Wednesday 24 July 2013

Khotbah Yohanes 8:30-36, Minggu 18 Agustus 2013 (Minggu XII Setelah Trinitas)

Introitus: : 
Supaya kita sungguh-sungguh merdeka, Kristus telah memerdekkan kita. Karena itu berdirilah teguh dan jangan mau lagi di kenakan kuk perhambaan (Galatia 5:1)

Bacaan : Galatia 5:1-15 (Responsoria); Khotbah : Yohanes 8:30-36 (Tunggal)

Thema : ”Kristus Telah Memerdekakan Kita”


Pengantar.
kemaren pada tanggal 17 Agustus 2013, kita telah memperingati kemerdekaan Negara kita Repoblik Indonesia yang ke 68. Kita bersyukur buat kemerdekaan yang telah dianugrahkan Tuhan bagi kita. Tapi oleh karena situasi politik yang tidak sepenuhnya menghadirkan damai sejahtera kepada masyarakat dan beragam persoalan yang ada di tengah-tengah bangsa ini, kadang terdengar keluhan yang mempertanyakan “Sudahkah kita merdeka??!!!” Kemiskinan, kemelaratan, ketidak adilan di mana-mana. Model kejahatan kian menakutkan, sulit mendapatkan pekerjaan, biaya pendidikan dan harga-harga kebutuhan pokok semakin tinggi dll. Benarkah yang di maksud kemerdekaan berarti tidak ada lagi penderitaan, tidak ada lagi kejahatan, sekolah gratis, harga murah, kesehatan masyarakat dijamini sepenuhnya oleh pemerintah dll. Mungkinkah semuanya itu akan terjadi di Indonesia? Diatas semua persoalan itu orang percaya harus tegas dan tanpa ragu tetap mengatakan “Kita sudah merdeka. Merdeka!” Tumbuh kembangkanlah jiwa merdeka, baik dalam cara pandang dan sikap hidup. Kalau kadang ada perasaan kita ini belum merdeka sebab masih di perlakukan tidak adilan, masih di gilas kemelaratan dll, semua itu terjadi hanyalah karena di sekeliling kita masih banyak orang yang jahat dan orang yang tidak bertanggung jawab berkeliaran. Jadi waspadalah dan jaga diri jangan menjadi penjajah di dalam Negara yang merdeka ini.

Sebagai warga Kerajaan Allah orang percaya adalah umat yang merdeka sepenuhnya, yang di merdekakan dari perhambaan dosa dan tradisi, tetapi orang percaya masih di dalam dunia (lingkungan penuh dosa). Kehidupan Kristen yang merdeka harus bebas dari kuasa dan perbuatan dosa; ibarat ikan di lautan, mereka hidup di air asin tetapi dagingnya tidak menjadi asin. Hendaknya demikian juga yang terjadi kepada orang percaya; orang percaya hidup di dunia dengan lingkungan yang penuh dosa, tetapi hidup orang percaya jangan di warnai atau di kuasai dosa. Bukan lingkungan yang menentukan kemerdekaan orang percaya tetapi orag percaya yang harus mewarnai lingkungan supaya merasakan arti kemerdekaan, itulah tanggung jawab orang percaya diberi kemerdekaan sebagai warga Kerajaan Allah dan sebagai bagian bangsa Indonesia.

Pokok Permasalahan.
Teks bahasan Firman Tuhan hari ini tentang bagaimana Yesus menerangkan dan meyakinkan orang Yahudi bahwa kemerdekaan orang percaya dinyatakan di dalam diri Yesus. Teks firman Tuhan ini di latar belakangi ketika orang-orang Farisi membawa kepada Yesus seorang perempuan yang kedapatan berbuat zinah dan mereka hendak menguji sikap Yesus, mencari kesalahan Yesus, apakah Yesus akan taat kepada pengajaran hukum Taurat yang disampaikan Musa, yang memerintahkan melempari perempuan-perempuan yang kedapatan berbuat zinah. Tentang hal itu Yesus berkata “Barang siapa diantara kamu tidak berdosa, hendaklah ia yang pertama melemparkan batu kepada perempuan itu.” Mendengar jawaban Yesus seorang demi seorang orang Farsi itu pergi meninggalkan Yesus dan wanita itu (8:1-11).
Pada mulanya orang-orang Farisi menganggap dirinya benar dan lebih layak, tetapi ketika Yesus mengajarkan kebenaran baru, mereka tidak dapat mengelak bahwa mereka juga orang berdosa, yang membangga-banggakan kebenaran palsu, hidup dalam kebohongan dan keinginan kuat untuk membunuh Yesus. Di dalam ayat 44, lebih keras Yesus mengatakan kepada orang Yahudi “Iblislah yang menjadi bapamu dan kamu ingin melakukan keinginan-keinginan bapamu.” Iblis adalah bapa dari segala dusta (seperti pencobaan kepada Hawa di taman Eden (Kejadian 2:1-6)), dan membunuh (seperti ia mendorong Kain membunuh adiknya Abil (1 Yohanes 3:12)).

