la mela Dibata jadi Dibata kalak ndai, sabap enggo isikapkenNa sada kuta man kalak enda kerina”. Kai nge ertina  ayat enda kubas pengarapen kalak sitek? Turikenlah!
  2. Turiken pandangenta kerna kematen, apai belinen kebiarenta ntah keriahenta ras kai sababna?



[1] Tafsiren Ende: Mereka didunia ini tidak sampai menikmati kebenaran dan rahmat keradjaan Kristus. Mereka melihat itu hanja kabur-kabur dari djauh, tetapi mereka pertjaja akan djandji Allah dan bahwa mereka pada achir zaman pasti memperoleh kenikmatan itu bersama dengan kita. Bdl. Ibr 11:39 dan Ibr 11:40.

Read more >>

Wednesday, 29 April 2015

Renungan / Khotbah Mazmur 76:2-13, Minggu 17 Mei 2015

Invocatio : 
TUHAN kiranya memberikan kekuatan kepada umat-Nya, TUHAN kiranya memberkati umat-Nya dengan sejahtera! (Maz. 29:11)

Bacaan : 1 Yoh. 5:9-13 (Tunggal); Khotba : Mazmur 76:2-13 (Anthiponal)

Tema : Allah Raja Damai dan Kehidupan


Pendahuluan
Jemaat yang dikasihi Allah, sebagaimana yang sudah kita baca dalam Kitab Mazmur, Kitab Mazmur ini merupakan nyanyian pujian Sion di mana si pemazmur sedang menceriterakan bagaimana Allah menyelamatkan Sion dan memberikan kemenangan terhadap umat-Nya. Nyanyian ini di naikkan kepada Yahweh, ketika Israel memperoleh kemenangan melalui peperangan melawan bangsa-bangsa sekitar mereka, sehingga pemazmur dengan percaya menyatakan bahwa Allah adalah Hakim segala bangsa. Berikut keyakinan si pemazmur terhadap Allah sehingga ia mampu menyatakan demikian:

Pembahasan
1. Allah yang ada dan hadir
Pada pembukaan nyanyian ini, dimulai dengan pernyataan yang bersifat teologis yaitu Allah telah dikenal di Israel dan Ia bertahta di sana, Salem sejajar dengan Sion, yakni Yerusalem, pusat tempat peribadahan orang Israel. Melalui pernyataan ini, menunjukkan bahwa si pemazmur sendiri telah mengenal Yahwe Israel dan memiliki pengalaman di dalam kepercayaannya terhadap Yahweh. Sepertinya ia juga mengetahui peristiwa keluaran merupakan peristiwa yang sangat kental dalam benak Israel, yang mana peristiwa itu menjadi kredo bagi Israel dalam setiap kehidupannya, sehingga ia dapat menyatakan bahwa Allah sudah sangat dikenal di seluruh umat-Nya, bahkan ia tinggal di sana.

Sebagaimana keyakinan orang Israel bahwa Allah hadir di Yerusalem, maka dalam nyanyian ini juga diungkapkan bahwa Allah memerintah di sana. Yerusalem tetap sebagai pusat peribadahan karena diyakini sebagai representasi Allah. Dengan demikian, pemazmur benar-benar dapat merasakan kehadiran dan penyertaan Yahweh dalam setiap keadaan tersebut.

2. Allah Pemberi kemenangan
Pada ayat 4-7, pemazmur menyatakan bahwa sesungguhnya Allah yang hadir dan berpekara terhadap umat-Nya. Dialah Allah yang mematahkan musuh dan meghabiskan seluruh peralatan perang bangsa-bangsa lain. Bahkan di dalam ayat 6-7, dikatakan bahwa Allah menjarah orang berani, dijadikannya tertidur, dan orang gagah dibuat tak berdaya. Allah yang membuat musuh umat-Nya lengah dan menjadi kalah, sehingga Allah adalah yang berkuasa dan kekuatannya mengatasi seluruh yang ada di dunia, mengatasi pegunungan yang ada sejak purba kala. Kemungkinan besar yang dianggap pegunungan Hermon, sebab di sana diyakini bersemayam para dewa dan di pegunungan tersebut tidak pernah kekeringan tetap memiliki awan yang sejuk. Namun, sebagaimana nyanyian pemazmur, bahwa kehebatan Allah dan kuasa-Nya yang terpancar melampaui pegunungan tersebut. Hanya dengan hardikan saja, Allah mampu menyelesaikan semuanya. Dengan demikian Allah Adalah Allah yang tidak tertandingi oleh apapun.

