Friday, 18 April 2014

Renungan / Khotbah 1 Petrus 1:17-23, Minggu 4 Mei 2014 (Misericordias Domini).

Introitus : 
Tidak seorang pun dapat membebaskan dirinya, atau memberikan tebusan kepada Allah ganti nyawanya, karena terlalu mahal harga pembebasan nyawanya, dan tidak memadai untuk selama-lamanya (Mzm 49:8,9)

Pembacaan : Yesaya 44:21-24 (Responsoria); Khotbah : 1 Petrus 1:17-23 (Tunggal)

Tema : “Hidupmu Berharga!”


Saudara-saudara yang terkasih dalam Yesus Kristus, kalau kita lihat fenomena kehidupan sekarang, maraknya pembunuhan, pelecehan, penyiksaan terhadap sesama manusia, memberikan gambaran bagi kita bahwa nilai manusia itu sungguh tak berharga lagi. Banyak orang demi “tujuan/ambisi” pribadinya mau mengorbankan nilai “kemanusiaannya” sebagai makhluk ciptaan Tuhan yang mulia. Dalam artikel “The Paradox of our time “ di tuliskan we multiplied our possession, but we reduce values” (kita melipatgandakan harta milik kita, tapi mengurangi nilai kita sebagai manusia)

Mungkin kita pernah menbaca atau mendengar istilah :”harimau saja tidak memangsa anaknya sendiri”, ini adalah kritikan pedas bagi manusia yang “memangsa” siapa saja. Homo homini lupus sungguh membuat nilai manusia itu tidak layak lagi di sebut sebagai “manusia”…tapi “bi…na…tang.”

Kesengsaraan, penderitaan, diskriminasi, ketertekanan dapat menimbulkan perasaan dalam diri manusia bahwa dia adalah pribadi yang tidak dicintai, tidak dikasihi. Hal ini dapat menimbulkan perasaan bahwa “dia sungguh tak berharga”. Perasan hidup tak berharga membuat manusia menjadi pribadi “gampangan/sembarangan” hidup sesuka hatinya seakan tidak ada yang perlu “dijaga/dilindungi” dalam kehidupannya. Situasi seperti ini seringkali membuat manusia lebih mengutamakan sikap “cari aman” dari pada menjalankan kebenaran. Akhirnya dosa menjadi kenikmatan, menuruti hawa nafsu adalah sebuah kepuasan dan kebahagiaan.

Perasaan seperti ini juga mungkin sangat dirasakan oleh umat Kristen yang tersebar sebagai orang pendatang di Propinsi Asia Kecil kekaisaran Romawi. Orang-orang Kristen disebut “pendatang dan perantau”. Meraka ibarat orang-orang perziarah di dalam dunia yang membenci Yesus, yang tidak segan-segan menyiksa dan menganiaya bahkan membunuhnya mereka. Akibatnya banyak orang Kristen lari dari panggilan iman yaitu saling mengasihi dan hidup kudus. Mereka takut menunjukkan identitas mereka sebagai pengikut Kristus, yang penting aman.
Petrus mengirimkan surat ini untuk menguatkan orang-orang Kristen, agar setia dalam iman walaupun menghadapi tantangan yang berat. Mereka harus saling mengasihi jangan terjebak kepada kehiupan yang egois. Walaupun hidup dalam lingkungan yang penuh dosa tetapi orang percaya harus menjaga kekudusan hidup.

Petrus mengingatkan, bahwa Tuhan yang kita sebut “Bapa” tidak memandang rupa, menghakimi semua orang menurut perbuatannya. Semua orang Kristen akan menghadapi pengadilan tanpa terkecuali (Pkh. 12:14; Rm.14:12; 1Kor.3:12-15; 2Kor.5:10). Pengadilan itu terjadi saat Kristus kembali untuk gereja-Nya (Yoh.14:3; 1 Tes. 4:14-17). Yang menjadi hakimnya adalah Kristus (Yoh.5:22; 2Tim4:8). Dalam penghakiman itu segala sesuatu akan di singkapkan tidak ada yang tersembunyi, baik : watak kita (Rm. 2:5-11), perkataan kita (Mat.12:36-37), Perbuatan baik kita (Ef. 6:8), sikap kita (Mat. 5:22), motivasi kita (1Kor. 4:5), kekurangan kasih kita (Kol.3:18- 4:1) dan pekerjaan dan pelayanan kita (1Kor. 3:13). Pendeknya setiap orang percaya akan harus mempertanggungjawabkan kesetiaan dan ketidaksetiaannya kepada Tuhan.

Petrus mengingatkan setiap orang percaya, harus memiliki “rasa takut” ketika dia hidup menumpang di dunia ini. Kata “menumpang” mengandung makna bahwa dunia ini adalah tempat tinggal sementara (bukan tempat tinggal yang tetap). Sebagai orang yang “menumpang” haruslah pintar-printar menempatkan diri, karena sebagai “penumpang” sering kali di curigai, diperhatikan setiap tindak-tanduknya, dicari-cari kesalahannya (kelemahannya). Di dalam 2 Pertus 3:13, dikatakan “siapakah yang berbuat jahat terhadap kamu jika kamu rajin dan berbuat baik?”. Dalam kehidupan ini benyak juga penderitaan menimpa kehidupan disebabkan “prilaku” kita yang kurang beretika dan bermoral. Sehinnga Petrus mengingatkan, jaga si kap kita supaya jangan mengundang kebencian dan amarah orang lain. Selanjutnya di ayat 14 Petrus mengatakan : “Tetapi sekalipun kamu harus menderita juga karena kebenaran kamu akan bahagia…..”

Petrus mengatakan bahwa “rasa takut” sangat dibutuhkan bagi setiap orang percaya untuk menjaga kekudusan. Dalam Kisah Ananias dan Safira yang sepakat membohongi Tuhan berakhir pada kematian, yang menimbulkan rasa takut bagi semua jemaat (Kis. 5:11) peristiwa ini menimbulkan kerendahan hati dan rasa kagum akan kuasa Tuhan.ingga mereka takut melakukan kejahatan. Tanpa rasa takut akan Tuhan manusia tidak akan pernah menghindari dosa. Takut akan Tuhan adalah dasar segala Ilmu pengetahuan (Ams 1:7) Takut akan Tuhan membuat persekutuan menjadi kuat dan utuh serta terus bertumbuh (Kis.9:31)

Rasa takut akan Tuhan sebagai wujud ucapan syukur karena sudah “ditebus” dari hidup yang sia-sia. Istilah “ditebus” sering kita temui di dunia “pegadaian”, barang yang digadaiakn tidak lagi sepenuhnya menjadi milik kita, perlu tebusan/bayaran untuk mengembalikan status barang itu agar menjadi milik kita sepenuhnya. Istilah “dibayar” sering kita temui di dunia perdagangan, ketika barang sudah di bayar maka pihak pembayar memiliki “hak penuh” terhadap barang yang di bayar. Di zaman dulu istilah tebusan seringkali di perhadapken dengan urusan “budak” seorang budak sering diperlakukan seperti “barang” yang dapat diperjualbelikan (digadaikan) hidupnya hanya sebatas pekerjaannya, tidak punya nilai pada dirinya sendiri, hidupnya hanya menunggu kapan dia sakit…kapan dia tidak sanggup lagi bekerja akan di campakkan (dilupakan), habis manis sepah dibuang” tidak ada penghargaan atas pekerjaannya, inilah yang dimaksud dengan hidup yang sia-sia, tidak punya harapan masa depan.

Manusia di tebus (dibeli/dibayar) dari “tuan” yang tidak memberikan jaminan hidup di masa akan datang, Kristus membayar dan menubus umatnya, setiap yang ditebus itu menjadi pribadi yang sangat berharga dan diberikan jaminan hidup di masa akan datang.
Harga setiap barang disejajarkan dengan tebusannya (bayarannya), Petrus mengatakan bahwa manusia ditebus bukan dengan barang fana, itu artinya manusia itu “identik/sejajar dengan kekekalan”. Harga manusia itu jauh melebihi perak dan emas, walaupun emas dan perak itu adalah barang yang sangat mahal di mata manusia. Manusia di tebus dengan darah yang mahal. Darah adalah lambang kehidupan, dengan kata lain manusia sama dengan kehidupan (kekekalan) karena dengan darah (kehidupan) dia di tebus. Dengan demikian manusia berhutang nyawa kepada Yesus Kristus yang telah mengorbankan darah-Nya. Sudah selayaknya manusia memberikan kehidupannya kepada Kristus yang telah menebusnya.

