Sunday, 30 August 2009

PENGERTIAN & MAKNA LITURGI GBKP

Pengertian & Makna Liturgi
A. PENGERTIAN LITURGI

Yang dimaksud dengan liturgi adalah ibadah, baik berbentuk seremonial maupun praksis. Ibadah yang sejati tidak terbatas pada perayaan di Gereja melalui selebrasi, me-lainkan terwujud di dalam sikap hidup orang percaya di dunia sehari-hari melalui aksi. Aksi ibadah meliputi pelayanan, tindakan, tingkah laku, hidup keagamaan, spiritualitas, praksis hidup, cara berpikir, pola pikir, menanggapi, dan sebagainya. Paulus menegas-kan pengertian ibadah sebagai berikut: Ibadah yang sejati (logike latreia) ialah mem-persembahkan tubuhmu (soma) sebagai persembahan yang hidup, yang kudus, dan yang berkenan kepada Allah (Rm 12:1). Menurut Paulus, inti ibadah Kristen adalah mem-persembahkan hidup kepada Tuhan. Tanpa dasar ini, ibadah dalam bentuk apa pun tidak bernilai. Ibadah menjadi hambar jika ia terbatas hanya pada perayaan.

Hal pemberian, persembahan, dan pelayanan umat kepada TUHAN tampak sebagai inti dan unsur persembahan dalam ibadah berbeda sama sekali artinya dengan persem¬bahan duniawi. Persembahan dalam ibadah ialah cermin penyerahan diri umat pada pengabdian yang rela dan setia. dengan segenap hati, dengan seluruh tindak tanduk-nya, bukan hanya selama kebaktian, tetapi di dalam kehidupan sehari-hari juga. Tujuan persembahan ialah pada sikap hidup yang mengabdi dengan rela dan setia kepada TUHAN. Dengan kata lain, harus ada hubungan antara ibadah dan sikap hidup sehari-hari. Yang satu mewarnai yang lain secara timbal balik dan harmonis.

Namun, liturgi atau ibadah dalam pemahaman terbatas juga berarti perayaan iman. Ungkapan iman dan pengajaran disampaikan di dalam suatu perayaan liturgi. Itu dilakukan melalui nyanyian, pembacaan Alkitab, Mazmur-mazmur, simbol-simbol, homili, tata gerak, tata ibadah, tata ruang, tata waktu, dan sebagainya. Di fokus terbatas inilah ilmu liturgi ditempatkan.

Istilah-istilah dan pemahaman etimologis liturgi
(1) Kata yang paling umum dipakai ialah liturgi. Kata ini berasal dari bahasa Yunani leitourgia: pelayanan atau kerja (ergon) bangsa, publik, masyarakat, atau umat (laos). Kata laos dan ergon diambil dari kehidupan Yunani kuno waktu itu sebagai kerja nyata publik. Yaitu sesuatu yang ditampilkan sebagai bukti bakti warga negara kepada bangsa dan negara. Secara praktis itu berarti membayar pajak dan melaku-kan bentuk-bentuk pengabdian lain yang sejajar dengan membayar pajak. Membela negara dari ancaman musuh atau wajib militer termasuk di dalam pengertian ini. Paulus nienyebut dirinya pelayan (leitoitrgos) Kristus Yesus bagi bangsa-bangsa bukan Yahudi (Rm 15:16). la juga menghendaki agar kamu membayar pajak. Karena mereka yang mengurus hal itu (para penarik pajak) adalah pelayan-pelayan (leitourgoi) Allah (Rm 13:6)2). Liturgi sebagaimana pemahaman Paulus adalah juga sikap beriman sehari-hari. Ia tidak terbatas pada perayaan Gereja. Rupanya kata liturgi adalah nama yang khas dan umum berterima untuk menyebut ibadah Kristen. Misalnya Liturgy of Word untuk pemberitaan Firman.
(2) Selain liturgi, kata dalam bahasa Indonesia yang sejajar ialah kebaktian. Bakti ialah perbuatan yang menyatakan setia dan hormat, memperhambakan diri, perbuatan baik. Bakti dapat ditujukan baik untuk seseorang, negara, maupun untuk Tuhan. Misalnya Kebaktian Natal.
(3) Kata ibadah (misalnya Ibadah Minggu) berasal dari bahasa Arab ebdu (hamba), sejajar dengan bahasa Ibrani abodah (ebed=hamba). Artinya perbuatan untuk menyatakan bakti kepada Tuhan. Ibadah terkait seerat-eratnya dengan suatu kegiatan manusia terhadap Allah, yakni dengan pelayanan kepada Tuhan.