3. Allah sumber kedamaian
Pada ayat 8-11, dikatakan tidak ada yang mampu berdiri di hadapan Allah. Kedahsyatan Allah tidak tertandingi oleh apapun. Ketika Tuhan menyatakan keputusan Allah, maka akan membuat bumi takut dan tertegun. Keputusan itu sendiri langsung akan berdampak hebat terhadap mereka yang terindas dan penindas.

Melalui Firman Tuhan diperlihatkan bahwa Allah berpihak kepada mereka yang tertindas, teraniaya dan lemah. Karena mereka juga bagian dari rencana Allah. Allah tidak membiarkan umatnya senantiasa tertekan dan ditindas. Tetapi melalui keputusan-Nya, Ia ingin memperlihatkan bahwa yang dikehendaki adalah terciptanya damai sejahtera dalam lingkungan umat Allah. Karena Allah adalah Allah yang mengasihi semua orang dan semua orang sama di hadapan Allah.

Oleh karena begitu besar karya Allah yang telah dirasakan pemazmur dalam kehidupan-Nya, sehingga pada ayat selanjutnya merupakan sebuah respon nyata dari kehidupan manusia terhadap Allah yang telah memberikan kedamaian dan kehidupan kepada umat-Nya.

4. Ungkapan syukur kepada-Nya.
Pada ayat 12 disebutkan tentang nazar. Ayat ini adalah ajakan si pemazmur kepada setiap orang untuk menyatakan syukur kepada Allah atas apa yang sudah Allah berikan dalam kehidupan manusia. Nazar adalah sumpah atau janji bersyarat kepada Tuhan ketika seseorang melakukan permohonan kepada Tuhan, yang harus ditepati jika permohonan itu sudah terjadi atau dikabulkan. Tuhan yang bertindak dalam sejarah, harus dipuji dan dimuliakan. Dalam konteks ini Ia dimuliakan dengan pujian dan persembahan yang dikaitkan dengan nazar (ay 12).

Dengan demikian, maka ini merupakan respon kita sebagai manusia ciptaan Allah, yang percaya kepada-Nya. Ia yang telah menganugrahkan kedamaian dan kehidupan kepada manusia. Sekali lagi, semuanya ini dilakukan karena Allah melakukan karya-karya agung dan ajaib dalam sejarah bagi umat manusia. Ia menjadi sumber ketakutan dan kegentaran bagi orang-orang yang berkuasa dan kuat, yang biasanya karena kekuasaan dan kekuatannya menjadi sombong dan angkuh. Namun, Ia juga menjadi sumber damai dan kehidupan bagi mereka yang dengan percaya menantikan janji-Nya dan tetap berpengharapan. Sebagaimana dalam bacaan bahwa penulis Yohanes mengajak umat Allah untuk senantiasa percaya kepada kesaksian tentang Allah, sehingga kita senantiasa memiliki hidup kekal.

Demikianlah gambaran sipemazmur ditengah kehebatan dan kedahsyatan Allah terhadap hidup umat, pemazmur juga mengajak umat untuk menyatakan respon terhadap anugerah yang telah diberikan kepada manusia, dengan memberikan pujian melalui hidup setia hari, dan persembahan yang terbaik kepada Allah.

Jemaat yang dikasihi Tuhan, kedekatan kita dengan Tuhan terlihat dalam setiap respon kita atas apa yang terjadi dalam kehidupan kita. Terkadang sebagai manusia, dalam hal yang berbahagia kita kurang merasakan bahwa Tuhan yang memberikan semua itu, justru kita merasa bahwa itu merupakan hasil kerja keras kita. Namun, di saat dekat dengan kesulitan, maka kita akan berteriak minta tolong kepada Tuhan, seakan-akan Tuhan terlambat atau tidak tahu dengan pergumulan yang kita alami. Sebagaimana dengan pemazmur yang memiliki keyakinan penuh terhadap Allah yang benar-benar hadir dalam hidupnya, kita juga dituntut agar tidak hanya dalam keadaan yang menyedihkan kita datang kepada Tuhan, tetapi dalam keadaan yang menyenangkan biarlah nama Tuhan yang dipermuliakan, bukan kita. Ingat, bukan kita!!! Sebab ialah raja yang memberikan hidup dan damai kepada seluruh cipataan di bumi. Selamat memuji kebesaran-Nya. Amin.