Manusia di beli dengan harga yang tidak di tawar-tawar, karena hidupnya memang berharga, ibarat barang daganan dia ada di tempat yang elit (harga pas) bukan barang yang ada di pasar (barang eceran) yang bisa di tawar. Ketika manusia di tebus bukan seperti seorang ibu yang belanja di pasar, yang menawar barang tanpa tending aling-aling. Kalau kita perhatikan biasa orang menawar barang yang dias sukai, karena kalau dia enggak suka tidak akan ditawar. Percakapan antara pembeli dab penjual

Pembeli : Berapa harga barang ini
Penjual : Ini murah bu… Cuma 50.000
Pembeli : Lho…kok mahal banget….
Penjual : Ah… enggak memang begini harganya …sesuai dengan mutunya bu
Pembeli : Tadi disana saya tanya, lebih murah dari ini..pada hal barangnya kelihatanya lebih bagus dari ini…
Penjual : Ah kalau begitu beli di sana aja bu…
Senjata tawaran pertama “merendahken nilai barang” enggak berhasil, lalu masuk stratefi yang ke-2
Pembeli : Jadi gimana bisa kurang enggak ?
Penjual : Ah ini udah harga pas bu…sesuai dengan mutunya
Pembeli : Saya punya uang tinggal 50.000, saya beli barang ini tolong kasih aku ongkos pulang…
Penjual : yah ibu …memnag harganya enggk bisa dikorting lagi bu
Strategi ke-2 “merendahkan kemampuan” juga tidak berhasil, baru masuklah straegi ke-3
Pembeli : Bisa kurang enggak ? ( Sambil pergi pelan-pelan meninggalkan penjual..
Dari jauh lalau dia bertetiak) bisa enggak di kurang harganya ?

Yesus membeli manusia tidak dengan harga yang di tawar-tawar, dia tidak mengemis untuk merendahkan kualitas manusia supaya harganya lebih murah. Dia tidak mengemis harus merendahakn kemampuan-Nya untuk menebus manusia, Dia tidak memelas sambil pergi meninggalkan manusia agar dapat Dia beli, seakan-akan Dia tak butuh.

Mengapa Allah melakukan ini? Inilah yang di sebut dengan Misericordias Domini, karena di mata Tuhan manusia itu sangat berharga. Inilah tema khotbah Minggu ini. Ya memang kita sangat berharga di mata Tuhan, sehingga Dia rela mengorbankan nyawa dan darah-Nya untuk menebus/membeli kita dari kuasa dosa yang mematikan.

Sebagaimana Tuhan telah “memberikan harga yang mahal” bagi kita, sudah selayaknya kita juga harus menghargai kehidupan kita. Jangan menjadi “orang murahan” yang bisa dipermainkan dunia ini, jangan mau menggadaikan kehidupan kepada dosa yang hanya dapat memberikan kenikmatan sesaat. Kita bukan menjadi manusia yang “gampangan” melakukan tindakan dosa “yang murahan”, gampang menyerah, gampang tersinggung, gampang marah dan putus asa. Hidup kita berharga, mari kita pertahankan, kita jaga sepanjang kehidupan kita, selama kita merantau di dunia ini sampai kita mendapatkan tempat tinggal yang abadi.

Tuhan rindu melihat ketaatan sebagai buah penyucian yang Tuhan kerjakan bagi kehidupan kita. Menjalankan kebenaran sebagai buah “pembenaran” yang diberikan oleh Tuhan. Rasa syukur oleh karena penebusan Tuhan akan memampukan kita untuk mengamalkan kasih persaudaraan dengan sungguh-sungguh dan dengan segenap hati. Kita telah dilahirkan dari benih yang tidak fana, yaitu firman Allah yang hidup dan kekal. Marilah kita mengejar hal-hal yang kekal, hindarilah perbutan-perbutan yang membuat “nilai/harga” kita sebagai manusia menjadi ternoda dan berkurang. Kita berharga di mata kita, orang lain dan Tuhan…..amin.

Pdt.Saul Ginting,S.Th, M.Div

Read more >>

Renungan / 1 Petrus 1:3-9, Minggu 27 April 2014

Introitus : 
Tetapi semua yang tercantum di sini telah dicatat, supaya kamu percaya, bahwa Yesuslah Mesias, Anak Allah, dan supaya kamu oleh imanmu memperoleh hidup dalam nama-Nya. (Yoh.20:31).

Pembacaan : Mazmur 16:1b-11; Khotbah : 1 Petrus 1:3-9

Tema : Iman Yang Menghidupkan.


Pendahuluan
(1) Dalam penanggalan liturgi gerejawi, hari ini Minggu Quasimodo Geniti, maknanya:
  • Quasimodo Geniti dalam bahasa Latin artinya sama seperti bayi-bayi yang baru lahir (1 Ptr 2:2).
  • Istilah ini menggambarkan bahwa pertumbuhan bayi yang baik, sehat dan selamat harus selalu ingin air susu ASI (Air Susu Ibu). Selalu ingin berarti bukan kadang-kadang ingin dan kadang-kadang tidak. Tanpa ASI tidak dapat bertumbuh sehat dan selamat. Dengan gambaran ini sang bayi tidak dapat berbuat apa-apa, tanpa dekat dengan si Ibu. Hanya dalam pelukan si ibu, maka sang bayi merasa tenang.
  • Kondisi ini diungkapkan permasmur dalam Mzm.62:2 “Hanya dekat Allah saja aku tenang, dari pada-Nyalah keselamatanku”.
  • Bayi-bayi yang baru lahir sangat mengandalkan orangtuanya. Tidak ada sedikitpun rasa kuatir tentang kasih sayang dan kemampuan orangtuanya untuk memeliharanya.
  • Jadi bagi bayi yang terpenting adalah orangtuanya, demikian tentunya bagi orang beriman yang terpenting Allah memelihara dan menyelamatkan walau apapun yang dialami.
(2) Tahun 2014 bagi GBKP adalah Tahun Peningkatan Kuantitas SDM yang berkualitas. Pertanyaan dan sekaligus indikator keberhasilan Tahun Peningkatan Kualitas SDM sesuai teks kita hari ini: Apakah ada keinginan untuk selalu ingin ASI. Menurut ilmu medis bukan tidak perlu susu-susu yang lain, namun kualitas susu murni ASI jauh lebih baik. Terlebih dalam proses pemberian dan penerimaan susu ada sentuhan kasih yang luar biasa, berupa pelukan, belaian, menimang, meninabobokan, mendoakan.

Khotbah:
Jemaat yang dikasihi Tuhan!
Dalam minggu gerejawi hari ini kita memasuki Minggu setelah kita merayakan Paskah. Sebuah ‘passion’ yaitu keinginan, semangat, tekad untuk mematikan lembaran hidup lama yang dikuasai keinginan daging serta bangkit kembali membuka lembaran baru yang dikuasai Roh Allah. Hal ini meningatkan keberadaan kita sebagai orang Kristen yang sudah ‘lahir kembali’ seperti bayi-bayi.
Jemaat yang dikasihi Tuhan!
1 Petrus 1:3-9 yang menjadi perenungan kita hari ini tampaknya dipengaruhi pujian kuno dalam gereja yang bisa diungkap dalam 3 (tiga) pujian:

Pertama, ayat 3-5 Pujian kepada Allah, Bapa sebagai pemrakarsa ciptaan baru. Allah membangkitkan Yesus Kristus dari antara orang mati. Allah mengubah serta memberikan kehidupan yang baru.

Kedua, ayat 6-9 Pujian kepada AnakNya, yang mengungkapkan kasihNya, sehingga dapat bertahan menderita sengsara sampai mati. Allah menerima kematian Yesus sebagai tebusan bagi dosa manusia. Yesuslah menjadi yang pertama dari keluarga baru Allah. Semua yang percaya kepadaNya akan bangkit dari kematian. Karya kasih inilah yang membuat bergembira, sekalipun sekarang harus berdukacita oleh berbagai-bagai pencobaan.