FAKTOR-FAKTOR
YANG MEMPENGARUHI POLA LITURGI
________________________________________________________________________


DATA-DATA LITURGI DARI SURAT-SURAT
Perjanjiana Baru

(1) DOA — 1 Tim 2:1, 2; Gal 4:6; Rm 8:15
(2) SYUKUR — 1 Tim 1:18
(3) PENGAKUAN — Flp 2:6-11; Rm 10:9; 1 Kor 15:3-4
(4) PUJIAN — Rm 8:31-39; Rm 11; 33-36
(5) NYANYIAN — Ef 5:19; Kol 3:16
(6) BAPTISAN — Rm 6:3, 4; Ef 5:14
(7) PERJAMUAN — 1 Kor 10:21; 11:20
(8) AMIN — 1 Kor 14:16; Why 5:14


TATA IBADAH PERTAMA
(dari Yustinus, kr 160 sM)

(1) Pembacaan Injil-injil;
(2) Pembacaan surat-surat rasuli;
(3) Pembacaan kitab-kitab nabi;
(4) Penjelasan kitab yang dibaca
(yaitu khotbah, dibawakan oleh uskup sambil duduk)
(5) Ajakan untuk hidup sesuai dengan itu;
(6) Berdoa bersama-sama sambil berdiri;
(7) Pembagian roti dan anggur;
(8) Doa bebas;
(9) Pengaminan;
(10) Ekaristi;
(11) Kolekte' (untuk orang miskin)


TATA IBADAH LUTHER

(1) Nyanyian suatu mazmur atau nyanyian rohani
(bukan mazmur introitus lagi)
(2) Kyrie Eleison dan Gloria;
(3) Doa Mingguan (doa kolekta);
(4) Pembacaan Surat;
(5) Nyanyian Mazmur;
(6) Pembacaan Injil;
(7) Kredo (dinyanyikan);
(8) Khotbah;
(9) Doa Bapak Kami (dinyanyikan);
(10) Nasihat;
(11) Kata-kata penetapan Perjamuan Kudus;
(12) Pembagian roti (sementara menyanyikan Sanktus atau nyanyian lain)
(13) Pemberian cawan (sementara menyanyikan 'Agnus Dei')
(14) Pengucapan syukur.


LITURGI JENEWA

(1) Pertolongan kita (Mzm 124:8);
(2) Pengakuan dosa
(3) Pemberitahuan pengampunan dosa
(4) Doa memohon pengampunan dosa;
(5) Dasa firman (Kyrie Eleison dinyanyikan setelah setiap hukum);
(6) Nyanyian Mazmur;
(7) Doa (menurut rangka Doa Bapak Kami);
(8) Pembacaan Firman (sesuai sistem 'lectio continua);
(9) Khotbah;
(10) Pengumpulan persembahan;
(11) Doa syafaat;
(12) Kredo (Pengakuan Iman Rasuli, dinyanyikan);
(13) Formulir Perjamuan Kudus (dengan kata-kata peringatan);
(14) Doa agar diterima serta Bapak Kami;
(15) Kata-kata penetapan — disusul nasihat panjang lebar;
(16) Kata-kata pembagian roti dan anggur;
(17) Komuni sementara menyanyikan mazmur;
(18) Pengucapan syukur dan nyanyian pujian dari Simeon.
(19) Berkat (Bil 6)
(20) Utusan untuk pergi dalam damai.

