Wednesday, 29 April 2015

Renungan / Khotbah Mazmur 76:2-13, Minggu 17 Mei 2015

Invocatio : 
TUHAN kiranya memberikan kekuatan kepada umat-Nya, TUHAN kiranya memberkati umat-Nya dengan sejahtera! (Maz. 29:11)

Bacaan : 1 Yoh. 5:9-13 (Tunggal); Khotba : Mazmur 76:2-13 (Anthiponal)

Tema : Allah Raja Damai dan Kehidupan


Pendahuluan
Jemaat yang dikasihi Allah, sebagaimana yang sudah kita baca dalam Kitab Mazmur, Kitab Mazmur ini merupakan nyanyian pujian Sion di mana si pemazmur sedang menceriterakan bagaimana Allah menyelamatkan Sion dan memberikan kemenangan terhadap umat-Nya. Nyanyian ini di naikkan kepada Yahweh, ketika Israel memperoleh kemenangan melalui peperangan melawan bangsa-bangsa sekitar mereka, sehingga pemazmur dengan percaya menyatakan bahwa Allah adalah Hakim segala bangsa. Berikut keyakinan si pemazmur terhadap Allah sehingga ia mampu menyatakan demikian:

Pembahasan
1. Allah yang ada dan hadir
Pada pembukaan nyanyian ini, dimulai dengan pernyataan yang bersifat teologis yaitu Allah telah dikenal di Israel dan Ia bertahta di sana, Salem sejajar dengan Sion, yakni Yerusalem, pusat tempat peribadahan orang Israel. Melalui pernyataan ini, menunjukkan bahwa si pemazmur sendiri telah mengenal Yahwe Israel dan memiliki pengalaman di dalam kepercayaannya terhadap Yahweh. Sepertinya ia juga mengetahui peristiwa keluaran merupakan peristiwa yang sangat kental dalam benak Israel, yang mana peristiwa itu menjadi kredo bagi Israel dalam setiap kehidupannya, sehingga ia dapat menyatakan bahwa Allah sudah sangat dikenal di seluruh umat-Nya, bahkan ia tinggal di sana.

Sebagaimana keyakinan orang Israel bahwa Allah hadir di Yerusalem, maka dalam nyanyian ini juga diungkapkan bahwa Allah memerintah di sana. Yerusalem tetap sebagai pusat peribadahan karena diyakini sebagai representasi Allah. Dengan demikian, pemazmur benar-benar dapat merasakan kehadiran dan penyertaan Yahweh dalam setiap keadaan tersebut.

2. Allah Pemberi kemenangan
Pada ayat 4-7, pemazmur menyatakan bahwa sesungguhnya Allah yang hadir dan berpekara terhadap umat-Nya. Dialah Allah yang mematahkan musuh dan meghabiskan seluruh peralatan perang bangsa-bangsa lain. Bahkan di dalam ayat 6-7, dikatakan bahwa Allah menjarah orang berani, dijadikannya tertidur, dan orang gagah dibuat tak berdaya. Allah yang membuat musuh umat-Nya lengah dan menjadi kalah, sehingga Allah adalah yang berkuasa dan kekuatannya mengatasi seluruh yang ada di dunia, mengatasi pegunungan yang ada sejak purba kala. Kemungkinan besar yang dianggap pegunungan Hermon, sebab di sana diyakini bersemayam para dewa dan di pegunungan tersebut tidak pernah kekeringan tetap memiliki awan yang sejuk. Namun, sebagaimana nyanyian pemazmur, bahwa kehebatan Allah dan kuasa-Nya yang terpancar melampaui pegunungan tersebut. Hanya dengan hardikan saja, Allah mampu menyelesaikan semuanya. Dengan demikian Allah Adalah Allah yang tidak tertandingi oleh apapun.

3. Allah sumber kedamaian
Pada ayat 8-11, dikatakan tidak ada yang mampu berdiri di hadapan Allah. Kedahsyatan Allah tidak tertandingi oleh apapun. Ketika Tuhan menyatakan keputusan Allah, maka akan membuat bumi takut dan tertegun. Keputusan itu sendiri langsung akan berdampak hebat terhadap mereka yang terindas dan penindas.