Pdt. Andreas Joseph Tarigan STh, M.Div
Rg. Harapan Indah

Read more >>

Renungan / Khotbah Matius 28:16-20, Kamis 14 Mei 2015 (Kenaikan Tuhan Yesus)

Invocatio : 
Tetapi kamu akan menerima kuasa, kalau Roh Kudus turun ke atas kamu, dan kamu akan menjadi saksi-Ku di Yerusalem dan di seluruh Yudea dan Samaria dan sampai ke ujung bumi."Sesudah Ia mengatakan demikian, terangkatlah Ia disaksikan oleh mereka, dan awan menutup-Nya dari pandangan mereka.

Bacaan : Maz. 8:2-10 (Responsoria); Khotabah : Mat. 28:16-20 (Tunggal)

Tema : Jadikanlah semua bangsa murid-Ku


Pendahuluan
Umumnya tempat makan atau restoran yang makanan ataupun masakannya enak, akan mudah diingat oleh seseorang. Demikian juga dengan kita, ketika menemukan tempat makan yang enak, atau rumah makan yang babi panggangnya enak, tentu akan teringat lama di benak kita. Kita akan mengingat tempatnya dan jalan menuju ke tempat itu, sehingga ketika ada kesempatan untuk makan keluar bersama dengan keluarga, kita dengan mudah menemukan tempat itu. Atau mungkin juga ketika kita kedatangan tamu, atau ada yang bertanya tempat makan, tentu kita akan merekomendasikan tempat maka tersebut, sehingga pengunjung tempat maka itu pun menjadi ramai.

Jemaat yang dikasihi Tuhan, tema hari ini adalah “Jadikanlah semua bangsa murid-Ku”, sebagai orang percaya, sudahkah kita membuat orang lain terpesona dengan rasa yang kita tampilkan dalam kehidupan kita?

Pembahasan
Kitab Matius secara keseluruhan sedang melawan sikap kerohanian yang sangat menggebu-gebu, Namun, tidak memiliki pengaruh dalam tindakan masa kini. Oleh karena itu, pesan utama kitab ini, dapat dikatakan “lakukan” sebab Tuhan yang menyertai (band. Mat. 1:23; 28:20).

Perikop Firman Tuhan saat ini Mat. 28:16-20, menceritakan tentang pertemuan Yesus yang terakhir kalinya bersama para murid sebelum Dia terangkat ke surga. Di dalam pertemuan itu sendiri Tuhan Yesus memberikan suatu tugas kepada para murid yang sering disebut sebagai amanat agung (The Great Commission), yaitu: “Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman.”

Jemaat yang dikasihi Tuhan, melalui perintah ini, sesungguhnya tersirat esensi kasih yang begitu kental terhadap manusia. Allah begitu mengasihi manusia sehingga Ia mengirimkan anak-Nya kepada manusia itu. Bahkan karena begitu Ia mencintai manusia, pesan utamanya adalah untuk menjangkau kembali manusia yang telah hilang itu. Berbeda dengan kita manusia, biasanya ketika kita hendak berpisah dengan sahabat-sahabat/keluarga atau jemaat tempat di mana kita melayani, tentu di situ kita membicarakan tentang kebersamaan kita, baik saat suka maupun duka, kebiasaan kita dan sebagainya. Sebisa mungkin kita hanya membahas tentang kita. Tetapi Yesus justru menekankan agar para murid melanjutkan tugas yang selama ini telah mereka jalani bersama. Sebagaimana juga terdapat dalam Injil Yoh. 21, Yesus berkata kepada Petrus hingga tiga kali “jika engkau mengasihi aku, gembalakanlah domba-dombaku”, hal ini membuat Petrus bersedih.

Jemaat yang dikasihi Tuhan, hari ini perintah ini dikumandangkan kembali kepada kita, yang ada sekarang di sini. Mengapa kita? Sebab kita adalah orang percaya, kita adalah buah dari penginjilan yang dilakukan oleh para rasul zaman dahulu. Dengan kata lain, perintah ini sifatnya tidak hanya masa lalu, tetapi perkataan ini merupakan kata kerja yang berkelanjutan.