B. UNSUR-UNSUR DAN MAKNA LITURGI GBKP

Melalui Konven GBKP telah disusun beberapa model Liturgi Kebaktian Hari Minggu dan perayan hri besar gereja, dalam bahasa karo telah disahkan pemakaiannya melalui Sidang BPL Synode tahun 1999 dan dalam bahasa Indonsia pada setelah disempurnakan oleh Team Penyempurnaan Liturgi GBKP telah disyahkan pemakaiannya pada tahun 2003. Walaupun sangat beragam atau variatif model Liturgi yang dibuat, namun semuanya tetap mengacu kepada Liturgi yang sudah ada sebelumnya (Kitab Liturgi tahun 1986 dan 1993).

Kitab Liturgi GBKP dibuat tidak terlepas dengan warisan theologia yang dianut yakni sebagai aliran Calvinis. Itulah sebabnya, kalau kita perhatikan gereja-gereja aliran Calvinis seperti GMIM, GPIB, GKI, dll, memiliki sangat banyak kesamaan khususnya juga dalam hal Liturgi.

Untuk lebih memahami Liturgi GBKP, kita akan melihat satu per satu unsur-unsur Liturgi yang dipakai dan makna setiap unsur itu serta mengapa urut-urutannya demikian.

1. Votum.
Banyak tata kebaktian dari gereja-gereja Indonesia memulai dengan Votum dan salam. Kebiasaan ini diambil alih dari gereja-gereja Neiderland. Votum bukanlah doa, melainkan suatu keterangan khihmad. Dalam rapat-rapat, ketua sidang biasanya memberikan keterangan semacam itu “saya membuka rapat”. Memang keduanya tidak sama derajatnya, tetapi fungsinya tidak berbeda.
Kata Votum berasal dari bahasa Latin yang artinya “Tahbisan” dengan kata lain mensyahkan. Melalui Tahbisan diyakini “kehadiran Allah di tengah-tengah umatNya” (bd.Matius 18:20). Oleh karena itu Votum diucapkan pada permulaan kebaktian.

2. Salam.
Salam bukan berkat. Karena itu salam diucapkan tanpa mengangkat tangan. Bentuk salam yng paling sederhana yang pipakai oleh gereja lama “Tuhan menyertai kamu” dijawab oleh jemaat dengan “Dan menyertai rohmu”. Bentuk ini biasa juga diganti dengan salam rasuli seperti yang dipakai oleh GBKP “Damai sejahtera dari Allah Bapa dan dari Tuhan Yesus Kristus dan dari Roh Kudus adalah kiranya beserta saudara-saudara sekalian” (bd. Rom. 1:7; 2 Tim.1:2, 2 Kor.13:13). Melalui Salam Allah menyatakan bahwa Ia tetap menyertai jemaatNya.
Jemaat menymbut “Amin 3x. Artinya jemaat pun menyakini, membenarkan atau mengiakan bahwa Allah sungguh hadir di tengah-tengah jemaatNya. Amin artinya “Ia benar demikian” (bh. Karo: tuhu bage kal me).

3. Introitus.
Kata Introitus juga berasal dari bahasa Latin yang berti masuk ke dalam. Di dalam liturgi-liturgi lama sampai pada perkembangan gereja-gereja reformsi, introitus dinyanyikan paduan suara dengan bersahut-sahutan atau tidak. Introitus yang dinyanyikan umumnya diambil dari Mazmur. Introitus dinyanyikan ketika yang membawa kebaktian memasuki ruangan kebaktian.
Dalam perkembangan selanjutnya, introitus tidak lagi dinyanyikan. Introitus diambil dari ayat-ayt Alkitab yang disesuaikan dengan tahun gereja, khotbah dan Liturgi. Di dalam Liturgi GBKP, Introitus diucapkan setelah “salam” dan ayat Alkitab yang diambil di sesuaikan dengan thema Khotbah yakni berdasarkan bahan bacaan untuk khotbah/renungan.

4. Nyanyian.
Jemaat menyambut dengan sukacita kehadiran Allah dengan nyanyian pujian. Nyianyian setelah introitus adalah nyanyian masuk sebagai jawaban jemaat atas kehadian Allah melalui Votum, salam dan juga jawaban atas nas introitus yang dibacakan. Karena itu nyanyian ini berupa puji-pujian yang disesuaikan dengan tahun gerejani, khotbah dan liturgi.