Melalui Firman Tuhan diperlihatkan bahwa Allah berpihak kepada mereka yang tertindas, teraniaya dan lemah. Karena mereka juga bagian dari rencana Allah. Allah tidak membiarkan umatnya senantiasa tertekan dan ditindas. Tetapi melalui keputusan-Nya, Ia ingin memperlihatkan bahwa yang dikehendaki adalah terciptanya damai sejahtera dalam lingkungan umat Allah. Karena Allah adalah Allah yang mengasihi semua orang dan semua orang sama di hadapan Allah.

Oleh karena begitu besar karya Allah yang telah dirasakan pemazmur dalam kehidupan-Nya, sehingga pada ayat selanjutnya merupakan sebuah respon nyata dari kehidupan manusia terhadap Allah yang telah memberikan kedamaian dan kehidupan kepada umat-Nya.

4. Ungkapan syukur kepada-Nya.
Pada ayat 12 disebutkan tentang nazar. Ayat ini adalah ajakan si pemazmur kepada setiap orang untuk menyatakan syukur kepada Allah atas apa yang sudah Allah berikan dalam kehidupan manusia. Nazar adalah sumpah atau janji bersyarat kepada Tuhan ketika seseorang melakukan permohonan kepada Tuhan, yang harus ditepati jika permohonan itu sudah terjadi atau dikabulkan. Tuhan yang bertindak dalam sejarah, harus dipuji dan dimuliakan. Dalam konteks ini Ia dimuliakan dengan pujian dan persembahan yang dikaitkan dengan nazar (ay 12).

Dengan demikian, maka ini merupakan respon kita sebagai manusia ciptaan Allah, yang percaya kepada-Nya. Ia yang telah menganugrahkan kedamaian dan kehidupan kepada manusia. Sekali lagi, semuanya ini dilakukan karena Allah melakukan karya-karya agung dan ajaib dalam sejarah bagi umat manusia. Ia menjadi sumber ketakutan dan kegentaran bagi orang-orang yang berkuasa dan kuat, yang biasanya karena kekuasaan dan kekuatannya menjadi sombong dan angkuh. Namun, Ia juga menjadi sumber damai dan kehidupan bagi mereka yang dengan percaya menantikan janji-Nya dan tetap berpengharapan. Sebagaimana dalam bacaan bahwa penulis Yohanes mengajak umat Allah untuk senantiasa percaya kepada kesaksian tentang Allah, sehingga kita senantiasa memiliki hidup kekal.

Demikianlah gambaran sipemazmur ditengah kehebatan dan kedahsyatan Allah terhadap hidup umat, pemazmur juga mengajak umat untuk menyatakan respon terhadap anugerah yang telah diberikan kepada manusia, dengan memberikan pujian melalui hidup setia hari, dan persembahan yang terbaik kepada Allah.

Jemaat yang dikasihi Tuhan, kedekatan kita dengan Tuhan terlihat dalam setiap respon kita atas apa yang terjadi dalam kehidupan kita. Terkadang sebagai manusia, dalam hal yang berbahagia kita kurang merasakan bahwa Tuhan yang memberikan semua itu, justru kita merasa bahwa itu merupakan hasil kerja keras kita. Namun, di saat dekat dengan kesulitan, maka kita akan berteriak minta tolong kepada Tuhan, seakan-akan Tuhan terlambat atau tidak tahu dengan pergumulan yang kita alami. Sebagaimana dengan pemazmur yang memiliki keyakinan penuh terhadap Allah yang benar-benar hadir dalam hidupnya, kita juga dituntut agar tidak hanya dalam keadaan yang menyedihkan kita datang kepada Tuhan, tetapi dalam keadaan yang menyenangkan biarlah nama Tuhan yang dipermuliakan, bukan kita. Ingat, bukan kita!!! Sebab ialah raja yang memberikan hidup dan damai kepada seluruh cipataan di bumi. Selamat memuji kebesaran-Nya. Amin.

Pdt. Andreas Joseph Tarigan STh, M.Div
Rg. Harapan Indah


Artikel lain yang terkait:



2 komentar:

Ambu Kapuru said...

Trmks Bpk utk renungangy. TUHAN YESUS memberkati. Amin

Ambu Kapuru said...

AMIN

Post a Comment