Ketiga, sebenarnya ayat setelah perikop kita hari ini dari ayat 10-12 yaitu Pujian kepada Roh Kudus yang menjadi nyata dalam pemberitaan para nabi.
Ketiga pujian ini sejalan dengan pujian yang diungkapkan dalam Titus 3:4-8. Kalau kita perhatikan kelima ayat dalam Titus ini: nyata kemurahan Allah yang telah menyelamatkan kita. Hal itu sudah dilimpahkan-Nya kepada kita oleh Yesus Kristus Juruselamat kita sehingga kita berhak menerima hidup yang kekal. Ini semua bukan karena perbuatan baik yang telah kita lakukan, tetapi oleh pembaharuan yang dikerjakan oleh Roh Kudus.

Jemaat yang dikasihi Tuhan !
Perenungan kita hari ini hanya mengambil dua bagian dari pujian itu, yaitu pujian kepada Bapa dan Anak-Nya yang dalam peringatan Paskah minggu lalu telah menyelesaikan karya Agung untuk menyelamatkan umat manusia yang percaya kepadaNya.

Jemaat yang dikasihi Tuhan !
Surat Petrus yang pertama ini dituliskan untuk menguatkan orang Kristen yang tersebar bagian Utara Asia Kecil yang berbudaya Yunani, demikian juga komunitas yang berbudaya bagian Timur yang sekarang disebut Iran. Orang Yahudi juga banyak yang tinggal disini. Pokoknya supaya semuanya sabar menanggung penderitaan karena beriman. Yang jelas bahwa penderitaan itu tidak akan mampu mengalahkannya karena Yesus sendiri telah lebih dahulu mengalami kesengsaraan dan derita sampai mati untuk mengampuni dosa mereka yang beriman kepadaNya. Dan karena Allah telah membangkitkan Yesus dari kematian, maka orang Kristen akan dibangkitkan juga menuju hidup baru yang ditandai dengan baptisan.
Jemaat yang dikasihi Tuhan !

Kehidupan gereja pertama yang diperhadapkan dengan berbagai tantangan dan penderitaan sangatlah mengharapkan kedatangan Kristus yang mulia itu (parousia). Pengharapan itu menggebu-gebu dan hampir tidak pernah padam. Yang menjadi masalah ialah apakah keyakinan seperti itu harus dihubungkan dengan soal waktu: kapan Ia akan datang? Ataukah dengan soal mutu: bagaimanakah orang beriman bisa menyambut kedatangan Kristus dengan pantas? Dalam perenungan kita ini masalah bagaimana orang beriman seharusnya menyambut kedatangan Kristus mendapat tekanan yang sangat kuat. Kekayaan iman harus dibuktikan dengan perjuangan hidup, juga kalau kehidupan ini harus disertai dengan penderitaan. Kehidupan Kristen bahkan akan bersinar cemerlang di dalam penderitaan itu. Dalam ayat 7 dengan sangat jelas digambarkan seperti ‘emas dalam api’. Emas diuji kemurniannya dalam api. Emas dipanaskan untuk menghilangkan hal-hal yang membuatnya tidak murni. Setelah proses itu, didapatlah emas murni. Hanya emas murnilah yang mampu bersinar indah di bara api. Demikian juga dengan iman. Iman seseorang perlu diuji dan ‘dibakar’ melalui pencobaan dan penderitaan agar menjadi murni dan kokoh.

Jemaat yang dikasihi Tuhan !
Bahaya yang mengancam iman Kristen tidak hanya datang dari pengajaran, melainkan yang lebih gawat lagi datang dari dalam diri orang beriman itu sendiri: semangat puas tanpa mau menyelidiki, menanyakan terus menerus dan menggali lagi. Dengan demikian orang akan terus dirongrong ketahanan imannya. Sejarah gereja juga telah membuktikan bahwa kualitas kekristenan akan lebih baik pada saat diperhadapkan dengan berbagai tantangan dan penderitaan. Sebaliknya kalau gereja masuk ke ‘zona aman’ akan biasa-biasa, tidak bergairah, tidak lagi menyala, tidak lagi berkembang dan bisa mati. Tentu kita teringat akan pengalaman Petrus, Yakobus dan Yohanes yang terperangkap ke dalam zona aman, mau tinggal di gunung karena telah mengalami ketenangan dan kesenangan. Bahkan mau mengabadikan diri dalam keadaan yang sudah enak dan menyenangkan. Bahkan mau mendirikan kemah untuk berlama-lama dalam zona aman tersebut. Ternyata saat itu juga Yesus menyuruh turun dari gunung, ke kehidupan nyata yang penuh dengan pergumulan. Kita juga mengingat Abraham yang telah mapan, hidup bahagia bersama sanak saudara, keluarga ibu bapa, makmur. Tapi dalam Kej.12 diceritakan Tuhan menyuruh Abraham pergi berangkat ke tempat yang belum jelas untuk meninggalkan kemapanan. Pergilah dari negerimu dan dari sanak saudaramu dan dari rumah bapamu ini ke negeri yang akan Kutunjukkan kepadamu. Negeri yang penuh tanda tanya. Jadi kemapanan, kebekuan hidup, tidak dianggap menguntungkan dalam kehidupan beriman. Hubungan manusia dengan Tuhan harus berubah, hari lepas hari harus meningkat, tidak berjalan di tempat. Harus terus berkembang sampai akhir hidup.

Jemaat yang dikasihi Tuhan !
Kita bersyukur dengan perkembangan zaman dan teknologi yang begitu pesat. Perkembangan teknologi telah membuka mata dunia untuk melakukan penelitian-penelitian yang luar biasa. Industri raksasa semakin menjamur, penemuan berbagai obat-obatan semakin hebat. Namun kita tidak dapat menyerahkan dan menggantungkan diri kepada perkembangan teknologi tersebut. Sebaliknya dengan perkembangan teknologi tanpa dilandasi etika moral hubungan sesama manusia justru memberikan dampak korban yang luar biasa pula kepada manusia. Kita mengingat perang dunia I dan II dengan bom atom Hirosima dan Nagasaki di Jepang. Begitu banyak korban manusia. Perkembangan industri juga berakibat kurang air bersih, polusi udara, banjir dimana-mana. Dengan temuan obat-obat, sering disalah gunakan sehingga menjadi pembunuh manusia yang luar biasa pula.

Jemaat yang dikasihi Tuhan !
Karenanya tepat sekali pembacaan kita dari Mazmur 16 tadi, berbahagialah orang yang saleh, yang hanya memandang dan mengandalkan Allah yang ia imani dan amini tidak akan menyerahkan ke dunia orang mati. Allah itu akan memberitahukan jalan kehidupan, padaNya ada sukacita berlimpah-limpah dan hikmat senantiasa. Jadi walau apapun yang Tuhan ijinkan kita alami, baik sukacita atau derita kita jalani bersama Tuhan. Yang pasti bersama Tuhan aman, dan diluar Tuhan akan binasa.

Sebagai ilustrasi :
(1) Pengalaman Jemaat GKI Bapos Yasmin Bogor dan HKBP Filadelfia Tambun Bekasi. IMB sudah diterbitkan pada tanggal 13 Juli 2006, dipersoalkan pada tanggal 11 Oktober 2006 serta dibatalkan pada tanggal 25 Februari 2008. Namun Mahkamah Agung (MA) mengeluarkan keputusan No.127 PK/TUN/2009 yang menyatakan bahwa IMB pihak GKI Yasmin sah. Sampai saat ini keputusan MA ini belum direalisir. Hal yang sama OMBUDSMAN R.I. mendukung GKI Yasmin. Peristiwa ini mengingatkan Kaisar Nero yang membakar Kota Roma membuat derita umat Kristen semakin berat.