Allah memerintahkan hal ini kepada orang percaya kepada-Nya, tujuannya adalah agar orang yang belum percaya dan mengenal Dia, menjadi percaya dan menerima Kristus sebagai juruselamatnya. Inilah misi Yesus datang ke dunia, yaitu menjadikan semua suku bangsa memuji dan menyembah Allah, seperti yang terdapat dalam bacaan Maz. 8, bahwa pemazmur merindukan bahwa kelak semua bangsa bertekuk lutut di hadapan Allah. Nama Tuhan dipermuliakan atas seluruh bumi, dan semua ciptaan bersatu memuji kebesaran-Nya.

Dalam melaksanakan tugas yang demikian besar, Allah tidak membiarkan para murid untuk berjalan sendiri. Sebab Allah juga mengetahui bahwa akan ada tantangan yang dihadapi, yang kemungkinan besar akan membuat para rasul teraniaya, menderita ataupun tertindas. Oleh karena itu, pada ayat 20: Yesus berkata bahwa Ia senantiasa menyertai hingga akhir zaman. Janji penyertaan ini merupakan penghibur sekaligus kekuatan bagi para rasul untuk menjalankan misi Tuhan Yesus. Sebab dalam misi itu, Yesus sendiri yang mengutus mereka, yaitu Allah yang memiliki kuasa atas surga dan dunia (ayat 18).

Janji penyertaan telah dinyatakan kepada kita yang mau mengikutnya. Apakah yang harus menjadi ketakutan kepada kita? Sering kita mendengar bahkan mengucapkan “Tuhan memberkati”, tetapi pertanyaan sekarang adalah, sejauh mana Tuhan memberkati? Dan jawabannya sejauh kita mau melakukan dengan kerendahan hati. Maka, lakukanlah pelayanan dan alami penyertaan Tuhan. Dia tidak akan meninggalkan kita. Dari surga Tuhan melihat bagaimana kita selaku anak-anak-Nya yang setia menjalankan perintah-Nya.

Kemanakah kita harus pergi?
Pada ayat 19, dikatakan: pergilah dan jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan Baptislah dalam nama Bapa, Anak, dan Roh Kudus. Perhatikan kata pergi. Sebagian besar orang berpikir bahwa pergi berarti meninggalkan tempat kita berada sekarang ini, sebagaimana Abraham yang pergi meninggalkan kampung halamannya menuju tanah yang Allah janjikan kepadanya dan keluarganya. Tetapi apakah hanya sebatas itu saja? Sesungguhnya pernyataan ini juga menekankan bahwa orang percaya dan dunia berbeda adanya. Artinya bahwa dunia tentu akan melakukan yang mereka inginkan, tetapi dalam kondisi yang demikian juga dituntut untuk tidak serupa. Dengan demikian, keberadaan kita di dunia dan lingkungan kita, juga dalam proses ‘pergi’ untuk menyatakan kasih Allah akan dunia dan seluruh isinya, seperti di lingkungan, wilayah tempat kita berada. Dengan keberadaan kita, dunia menjadi mengerti dan mengalami bahwa Allah adalah kasih adanya.

Sebagaimana Allah yang hidup di dalam Kristus juga dari kasih, untuk kasih dan demi kasih, demikian jugalah para murid dituntut untuk menyatakan kasih Allah di dalam kehidupan mereka kepada semua orang, tidak hanya kerohanian yang menggebu-gebu seperti halnya orang-orang Yahudi, tetapi harus nyata dan dapat dirasakan kehadiran yang membawa kasih. Untuk tugas yang demikian, Yesus juga tidak hanya memberikan perintah dan janji penyertaan terhadap para murid, tetapi ia juga memberikan kuasa, sebagaimana dalam bacaan kita, Kis. 1:8 “Tetapi kamu akan menerima kuasa, kalau Roh Kudus turun ke atas kamu, dan kamu akan menjadi saksi-Ku di Yerusalem dan di seluruh Yudea dan Samaria dan sampai ke ujung bumi.” Inilah bukti Tuhan senantiasa bekerja di dalam diri setiap orang yang melakukan kehendak-Nya. Sehingga dengan demikian, Allah bekerja dalam setiap hati orang percaya dan rendah hati di hadapan-Nya.

Jemaat yang dikasihi Tuhan, dengan menjadikan semua orang murid Allah, Satu hal yang Yesus inginkan di sini adalah semua orang memuji Allah, atau dengan kata lain Tuhanlah yang menjadi pusatnya, sebagaimana pernyataan ini termuat dalam seluruh Khotbah di Bukit (Mat. 5:16, 48; 6:4,24,33; ). Kasih Allah adalah kasih yang menjangkau ke luar, mencari yang hilang. Selamat menjadi utusan Tuhan, damai menyertai. Amin.