5. Berita karena dosa manusia, pengakuan dosa.
A. Berita karena dosa manusia
A.1. Firman Allah tentang dosa manusia: melalui unsur ini diingatkan bahwa semua manusia sesungguhnya adalah orang-orang yang berdosa.
A.2. Firman Allah tentang kehidupan yang baru: bila memilih bagian b, disini jemaat diingatkan bagaimana seharusnya hidup sebagai orang yang sudah di kasihani, sudah ditebus dari dosa oleh Yesus Kristus. Namun bahwa kenyatannya sering kali jemaat tidak hidup sesuai dengan Firman Allah itu.
Saat teduh … diberikan waktu kepada jemaat untuk merenungkan kenyataan-kenyataan itu …makna penyesalan…
B. Pengakuan Dosa.
Setelah memahami, merenungkan dan menyesali itu semua (Dosa dan kelemahannya), melalui peminpin liturgi jemaat menyatakan penyesalannya dengan pengakuan dosa secara pribadi maupun secara persekutuan sebagai orang percaya.

6. Nyanyian.
Setelah pengakuan dosa secara moncolok (pemimpin liturgi mewakili jemaat keseluruhan), sebagai tanda bahwa sungguh-sungguh menyesali dosa dan bertekad membaharui hidupnya sesuai dengan Firman Tuhan, jemaat menyampaikan itu melalui nyanyian. Karena itu nyanyian yang dipilih sehubungan dengan pengakuan dosa dan tekad hidup baru.

7. Berita pengampunan dosa.
Pembawa Liturgi atas nama Allah menyampaikan berita anugrah yakni pengampunan dosa kepada jemat yang sungguh-sungguh menyesal akan dosanya dan bertekad menjaukan diri dari dosa.

8. Nyanyian.
Penekanan nyanyian ini adalah ucapan syukur karena jemaat telah menerima pengampunan dosa dari Tuhan Allah. Dan sekarang sudah siap untuk mendengar peemberitaan Firman Allah.
Catatan:
Unsur 5-8 ini di tempatkan sebelum Khotbah dengan alasan bahwa bila kita datang ke hadirat Tuhan, sesaatpun kita tidak dapat menunggu untuk mengatakan hal yang paling penting yaitu bahwa kita adalah orang-orang berdosa dan bahwa dosa-dosa kita sangat menyedihkan hati kita. Menurut van der Leeuw “kita tidak dapat terus berjalan tanpa dosa kita diampuni oleh Tuhan Allah”. Kita telah mulai dalam namaNya, kita telah memuliakan nama itu. Namun kalau sekarang kita mau terus berjalan kita harus mengakui terlebih dahulu bahwa hal itu sebenarnya tidak mungkin. Tetapi bahwa sekalipun demikian kita boleh terus berjlan. Pandangan ini dianut juga pemimpin-pemimpin lain dari Gerakan Liturgia.