(2) Bandingkan babi hutan dan babi peliharaan.Babi hutan mengandalkan kekuatan sendiri, berjuang sendiri dan hidup dalam keadaan yang tidak menentu. Ada suara anjing menggonggong sudah ketakutan, ada suara letusan sudah tidak karuan. Sedangkan babi peliharaan ‘merasa’ ada pemilik yang turun tangan kalau ada yang mengganggunya, apakah dengan adanya suara anjing atau letusan, biasanya tetap tenang dikolong rumah pemiliknya. Tenang dekat pemiliknya. Mzm.62:2 “Hanya dekat Allah saja aku tenang, dari pada-Nyalah keselamatanku”. (EP)

Pdt. E.P. Sembiring

Read more >>

Tuesday, 15 April 2014

Renungan / Khotbah Kisah Para Rasul 10:34-43, Minggu 20 April 2014 (Paskah)

Introitus : 
Hai maut di manakah kemenanganmu? Hai maut, di manakah sengatmu? (1 Korintus 15 : 55)

Bacaan : Mazmur118 : 1-2, 14 – 24 (Antiphonal); Khotbah : Kisah Para Rasul10 : 34-43

Thema : Sungguh Yesus telah Bangkit, Beritakanlah

Kata Pembuka
Paskah (ibrani) Pesakk = Lewat. Bagaimanaumat Israel di perintahkan menyembelih seekor anak domba, darahnya dibubuhkan di tiang dan ambang pintu rumah mereka jadi tanda, sehingga orang Israel dilewati, luput dari kematian anak sulung di Mesir.

Paskah dalam Perjanjian Lama adalah perbuatan Allah membebaskan umat Israel dari perbudakan bangsa Mesir (Kel 12-13).

Paskah dirayakan sebagai hari pelepasan Israel sangat penting dan menjadi dasar penyembahan mereka kepada Allah, yang harus di ajarkan turun-temurun dan dirayakan tiap tahunnya. (Ul 6: 1-12, Ul 16:1-8, Luk 2: 41-42).

Paskah dalam Perjanjian Baru
AdalahharikebangkitanYesusKristusdari Antara orang mati, membebaskan kita dari kuasa Dosa dan kuasa Maut.

Yesus Kristus menggenapi apa yang diajarkanNya. Anakmanusia itu harus menderita di bunuh, mati disalibkan dan padahari ketiga dibangkitkan serta hidup kekal (Mat 16:21; Mat 17: 22-23; Mat 20: 18-19).

Benar –benarterjadi, Yesus mati disalibkan demi penebusan dosa manusia, dikuburkan dan dibangkitkan Allah pada hari ketiga.
a) Kesaksian ketiga perempuan pergi kekubur Yesus, Pintu kubur terbuka, mereka bukan jumpa Yesus, tapi Malaikat Tuhan berkata: Jangantakut, jangan cari Yesus disini, Dia telah bangkit, seperti yang dikatakanNya (Mat 28:1-10).
b) Ia harus bangkit dari Antara orang mati dan menampakkan diriNya ( Yoh 20: 9 -20)
c) Mengapa kamu mencari Dia yang hidup diantara orang mati ? Ia tidak ada disini, Ia telah bangkit, ingatlah apa yang dikatakanNya ( Luk 24 : 5 – 7).

MaknakebangkitanYesusKristus
  1. Kebangkitan Yesus dari kematian Nya suatu peristiwa yang sangat penting dalam sejarah, Yesus sungguh bangkit dan hidup kembali dan menampakkan diriNya kepada Murid-muridNya.
  2. Kuasa dosa telah di tebus dan kuasa iblis (okultisme) Roh jahat telah dikalahkan Yesus Kristus (Mat 4:10-11 ; Kis 10: 38-40).
  3. Tuhan Yesus telah menyatakan diriNya kepada Murid-muridNya lebih 500 orang menyaksikannya sebagai bukti Yesus benar bangkit dari antara orang mati sesuai Kitab Suci( 1Kor 15:1-7).
  4. Tanpa kulihat bekas paku dan mencucukkan tanganku dilambungNya, sama sekali aku tidak percaya. Kembali Yesus menampakkan diriNya pada Thomas, taruhkan jarimu, lihatlah tanganKu dan cucukkan tanganmu kelambungku dan jangan engkau tidak percaya lagi. “Berbahagialah orang percaya walau tidak melihat Aku( Yoh 20: 25-29).
Pemberitaan Paskah
Sebagai orang Kristen apakah kita tergolong orang modern yang banyak kali bertanya tentang kematian dan kebangkitan Yesus dari Antara orang mati. Benarkah Yesus sudah bangkit ? apa jawab saudara ? Ya sungguh Yesus telah bangkit.

a) Andai kata Kristus tidak dibangkitkan maka sia-sia pemberitaan kami, dan sia-sialah kepercayaan kamu dan kami masih hidup dalam dosa mu (1Kor15 : 14 + 17).

b) Yang baru ialah Kristus telah bangkit dari antara orang mati (1Kor 15 : 20).
  • Sebagai seorang Kristen percayaakan kesaksian Alkitab, dan mengimaninya, karena itulah Kuasa perbuatan Allah yang menyelamatkan setiap orang percaya (Roma 1:16). “Hai maut dimanakahkemenaganmu?Hai maut dimanakahsengatmu?”( 1Kor 15 : 55).
  • Marilah kita merayakan Paskah dengan sukacita. Di dalam Yesus tidak ada lagi Jahudi dan non Jahudi, siapa saja bangsa manapun yang takut akan Tuhan dan mengamalkan kebenaran serta percaya mendapat pengampunan dosa dalam nama Nya (Kis 10 : 34-35 ; Kis 10: 43)
  • Gereja dan umat Kristen adalah penerus pemberitaan Paskah.
  • Undangan Paskah untuk undangan sebagai korban perdamaian Allah dan manusia dalam Yesus Kristus (2 Kor 5:17-21). Dan sebagai undangan berkorban bagi sesama manusia melalui tenaga, pikiran, materi berbagi kasih bahkan nyawa sekalipun demi kemuliaanTuhan.
  • Merayakan Paskah berarti bangkit dan pergi sampaikan Salam damai Sejahtera kepada sesama manusia, bagi kebahagian semua orang.
Selamat Merayakan Paskah Tuhan Yesus bangkit dan telah menang !

Depok, 16 Maret 2014
Pdt. Em. M.K. Sinuhaji.

Read more >>

Monday, 31 March 2014

Renungan / Khotbah Lukas 23:33-43, Jumat 18 April 2014 (Jumaat Agung)

Introitus : 
“Tetapi sesungguhnya, penyakit kitalah yang ditanggungnya, dan kesengsaraan kita yang dipikulnya, padahal kita mengira dia kena tulah, dipukul dan ditindas Allah” (Yesaya 53:4).

Bacaan : Mazmur 22 : 2-12 (Responsoria); Khotbah : Lukas 23:33-43 (Tunggal)

Tema : “Hukuman kita Ditanggung Yesus”


I. Pendahuluan
Umumnya kematian dipandang manusia sebagai sesuatu yang mengerikan, tetapi sudut pandang tertentu melihat kematian sebagai sesuatu yang menyenangkan. Keinginan hati manusia dipenuhi saat kematian seseorang yang tidak ia sukai. Merasa puas dan menang atas kematian orang lain.

Pada tahun 1551, ketika tersiar kabar di katedral tanah kelahiran John Calvin di Noyon bahwa sang reformator telah meninggal, mereka merayakannya dan mengucap syukur kepada Tuhan karena telah mengakhiri hidup seorang sesat. Padahal semangat Calvin untuk membaharui gereja tetapi dianggap sebagai pembuat keonaran dan mengganggu ketenteraman. Kegembiraan mereka terhenti karena akhirnya mereka mengetahui bahwa rumor kematian Calvin sangat prematur. Calvin masih hidup tigabelas tahun lagi setelah isu itu.

Orang Kristen sejati melihat makna dari penderitaan dan kematian Yesus yang sangat mulia dan menentukan. Sebagaimana salib merupakan pusat kekristenan”, karena Crux (kata Inggris yang berarti “hal yang terpenting”) adalah kata Latin untuk “salib” cross dan ‘crucial’ (“sangat penting”) berasal dari kata ini. Penyaliban Yesus Kristus merenungkan betapa mendalamnya artinya bagi penebusan dirinya dan hidupnya ditata dengan pengertian yang terpenting ‘Yesus mati bagiku’.

II. Pendalaman Nats
Kematian Yesus diatur sedemikian mengerikan yaitu disalibkan pada tiang kayu yang melambangkan langit dan bumi tidak menerima-Nya. Serta disalibkan diantara penjahat untuk menyatakan bahwa Ia sama atau lebih jahat dari penjahat yang disebelah kiri dan kanannya. Demikianlah penghakiman manusia terhadap Tuhan Yesus, menempatkan atau menyalahkan Tuhan dalam semua perbuatan-Nya.

