Wednesday, 15 October 2014

Renungan / Khotbah Matius 22:15-22, Minggu 19 Oktober 2014

Introitus : 
“Bayarlah kepada semua orang apa yang harus kamu bayar” (Mat. 13:7a).

Pembacaan : Yesaya 45:1-7 (Anthiponal); Khotbah : Matius 22:15-22 (Tunggal)

Tema : “Lakukanlah Tanggung Jawabmu!”

Pendahuluan
Hidup dan tinggal di tengah-tengah bangsa yang pluralis bukanlah mudah. Kita sendiri dapat melihat bagaimana gereja-gereja disegel, dirusak, dan dibakar. Bahkan pendeta sendiri dianiya oleh sekelompok yang menamakan diri sebagai orang yang takut dan taat akan Tuhannya. Salah satu yang menjadi pergumulan dan perjuangan dari PGI yakni bagaimana terjadinya keadilan yang seadil-adilnya di bumi Pancasila ini, khususnya kebebasan beribadah. Namun, hingga saat ini masih juga kita lihat bahwa masih banyak terjadi diskriminasi, aniaya, bahkan penindasan terhadap agama-agama yang minoritas. Tetapi, pernahkah kita bertanya mengapa ini terjadi? Di mana letak masalahnya? Apa yang menyebabkan ini terjadi?

Sebelum kita menunjuk ke arah yang lain, bahwa mereka yang salah, mereka yang tidak tahu keadilan, atau karena mereka yang mayoritas dan sebagainya, mari bercermin kepada diri sendiri? Apakah kehidupan kita sebagai orang Kristen sudah benar-benar mencerminkan Kristus di dalam diri kita? Oleh karena itu, tema hari ini adalah “Lakukanlah Tanggung Jawabmu”.

Pembahasan
Secara keseluruhan kitab Matius ini menekankan tindakan yang nyata dan murni, dan dalam perintah tersebut diteguhkan bahwa Allah menyertai (Lih. 1:23; 28:20). Jadi, lakukan dan percaya!! Pada perikop kali ini bercerita ‘tentang membayar pajak kepada Kaisar’. Secara umum, tentu sudah sering kita mendengar cerita tentang pajak tersebut. Dan umumnya tidak jarang pendeta berkhotbah perikop ini dan menekankan menjadi “warga negara yang baik”, tetapi apakah hanya sebatas itu yang diinginkan di sini?

Jemaat yang dikasihi Tuhan, dalam prikop ini dikatakan bahwa orang-orang Farisi berniat jahat terhadap Yesus. Mereka memberikan satu pertanyaan terhadap Yesus: ayat 16-17: "Guru, kami tahu, Engkau adalah seorang yang jujur dan dengan jujur mengajar jalan Allah dan Engkau tidak takut kepada siapa pun juga, sebab Engkau tidak mencari muka. Katakanlah kepada kami pendapat-Mu: Apakah diperbolehkan membayar pajak kepada Kaisar atau tidak?"

Sebenarnya jika dilihat dari pertanyaan orang Farisi tersebut, dapat dikatakan sungguh baik. Mereka secara halus dan lembut bahkan dengan penuh hormat kepada Yesus. Tetapi motivasi yang ada di balik pertanyaan sangat jauh dari kata baik bahkan sangat munafik. Mereka menyebut Yesus guru (pada saat itu, sebutan guru dalam bahasa mereka disebut ‘rabi’ adalah sapaan kepada dia yang dihormati), tetapi mereka sama sekali tidak menghormati Yesus bahkan berniat buruk terhadapnya. Di dalam kehidupan sekarang juga demikian, bahwa tidak jarang terlihat orang-orang yang demikian, atau mungkin orang kristen sendiri juga pernah melakukan seperti yang dilakukan orang-orang Farisi terhadap Yesus. Terlihat baik, tetapi sesungguhnya karena ada udang di balik batu.

Jemaat yang dikasihi Tuhan,
Yesus yang adalah Anak Allah itu telah mengetahui bahwa orang-orang Farisi tersebut memiliki niat jahat terhadap diri-Nya. Maka apa kata Yesus: Mengapa kamu mencobai Aku, hai orang-orang munafik? Ini adalah tamparan yang sangat keras bagi orang-orang Farisi tersebut. Yesus melanjutkan dengan memperlihatkan sebuah koin dinar kepada mereka dan bertanya kepada mereka tentang gambar yang ada pada uang itu. Dan Yesus mengatakan bahwa "Berikanlah kepada Kaisar apa yang wajib kamu berikan kepada Kaisar dan kepada Allah apa yang wajib kamu berikan kepada Allah." Benar-benar mengagumkan, dan tidak dapat diduga, Yesus memberikan jawaban yang sangat mengejutkan bagi orang-orang Farisi tersebut. Yesus tidak pernah menentang ataupun meniadakan pemerintah secara dunia, tetapi IA datang untuk menggenapinya. Maka dalam perkataan itu, Yesus berpesan: lakukan tanggung jawabmu dengan tepat dan motivasi yang tulus. Sebab kehidupan orang-orang Farisi saat itu sangat rohani, tetapi tidak ada tindakan nyata, artinya mereka tidak memiliki kasih. Mereka mengatakan mengasihi Allah, tetapi tidakan mereka tidak mencerminkan kasih. Demikianlah di hadapan Tuhan Yesus bahwa mereka hanya pandai berbicara tetapi tidak memiliki tindakan yang nyata, bahkan terdapat motivasi yang buruk.