Pdt. Iswan Ginting Manik/Nanda br. Tarigan
Rg. Cililitan

Read more >>

Renungan / Khotbah Kisah Para Rasul 10:44-48, Minggu 10 Mei 2015

Invocatio : 
“Bertekunlah dalam doa dan dalam pada itu berjaga-jagalah sambil mengucap syukur.” (Kolose 4:2)

Ogen : Mazmur 22:25-31 (Antiponal); Khotbah : Kisah Para Rasul 10:44-48 (Tunggal)

Tema : “Tiada Perbedaan Dihadapan Tuhan”

PENDAHULUAN
“Yesus cinta semua bangsa, semua bangsa di dunia, kuning, putih dan hitam, semua di cinta Tuhan, Yesus cinta semua bangsa di dunia..” Lirik lagu yang sederhana ini, kembali mengingatkan kita akan makna cinta Tuhan yang universal. Tidak membedakan bangsa, warna kulit, bahasa atau perbedaan lainnya. Semua orang sama di hadapan Tuhan dan kepada siapa pun kabar keselamatan harus dinyatakan dan disaksikan. Tidak ada perbedaan di hadapan Tuhan, menjadi sebuah pemahaman yang akan mendorong kita untuk lebih mengasihi sesama dan mewartakan cinta kasih Tuhan yang telah kita nikmati. Namun, dalam kenyataan hidup sering kali manusia terjebak dalam sikap pengkotak-kotakan, pemisahan berdasarkan kepentingan masing-masing pribadi atau kelompok. Sehingga tanpa disadari kekristenan dan gereja pun dapat terancam sikap tertutup melakukan misi Kristus, yakni beritakan Injil sampai ke ujung dunia. Bagaimana Firman Tuhan menyaksikannya bagi kita dan memampukan untuk melakukannya?

ISI
Kisah Para Rasul menjadi rangkaian kesaksian bagaimana Roh Kudus yang diutus Tuhan menjadi penolong bagi manusia, bekerja di atas orang-orang yang percaya. Jemaat mula-mula terdiri dari orang-orang yang melihat langsung sebagai saksi karya Yesus di dunia dan ada pula yang mendengar lalu percaya sehingga mereka menjadi pengikut Kristus. Tugas orang yang percaya, tidak hanya mendengar tetapi juga memperdengarkan kabar keselamatan tersebut. Tentunya hal ini tidak mudah dilakukan. Kita mengingat bagaimana para murid Yesus saat pertama kali melihat Yesus telah mati di kayu salib? Tentu pada awalnya mereka menjadi takut dan gentar. Tantangan memberitakan kabar keselamatan datang dari dalam dan luar diri sendiri. Termasuk pembatasan sosial antara Yahudi dan bukan Yahudi menjadi salah satu tantangan pada saat itu.

Ketika Roh Kudus yang dijanjikan Tuhan turun ke atas mereka pada hari Pentakosta (Kis 2), hal berbeda mulai terlihat. Para murid yang berkumpul di Yerusalem mulai menyaksikan tentang karya Allah yang tidak hanya dimengerti orang Yahudi. Melalui khotbah Petrus, banyak orang yang memberi diri untuk bertobat dan dibabtis. Perjalanan pemberitaan Injil menyaksikan Roh Kudus bekerja melalui orang percaya dan dalam kehidupan jemaat mula-mula yang menembus tembok-tembok pemisah. Roh Kudus memakai banyak orang dari berbagai suku bangsa untuk turut menyaksikan kabar keselamatan.

Kisah Para Rasul 10 mencatatkan tentang Injil yang diberitakan kepada bangsa lain, bukan Yahudi. Kornelius merupakan seorang perwira Romawi di Kaisarea yang mendapat penglihatan dari Tuhan (Kis 10:1-8). Kornelius dan seisi rumahnya taat kepada Allah dalam doa dan persembahan. Tuhan memerintahkannya untuk pergi ke Yope dan menjemput Simon Petrus. Sebelum mereka bertemu, Tuhan juga memberikan Petrus penglihatan hingga tiga kali, tentang perintah Allah memakan apa yang selama ini dianggap makanan haram bagi orang Yahudi (Kis 10:9-16). Hal ini memberikan pengertian kepada Petrus bahwa pemberitaan keselamatan dari Tuhan dibukakan bagi semua orang, tidak hanya orang Yahudi (menentang larangan seorang Yahudi bergaul dengan orang yang bukan Yahudi).