Namun saat penyaliban-Nya pun Yesus menyatakan kebenaran dan kemuliaan-Nya. Pada saat itu Dia digantung di salib, hanya mulut-Nya yang masih bebas berkata-kata dan apa yang Ia katakan merupakan keistimewaan. Penyiksaan dan kekejian yang dilakukan pada-Nya tidak mampu merubah diri-Nya. Yesus berkata: "Ya Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat." Yang Yesus ungkapkan ini bukan untuk mereka yang tidak bertobat dan menolak Injil. Tidak serta merta orang-orang yang keji ini diampuni tanpa syarat dan Tuhan menyetujui keberdosaan mereka. Tetapi pengampunan disediakan bagi kita yang bertobat dan percaya pada Kristus. Doa Yesus ini merupakan ungkapan betapa kejinya perbuatan mereka, kalau mereka tahu siapa Yesus sebenarnya tentu mereka tidak berani melakukan hal ini.

Orang banyak menonton kematiannya, kematian ini menyenangkan bagi mereka. Mereka mencemooh Yesus dengan mengatakan "Orang lain Ia selamatkan, biarlah sekarang Ia menyelamatkan diri-Nya sendiri, jika Ia adalah Mesias, orang yang dipilih Allah." Mereka menuduh pekerjaan baik yang dilakukan Yesus sebagai kejahatan. Tetapi dari ungkapan mereka tersirat bahwa mereka mengakui ‘orang lain Ia selamatkan’ dan mau melihat bagaimana Ia menyelamatkan diri-Nya. Mereka merayakan peristiwa ini, bahwa mereka telah menaklukkan Yesus, mereka menganggap Yesus tidak berdaya. Padahal inti penyaliban ini bukan ketidak berdayaan tetapi kerelaan untuk berkorban.

Para perajurit Romawi membuat kalimat ejekan bahwa orang ini mengaku sebagai Raja Orang Jahudi. Tetapi hal ini adalah kebenaran, bukan hanya Raja Orang Jahudi tetapi Raja Gereja, Tuhan membuat hal ini menjadi deklarasi tentang diri Yesus yang sesungguhnya. Tulisan ini dibuat lengkap karena ditulis dalam tiga bahasa yaitu bahasa Ibrani, Latin dan Yunani. Ini merupakan proklamasi Injil supaya semua bangsa tahu siapa Dia. Mereka tidak menyadari bahwa mereka dipakai Tuhan untuk menuliskan pernyataan Injil. Bahwa kerajaan Yesus melampaui kerajaan yang orang banyak pikirkan.

Maka Yesus menunjukkan kuasa yang ada pada-Nya. Di atas salib pun Yesus masih mempunyai kuasa untuk mengampuni dan menentukan kemana seseorang akan pergi. Hal ini bukan karena kebaikan hati penjahat yang disebelah kananNya tetapi semata-mata karena kebaikan hati Yesus. Siapa yang membuat dirinya sadar diri sebagai orang berdosa yang layak mendapatkan kematian yang hina dan menyadari siapa Yesus? Adakah kemampuan pada dirinya sendiri? Sedangkan selama hidupnya ia tidak mampu tetapi pada saat akhir hidupnya ia dimampukan. Yesus memberikan jaminan luar biasa bagi orang ini bahwa baginya diberi tempat di Surga bersama-sama dengan Yesus. Walaupun pada saat yang singkat, pertobatan di atas salib, tetapi orang ini sungguh-sungguh memberikan kemuliaan pada Yesus. Kesaksiannya terdengar sampai sekarang, bahwa ia berbeda dengan orang-orang disekitarnya, walau semua orang menghina Yesus tetapi ia berani menyatakan kebenaran.

Kematian Yesus Kristus adalah untuk membuka pintu kerajaan Surga bagi semua orang yang bertobat dan percaya kepada-Nya. Yohanes 10:17-18 “Bapa mengasihi Aku, oleh karena Aku memberikan nyawa-Ku untuk menerimanya kembali. Tidak seorang pun mengambilnya dari pada-Ku, melainkan Aku memberikannya menurut kehendak-Ku sendiri. Aku berkuasa memberikannya dan berkuasa mengambilnya kembali. Inilah tugas yang Kuterima dari Bapa-Ku."

Kata Yesus kepada yang disebelah kanan-Nya: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya hari ini juga engkau akan ada bersama-sama dengan Aku di dalam Firdaus." Paulus memahami kematian dengan kalimat “aku ingin pergi dan diam bersama-sama dengan Kristus” (Flp.1:23). Kata-kata ini bukan mengatakan pada suatu hari nanti, tetapi segera, saat ia mati ia langsung bersama dengan Kristus. Maka mati di dalam Tuhan bukan kengerian tetapi mendapat perhentian dan kehidupan di dalam Tuhan.

III. Pointer Aplikasi
Di hadapan salib Kristus orang bebal menyombongkan diri, menyatakan bahwa mereka berkuasa terhadap Yesus. Mereka menyatakan bahwa mereka bisa menghentikan pekerjaan Tuhan Yesus. Mereka menyatakan, jangan lagi ganggu kami, jangan usik posisi kami, kami senang hidup tanpa-Mu. Mereka mau menyingkirkan Yesus dari hadapan mereka supaya mereka bisa melanjutkan hidup mereka seperti biasa, seperti yang mereka senangi.Tetapi orang Kristen tersungkur di bawah salib Kristus, mengakui keberdosaan mereka. Karena kita tahu bahwa salib Kristus bukan melambangkan ketidakberdayaan tetapi Kuasa pengampunan Tuhan yang menyelamatkan orang berdosa. Kalau kita tidak berdosa maka Ia tidak perlu disalibkan; untuk menanggung hukuman dosa kita maka Ia menggantikan kita menerima hukuman.

Dalam sejarah dunia ini, ada ribuan atau jutaan rakyat mati untuk membela rajanya. Sebaliknya pada Jumat Agung ini kita memperingati Raja yang mati untuk rakyat-Nya. Dia-lah Raja yang sejati marilah kita mempermuliakan Raja kita yang telah memberi nyawa-Nya bagi kita. Penjahat yang disebelah kanan Kristus saja mempermuliakan Tuhan dalam waktu yang singkat di atas salib dan kesaksiannya hidup sampai sekarang, kita masih diberi kesempatan hidup maka muliakan Tuhan dalam hidup kita.

Pelajaran yang kita dapatkan dari sikap Yesus mendoakan orang-orang yang menyalibkan-Nya, bahwa Dia tidak mempunyai kebencian atas mereka, dengan demikian Ia menunjukkan kemuliaan-Nya. Kita sebagai orang Kristen juga seharusnya tidak membenci orang-orang yang memusuhi kita supaya kita tidak sama dengan mereka dan untuk memperlihatkan kebenaran Kristus yang telah dikenakan pada kita.

Harapan Yesus tentunya supaya dimanapun orang-orang yang melakukan kebenaran jangan hendaknya dikorbankan. Ketaatan agama yang buta membuat penyaliban atau kekejian. Kalau kekristenan tanpa Kristus juga akan mengorbankan orang lain, dengan berpusat pada Kristus kita mau berkorban untuk orang lain.

Selamat Jumat Agung dan
Selamat Ulang Tahun GBKP Ke-124
(18 April 1890 – 18 April 2014)
Pdt.Sura Purba Saputra, S.Th
GBKP Bandung Barat
HP 081263596400

Read more >>

Renungan / Khotbah Matius 21:1-11, Minggu 13 April 2014

Introitus : 
”Dan dalam keadaan sebagai manusia,Ia telah merendahkan diriNya,dan taat sampai mati dikayu salib” (Filipi 2:8).