9. Pemberitaan Firman Tuhan
a. Pembacaan yang I (Ogen)

Bagian Alkitab yang dibaca fungsinya adalah sebagai pengantar untu masuk kedalam khatbah/Renungan. Setelah membaca bagian ini disebutkan oleh pemimpin kebaktian “Berbahagialah yang mendengar Firman Tuhan dan melakukannya dalam hidupnya”. Disambut jemaat dengan “Haleluya 3X di nyanyiakan. Artinya jemaat menyambut kebaikan Allah melalui FirmanNya yang menguatkan itu dengan haleluya (puji Tuhan/terpuji Tuhan/mulialah Tuhan). Pada masa adven dan selama minggu-minggu sengsara, “haleluya” diganti dengan “Hosana”.
b. Doa untuk pembacaan Firman. Doa ini khusus untuk memohonkan Kuasa Roh Kudus bekerja ditengah-tengah jemaat, menguasai dan memampukan jemaat memahami dan melakukan Firman yang akan didingarkan (doa ini menurut van der Leeuw hendaknya pendek, tegas dan mesra).
c. Pembacaan Firman dan khotbah/renungan. Melalui pembacaan Firman dan Khotbah Allah berbicara kepada jemaat. Di dalam Firman ada pengajaran, nasehat, pembangunan, kecaman dan penghiburan. Dan sikap jemaat mendengar pembacaan Firman dan Khotbah haruslah seperti sikap Samuel, sikap seorang hamba (1 Sam 3:10).
d. Doa setelah khotbah. Memohon agar Roh Kudus menolong jemaat untuk dapat melakukan Firman yang sudah di dengarkan (singkat).
10. Pengakuan Iman (jemaat berdiri).
Setelah mendengar Firman Tuhan, jemat dengan sikap berdiri yang menunjukkan kesungguh-sungguhan membaharui iman dan pengharapannya dengan mengucapkan rumusan pengakuan iman secara bersama-sama.
Catatan:
Umumnya pengakuan iman diucapkan sesudah khotbh, tetapi kadang-kadang juga sesudah pembacaan Alkitab atau sebelum doa syafaat. Namun fungsinya sama yakni: (1) sebagai rngkuman dari Firman yang dibacakan (2) sebagai jawaban jemaat atas Firman yang diberitakan.

11. Koor …
Diberikan kesempatan kepada jemaat untuk menyatakan puji-pujiannya sebagai respons pembaharuan yang sudah dialami.

12. Persembahan pengucapan syukur.
a. Membacakan ayat-ayat Alkitab mengenai persembahan. Tujuannya adalah agar jemaat diingatkan bahwa Tuhan mengingini persembahan syukur dari umatNya berdasarkan iman kepadaNya.
b. Sambil memberi persembahan syukur, jemaat menaikkan nyanyian pujian sehu-bungan dengan persembahan,
c. Doa persembahan. Doa ini sehubungan dengan permohonan agar Allah yang adalah sumber segala sesuatu berkenan kepada persembahan yang di berikan dan selanjutnya dapat dipergunakan bagi kemuliaan dan pekerjaan Tuhan melalui gerejaNya.
Catatan:
Dalam gereja purba “pemberian” (bukan dengan istilah persembahan, korban atau persembahan syukur) jemaat berkait erat dengan perayaan perjamuan. Pemberian jemaat dikumpulkan untuk agape (perjamuan kasih) dan untuk orang-orang miskin. Dalam abad-abad pertama pemberian ini menjadi bagian yang paling penting dalam diakoni jemaat. Pemberian itu dibagi-bagikan bukan saja kepada orang-orang miskin, janda-janda, anak-anak yatim piatu dan orang-orang hukuman, melainkan juga kepada orang-orang asing di dalam jemaat. Namun dalam perkembangannya, pemberian jemaat (persembahan syukur) diperuntukkan untuk menunjang biaya kehidupan pelayan Tuhan dalam melakukan tugas pelayanannya, biaya-biaya administrasi gereja, dll.

13. Warta Jemaat.
Di dalam liturgi GBKP, warta jemaat juga bagian unsur kebaktian. Disamping pemberitahuan mengenai kegiatan-kegiatan yang sudah dilaksanakan pada minggu sebelumnya juga pemberitahuan untuk mengingatkan jemaat akan kegiatan-kegiatan gereja pada minggu berikutnya. Juga pemberitahuan keadaan jemaat yang sakit, berulang tahun, kedukaan, dll agar menjadi bagian pokok-pokok doa syafaat.

14. Doa syafaat.
Yang dimaksud doa syafaat ialah doa umum atau doa pastoral. Isi dari pada doa syafaat adalah disamping isi dari warta jemaat, juga untuk gereja, pemerintah, untuk orang-orang yang hidup dalam kesusahan, untuk pekerjaan, dll.

15. Nyanyian
Nyanyian jemaat setelah doa syafaat adalah nyanyian penyerahan diri kepada Tuhan. Karena itu jemaat diundang bangkit berdiri sebagai tanda kesungguh-sungguhan akan penyerahan dirinya.