Pengajaran Yesus membuat orang orang Farisi menyadari pemahamannya yang salah, tetapi bukan berarti mereka menerima Yesus. Situasinya semakin memanas, Yesus menegor mereka, bahwa keselamatan terjadi bukan seperti keyakinan mereka menganggap bahwa hanya merekalah umat pilihan Allah yang layak untuk Kerajaan Sorga, sebab mereka adalah orang-orang yang di sunatkan sebagai keturunan Abraham yang tidak pernah menjadi hamba siapapun. Orang-orang Yahudi merasa sudah merdeka (bebas) dan tidak butuh Yesus. Karena itu Yesus menentang pemahaman Yahudi, bahwa keselamatan bukan pada tanda sunat (tradisi), sunat tidak punya kekuatan mendatangkan keselamatan (kebebasan) demikian juga keberadaan sebagai keturunan Abraham. Tentang pengakuan orang Yahudi sebagai keturunan Abraham, Yesus menegor mereka: “Kalau kamu keturunan Abraham maka kamu akan mengerjakan pekerjaan yang di kerjakan Abraham. Tetapi yang kamu kerjakan ialah berusaha membunuh Aku; Aku seorang yang mengerjakan kebenaran kepadamu, yaitu kebenaran yang Kudengar dari Allah; pekerjaan yang demikian tidak di kerjakan Abraham. Yang kamu kerjakan pekerjaan bapamu sendiri (nenek moyangmu yang bebal atau yang dimksud Yesus Iblis bapa segala dusta dan pembunuh).” (8:39b-41a).

Yesus menegor mereka mengajarkan penolakan kepada Firman yang disampaikan Yesus adalah penolakan terhadap kebenaran Allah, berarti juga menolak kemerdekaan. Firman itu adalah Allah (Yohanes 1:1), Firman menjadi daging di dalam Yesus dan Ia-lah yang memerdekakan. Karena itu orang yang menolak Firman sama dengan menolak Allah, menolak Yesus, menolak kemerdekaan, menolak keselamatan.

Pemberitaan dan Renungan
Sering kita mendengar atau bahkan kita juga mengatakan bahwa ketika kita menjadi Kristen; dengan di babtis atau di sidikan maka kita telah di merdekakan. Tapi benarkah kita telah merdeka? Jika orang masih menyimpan dan memelihara amarah, maka mereka adalah orang yang terjajah oleh amarahnya. Jika orang masih memelihara dendam maka mereka adalah orang yang terjajah oleh dendamnya. Jika orang masih memelihara kebiasaan dosa maka mereka terjajah oleh kebiasaan dosa tersebut. Jika orang masih cinta uang maka hati mereka terikat oleh keinginan mengumpulkan leibih banyak lagi. Jika orang yang masih suka menyalahkan masa lalunya (“nasibnya”) maka mereka terjajah ketidak mauannya menerima kenyataan dan lebih baik dll. Mari kita renungkan lebih dalam lagi, supaya kita tidak sama seperti orang-orang Yahudi yang di hadapi Yesus, yang merasa dirinya benar sehingga menutup diri terhadap kebenaran yang sesungguhnya. Mengakui kebenaran pengajaran dan hikmat Yesus tetapi menolak Yesus sehingga tidak mengubah sikap hidupnya.

Kemerdekaan hanya akan terjadi jika manusia mau menerima Yesus (Firman Tuhan), yaitu menerima hidup Yesus dan “menghidupkannya” di dalam hidup dan perbuatannya. Apa yang di ajarkan dan dilakukan Yesus; yaitu mengasihi sesama dan senantiasa membagi syalom melayani setiap orang dengan penuh kasih.

Hendaknya kehidupan warga Kerajaan Allah yang merdeka nyata dalam ketaatan, bukan kepatuhan kepada tradisi. Umpamanya Paulus mengajarkan, yang di butuhkan dalam keselamatan bukan sunat jasmani tetapi besunat hati, dan pendengaran (bdg Kis 7:51). Mengalami kemerdekaan di dalam Kristus berarti tidak bebal atau keras hati. Mau menjaga supaya keinginan dan penilaian hati tetap bersih. Mau menjaga telinga mendengar dan menerima segala pengajaran dari Fiman Tuhan.

Orang percaya janganlah berprilaku seperti orang Yahudi dalam latarbelakang teks khotbah hari ini, ketika orang-orang Farisi membawa perempuan yang kedapatan berbuat zinah kepada Yesus dengan maksud menjebak Yesus, namun Yesus menyampaikan hikmat dari Firman Tuhan dan orang-orang Farisi pergi satu persatu meninggalkan Yesus dan wanita tersebut, adalah bukti mereka mengakui kebenaran Yesus dan pengakuan dirinya belum benar, masih dikuasai dosa namun mereka tidak mau dibebaskan dari perbudakan dosa. Pada akhirnya orang-orang Yahudi menyalibkan Yesus walau tanpa bukti kesalahan. Terhadap sikap orang Yahudi pribahasa karo mengatakan “Mesera medaki kalak si medak” (Sulit membangunkan orang yang tidak tidur).

Penutup:
Kemerdekaan Kristen itu bukan kebebasan yang sebebas-bebasnya tanpa batasan. Kemerdekaan Kristen itu kira-kira seperti gerbong kereta api yang berjalan di relnya dan jika kereta api keluar dari relnya akan tergelincir. Atau seperti ikan yang tetap berada di dalam air, sebab jika ikan keluar dari dalam air akan kekurangan oksigen, kekeringan, lemas tidak berdaya dan mati. Kemerdekaan Kristen adalah kebebasan berekspresi melakukan kasih dengan landasan kasih Kristus. Orang percaya hendaknya selalu mengingat dan menghargai proklamasi kemerdekaannya yang sudah di kumandangkan Yesus dalam peristiwa salib dan kebangkitannya. Karena itu hendaklah senantiasa berdiri teguh sebagai pemenang dan menolak segala kuk perhambaan. Ia bukan hamba siap-siapa tetapi ia menjadikan dirinya menjadi hamba kepada semua orang supaya dapat melayaninya dan memenangkannya untuk Tuhan. Pembebasan di dalam Kristus telah mengangkat orang percaya menjadi anak-anak Tuhan, yang berhak tinggal di rumah Bapa dan sebagai ahli waris Kerajaan Allah. Salam merdeka!!!

Pdt Ekwin Wesly Ginting,
GBKP Sitelusada Bekasi


Artikel lain yang terkait:



0 komentar:

Post a Comment