Bacaan : Yesaya 50:4-9a; Khotbah : Matius 21:1-11

Tema : 
Melakukan/meneladani Perbuatan Tuhan


I. Pendahuluan
Sebagai orang yang percaya kepada Yesus,kita memang harus belajar meneladani Kristus,baik dalam perkataan maupun dalam perbuatan.Karakter Yesus perlu kita teladani,ketika banyak orang yang mencai maki dan berusaha menyalibkanNya,sedikitpun Dia tidak membalasnya,Yesus tidak membiarkan caci maki,ancaman dan perbuatan jahat orang banyak masuk dan menguasai hatiNya,namun sebaliknya Ia mengasihi,mengampuni bahkan menyelamatkan manusia dari segala dosa-dosanya.
Pelayanan Yesus sepanjang hidupnya menunjukkan bahwa walaupun Ia adalah Anak Allah yang memiliki wewenang Ilahi,tapi Ia mampu tampil secara sederhana,kehadiranNa didunia ini membawa perubahan sehingga keberadaanNya membawa damai sejahtera.Kepatuhan dan kesetiaan Yesus kepada Bapa yang mengutus Dia itu juga yang ingin kita lakukan,sebab kita juga adalah hamba Allah,kita adalah buah pelayanan Yesus.Menjadi hamba Allah berarti bersedia memberi diri secara total (taat) diperbaharui oleh Allah dan bersedia menghadapi tantangan.Kita dipanggil untuk menyaksikan karya Kristus itu kepada semua orang.

II. Isi
Di dalam nats renungan kita matius 21:1-11 dapat kita lihat beberapa hal:
(1) Persiapan kedatangan Yesus (1-3)
Sebelum Yesus memasuki kota Yerusalem,terlihat bahwa Yesus dengan sengaja singgah di Betfage.Hal ini mengindikasikan bahwa Yesus bukan hanya lewat namun Dia datang kesitu oleh karena Dia mengetahui bahwa ada satu hal yang akan dilakukanNya di Betfage.Di kota Betfage Yesus menyuruh 2 muridNya untuk pergi kekampung yang ada di depan dan mengambil seekor keledai betina.Hal ini menunjukkan kepada kita bahwa Yesus adalah benar-benar Anak Allah yang mengetahui seluruh keberadaan ciptaanNya sehingga Ia dapat tahu di depan sana ada keledai yang tertambat.

Yesus mengatakan antisipasi apabila murid-murid yang dikirimnya ditegor atau ditanya ketika mengambil keledai itu.Hal ini menunjukkan bahwa Yesus memperhitungkan hambatan yang mereka akan hadapi.Antisipasi yang Yesus katakan ini berhubung karena keledai yang mereka akan ambil bukan milik mereka,sehingga Yesus memberikan jawababn,agar murid-murid dapat menjawab ketika mereka ditanya.Mereka tidak boleh mengambil secara paksa atau secara diam-diam tanpa sepengetahuan atau izin dari pemiliknya.karena Yesus menjamin bahwa mereka akan memperolehnya lalu dengan mengatakan”Tuhan memerlukanNya,Ia akan segera mengembalikannya”.Terlihat bahwa adanya kejujuran dan keadilan dan adanya jaminan bahwa keledai itu akan dikembalikan.Menjadi pelajaran bagi kita jujur dalam meminjam sesuatu pada orang lain dan juga ingat mengembalikannya.

(2) Nubuatan dan Penggenapan (4-5)
Dalam kitab Zakharia 9:9-10 nabi Zakharia sudah berkata tentang Mesias yang datang dengan lemah lembut dan dengan mengendarai seekor keledai bukan dengan mengendarai seekor kuda yang selalu dipakai dalam perang.Keledai dikenal karena stamina dan kemampuannya membawa beban yang berat,merupakan binatang tunggangan pilihan bagi kaum bangsawan di dunia Alkitab.Lalu keledai yang dimaksud yang merupakan nubuatan di PL adalah keledai yang gampang dijinakkan.dan keledai adalah simbol kemanusiaan,kedamaian.Sehingga Yesus memakainya sebagai simbol kedatanganNya sebagai raja Damai.Yesus memiliki perangai yang begitu lembut,sehingga Ia tidak datang dengan murka dendam tapi dengan belas kasihan untuk mengerjakan karya keselamatan .Makna kedatangan Yesus yang sederhana ini membuat orang yang kecil atau miskin boleh berbesar hati datang kepadaNya tidak dengan ketakutan karena Dia datang bukan dengan kuda yang berlari cepat.

(3) Yesus memasuki Yerusalem dan respon orang banyak (6-11)
Maka pergilah murid-murid Yesus dan dan berbuat seperti yang ditugaskan kepada mereka,hal ini menunjukkan bahwa 2 murid Yesus itu pergi tanpa protes,mereka langsung mengerkan tugas tanpa bersungut-sungut dan kekhwatiran karena Yesus menjamin perjalanan dan tugas mereka.Lalu mereka melakukan semua yang diperintahkan Yesus.Penting juga bagi kita agar kita hanya melakukan apa yang Yesus perintahkan tidak perlu yang berbuat yang lain-lain diluar dari kehendak atau perintah Yesus.

Respon orang-orang terhadap kedatangan Yesus yaitu mereka menghambarkan pakainannya di jalan,ada pula yang memotong ranting dari pohon-pohon dan menyebarkannya di jalan.Menunjukkan bhwa mereka menghormati Yesus yang mereka anggap sebagai raja dan Mesias yang akan menyelamatkan mereka dari jajahan Romawi.mereka menghormati Yesus karena dalam diri mereka terdapat harapan bahwa Yesus yang mereka sambut adalah Raja yang membebaskan dan bahkan memerintah di Israel.

“Hosana bagi anak Daud,diberkatilah Dia yang datang dalam nama Tuhan” perkataan dan penyambutan ini menjelaskan 2 hal yaitu:1)Penyambutan mereka terhadap kerajanNya dengan hosana yang berarti Diberkatilah Dia yang datang dalam nama Tuhan.Nubuat tentang anak Daud dalam Mazmur 72:17 yang mengatakan bahwa segala bangsa akan menyebut dia berbahagia.Sehingga tergenapi dalam Yesus bahwa Ia memang diberkati.2)Lalu seruan itu bersifat harapan baik bagi kesejahteraan kerajaanNya. Mereka berharap supaya kemakmuran dan kegemilangan mengiringi kerajaaNya sehingga kerajaan ini penuh dengan kemenangan.

Ketika Yesus masuk ke Yerusalem,maka gemparlah seluruh kota itu,dan mereka bertanya”siapakah orang ini”?Hal ini menunjukkan bentuk keheranan,ketakjuban orang berada di Yerusalem dan belum pernah melihat Yesus,dan mereka menyebutNya Yesus adalah orang Nazaret.

III. Renungan
Meneladani tokoh Yesus dalam kehidupan sehari hari membutuhkan komitmen dan keseriusan menjalankannya.Banyak orang yang tumbuh dalam keluarga Kristen berkata “ya”kepada Yesus tanpa memahami apa yang dikatakannya.Namun saat diperhadapkan dengan tantangan mereka segera meninggalkan iman yang hanya mereka ucapkan dibibir .Mengimani Yesus serta menelaladaninya merupakan keputusan penting dalam hidup, Oleh karena itu ada beberapa hal yang dapat kita lihat dari diri Yesus yang harus kita lakukan yaitu:

(1) Setia melakukan kehendak Bapa
Dalam menjalankan tugasNya,Yesus tidak pernah berubah,tapi Ia tetap setia.Kadang kita menyembah Yesus dengan segenap hati kita,tapi bisa saja esok hari,melalui perkataan dan perbuatan kita menyangkal Dia,bisa saja iman percaya kita seakan-akan membatasi kebebasan kita untuk melakukan yang kita kehendaki.Sejumlah besar orang di kota Yerusalem begitu mengelu-elukan kedatangan Yesus dengan menaiki keledai sambil bersorak hosana,namun beberapa hari kemudiansebagian orang itu menuntut agar Yesus disalipkan.Ketika Yesus diperhadapkan pada pilihan apakah terus melakukan kehendak Bapa untuk mati di kayu salib atau kah Dia berpaling dari kehendak Bapa,Yesus tetap memilih mati di kayu salib.

(2) Yesus adalah pribadi yang rendah hati
Hampir semua orang dikota Yerusalem mendambakan Mesias yang datang itu adalah seorang raja yang mampu membebaskan mereka dari jajahan Romawi.Dalan teks bacaan kita jelas sekali banhwa mesias yang datang itu adalah pribadi yang sangat sederhana,kararkter yang dimiliki Sang Mesias jauh dari yang dibayangkan.Tapi bagi sebagian orang sosok Yesus yang sederhana mampu menembus batas perbedaan sehingga tidak ada lagi perbedaan atara orang kaya dan miskin,sebab Yesus datang dengan kesederhanaaNya.Yesus datang sebagai hamba,oleh karena itu secara manusia Dia tidak begitu diperhitungkan,bahkan terkesan dicemoohkan tapi begitulah cara Yesus datang kedunia untuk bisa memenuhi panggilanNya.