16. Doa Bapa kami
Doa Bapa kami bukan dimaksud untuk kesempurnaan semua doa sebelumnya. Sesuai dengan unsur yang terkandung dalam Doa bapa kami, semua jemaat dengan mengucapkan secara bersama mengucapkan syukur kepada Tuhan, memohon penyertaanNya dan memohon agar kuasa Tuhan itu semakin nyata dalam kehidupan jemat supaya mampu hidup sesuai dengan kehendak Tuhan.

17. Berkat.
Unsur terakhir dalam kebaktian adalah penyampaian berkat. Penyampaaian Berkat Allah bukan saja berguna untuk memberangkatakan jemaat kembali ke dalam kehidupannya setiap hari, tetapi sebagaimana menurut pendapat Golterman “pemberian berkat adalah sama halnya dengan pemberitaan anugrah. Dengan kata lain pelayan terpanggil untuk memproklamasikan berkat itu.
Jemaat meresponi pemberian berkat dengan menyanyikan Amin 3x. Artinya jemaat mengaminkan bahwa benar berkat Tuhan menyertai Ia.


PEMAKEN LITURGI :

A. Persikapen
  • Perlengkapen perliturgi : jubah (jas) ras stola, Kitab Liturgi, Pustaka si Badia, Kitab Ende-enden, ras kitap persikapen.
  • Persikapen ibas Kamar Persikapen siikut Perliturgi/Pengkhotbah/permomo, singendesken Kolekte, si ngelaken kantong Kolekte ras anggota Runggun.
  • Fungsi pertoton ope Kebaktin e me, mindo man Dibata gelah kerina petugas ngasup ndahiken dahinna ibas perdalanen Kebaktin bage pe gelah Dibata alu Kesah si Badia nikapken ukur perpulungen lako jumpa ras la, alu bage ipermuliaken Dibata arah kerina si lit ibas kegeluhen.
  • Kenca dung Kebaktin kerina petugas bengket ku bas kamar persikapen ibabai ertoto guna ngataken bujur ibas kelancaran perdalanen Kebaktin ras mindo pengkawali ibas geluh sada minggu.
  • Tupung kerina petugas ras Runggun ertoto ku kamar persikapen perpulungen tetap ibas inganna guna ertoto man Dibata selaku persikapenna guna berkat ku bas doni si nyata.
KENCA DUNG KEBAKTIN
  • Pertoton Penutup radu ras Perpuiungen la ibahan
  • Adi la lit acara tambahen, simabai Kebaktin/Pengkhotbah ras petugas pinter lawes ku pintun Gereja gelah isalamina Perpulungen.
  • Adi lit acara tambahen, simaba Kebaktin/Pengkhotbah ras petugas pinter lawes ku kamar persikapen ntah ku ingan si enggo isikapkan lebe, Janah kenca dung acara tambahen e, simaba Kebaktin/Pengkhotbah ras petugas berkat ku pintun Gereja gelah isalamina perpulungen.
  • Kenca dung si mabai Kebaktin/Pengkhotbah ras petugas nalami Perpulungen, Pertoton pendungi ibahan i bas kamar Persikapen.
  • Pertoton pendungi ibas kamar persikapen isehken alu gendek, janah isina eme pengataken bujur man Dibata erkiteken Kebaktin enggo banci terlaksana.
SIKAP PERLITURGI :
  • Erkiteken Perliturgi selaku wakil Dibata ras wakil perpulungen maka ibas penampilenna arus teridah kebadian ras kehagan kebaktin e.
  • Guna si e periliturgi arus ersikap ibas pusuh, bage pe guna kelancarenna arus tuhu-tuhu ersikap.
Catatan:
Ibas unsur-unsur Liturgi e lit paksana perpulungen tedis ras kundul maksudna e me gelah :
(a) Perpulungen ncidahken ketutusenna, kehamatenna ras kesiagaenna I adep-adepen Dibata.
(b) Lit paksa tedis, lit paksa kundul, e iatur rikutken paksa-paksa si sentudu ras "jiwa" ibas unsur-unsur Liturgi.


Surabaya, 21 Oktober 2006
Pdt.S.Brahmana,S.Th



Artikel lain yang terkait:



0 komentar:

Post a Comment