Thursday 8 February 2018

Khotbah / Renungan Markus 8:31-38, Minggu tanggal 11 Februari 2018


Invocatio:
Jadilah bagiku gunung batu, tempat berteduh, kubu pertahanan untuk menyelamatkan aku; sebab Engkaulah bukit batuku dan pertahananku (Mazmur 71:3)

Pembacaan: Roma 10:13-21; Khotbah: Markus 8:31-38

Thema:
Mengikut Yesus, Menyangkal Diri Dan Memikul Salib

Ada banyak orang gagal paham tentang mengikut Yesus. Ada orang yang menganggap jika mengikut Yesus tidak ada lagi penderitaan, tidak ada lagi sakit penyakit, tida ada lagi kelaparan, pokoknya semuanya aman terkendali. Pemahaman ini bukan hanya bagi mereka yang baru mengikut Yesus, bahkan ada yang sudah lama mengikut Yesus masih beranggapan demikian. Salah satunya adalah penganut aliran teologi sukses. Mereka beranggapan indicator mengikut Yesus dengan sungguh-sungguh atau dengan kata lain tanda orang beriman adalah sukses dalam artian apa yang diingini akan terwujud. Benarkah demikian? Jika kita merunut perikop khotbah minggu ini, jika kita meneladani kehidupan sang Maha Guru Kita Yesus Kristus maka mengikut Yesus ternyata tidak demikian, bahkan dikatakan mengikut Yesus berarti memikul salib dan menyangkal diri. Tapi pun demikian, juga kita tidak boleh gagal paham tentang hal ini seolah jika mengikut Yesus melulu penderitaan yang akan kita alami, tidak. Yang pasti bagi setiap pengikut Yesus yang setia sebagaimana nampak dalam kehidupan Paulus adalah selalu atau senantiasa bersukacita dalam situasi bagaimana pun ntah itu kecukupan atau kekurangan (bd. Filipi 4:4). Jika diberkati dengan kekayaan tidak menjadi sombong sebaliknya semakin luarbiasa menjadi berkat bagi banyak orang, demikian juga jika dalam kesengsaraan tidak membuat bersungut-sungut dan menyalahkan keadaan dan Tuhan, tetapi sebaliknya semakin bertekun di dalam Tuhan sebab kita percaya sebagaimana disaksikan Paulus dalam Roma 8:28 “Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah”.

Gagal paham ini bisa terjadi kepada siapapun. Seperti Petrus dalam perikop khotbah Minggu ini. Banyangkan Petrus sudah mengikut Tuhan Yesus selama 3 tahun dan mengikutinya siang dan malam, bahkan Petrus walaupun tidak ada sk pengangkatan secara formal tetapi Petrus diposisikan sebagai pemimpin, tetapi toh masih gagal paham tentang penderitaan yang bakal dialami Yesus.

Jika merujuk secara logika sikap Petrus sangat wajar. Bukankah Yesus sangat berkuasa? 5 ribu orang diberi makan hanya dengan 5 roti dan 2 ikan, bahkan sisa 12 keranjang?. Bukankah Yesus tidak hanya menyembuhkan orang sakit tetapi bahkan membangkitkan orang mati? Bukankah Yesus berkuasa juga terhadap alam dimana angin dan gelombang mendengar hardikannya menjadi tenang? Sampai hari ini bisa jadi sebagaimana Petrus pada waktu itu kita juga gagal paham jika menganggap penderitaan kita, penderitaan orang lain oleh karena kurangnya iman. Apakah penderitaan Yesus karena kekurangan iman? Tentu tidak. Dari peristiwa ini Yesus mau mengajar kita (1) Dialah Mesias Juruslamat yang sudah dinubuatkan itu, demi menebus dosa manusia Dia akan mengalami banyak penderitaan, bahkan mati namun pada hari yang ke tiga bangkit dari antara orang. Harusnya murid-murid mengingat akan hal ini. (2) Ungkapan mengikut Yesus menyangkal diri dan memikul salib berarti menyatakan bahwa perjalanan hidup seseorang yang sudah percaya akan Yesus Kristus juga akan banyak menanggung penderitaan. Hal ini disebabkan:

(1) Kita menderita dalam perjuangan seumur hidup melawan dosa (Roma 6:1-21; 1 Pet 4:1-2) dengan menyalibkan semua keinginan duniawi kita (Roma 8:33, Gal 2:20, 6:14, Titus 2:12)

(2) Kita menderita dalam peperangen dengan Iblis dan kuasa-kuasa kegelapan pada waktu kita membesarkan Kerajan Allah demikian juga penganiayaan yang akan datang melalui perlawaanan kita terhadap guru-guru palsu yang memutarbalikkan kebenaran Injil (Gal 1:9, Fil 1:15-17)

(3) Kita menanggung kebencian dan ejekan dari dunia (Yoh 15:18-26) ketika kita bersaksi tentang kasih Allah dan perbuatan mereka yang jahat (Yoh 7:7), demikian juga ketika kita berbeda dengan dunia ini secara moral dan rohani.

(4) Seperti Yesus, mungkin kita juga menerima ejekan dan penganiayaan dari dunia agama (Mrk 8:31).

Walaupun demikian Yesus mau mengingatkan dan sekaligus menghiburkan murid-murid dan juga kita hari ini bahwa hal yang paling berharga bagi manusia yakni keselamatan itu sendiri yakni kehidupan yang kekal akan menjadi milik kita ketika kita tidak takut kehilangan nyawa sekalipun sebagai konsekwensi mengkitut Yesus dengan setia dari pada sukses dengan memperoleh seluruh dunia ini tetapi kehilangan nyawa. Disini Yesus membandingkan memperoleh semua dunia dengan nyawa. Kalau kita memilih, manakah yang kita pilih? Saya pikir kalau kita sehat (maksudnya berpikir normal) kita akan pilih nyawa. Sangat logika sekali untuk apa seluruh dunia ini dengan segala kemegahannya tetapi kita mati? (Ayat 35-37). Perlu ditambahkan yang dimaksud mati atau kehilangan nyawa bukan sekedar mati, tetapi mati yang kekal.

Selanjutnya ada juga hal penting disebutkan Yesus dalam ayat 38 yakni mengenai kata “malu”. Apakah sikap Petrus ada unsur merasa malu karena Tuhan Yesus yang telah diikuti dan dijadikan Guru selama ini ternyata pada saatnya seperti manusia bisa menderita dan mati? Terlepas ada unsur tersebut atau tidak, satu hal yang penting juga diingatkan oleh Tuhan Yesus dalam mengikut Dia yakni agar tidak merasa malu hidup sebagai pengikutNya dan menyaksikannya di hadapan siapa saja bahwa Dialah Tuhan dan Juruslamat bagi dunia ini, sebab jika kita malu maka Anak Manusia juga akan malu apa bila Ia datang kelak dalam kemuliaan Bapa.

Pointer Aplikassi
(1) Dengan penderitaan, kematian dan kebangkitanNya membuktikan bahwa Yesus adalah Mesias yang telah dinubuatkan oleh para nabi. Dialah Juruslamat manusia. Kita bersyukur boleh bercaya kepadaNya (bd. Yoh 3:16).

(2) Mengikut Yesus, menyangkal diri dan memikul Salib berarti dalam mengikut Kristus benar-benar membutuhkan komitmen yang tinggi, tidak boleh setengah-setengah. Sebab Penyangkalan diri berarti harus menyalibkan segala keinginan daging kita, rela meninggalkan dosa dan berkomitmen untuk hidup seturut dengan kehendak Tuhan.  Memikul salib berarti harus rela dibenci dan dimusuhi oleh dunia ini karena nama Yesus. Bahkan dikatakan, "...siapa yang mau menyelamatkan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya; tetapi barangsiapa kehilangan nyawanya karena Aku dan karena Injil, ia akan menyelamatkannya." (Markus 8:35). 

Batam, 7 Februari 2018
Pdt. S. Brahmana


Artikel lain yang terkait:



0 komentar:

Post a Comment