(3) Patuh kepada Bapa
Yesus hanya melakukan kehendak Bapa untuk menjalankan misiNya.Kepatuhannya terlihat sampai Dia disalipkan.Ada sebuah ilustrasi yang mengambarkan kepatuhan:Suatu hari seorang raja pulang tengah malam dari sebuah tugas penting.Cuaca pada saat itu sangat dingin,sehingga kota itu sangat dingin.Ketika ia melewati pintu gerbang kota,seorang penjaga tertidur dan mukanya tertutup oleh topi..biasanya ketika sang raja lewat seorang penjaga harus mengatakan “hormat kepada paduka raja”.Melihat sang penjaga tertidur sang raja memerintahkan panglimanya supaya sang penjaga itu dihukum,tapi ketika panglima itu membuka topinya ternyata penjaga itu telah mati.Dia mati dalam tugasnya,walaupu ia sakit dan cuaca dingin tapi ia patuh akan tugasnya.Akhirnya raja mengambil topinya dan mengantikannya dengan mahkota raja.Walaupun yang dilakukan oleh raja itu hanya sebentar tapi tidak pernah ada orang yang begitu rendah bisa memakai mahkota raja.Karena dia patuh dia mendapat kehormatan dari kepatuhannya.Oleh karena itu marilah kita meneladani Yesus dengan patuh dan tidak gentar menghadapi penolakan dan tekanan dunia,karena Allah akan menyertai,memelihara serta menyiapkan mahkota kehidupan bagi kita.

Pdt.Rena Tetty Ginting
Runggun Bandung Timur

Read more >>

Renungan / Khotbah Yehezkiel 37:1-14, Minggu 6 April 2014

Introitus : 
Rohlah ia memberi hidup, daging sama sekali tidak berguna. Perkataan-perkatan yang Kukatakan kepadamu adalah Roh dah hidup (Yohanes 6:63).

Bacaan : Roma 8 : 6-11 (Anthiphonal); Khotbah : Yehezkiel 37: 1-14 (Tunggal)

Thema :
DENGARKANLAH FIRMANNYA, TERIMALAH ROHNYA


Pendahuluan/Pengantar :
Mendengar dalam kehidupan kita setiap hari sangat penting karena melalui pendengaran kita, kita tahu dan mengerti apa yang sedang dan yang akan terjadi dalam kehidupan kita. Dengarkanlah salah satu kalimat imperatif yang disuruh aktif bagi seseorang untuk siap mendengarkan dan memfokuskan tentang apa yang akan terjadi. Untuk mendengarkan sesuatu itu, perlu ada konsentrasi dan perhatian. Untuk itu perlu ada perhatian serius yang untuk dilaksanakan dalam kehidupan setiap hari. Banyak orang yang salah dengar atau salah mendengarkan dan hasilnya juga salah membawa kebingungan dan keheranan di dalam praktek setiap hari, contohnya :
Ada seorang yang membeli obat ke apotik, karena dia merasa pusing dia membeli obat sakit kepala. Setelah dia menerima obat dari apotik, maka apoteker itu menyatakan, “semoga cepat sembuh!” Tetapi karena dia pusing kepala, dia mendengar, “semoga cepat kambuh!” Sehingga akibat salah pendengaran dan salah pengertian maka terjadilah pertengkaran dan emosi padahal yang seorang menyatakan untuk kebaikan bagi yang membeli obat dan orang yang salah mendengar, mendengarkan secara negatif.
Di dalam firman Tuhan yang akan kita dengarkan, melalui khotbah minggu ini di dalam Yehezkiel 37:1-14, marilah kita memfokuskan dan mendengarkan firman Tuhan yang akan membawa kehidupan dan yang sesuai dengan kehendak Tuhan.

PENDALAMAN TEKS
Yehezkiel sebagai seorang nabi diberi penglihatan oleh Tuhan tentang perjalananannya ke suatu lembah dan di lembah itu terdapat banyak tulang-tulang kering yang berserakan, Yehezkiel dibawa oleh Roh Tuhan ke tempat tersebut. Yehezkiel di sini disebut sebagai anak manusia, ungkapan anak manusia ini sering di temukan dalam kitab Yehezkiel. Arti dari ungkapan ‘anak manusia’ ini hendak memperlihatkan bahwa sekalipun Yehezkiel hanyalah manusia tetapi dia adalah orang yang dipanggil Tuhan untuk berbicara atas namaNya kepada bangsa Israel (bdk. Yehezkiel 4:1). Kapan waktunya Yehezkiel menerima penglihatan ini, tentang tulang belulang yang kering ini, tidak diketahui, tetapi mungkin terjadi setelah sejumlah orang Israel menetap di pembuangan dan mulai kehilangan harapan (Yeh. 37:11). Lembah yang penuh tulang belulang ini mungkin sama dengan lembah di mana dia mendapat penglihatannya yang pertama (Yeh. 1:1-3).

Kata penting yang muncul dalam pasal ini adalah kata Ibrani ‘Ruakh’. Kata ‘Ruakh’ bisa berarti ‘angin’, ‘nafas’ atau ‘roh’, ketiganya muncul dalam penglihatan Yehezkiel ini. Di dalam penglihatan ini Allah menjawab, “Tuhan Allah, Engkaulah yang mengetahuinya!” Pada saat ini, Allah ingin menguji iman percaya Yehezkiel dan memperlihatkan kuasa Tuhan, apakah Yehezkiel percaya bahwa Allah itu maha kuasa. Yehezkiel diajak untuk bernubuat tentang tulang-tulang ini dan Yehezkiel di sini disuruh Tuhan untuk bernubuat dan berfirman atas nama Allah sendiri untuk menghidupkan tulang-tulang itu. Tuhan Allah sendiri berfirman kepada Yehezkiel untuk menghidupkan kembali tulang-tulang itu, mempersatukannya dan memberi roh kehidupan ke dalam tulang-tulang yang berserakan untuk kembali bersatu.

Yehezkiel diberi kuasa dengan mengatakan, “Bernubuatlah hai anak manusia kepada tulang-tulang itu!” Setelah Yehezkiel mendengarkan dan melaksanakan nubuat yang diberi kuasa oleh Tuhan dan RohNya, maka tulang-tulang itu menjadi hidup dan menjadi manusia. Adapun manusia yang hidup di sini adalah sebanyak tentara Israel yang sangat besar. Gambaran manusia itu adalah gambaran orang Israel yang sedang di dalam pembuangan yang tidak punya harapan hidup lagi untuk pulang kembali ke Yerusalem. Harapannya sudah kering, tidak mungkin lagi kembali ke tanah asalnya di Yerusalem. Di sini lah Allah berfirman kepada Yehezkiel, bahwa Allah kembali menghidupkan, membangkitkan semangat hidup orang Israel untuk kembali pulang ke Yerusalem. Di dalam Tuhan tidak ada yang mustahil, Tuhan Allah, FirmanNya dan RohNya memberikan semangat hidup dan membawa harapan untuk pulang kembali ke Yerusalem.
Kehidupan Israel yang berada di pembuangan, yang tidak punya pengharapan, yang sudah kering, yang tidak mungkin menurut logika manusia, tetapi di dalam Tuhan dan FirmanNya, tidak ada yang mustahil, semuanya bisa terjadi.

APLIKASI
Kehidupan orang Kristen, juga adalah sering seperti tulang belulang yang berserakan di dalam menghadapi kehidupan tiap-tiap hari karena begitu banyaknya tantangan atau masalah yang dihadapi, baik dalam pekerjaan, dalam pergaulan, dalam keluarga. Kadang-kadang tidak ada lagi harapan untuk menyelesaikan masalah itu, seakan-akan tidak ada jalan keluar. Tetapi, sebagaimana Firman Tuhan yang dikatakan bahwa manusia itu hidup oleh Roh Tuhan dan kuasaNya, maka manusia itu dapat menghadapi berbagai tantangan dan rintangan walau bagaimana sekalipun beratnya.