Demikian juga dengan kehidupan kita sekarang ini, keberadaan pemerintahan kita juga tidak terlepas dari kehendak Tuhan. Sekalipun kita melihat bahwa banyak keburukan dan kekurangan dalam pemerintahan kita. Tetapi tidak menutup kemungkinan bahwa Allah juga dapat menggunakan pemerintahan yang demikian untuk menyatakan kuasa-Nya, seperti yang terdapat di dalam bacaan kita, bahwa Allah memakai Koresh, sekalipun ia bukanlah umat perjanjian. Jadi kita juga sebagai orang percaya kepada Kristus mari koreksi diri kembali, sudahkah kita melakukan tanggung jawab dengan tepat dan motivasi yang tulus?

Seperti yang saya katakan bahwa hidup di bumi pluralis bukan gampang, banyak hal yang dapat menimbulkan benturan. Tanpa dicari pun pergesekan akan selalu ada, sebab kita berbeda, apalagi kalau dicari dan dilakukan.

Gereja-gereja banyak yang ditutup dan dirusak, kita marah dan tidak terima. Memang satu sisi kita bisa marah. Tapi apakah dengan marah, masalahnya terselesaikan? Misalnya GKI Yasmin. Hingga sekarang masih belum selesai. Dan masih banyak gereja-gereja lainnya.
Oleh karena itu, jemaat yang dikasihi Tuhan, bukan berarti kita minoritas kita harus tetap pasrah dan tidak bertindak ketika terjadi ketidakadilan. Tetapi tetaplah lakukan apa ayng menjadi tanggung jawab kita dengan tetap, dan dengan motivasi yang jujur. Sebagai warga Indonesia yang percaya, kita juga harus ikut membangun bangsa kita dimulai dari diri kita sendiri. Jangan terlalu sibuk dengan urusan kita sendiri, misalnya gereja, ataupun perkumpulan kita saja.

Di salah satu gereja misalnya, karena jemaat yang kaya, rata-rata mereka membawa mobil ke gereja. Oleh karena mobil mereka, jalanan sekitar menjadi macet, ditambah memberikan uang parkir kepada tukang parkir yang berbeda agama dengan kita, kita terlalu perhitungan. Hal-hal seperti ini tentu bisa mengundang iri dari orang lain, bahkan kemungkinan karena ini gereja disegel dan ditutup, dan kita tidak tahu. Jadi, ini seharusnya yang perlu dijaga dan diperhatikan. Tidak salah dan tidak menjadikan kita miskin ketika kita memberikan upah lebih kepada mereka, seperti parkir, tukang bersih gereja dan sebagainya.

Beberapa bulan lagi akan memasuki bulan desember, tentu setiap gereja akan mempersiapkan acaranya masing-masing. Tidak sedikit gereja yang mengeluarkan biaya jutaan bahkan hingga ratusan juta untuk natal saja. Natal yang mewah, megah dan penuh gebyar. Hal ini juga tidak salah. Tetapi, adakah kita mengingat mereka di tengah kebahagian kita, bahwa di luar sana masih banyak saudara kita tidak mendapat makan, rumah dan sebagainya. Hal ini juga tentu bisa mengundang cemburu. Bagaimana tidak, orang lain sedang kelaparan dan butuh bantuan yang sangat mendesak, pada saat yang sama kita berpesta pora dengan kemewahan. Ini perlu kita refleksikan, agar kita tidak tertutup dengan lingkungan di luar kita. Tidak salah jika kita membuat perayaan, tetapi juga dikatakan di dalam peraturan Imamat, bahwa usahakanlah kesejahteraan setiap orang yang ada di tempatmu. Setiap orang yang dimaksudkan di sini bukan hanya orang Kristen saja, melainkan semua orang yang ada di lingkungan kita. Artinya kita sebagai orang yang mampu harus menolong yang lemah, dan bertanggung jawab terhadap mereka.

Ada sebuah kutipan yang berkata “NATO” (No action, talk only), artinya hanya berbicara, tetapi tidak ada tindak nyata. Sebagai orang Kristen, tidak dibutuhkan terlalu banyak bicara apalagi tentang yang baik, tetapi tidak ada tindak riil dari perkataan tersebut. Hendaklah kita dapat melakukan tanggung jawab kita dengan tepat dan motivasi yang tulus, bukan karena supaya disukai dan tidak diganggu.

Jemaat yang dikasihi Tuhan, hendaklah kita dapat bertanggung jawab sebagai orang yang telah ditebus, dan dengan motivasi yang tulus dan secara tepat. Percayalah bahwa Dia yang empunya seluruh alam semesta akan senantiasa memperhatikan dan menyertai hidup kita.

Dan betapa indahnya, jika suatu saat nanti terjadi bahwa orang lain memuliakan Tuhan karena melihat tindakan kita sebagai orang Kristen yang penuh dengan kasih. Jadi, mari lakukan tanggung jawab kita, tanpa perlu melihat orang lain terlebih dahulu. Jangan iri, ada orang yang tidak bayar pajak dan tidak mendapat denda, sedangakn saat kita baru sekali saja tidak bayar pajak, langsung diberi sanksi. Jangan iri!!! Lakukan tanggung jawab dengan tulus dari dalam hati. Ingatlah bahwa apapun yang kita lakukan, lakukanlah seperti untuk Tuhan dan bukan manusia. Selamat bertanggung jawab, Tuhan menyertai. Amin.

Pdt.Andreas J Tarigan S.Th,M.Div
Rg. Harapan Indah


Artikel lain yang terkait:



0 komentar:

Post a Comment