Allah tidak membeda-bedakan orang yang mau percaya dan melakukan FirmanNya. Pada saat itu orang-orang percaya yang berkumpul di rumah Kornelius menerima karunia Roh Kudus. Roh Kudus yang dicurahkan bagi bangsa-bangsa lain juga menjadi saksi bahwa semua orang yang membuka hati menerima Tuhan akan menyaksikan kemuliaanNya (ay 44-46). Setelah menerima curahan Roh Kudus dan babtisan, mereka meminta Petrus untuk tinggal beberapa hari lagi dan menyampaikan pengajaran tentang Kristus.

Dalam Mazmur 22:25-31, pemasmur juga mengungkapkan bagaimana Tuhan bekerja dalam kehidupannya. Tuhan tidak menyingkirkan orang yang tertindas, sengsara, tetapi Tuhan menunjukkan wajahNya, mendengar seruan minta tolong. Rasa syukur pemazmur dinyatakan dalam pujian dan persembahan kepada Tuhan. Hati yang mencari Tuhan akan menjadi saksi yang memberitakan kepada semua orang dan bangsa di bumi hingga mereka pun memujiNya. Dalam kemuliaanNyalah Tuhan menjadi Raja yang diwartakan kepada semua bangsa dari setiap angkatan yang percaya. Tidak ada hal yang membatasi kuasa Allah bekerja, menyaksikan kepada manusia dan menjadikannya bagian dari keselamatan.

APLIKASI
Minggu ini merupakan minggu Rogate (Berdoa). Doa adalah nafas kehidupan setiap orang percaya. Pernyataan ini menunjukkan bahwa betapa lemahnya manusia dan sangat membutuhkan Tuhan. Oleh sebab itu, doa yang dinaikkan kepada Tuhan seharusnya tidak bisa hanya berisi pergumulan atau persoalan pribadi saja. Kesaksian Petrus, Kornelius tentang peran Roh Kudus bagi semua orang yang mau percaya dan juga pemazmur yang mengagungkan Tuhan dan bersaksi ke penjuru bumi, menjadi dorongan buat kita bahwa berdoa tidak hanya bagi diri sendiri, berdoalah juga bagi orang lain. Manusia membutuhkan anugerah Tuhan dan dalam hidup yang berdoa, memberi persembahan dan memuji Tuhan karena kuasa, kebesaran, dan kasih setia-Nya, itulah yang menjadi kesaksian yang hidup.

Tantangan yang kita hadapi sebagai orang percaya yang mau setia melakukan dan memberitakan Injil, akan menjadikan doa sebagai kekuatan kita. Invocatio (Kolose 4:2) merupakan peneguhan bahwa doa akan menguatkan hati kita agar semakin berserah kepada Tuhan dalam pujian dan persembahan. Roh Kudus memampukan kita juga bersekutu dan saling menopang di dalamNya sehingga kesaksian hidup orang yang berdoa dan melakukan, akan menjadi kekuatan pemberitaan Firman. Hal yang harus kita lakukan adalah:
  1. Bertekunlah dalam doa. Sebab di dalam doa, Tuhan akan berbicara tentang apa yang harus kita lakukan sebagai orang percaya.
  2. Memberitakan keselamatan. Sikap hidup yang berdoa dan bersaksi akan menjadi pemberitaan Firman yang hidup. Oleh sebab itu lakukan Firman dalam sikap hidup kita sebagai orang percaya.
  3. Doakan dan beritakan kepada semua orang. Persekutuan dalam doa dan pemberitaan Firman akan menjangkau banyak orang. Karena kita melakukan apa yang Tuhan perintahkan dan Roh Kudus memampukan dan tidak akan diam, melainkan bekerja menggerakkan hati banyak orang.

Keselamatan dari Tuhan melalui Kristus, tidak tertutup bagi beberapa orang saja, melainkan harus dinyatakan kepada semua orang. Dalam minggu ini kita semakin dikuatkan untuk membawa setiap doa dan pergumulan pribadi dan pemberitaan Injil bagi banyak orang, dalam namaNya. Karena sungguh besar kuasanya doa menyatakan keselamatan bagi semua orang, tanpa perbedaan dihadapanNya. Amin.

Vic. Deci Kinita Sembiring
Perpulungen Balikpapan

Read more >>