Roh Tuhan itu adalah yang memberi kehidupan, membawa semangat, membawa kebangkitan, memberi jalan keluar. Karena tidaklah lebih besar tantangan, rintangan yang dihadapi oleh manusia daripada kuasa Allah sendiri dan kasih setia Allah terhadap orang-orang yang mau mendengarkan FirmanNya dan melakukan, setia kepada Tuhan di dalam kehidupan setiap hari.

Renungan kita pada hari ini, mengingatkan kita supaya kita mau mendengarkan dan menerima Roh Tuhan yang selalu dan setiap saat memberikan semangat, memberikan damai sejahtera di dalam kehidupan kita setiap hari. Firman Tuhan yang selalu kita andalkan di dalam kehidupan kita, adalah Firman yang memberikan kekuatan yang melebihi daripada kekuatan yang ada di dunia ini dan Spirit yang memberikan damai sejahtera dalam kehidupan keluarga di tengah-tengah gereja dan pelayanan untuk memuliakan nama Tuhan.

Minggu ini adalah Minggu Passion VI, kita harus berani dan bertekun untuk hidup di dalam kehidupan iman percaya kepada Yesus Kristus, untuk menghadapi yang tidak sesuai dengan kehendak kita. Karena melalui penderitaan, kita mendapat pengalaman demi untuk mendewasakan iman percaya kita hari lepas hari. Kiranya Minggu Passion ini bukanlah hanya untuk Yesus tetapi juga kita harus menerimanya dan melakukannnya melalui Firman Tuhan dan Roh Tuhan di dalam kehidupan kita.

Pdt. Johannes Karosekali
Majelis GBKP Runggun Bandung Pusat

Read more >>

Saturday, 15 March 2014

Renungan / Khotbah Mazmur 95:1-11, Minggu 23 Maret 2014

Introitus : 
Tetapi aku, berkat kasih setiamu yang besar yang besar, aku akan masuk ke dalam rumah-Mu, sujud menyembah ke arah bait-Mu yang kudus dengan takut akan Engkau (Mazmur 5:8).

Bacaan : Roma 5:6-11.; Khotbah : Mazmur 95:1-11

Tema : Puji dan Sembahlah Allah.

Kata Pendahuluan
Saudara-saudara yang kekasih
Mengawali kehidupan dengan puji dan menyembah Allah merupakan ciri kehidupan Pemazmur (Daud). Pemazmur sadar bahwa hari ini memiliki pergumulan tersendiri. Pemazmur sadar bahwa Allah saja yang dapat menolongnya terhindar kefasikan dan pembual (pemberontak), tetapi semua orang yang berlindung kepada Allah akan bersukacita. Hari penuh sukacita diawali pagi hari dengan membuka hubungan (komunikasi) dengan Allah yaitu: masuk ke dalam rumah Allah, sujud menyembah ke arah bait Allah dengan takut (penuh hormat) kepada Allah.

Tema khotbah Minggu ini adalah: memuji dan menyembah Allah. Dari tema ini timbul pertanyaan yaitu: alasan-alasan apa saja yang mendorong Pemazmur sehingga ia memuji dan menyembah Allah dan mengajak orang lain juga memuji dan menyembah Allah.
Pembahasan Nats Khotbah Mazmur 95:1-11

Dalam Mazmur 95:1-11 pemazmur menyatakan alasan-alasan Pemazmur memuji dan menyembah Allah sebagai berikut:
Pertama, Tuhan adalah Allah yang besar (ay. 3-5))
  • Raja yang maha besar mengatasi segala allah (ay.3), tidak ada kuasa di atas Allah, semua kuasa berlutuk kepadanya. Pengalaman Pemazmur (Daud) saat mengalahkan Goliat (orang Filistin).
  • Bagian-bagian bumi yang paling dalam ada di tangan-Nya (ay.4
  • dan Puncak-puncak gunung pun kepunyaan-Nya, (ay. 4)
  • Yang punya laut, Dialah yang menjadikannya (ay. 5)
  • Dan darat - tangan-Nya yang membentuknya (ay. 5
Milik-Nya lah bumi dan segala isinya bahwa Ia yang menciptakan-Nya dan di bawah kuasa-Nya. Peristiwa yang terjadi di bumi ini di bawah penguasaan Allah. Allah tidak meninggalkan ciptaan-Nya (erupsi gunung Sinabung, gunung Kelud, Sunami dibawah penguasaan Allah)

Alasan Tuhan Allah yang besar dengan lima bukti tersebut, Pemazmur mengundang umat untuk :
  1. bersorak-sorak untuk Tuhan yang empunya kehidupan dan bersorak-sorak bagi gunung batu keselamatan umat (ay. 1)
  2. Menghadap wajah-Nya dengan nyanyian syukur dan Sorak-sorak bagi-Nya nyanyian mazmur (ay.2)
  3. Sujud menyembah dan berlutut di hadapan Tuhan yang menjadikan umat (ay. 6)

Saudara-saudara yang kekasih,
Kedua, Dialah Allah Kita, dan kita umat gembalaan-Nya dan kawanan domba tuntunan Tangan-Nya (ay. 7). Bagi Pemazmur (Daud) ia seorang gembala yang menggembalakan domba-domba bapanya. Ia berusaha menggembalakan domba-domba bapanya dengan baik, supaya domba-domba dalam keadaan aman dan cukup makanan dan minuman. Demikian juga Daud mempunyai penggembala yaitu Tuhan Allah (bd. Maz. 23:1-6)

Pengakuan Pemazmur bahwa Allah itu gembala umat, dinaytakan dengan mengundang umat untuk jangan mengeraskan hati (ay.9). seperti pengalaman nenek moyang bangsa Israel yang mengeraskan hati di Meriba (kel, 17:1-7), Mereka mencobai Tuhan Allah dengan bertengkar dengan Musa dengan mengatakan:”Adakah Tuhan di tengah-tengah kita atau tidak?” Hasilnya: Musa dan Harun (umat yang mencobai) tidak dapat masuk kenegeri yang yang dijanjikan kepada umat, kerena Musa dana Harun tidak percaya dan menjaga kekudusan Tuhan di depan umat.
Demikian juga dalam Bilangan 25:1-9, pengalaman bangsa Israel yang menyembal Baal Peor, mati karena tulah sebanyak 24.000 orang (Band. Maz. 95:9-11).

Relevansi
Saudara-saudara yang kekasih
Pertama, ditengah-tengah kehidupan kita ini (segala situasi/pergumulan suka dan duka) Pemazmur mengundang kita untuk memastikan/meneguhkan bahwa memuji dan menyembah Allah dengan disertai hati yang taat kepadaNya. Pujian dan penyembahan kita tidak hanya di mulut saja tetapi sampai kepada segenap hati. Dalam nats khotbah: Bangsa Israel dalam perjalanan di padang gurun tidak sanggup menjadi bangsa yang setia, sehingga mereka tidak dapat memperoleh tanah yang dijanjikan kepada kepada mereka. Patut kita renungkan setiap saat, sudahkah kita memuji dan menyembah Allah dengan segenap hati?

Kedua, pada hari ini sekiranyan kita mendengar Tuhan berfirman, jangan keraskan hatimu, dengarkanlah, simpahlah dalam hati, renungkanlah, dan lakukanlah, maka kita akan menikmati berkat-berkat Tuhan yaitu sukacita dan damai sejahtera, seperti domba yang dekat dengan gembalanya.

Ketiga, sebagai orang yang telah ditebus oleh Yesus, kita semua telah menerima Roh Kudus sebagai jaminan keselamatan yang telah dijanjikan, sehingga antara waktu sekarang dan penyempurnaan (kedatangan Yesus kedua kali) kita boleh dan sanggup hidup memuji dan menyembah Allah saja. Ingat setiap saat ada saja tawaran untuk meninggalkan Tuhan atau menduakan Tuhan (harta, pengetahuan, kemajuan komunikasi, keinginan yang tak tertunda, persaingan, uang, kehormatan, kedudukan, makanan, dll) dapat menjadi tuhan atau tuan bagi seseorang. Di pihak lain. Roh Kudus setiap saat menolong kita untuk memuji dan menyembah Allah pencipta langit dan bumi dan yang kita kenal dalam Yesus Kristus…Amin.

Oleh: Pdt. Rasmidi Sembiring M.Th.

Read more >>